Uncategorize

Uraian Kalimat Irfani Hasyim al-Haddad: Dari Retorika Akhlak Hingga Pergeseran Halus 

Oleh: Muhammad Bhagas (Anggota Departemen Khidmat dan Seni Budaya PP IJABI) 

‘Arif billah Syaikh Hasyim al-Haddad, murid dari Ayatullah Sayyid ‘Ali Qadhi, berkata: “Sesungguhnya jalan menuju Allah bukanlah dengan banyak berbicara (retorika) dan bukan pula mengklaim maqam-maqam spiritual, melainkan jalan kejujuran yang sempurna terhadap diri sendiri. Barangsiapa berdusta kepada dirinya, maka ia telah berdusta kepada Allah dan barangsiapa menipu hatinya maka ia tidak akan sampai pada tujuan hakiki, sekalipun ia beribadah selama seribu tahun” 

Berikut uraian singkatnya. 

Pada bagian awal beliau menegaskan bahwa dalam perjalanan menuju Allah yang dibutuhkan bukanlah banyak bicara, tetapi kejujuran terhadap diri. Kejujuran yang beliau tekankan adalah bentuk evaluasi eksistensial, bukan sekadar intropeksi moral. Yang dimaksud banyak bicara bukan hanya dalam hal-hal yang tidak bermanfaat, sia-sia dan tidak diperlukan, tetapi juga banyak mengucapkan ungkapan-ungkapan yang bernuansa tawadhu, kehinaan diri, zuhud, zikir, kesalehan dan lain sebagainya, padahal isi hatinya tidak mencerminkan hal itu.  

Secara lisan ia merendahkan dirinya dengan kata-kata tawadhu, padahal di dalam hatinya ia selalu menganggap dirinya hebat,  menyimpan rasa keistimewaan dan kedudukan diri. Lisan bisa merendah, tetapi hati diam-diam meninggi. Lisan menuju Allah, hati bertawaf di sekitar diri. Lebih halus lagi, ketika seseorang berbicara dengan berbagai ungkapan yang mengesankan dirinya tawadhu dan hina, di saat yang sama hatinya menikmati citra dirinya “sebagai orang yang tawadhu dan hina”. Di titik ini terjadi jurang antara simbol kesalehan dan realitas jiwanya.  

iklan

Imam ‘Ali bin Abi Thalib as menyebutkan ciri orang yang dimurkai Allah: yaqul fi ad-dunya qaul al-zahidin wa ya’mal fiha ‘amal al-raghibin. Ia berbicara tentang dunia layaknya orang zuhud, tetapi perbuatan dan cenderungannya sehari-hari persis seperti pecinta dunia (Tuhaf al-‘Uqul, halaman 110). Dunia yang dimaksud tidak selalu materi. Dunia bisa berupa citra, reputasi, bahkan rasa spiritual tertentu.  

Dalam irfan kejujuran terhadap diri sendiri tidak berarti menolak bahasa akhlak dan berhenti berbicara kebaikan, tetapi yang ditolak adalah retorika spiritual dan produksi simbol kesalehan yang tidak lahir dari kenyataan batin. Inilah yang Syaikh Hasyim al-Haddad maksudkan jujur terhadap diri sendiri: keselarasan antara isi hati, ucapan, dan perbuatan. 

Dalam suluk jujur terhadap diri sendiri juga bermakna: 

  1. Mengakui kelemahan dan kebergantungan diri di hadapan Allah SWT 
  1. Mengakui betapa kurangnya diri ini dalam beramal dan menunaikan hak-hak 
  1. Mengakui ambisi-ambisi, penyakit-penyakit hati dan aib-aib batin yang selama ini berusaha ditutupi agar tidak diketahui orang lain 

Sebuah pengakuan tanpa topeng spiritual, tanpa pembenaran halus dan tanpa rekayasa citra diri. Kejujuran tersebut memang berat bagi ego, tetapi justru di situlah pintu pembebasan terbuka. 

Contoh konkret lain dari ketidakjujuran batin adalah merasa sudah ikhlas, tetapi hati masih kecewa saat tidak mendapat pengakuan, penghormatan, apresiasi atau pujian orang lain. Merasa sudah ikhlas, tetapi hati masih menikmati dan terbuai dengan “kelezatan” pujian, sanjungan dan anggapan-anggapan orang lain tentang dirinya 

Jika seseorang enggan atau merasa berat untuk mengakui kelemahan dan kekurangan dirinya, penyakit-penyakit hatinya dan aib-aib batinnya, sejatinya ia sedang menjaga ilusi dirinya. Inilah yang membuatnya tidak akan sampai pada tujuan hakiki. Bagaimana mungkin bisa melangkah bila masih terjebak dalam ilusi diri?  

Syaikh Hasyim al-Haddad melanjutkan: “Sesungguhnya Allah tidak dituntut agar Dia menampakkan diri kepadamu, melainkan dirimulah yang harus meninggalkan hijab-hijab yang menghalangimu dari-Nya. Dan betapa banyak hijab itu; yang paling banyak dan paling berbahaya di antaranya adalah cinta kepada diri sendiri, bersandar pada amal, dan ‘ujub (rasa bangga) dengan pencapaian, kebaikan dan ketaatan yang dilakukan” 

Penyakit ‘ujub ini membuat seseorang terkesima dan bangga terhadap dirinya sendiri, merasa puas atas pencapaian-pencapaiannya, dan menganggap keberhasilannya lebih disebabkan faktor kemampuannya, usahanya dan kaulitas dirinya. 

