Uncategorize

Berakhlak Mulia Kepada Orang Yang Dipekerjakan dan Menjaga Hak-Haknya

Penulis : Muhammad Bhagas (Anggota Departemen Khidmat dan Seni Budaya)

Baginda Rasulullah Muhammad SAW bersabda:

اذا أتى أحدكم خادمه بطعامه، فليجلسه فليأكل معه، فان لم يفعل فليناله 

“Jika seorang di antara kalian dibawakan makanan oleh pembantu/pelayannya, hendaknya ia mempersilahkannya duduk dan makan bersamanya. Kalau ia tidak melakukan hal itu, setidaknya berikanlah sebagian dari makanan itu kepada pelayannya” (Makarim al-Akhlaq karya al-Kharaithi, halaman 170, no. 513)

Inilah teladan akhlak Baginda Rasulullah Muhammad SAW dalam memuliakan dan menjaga adab bahkan terhadap pembantunya. Beliau SAW tidak pernah membedakan-bedakan cara bersikapnya berdasarkan materi, ketenaran dan status sosial orang itu. Beliau SAW juga tidak pernah malu, gengsi, apalagi sampai merasa harga dirinya jatuh hanya karena berteman, duduk bercengkerama dan makan bersama para pembantu dan fakir miskin yang mungkin di zaman sekarang mereka akan dipandang rendah oleh sebagian orang-orang kaya, para pejabat, dan oleh orang-orang yang angkuh, yang merasa besar diri, merasa sebagai pemilik sejati atas nikmat yang Allah limpahkan kepadanya, orang-orang yang lupa diri, yang terjebak dalam pola pikir materialis, yang jauh dari perkumpulan orang-orang saleh, yang masa bodoh dengan hal-hal yang berkaitan dengan tazkiyatun nafs dan suluk (penyucian diri dan jalan penyempurnaan jiwa), atau yang batinnya kering dari kelembutan dan sentuhan-sentuhan spiritual.

Islam mengubah hubungan “atasan-bawahan” menjadi hubungan antar manusia yang sama-sama dimuliakan Allah SWT. Baginda Rasulullah SAW tidak hanya memerintahkan memberi upah atau memenuhi hak-hak materi, tetapi juga menjaga martabat dan perasaan orang yang dipekerjakan. Mempersilakan pelayan makan bersama atau setidaknya memberikan sebagian makanan adalah pesan bahwa ia bukan sekadar “tenaga kerja”, melainkan manusia yang memiliki kehormatan dan perasaan.

Selain itu, Baginda Rasulullah Muhammad SAW juga berpesan:

iklan

للمملوك طعامه وكسوته بالمعروف ولا يكلفه من العمل ما لا يطيق

“Orang yang berada dalam wewenangmu (pelayan/orang yang dipekerjakan) berhak mendapatkan makanan dan pakaian yang layak dan baik. Jangan bebankan pekerjaan yang ia tidak sanggup memikulnya” (Syu‘ab al-Iman, jilid 6, halaman 372)

Diriwayatkan juga kesaksian dari seseorang yang melayani Baginda Rasulullah Muhammad SAW, “Aku berkhidmat pada beliau selama 10 tahun. Beliau tidak pernah memukulku dan tidak pernah mengeluarkan kata-kata hinaan/perendahan kepadaku. Bahkan tidak pernah menampakkan raut wajah yang tidak enak kepadaku” (al-Mu’jam al-Ausath, jilid 6, halaman 123)

Hadis-hadis ini mengingatkan bahwa jika seseorang punya wewenang atau kuasa atas orang lain, dalam konteks ini orang-orang yang dipekerjakan (pembantu, pelayan, bawahan), itu bukan berarti ia boleh memperlakukan dan bersikap kepada mereka semau-maunya. Posisi seseorang sebagai pemberi upah (gaji) itu bukan berarti ia boleh menyakiti perasaan pelayannya dengan perangai yang buruk, kata-kata yang tidak beradab, atau sikap yang merendahkan. Posisi seseorang sebagai majikan bukan berarti ia boleh menekan atau memaksa pelayannya untuk menuruti semua hawa nafsu dan egonya, atau ia memarahinya semau-maunya dan membentak-bentak (bahkan ada yang disertai teriakan) di tempat kerja atas kesalahan dan hal-hal yang sepele atau dalam detail-detail pekerjaan yang sebenarnya tidak perlu direspon dengan sikap berlebihan. Semua ada timbangan dan ukurannya. Mempekerjakan seseorang bukan berarti menghilangkan kehormatan dan kebahagiaan orang itu.

