Uncategorize

Araghchi dan Deontologi Seorang Diplomat  

Kini Sayyid Abbas Araghchi menjadi pembicaraan. Bukan hanya karena ia yang lantang berbicara melanjutkan Syahid Ali Larijani. Namun terutama karena satu hal. Ketulusannya sebagai seorang manusia. 

Mengambil istilah dari Kant, Araghchi menerapkan dengan indah moralitas berbasis deontologi. Karena itu saya memberi judul tulisan ini “Deontologi Seorang Diplomat”. 

Saat yang Lain Pergi, Ia Justru Datang 

Maret 2011. Gempa bumi dan tsunami Tōhoku menghantam Jepang dengan kekuatan yang tak terbayangkan. Lebih dari 15.000 jiwa melayang. Kota-kota di pesisir Prefektur Iwate dan Miyagi rata dengan tanah. Reaktor nuklir Fukushima bocor, menyebarkan ketakutan yang jauh melampaui zona bencana fisik. 

Di tengah kepanikan itu, banyak diplomat asing mengemas barang dan meninggalkan Tokyo. Kedutaan-kedutaan mengungsikan staf mereka. Naluri wajar manusia adalah menghindari bahaya. 

iklan

Abbas Araghchi saat itu menjabat sebagai Duta Besar Iran untuk Jepang . Apa yang dilakukan Aragachi? Aragachi memilih sebaliknya. Ia justru bergerak menuju pusat bencana.  

Ia dan timnya tiba di Yamada, Iwate, salah satu wilayah yang paling hancur. Ia membangun dapur umum. Aragachi membawa kehangatan dalam arti yang paling harfiah. Makanan Iran hangat seperti Ghormeh Sabzi. Araghchi membawa kehadiran yang penuh rasa peduli. 

Saat ditanya alasannya, Araghchi menjawab sederhana namun menghunjam: “Jepang pernah membantu Iran saat gempa Bam. Kini giliran kami.” 

Referensi itu bukan retorika kosong. Pada Desember 2003, gempa dahsyat mengguncang kota Bam di Iran selatan, menewaskan puluhan ribu orang. Jepang termasuk di antara negara-negara yang bergerak cepat mengirim bantuan. Araghchi mengingatnya. Dan ia membalasnya . Aragachi benar-benar hadir secara fisik. Ia melayani dengan tangan sendiri. 

Penghargaan Order of the Rising Sun yang kemudian diberikan Jepang kepadanya. Penghargaan ini adalah pengakuan bahwa ada momen di mana seorang diplomat melampaui batas tugasnya dan memilih menjadi manusia seutuhnya. Seorang diplomat yang menerapkan moralitas deontologi yang diajarkan Imanuel Kant. Atau dalam bahasa Morteza Muthahhari, moralitas fithri. 

Dari Yamada ke Jenewa 

Araghchi kemudian diangkat sebagai Menteri Luar Negeri Iran pada Agustus 2024 setelah mendapatkan kepercayaan dari Majelis Permusyawaratan Islam. Sejak saat itu, dunia mengenalnya sebagai wajah diplomasi Iran di tengah krisis yang kian memanas. 

Ia memimpin delegasi Iran dalam negosiasi nuklir dengan Amerika Serikat, dan sempat menyatakan bahwa sebuah kesepakatan “sudah dalam jangkauan” menjelang pembicaraan di Jenewa, Swiss, asalkan diplomasi diprioritaskan di atas ancaman militer. 

Namun jalan menuju damai ternyata jauh lebih sempit dari yang diharapkan. Serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran kemudian terjadi, bahkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei .  

Eskalasi ini oleh Araghchi disebut sebagai “preseden yang benar-benar belum pernah terjadi sebelumnya dan merupakan pelanggaran berat terhadap hukum internasional.” 

Di tengah berkecamuknya perang, Araghchi menegaskan bahwa Iran tidak meminta gencatan senjata dan tidak melihat alasan untuk bernegosiasi dengan Amerika Serikat.  Barangkali sikap ini terasa amat wajar dan mencerminkan luka akibat berulangnya pengkhianatan di tengah meja perundingan. 

Menariknya, di saat konflik bersenjata sedang berkecamuk, Iran tetap menyatakan kesiapannya untuk mengizinkan kapal-kapal Jepang melintas di Selat Hormuz.  

Pengecualian kecil ini mungkin merupakan sisa jejak hubungan manusiawi yang pernah dirajut di ladang bencana Yamada bertahun-tahun lalu.  

Dalam penanggulangan bencana Bam berbalas Fukuoka, mengambil terminologi Martin Buber, barangkali telah terjadi komunikasi autentik I-Thou antara Iran dan Jepang. Dan , di dalamnya, tidak lepas peran sentral Sayyid Abbas Araghchi. 

Altruisme yang Tidak Mengenal Ruang Tunggal 

Kisah Sayyid Abbas Araghci di Tōhoku mengajarkan sesuatu yang penting. Bahwa kapasitas untuk kebaikan dalam diri seseorang seringkali harus disiapkan. Sehingga, di saat-saat genting , seseorang bisa berbuat baik dan yang terbaik. Sebagai seorang manusia seutuhnya. 

Yang membuat gestur Araghchi di 2011 begitu berkesan bukan hanya karena ia tinggal saat yang lain pergi . Araghchi melakukan seluruh perkhidmatannya pada korban bencana Fukuoka tanpa kamera, tanpa agenda politik, dan tanpa kalkulasi citra. Ia memasak, melayani, dan menemani orang-orang yang sedang hancur. Itu adalah altruisme dalam bentuknya yang paling murni: memberi tanpa pamrih kepada mereka yang tidak bisa membalas. 

Dunia hari ini memandang Araghchi  sekali lagi. Araghchi ada di garis depan diplomasi ketegangan nuklir yang dikhianati.  

Di balik itu, Jepang tetap memiliki sudut pandang yang berbeda. Araghchi adalah seorang lelaki yang datang ke Yamada membawa sup hangat di tengah bencana di musim dingin yang paling beku dalam sejarah modern mereka. 

Kepada lelaki berhati tulus yang sangat menjanjikan diplomasi damai nuklir itu, Amerika dan Israel telah berkhianat. Melakukan agresi militer yang membuat Pemimpin Tertinggi bangsa Iran yang sangat dihormati dan dicintai Araghchi gugur. 

Matahari terbit tidak pernah bertanya kepada siapa ia bersinar. Dan di satu titik dalam hidupnya, Araghchi pun demikian. Saat ini kembali matahari dunia bersinar ke Araghchi, dan kini seluruh dunia menanti. Bagaimana akhir cerita ini , bagi para pengkhianat yang sudah tidak pernah menghiraukan lagi arti ketulusan yang murni. 

Esai ini ditulis berdasarkan catatan kemanusiaan Araghchi saat bencana Tōhoku 2011 dan perkembangan berita terkini seputar perannya sebagai Menteri Luar Negeri Iran di 2025–2026. 

Admin IJABI
Reporter |  + posts
Iklan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berkaitan

Back to top button