Seminar dan Peluncuran Buku “40 Human Virtues” Hidupkan Kembali Hikmah Pemikiran Nurcholish Madjid

Meski telah lama berpulang, pemikiran dan keteladanan Nurcholish Madjid—yang akrab disapa Cak Nur—tetap hidup dan relevan dalam kehidupan kebangsaan Indonesia. Warisan intelektual dan moral yang ditinggalkannya menjadi lisāna ṣidqin, kenangan baik yang terus bergema lintas generasi. Salah satu warisan penting tersebut adalah nilai-nilai kebajikan universal yang beliau ajarkan dan teladankan dalam kehidupan beragama, berbangsa, dan bernegara.

Nilai-nilai itu kini dirangkum dan dielaborasi dalam sebuah buku berjudul 40 Human Virtues: Pendar-Pendar Hikmah Nurcholish Madjid, yang ditulis secara kolaboratif oleh sejumlah pemikir dan akademisi. Buku ini diluncurkan dalam sebuah seminar akademik yang diselenggarakan pada Kamis, 12 Februari 2026, bertempat di Aula Gedung T.P. Rachmat, Kampus Cipayung, Jakarta Timur.
Kegiatan ini merupakan hasil kerja sama antara Universitas Paramadina, STAI Sadra, Paramadina Graduate School of Islamic Studies, dan Kajian Kang Jalal. Kolaborasi tersebut menegaskan komitmen bersama untuk terus menghidupkan tradisi pemikiran Islam yang inklusif, kritis, dan berorientasi pada nilai-nilai kemanusiaan.
Seminar ini dihadiri sekitar 150 peserta dari beragam latar belakang, mulai dari pelajar, mahasiswa, aktivis, hingga tokoh masyarakat. Antusiasme peserta mencerminkan besarnya perhatian publik terhadap pemikiran Cak Nur yang dinilai tetap relevan dalam merespons tantangan kebangsaan kontemporer.
Kehadiran IJABI dalam kegiatan ini diwujudkan melalui partisipasi aktif dengan mengikutsertakan sekelompok pelajar tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA), sebagai bagian dari upaya institusional dalam memperluas akses generasi muda terhadap forum keilmuan dan diskursus pemikiran.


Acara dibuka dengan sambutan dari Rektor Universitas Paramadina, Didik J. Rachbini, serta Omi Komaria Madjid. Dalam sambutannya, Ibu Omi menyoroti kondisi bangsa Indonesia yang saat ini tengah menghadapi berbagai tantangan serius, baik di bidang sosial, politik, maupun moral. Ia mengenang almarhum Nurcholish Madjid sebagai sosok intelektual yang berani bersikap kritis, jujur, dan konsisten dalam menyuarakan nilai-nilai keadilan, kebebasan berpikir, dan kemanusiaan.
Pembahasan buku dilakukan secara mendalam oleh para narasumber, antara lain Budhy Munawwar Rachman, Abdul Aziz Abbaci, K.H. Miftah Fauzi Rakhmat, Husain Heriyanto, serta penanggap Muhammad Subhi Ibrahim. Diskusi dipandu oleh moderator Mishka Husen Balfas, yang mengarahkan dialog agar tetap fokus dan dinamis.

Dalam pemaparannya, KH. Miftah Fauzi Rakhmat menekankan bahwa salah satu kekuatan utama pemikiran Cak Nur terletak pada penguasaan bahasa Arab yang sangat mendalam. Dengan penguasaan tersebut, Cak Nur mampu menggali makna kata secara luas, kontekstual, dan filosofis. Ia menjelaskan bahwa banyak kosakata dalam bahasa Arab yang tidak dapat diterjemahkan secara presisi hanya dengan satu padanan kata dalam bahasa Indonesia. Oleh karena itu, tanpa pemahaman yang memadai terhadap keluasan bahasa Arab, seseorang berpotensi keliru atau tidak sepenuhnya menangkap maksud pemikiran Cak Nur.
Melalui seminar dan peluncuran buku ini, para penyelenggara berharap nilai-nilai kebajikan yang dirumuskan dalam 40 Human Virtues dapat menjadi rujukan moral dan intelektual bagi generasi muda, sekaligus memperkuat kembali etos kebangsaan yang berlandaskan kemanusiaan, keadilan, dan kebijaksanaan—sebagaimana telah diwariskan oleh Nurcholish Madjid.