Ayatullah Sayyid Ahmad al-Fihri menjelaskan ciri-ciri orang yang tersusupi penyakit ‘ujub: 

  1. Ia bangga dengan amal-amalnya dan bersandar kepadanya, yakni mengandalkan dan menaruh kepercayaan penuh pada amalnya, bahkan meyakini bahwa dengan amal tersebut ia pasti masuk surga 
  1. Ia menganggap amal orang lain lebih buruk dibandingkan amalnya sendiri. Ia menganggap amal orang lain tidak lebih sempurna dibandingkan amalnya sendiri 

Syaikh Hasyim al-Haddad melanjutkan: “Sesungguhnya seorang salik (penempuh jalan rohani), apabila ia memandang dirinya sebagai orang saleh, maka ia telah jatuh, dan apabila ia memandang dirinya sebagai orang yang membutuhkan, maka ia telah memulai perjalanan. Setiap kali kesadaran akan kefakiran (kelemahan dan kebergantungan) hamba kepada Allah bertambah, semakin bertambah pula kekayaan batinnya bersama Allah, dan setiap kali ia menyangka dirinya telah sampai, sejatinya ia semakin menjauh” 

Dalam kitab Iqazh al-Himam, jilid 1, halaman 142, disebutkan ada tiga ciri orang yang celaka:  

  1. Jika ilmu dan amalnya tidak menjadikan dirinya semakin merasa butuh kepada Allah 
  1. Jika ilmu dan amalnya tidak menjadikan dirinya semakin memandang rendah dirinya sendiri (yaitu tidak merasa ada kekurangan dalam amalnya, tidak lagi mengingat dosa-dosanya, dan tidak menyadari hakikat kefakiran/ kebergantungan mutlak dirinya) 
  1. Jika ilmu dan amalnya tidak menjadikan dirinya semakin rendah hati kepada sesama hamba-hamba Allah 

Di bagian akhir Syaikh Hasyim al-Haddad berkata: “Beramallah, tetapi jangan melihat amalmu. Berzikirlah, tetapi jangan melihat zikirmu. Carilah Allah, dan jangan mencari kondisi batin, jangan mencari kasyf, dan jangan pula mencari karamah karena semua itu adalah fitnah-fitnah di tengah jalan. Tidak ada yang selamat darinya kecuali orang yang menjadikan Allah sebagai tujuan, bukan sebagai sarana” 

Melihat amal maksudnya adalah merasa puas dengan amal, menghitung-hitung amal sehingga merasa kebaikannya sudah banyak, menjadikan amal sebagai sandaran, dan merasa sudah aman dan layak karena amal. Rasa aman inilah yang menghambat bahkan mematikan perjalanan karena perjalanan sejati justru hidup dari rasa butuh yang terus menerus. Ketika seseorang mulai merasa ibadah dan pencapaiannya adalah hasil kualitas dirinya, tanpa sadar ia sedang membangun dinding halus antara dirinya dengan Tuhan. 

Orang yang terjebak pada melihat amal, tanpa sadar apa yang ia lakukan selama ini ujung-ujungnya kembali kepada “aku”-nya. Padahal tujuan suluk adalah fana’ ‘an an-nafs, lenyapnya ego, keakuan dan rasa kepemilikan karena Allah. Zikir yang hidup adalah zikir yang melenyapkan rasa kepemilikan, bukan yang menambah rasa istimewa.  

Adapun orang yang menjadikan kondisi batin, kasyaf dan karamah sebagai orientasi dalam suluknya, itu dapat memalingkan dirinya dari tujuan hakiki sehingga yang dihasilkan bukan kedekatan, tetapi perpindahan fokus yakni dari Allah ke pengalaman tentang Allah. Di sini terjadi pergeseran halus: Allah tidak lagi menjadi tujuan, tetapi sarana untuk memperoleh rasa, pengalaman, atau keistimewaan spiritual yang berpulang pada singgasana ego. 

Sehubungan dengan ini Imam al-Ghazali mengingatkan bahwa alangkah jauh bedanya antara orang yang menginginkan raja demi mendapatkan kuda dengan yang mendambakan kuda agar bisa melayani raja. Demikian pula antara orang yang menginginkan Allah demi mendapat curahan nikmat dengan yang mendambakan nikmat agar bisa mengantarkan dirinya kepada Allah (Ihya’ Ulumiddin, jilid 4, halaman 102).  

Pada akhirnya jalan menuju Allah bukanlah pendakian untuk menjadi “seseorang” dalam dunia spiritual, melainkan proses menjadi tiada di hadapan-Nya. Suluk pemurnian untuk tidak lagi merasa-rasa. 

Semoga bermanfaat dan diluaskan berkahnya. Teriring shalawat dan doa kita. 

Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammad wa Aali Sayyidina Muhammad wa ’ajjil farajahum… 

Muhammad Bhagas
+ posts
  • Anggota Departemen Perkhidmatan dan Seni IJABI.
  • Direktur Kajian Kang Jalal.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berkaitan

Back to top button