Uncategorize

Halal Bi Halal Dengan Para Syahid Agung 

Oleh Ustadz Dr. Dimitri Mahayana (Sekretaris Dewan Syura IJABI) 

I. Panggilan dari Kedalaman 

Wahai Sayyid — engkau yang telah memilih bintang di atas segala mahkota dunia, yang telah melepas selendang kenyamanan dan mengenakan jubah darah sebagai pakaian paling agung yang pernah dipakai manusia — 

Kami datang dengan tangan kosong. Bukan dengan pedang. Bukan dengan syair kemenangan. Hanya dengan dada yang retak dan dahi yang tertunduk di hadapan wajahmu yang bercahaya meski telah berpulang ke haribaan-Nya. 

II. Hutang yang Tak Terbayar 

iklan

Kau tangisi Imad Mughniyah — yang merintis jalan dalam kegelapan, dua puluh enam tahun membangun benteng hingga malam Damaskus menelannya — dan engkau tahu: perjuangan tak boleh berhenti hanya karena satu bintang padam. 

Kau tangisi Qasim Soleimani — di tepi fajar Jumada al-Ula yang membeku, bersamanya Abu Mahdi Al-Muhandis — dua sayap yang ditembak sekaligus di langit Baghdad, airmatamu adalah sungai yang mengalir menuju Karbala, menyatu dengan darah Husain yang tak pernah kering di bumi. 

Kau tangisi Razi Mousavi — yang gugur diam-diam di bumi Syam, penjaga jalur yang tak pernah meminta namanya disebut di mimbar-mimbar — namun Engkau, ya Rabb, menyebutnya di hadapan para malaikat. 

Kau tangisi Fuad Syukr — tiang Hezbollah yang kokoh, yang jatuh di Beirut sebelum sempat melihat fajar yang diperjuangkannya tiba. 

Kau tangisi Hasan Nasrallah — sahabat karib yang paling setia, tiga puluh tahun berdiri bersamamu di garis yang paling berbahaya — suaranya menggemakan langit Selatan Lubnan, kemudian sunyi — sunyi yang lebih keras dari segala pidato — karena ia telah berpindah mimbar ke tempat yang lebih agung. 

Bersamanya Ibrahim Aqil gugur, bersamanya Hasyim Safieddine lenyap — satu rombongan syahid yang berangkat hampir bersama-sama, seolah surga memesan mereka dalam satu kafilah. 

Kau tangisi Ismail Haniyeh — di fajar Teheran yang seharusnya aman, di tanah yang ia percaya sebagai rumah kedua — namun bahkan di sana tangan-tangan kegelapan menjangkaunya — dan ia pergi dalam senyum yang hanya dimiliki mereka yang sudah lama bersiap. 

Kau tangisi Muhammad Deif — arsitek perlawanan yang tak pernah tertangkap, hingga akhirnya langit Gaza menjadi tempat peristirahatan terakhirnya — setelah puluhan tahun menjadi mimpi buruk musuh. 

Kau tangisi Yahya Sinwar — yang memilih tinggal bersama rakyatnya hingga peluru terakhir, yang tidak lari ketika semua jalan pelarian terbuka — karena ia tahu bahwa pemimpin sejati adalah yang terakhir meninggalkan medan. 

Satu demi satu mereka gugur — dalam puluhan tahun yang panjang, nama demi nama yang kau hafal bukan dari dokumen — melainkan dari persahabatan yang nyata, dari pertemuan yang hangat, dari rencana-rencana yang dibangun bersama di atas meja yang sama — 

Dan engkau — dengan dada penuh luka — tetap menjadi benteng bagi mereka yang masih berdiri. 

Sedang kami? Kami bahkan tak mampu berdiri tegak di hadapan cermin diri kami sendiri. 

III. Syahadah di Bulan Tersuci 

Betapa agung cara-Mu memanggil kekasih-Mu, ya Rabb — 

Di bulan yang paling Engkau cintai, di hari Syahadah Ummul Mukminin, saat bibirnya masih basah dengan ayat-Mu, saat lambungnya masih kosong karena cinta-Mu — 

Engkau panggil ia pulang bukan dengan kehinaan bukan dengan kelalaian melainkan dalam wudhu yang sempurna, dalam sujud yang belum sempat selesai — 

Sungguh sebaik-baik pamitan adalah pamitan para kekasih Tuhan. 