Seakan tak ada ruang untuk empati, kendali diri dan mendengar hati nurani. Pemuliaan, penghormatan, keramahan dan kehati-hatian dalam bersikap hanya berlaku untuk keluarganya, rekan kerja dan bisnisnya, teman bergaulnya dan orang-orang yang melebihi dirinya secara materi atau status sosial. Adapun untuk orang-orang di bawahnya, ia bersikap seenaknya. Masa bodoh apa yang mereka rasakan, yang penting dirinya didengarkan dan kemauannya dituruti. Lebih miris lagi, ada kecenderungan majikan merasa tidak bersalah dan tetap membusungkan dada setelah memperlakukan pelayannya atau orang kecil dengan cara-cara yang tidak mengenakkan hati. Gengsi meminta maaf kepada orang yang bekerja melayani dirinya.

Padahal orang yang memilih mencari nafkah dengan berprofesi misalnya sebagai pembantu rumah tangga itu bukan berarti ia berubah menjadi makhluk yang tidak punya hak dan perasaan. Mereka tetaplah manusia sama seperti si majikan yang harus dimuliakan dan dijaga hak-haknya. Inna akramakum ‘indallahi atqakum (QS. Al-Hujurat: 13). Di mata Allah, yang membedakan manusia adalah tingkat ketakwaan. Bercerminlah pada akhlak Baginda Rasulullah Muhammad SAW. Beliau memperlakukan pelayan dan fakir miskin sedemikian rupa sehingga mereka merasa seperti keluarga beliau sendiri. Beliau menghadirkan kebahagiaan dan pemuliaan kepada orang-orang yang ingin melayani beliau. Akhlak yang sangat indah ini kemudian terwariskan dan termanifestasi dalam kehidupan para Imam Ahlul Bait as. 

Diriwayatkan bahwa Imam Ja’far al-Shadiq as mengutus seorang pelayan untuk suatu keperluan. Namun pelayan itu terlambat kembali. Karena ia tak kunjung datang, Imam Ja’far al-Shadiq as keluar menyusuri jejaknya hingga beliau menemukannya sedang tidur. Mungkin ia lelah dalam perjalanan. Yang beliau lakukan bukan memarahi atau membentaknya dengan cara yang tidak beradab. Beliau justru duduk di dekat kepala pembantunya sambil mengipas-ngipasinya hingga ia terbangun. Lalu beliau pun mengingatkan kepadanya, bahwa masing-masing punya hak, siang untuk apa dan malam untuk apa (Al-Kafi, jilid 2, halaman 112).

Kisah Imam Ja’far al-Shadiq as memperlihatkan perpaduan kasih sayang dengan pendidikan. Ketika menemukan pelayannya tertidur, beliau tidak meluapkan kemarahan dan tidak membangunkannya dengan cara yang kasar. Beliau memahami kemungkinan bahwa pelayannya sedang kelelahan. Sebaliknya, beliau terlebih dahulu menunjukkan kasih sayangnya dengan duduk di sampingnya dan mengipas-ngipasinya hingga ia bangun. Setelah itu barulah beliau mengingatkannya tentang tanggungjawab.

Demikian. Semoga bermanfaat dan diluaskan berkahnya. Shalawat dan al-Fatihah 🤲🙏
Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad wa ‘ajjil farajahum…

Muhammad Bhagas
+ posts
  • Anggota Departemen Perkhidmatan dan Seni IJABI.
  • Direktur Kajian Kang Jalal.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berkaitan

Artikel Lain
Close
Back to top button