Social Engineering: Revolusi Dimulai dari Cara Berpikir

Ada warisan ilmu yang terus hidup, bukan hanya karena dibaca, tetapi juga karena terus diteliti. Demikian pula karya-karya KH. Jalaluddin Rakhmat. Selama puluhan tahun, buku-buku beliau tidak hanya menemani pembaca di ruang-ruang pengajian, tetapi juga menjadi bahan kajian di berbagai perguruan tinggi di Indonesia.
Salah satunya adalah skripsi yang ditulis oleh Tajus Syarofi pada Jurusan Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah, Institut Agama Islam Negeri Walisongo Semarang. Dalam penelitian berjudul Studi Analisis Pemikiran Jalaluddin Rakhmat tentang Social Engineering dan Relevansinya dengan Tujuan Pendidikan Islam, Tajus mengangkat satu gagasan besar Kang Jalal yang hingga kini tetap terasa relevan: bagaimana sebuah masyarakat berubah, dan dari mana perubahan itu seharusnya dimulai.
Rubrik Membaca Kang Jalal lahir dari penelitian-penelitian seperti ini. Namun yang akan Anda baca bukanlah ringkasan skripsi. Tokoh utama dalam setiap tulisan tetaplah KH. Jalaluddin Rakhmat beserta gagasan-gagasannya. Skripsi Tajus menjadi pijakan akademik untuk membaca kembali pemikiran Kang Jalal dengan bahasa yang lebih hangat, lebih mengalir, dan lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
⸻
Sejarah manusia sesungguhnya adalah sejarah tentang perubahan.
Kerajaan-kerajaan runtuh. Pemerintahan berganti. Revolusi datang silih berganti. Ada yang berhasil mengubah wajah sebuah negeri, tetapi tidak sedikit yang hanya mengganti nama penguasanya. Benderanya berubah, pidatonya berubah, tokohnya berubah, tetapi kehidupan rakyat tetap saja berjalan dalam lingkaran yang sama.
Kang Jalal mengajak kita berhenti sejenak, lalu bertanya dengan jujur.
Mengapa perubahan sering kali tidak benar-benar mengubah manusia?
Pertanyaan itulah yang menjadi pintu masuk gagasan Social Engineering. Ketika banyak orang sibuk berbicara tentang reformasi, revolusi, atau menunggu lahirnya seorang pemimpin besar, Kang Jalal justru mengarahkan perhatian kita kepada sesuatu yang lebih mendasar. Sebelum mengubah masyarakat, ubahlah manusianya. Sebelum mengubah manusia, ubahlah cara berpikirnya. Dan sebelum cara berpikir berubah, pendidikanlah yang harus lebih dahulu dibenahi. Itulah inti rekayasa sosial yang beliau tawarkan.
Bagi Kang Jalal, revolusi bukan pertama-tama soal mengganti kekuasaan. Revolusi yang paling dalam adalah ketika manusia mulai melihat dunia dengan cara yang baru.
Itulah sebabnya beliau tidak terlalu terpesona oleh perubahan yang berlangsung cepat tetapi dangkal. Pergantian rezim bisa terjadi dalam semalam. Undang-undang bisa disahkan hanya dalam hitungan hari. Tetapi mengubah watak manusia membutuhkan waktu bertahun-tahun, bahkan lintas generasi.
Karena itu beliau lebih percaya kepada kekuatan pendidikan daripada kekuatan kekuasaan.
Pendidikan bukan sekadar proses memindahkan ilmu dari kepala guru ke kepala murid. Pendidikan adalah proses membentuk cara berpikir. Ketika cara berpikir berubah, cara seseorang memandang dirinya berubah. Cara memandang orang lain berubah. Cara memandang kekuasaan, kekayaan, keadilan, bahkan cara memandang Tuhan pun ikut berubah.
Di situlah sebuah peradaban sesungguhnya dibangun.
Kang Jalal pernah mengkritik pendidikan yang hanya melahirkan orang-orang yang pandai menghafal, tetapi tidak terbiasa berpikir. Murid-murid tumbuh menjadi pribadi yang mahir mengulang jawaban, tetapi canggung mengajukan pertanyaan. Mereka lulus ujian, tetapi belum tentu siap menghadapi kehidupan. Mereka memperoleh ijazah, tetapi belum tentu memperoleh kebijaksanaan.