Iqbal pernah berkata: Bangkit dan nyalakan dirimu — karena nyala itulah satu-satunya bekal yang diterima di hadapan Sang Maha Nyala. 

Engkau telah menyala, Sayyid — hingga habis — hingga tak tersisa abu pun yang tidak berbau kasturi Karbala. 

IV. Akhlak yang Mempermalukan Kami 

Enam puluh tahun — enam puluh tahun, Sayyid — tak sekalipun kau perintahkan istrimu, tangan yang paling kau sayangi untuk menuang teh bagimu. 

Bukan karena engkau tak suka teh. Bukan karena engkau tak membutuhkan kehangatan. 

Melainkan karena engkau tahu bahwa cinta sejati adalah pelayanan — bukan tuan yang memerintah, melainkan hamba yang mendahulukan. 

Demikianlah engkau mengajarkan apa yang tak mampu diajarkan seribu buku tentang akhlak — dengan sebuah cangkir teh yang tidak pernah kau minta. 

Dan kami — kami yang mengaku mencintaimu, mencintai Nabimu, mencintai Husainmu — masih sibuk menghitung apa yang berhak kami terima, dan lupa menghitung apa yang belum kami berikan. 

Maafkan kami, Sayyid. Maafkan kami — beribu maaf yang datang terlambat seperti hujan yang turun setelah ladang terbakar. 

V. Wasiat yang Kami Permalukan 

Kau wasiatkan: Jaga lisanmu — karena satu kata yang salah dapat meruntuhkan apa yang dibangun seratus tahun perjuangan. 

Dan kami — kami yang mengangkat namamu sebagai panji — masih saling melukai dengan kata, masih saling memotong dengan hujah, masih berlomba membuktikan siapa yang paling benar sambil membiarkan ukhuwwah tergeletak berdarah di jalanan. 

Kau wasiatkan akhlak — dan kami hanya mencatat wasiat itu lalu melipatnya rapi di sudut lemari kenangan. 

VI. Halal Bi Halal 

Maka hari ini, Sayyid — di hari Fitri yang semestinya membebaskan — kami datang bukan untuk merayakan, melainkan untuk meminta: 

Halalkan — semua kelalaian kami yang tak terhitung, semua janji yang kami ucap di bibir lalu kami telan kembali dalam kemalasan, semua tangis yang kami tumpahkan untuk mu namun tak mengubah satu pun cara kami hidup keesokan harinya. 

Halalkan — karena kami tahu engkau telah memaafkan bahkan sebelum kami meminta, sebagaimana guru yang agung selalu memaafkan muridnya yang lambat belajar. 

Halalkan — agar kami punya keberanian untuk tidak sekadar menangisi syahadahmu, melainkan untuk mulai hidup sedikit lebih menyerupai akhlakmu — 

Dimulai dari cangkir teh itu. Dimulai dari kata yang kita tahan. Dimulai dari satu langkah kecil menuju manusia yang layak menyebut namamu. 

VII. Doa Penutup 

Ya Allah — sampaikan salam kami kepada mereka yang telah mendahului: 

Kepada Imad Mughniyah, kepada Qasim Soleimani dan Abu Mahdi Al-Muhandis, kepada Razi Mousavi, kepada Fuad Syukr dan Ibrahim Aqil, kepada Hasyim Safieddine, kepada Hasan Nasrallah, kepada Ismail Haniyeh, kepada Muhammad Deif, kepada Yahya Sinwar — 

Kepada istri beliau, kepada keluarga beliau, kepada seluruh kafilah syahid yang namanya hanya diketahui oleh-Mu dan oleh bumi yang menyimpan darah mereka — 

Dan kepada beliau — Sayyid Asy-Syahid kami — 

Katakan bahwa kami masih di sini, mencoba — dengan segala kelemahan kami — untuk tidak mempermalukan darah yang telah ditumpahkan. 

Katakan bahwa cangkir teh itu mulai kami ingat. 

Katakan bahwa lisan kami mulai kami jaga — meski belum sempurna — meski masih sering gagal. 

Katakan — bahwa kami rindu. 

Ya Husain — Ya Sayyid — Ya Syahid — 

Labbayk. 

Mazar KH Jalaluddin Rakhmat asy Syarif, 12 April 2026, 23 Syawal 1447H 

Dr. Ir. Dimitri Mahayana, M.Eng.
Sekretaris Dewan Syura IJABI |  + posts
Iklan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berkaitan

Back to top button