PP IJABI Gelar Halal Bihalal dan Kenang 40 Hari Syahidnya Imam Ali Khamenei
RANCAEKEK, BANDUNG – Kebahagiaan mendalam terpancar dari wajah ratusan jemaah yang memadati kawasan Desa Sangiang, Rancaekek, Kabupaten Bandung pada Ahad, 12 April 2026. Di tengah kemajuan teknologi yang menawarkan pertemuan virtual, kehadiran fisik untuk saling bertatap muka, bersalaman, dan berpelukan tetap menjadi momen yang tak tergantikan bagi keluarga besar Ikatan Jamaah Ahlulbait Indonesia (IJABI).
Pengurus Pusat (PP) IJABI sukses menyelenggarakan acara Halal Bihalal yang bertempat di lingkungan Mazar Allahyarham KH. Dr. Jalaluddin Rakhmat. Acara ini menjadi magnet bagi Ijabiyyun yang datang dari berbagai pelosok daerah, mulai dari Jawa Barat, Jawa Tengah, hingga DKI Jakarta.
Mengenang Syuhada dan Menghidupkan Tradisi

Kegiatan diawali dengan suasana khidmat melalui pembacaan Doa dan Tahlil. Momentum ini secara khusus diperuntukkan bagi almarhum KH. Dr. Jalaluddin Rakhmat serta memperingati 40 hari Syahidnya Pimpinan Tertinggi Republik Islam Iran, Imam Ali Khamenei qs. Prosesi doa dipandu langsung oleh anggota Dewan Syura IJABI, KH. Rahmat Hidayat.
Nuansa spiritual semakin kental dengan lantunan shalawat yang dibawakan oleh ibu-ibu Fathimiyah, serta pembacaan puisi yang menyentuh kalbu oleh Wakil Ketua Umum PP IJABI, Ustadz Syamsuddin Baharuddin.
Keutamaan Silaturahmi: Membersihkan Amal dan Memperpanjang Usia

Dalam sambutannya, Ketua Umum PP IJABI, Maran Sutarya, menekankan bahwa tradisi Halal Bihalal adalah warisan kearifan lokal yang harus dijaga keberlangsungannya. Menurutnya, esensi utama dari kegiatan ini adalah memperkuat simpul silaturahmi.
“Silaturahmi memiliki keutamaan yang luar biasa: membersihkan amal, meluaskan rezeki, mencegah bencana, meringankan hisab, hingga memanjangkan usia,” ujar Ustadz Maran. Ia juga mengajak jemaah untuk tidak membiarkan nilai-nilai luhur Ramadhan luntur dan harus terus diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Wajhun Munbasithun: Wajah yang Selalu Berseri

Puncak dari majelis ilmu di isi oleh KH. Miftah Fauzi Rakhmat (Ketua Dewan Syura IJABI).
Dalam tausiyahnya, KH. Miftah Fauzi Rakhmat menjelaskan bahwa output dari ibadah puasa adalah takwa. Salah satu indikator utama orang yang bertakwa adalah memiliki wajhun munbasithun—wajah yang selalu berseri-seri dan ramah terhadap sesama.
“Kita harus selalu menjaga tali silaturahmi, saling mengunjungi, dan saling membantu. Jangan biarkan sekat-sekat memisahkan kita,” pesan KH. Miftah.
Solidaritas untuk Palestina dan Dunia Islam

Menutup tausiyahnya, KH. Miftah Fauzi Rakhmat mengajak seluruh jemaah yang hadir untuk tidak melupakan penderitaan saudara-saudara seiman di kancah internasional. Doa-doa dipanjatkan secara khusus untuk mereka yang tengah mengalami penindasan di Palestina, Iran, Irak, Yaman, dan Libanon, dengan harapan Allah SWT segera menurunkan pertolongan dan kemenangan bagi mereka.
Rangkaian acara diakhiri dengan tradisi mushafahah (bersalam-salaman), shalat berjamaah, dan makan bersama sebagai simbol persaudaraan yang erat. Pertemuan ini bukan sekadar seremoni rutin, melainkan momentum penguatan spiritual dan sosial bagi seluruh jemaah IJABI.
