Padahal sejarah selalu bergerak maju karena keberanian manusia untuk berpikir.
Semua perubahan besar lahir dari sebuah gagasan. Seorang ilmuwan mempertanyakan keyakinan lama. Seorang guru mengajarkan cara melihat dunia dengan sudut pandang baru. Seorang ulama menghidupkan kembali nilai-nilai yang mulai dilupakan. Sebelum lahir perubahan sosial, selalu ada perubahan dalam cara manusia memahami kehidupan.
Mungkin karena itulah Kang Jalal memilih istilah social engineering.
Kata engineering sering dipahami sebagai pekerjaan seorang insinyur yang merancang jembatan, gedung, atau jalan raya. Kang Jalal meminjam istilah itu untuk menggambarkan pekerjaan yang jauh lebih rumit: membangun manusia.
Seorang insinyur dapat menghitung kekuatan baja dan beton. Tetapi seorang pendidik sedang membangun sesuatu yang tidak terlihat oleh mata: cara berpikir, karakter, dan akhlak. Hasil pekerjaannya mungkin baru tampak puluhan tahun kemudian, ketika murid-muridnya menjadi pemimpin, guru, hakim, dokter, wartawan, pengusaha, atau orang tua yang mendidik generasi berikutnya.
Karena itulah beliau memandang guru sebagai salah satu aktor terpenting dalam perubahan sosial. Guru bukan sekadar pengajar mata pelajaran. Guru adalah penanam benih peradaban.
Pandangan itu tidak berhenti sebagai teori. Kang Jalal berusaha mempraktikkannya ketika mendirikan SMA Plus Muthahhari di Bandung. Sekolah tidak dibangun hanya untuk mengejar prestasi akademik, tetapi untuk melatih anak-anak berpikir kritis, berdialog, membaca lebih banyak, menghargai perbedaan, dan berani bertanggung jawab atas pendapatnya sendiri. Sekolah menjadi ruang untuk membentuk manusia yang utuh, bukan sekadar pencetak nilai ujian.
Semua itu berangkat dari keyakinan sederhana.
Bangsa yang besar tidak dibangun oleh gedung-gedung yang megah.
Bangsa yang besar dibangun oleh manusia-manusia yang besar.
Dan manusia yang besar lahir dari pendidikan yang membebaskan pikirannya sekaligus memuliakan akhlaknya.
Di tengah dunia yang hari ini berubah begitu cepat, gagasan Kang Jalal terasa semakin penting. Kita sering berharap perubahan datang dari luar diri kita. Kita menunggu pemimpin baru, kebijakan baru, atau sistem baru. Padahal, seperti yang ingin diingatkan Kang Jalal, perubahan yang paling kokoh justru dimulai dari dalam diri manusia.
Ketika cara berpikir berubah, cara hidup ikut berubah.
Ketika cara hidup berubah, masyarakat perlahan berubah.
Dan ketika masyarakat berubah, sejarah pun bergerak ke arah yang baru.
Barangkali itulah makna terdalam dari Social Engineering menurut Kang Jalal.
Bukan merekayasa manusia agar tunduk kepada kekuasaan.
Melainkan menumbuhkan manusia yang merdeka dalam berpikir, matang dalam akhlak, dan berani memperbaiki zamannya.
Sebab revolusi yang paling besar bukanlah ketika sebuah bangsa berhasil mengganti pemerintahannya.
Revolusi yang paling besar adalah ketika sebuah bangsa berhasil melahirkan manusia-manusia baru.
⸻
Karya Kang Jalal yang Dibaca
KH. Jalaluddin Rakhmat
Rekayasa Sosial: Reformasi, Revolusi, atau Manusia Besar?
⸻
Pijakan Akademik
Tajus Syarofi. Studi Analisis Pemikiran Jalaluddin Rakhmat tentang Social Engineering dan Relevansinya dengan Tujuan Pendidikan Islam. Skripsi, Jurusan Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah, Institut Agama Islam Negeri Walisongo Semarang, 2010.



