Kasihilah Diri Sendiri

Penulis: Mohammad Adlany, Ph.D (Anggota Dewan Syura IJABI)
Dalam khazanah Islam, konsep “mengasihi diri sendiri” tidak dipahami secara dangkal sebagai memanjakan tubuh atau memenuhi seluruh keinginan jasmani. Sebaliknya, kasih sayang terhadap diri justru diartikan sebagai usaha menyelamatkan jiwa dari dominasi tubuh dan hawa nafsu.
Imam Ali as bersabda bahwa derajat pertama dari kedermawanan adalah ketika seseorang mengambil dari jasmaninya untuk menambahkan pada jiwanya, bukan sebaliknya. Beliau menjelaskan:
جاهدوا أهواءكم تملکوا أنفسکم
“Berjihadlah melawan hawa nafsumu, niscaya engkau akan menguasai dirimu.” (Majmū‘ah Warām, jil. 2, hlm. 121)
Sabda ini menegaskan bahwa penguasaan atas diri bukanlah hasil pemanjaan jasmani, melainkan melalui perjuangan spiritual melawan kecenderungan tabiat dan tubuh yang mengajak kepada kemalasan, kenyamanan, dan ketergantungan pada kenikmatan material.
Imam Ali as kemudian memperingatkan agar seseorang tidak mengambil dari jiwanya untuk diberikan kepada tubuhnya, karena hal itu bukanlah kedermawanan, melainkan bentuk pemborosan terhadap potensi ruhani manusia. Beliau bersabda:
جودوا بها علی أنفسکم
“Berderma dan bermurah hatilah terhadap dirimu sendiri.” (ibid.)
Maknanya adalah: kurangi dominasi tubuh, tambahkan kekuatan jiwa; bukan sebaliknya — mengurangi kekuatan jiwa untuk memperkuat tubuh.

Dalam pandangan Imam Ali as, kedermawanan bukanlah memberi secara sembarangan atau berlebih-lebihan terhadap hal-hal jasmani dan duniawi, tetapi suatu proses transendental: mengambil dari alam jasmani lalu memberikannya kepada dimensi spiritual. Oleh karena itu, beliau menegaskan bahwa berlebih-lebihan dalam kenikmatan duniawi bukanlah bentuk kasih terhadap diri, melainkan bentuk kezaliman terhadap jiwa. Beliau juga menggambarkan kesalahpahaman manusia terhadap makna kedermawanan: ketika seseorang dikuasai oleh hawa nafsu dan kecenderungan material, ia melihat pemborosan sebagai kedermawanan, dan sebaliknya, ia menganggap kedermawanan sejati — yang mengurangi badan untuk menumbuhkan jiwa — sebagai penyiksaan terhadap diri. Pandangan ini menunjukkan dimensi epistemologis yang halus: bahwa persepsi manusia terhadap makna “kebaikan” dan “kasih” dapat terbalik bila akalnya telah dikuasai oleh hawa nafsu dan kecenderungan material.
Kasih terhadap Diri: Perspektif Ruhani
Dalam kitab Majmū‘ah Warām, dikisahkan bahwa sebagian orang pernah berkata kepada Imam Ali as: “Wahai Imam, mengapa engkau tidak berbelas kasih kepada dirimu sendiri?”
Imam menjawab: “Aku justru sedang berbelas kasih kepada diriku!”
Mereka berkata: “Jika makananmu sesederhana ini dan istirahatmu sesingkat ini, maka engkau tidak berbelas kasih kepada dirimu.”
Beliau menjawab kembali dengan tegas: “Aku sedang berbelas kasih kepada diriku.”
Dialog ini menunjukkan bahwa kasih sayang terhadap diri dalam pandangan Imam Ali as berarti menyelamatkan jiwa dari perbudakan jasmani dan hawa nafsu. Dengan demikian, kasih sayang sejati bukanlah memberikan kenikmatan kepada tubuh, melainkan mengarahkan tubuh agar menjadi pelayan bagi jiwa dalam proses penyempurnaannya.
Dalam perspektif filsafat Islam — terutama dalam hikmah Mulla Ṣadra — pandangan Imam Ali as ini sejalan dengan realitas hakiki bahwa jiwa adalah substansi yang terus menerus berproses dan bergerak menuju kesempurnaan. Tubuh hanyalah sarana temporer untuk aktualisasi jiwa. Oleh sebab itu, setiap penguatan dimensi ruhani melalui pengendalian hawa nafsu dan kecenderungan material merupakan bentuk kasih sayang eksistensial terhadap diri yang sejati.
Sebaliknya, memanjakan tubuh dengan mengabaikan potensi jiwa berarti memperlemah jiwa, dan hal itu bukan kasih sayang melainkan kebinasaan. Maka sabda beliau “Berderma dan bermurah hatilah terhadap dirimu sendiri” mengandung makna metafisik yang mendalam: manusia harus berderma kepada dirinya yang hakiki — yakni jiwanya — dengan mengambil dari sumber material yang fana.
Dengan demikian, kasih sayang terhadap diri dalam ajaran Islam bukanlah pemanjaan jasmani, melainkan pengorbanan sebagian kenikmatan material demi pertumbuhan dan kesempurnaan spiritual. Kedermawanan sejati adalah memberi kepada jiwa dari tubuh, bukan sebaliknya.
Sabda Imam Ali as tersebut mengandung pesan etis, spiritual, dan filosofis yang mendalam: bahwa kasih sayang terhadap diri berarti menyelamatkan jiwa dari tirani tubuh, mengembalikan keseimbangan antara dunia dan akhirat, antara tubuh dan jiwa, serta antara yang fana dan yang abadi.




