Uncategorize

Sarungi Pedang-Pedang Dosaku: Refleksi Munajat Syakbaniyah 2 

Oleh Ustadz Dr. Dimitri Mahayana (Sekretaris Dewan Syura IJABI) 

إِلٰهِي كَأَنِّي بِنَفْسِي وَاقِفَةٌ بَيْنَ يَدَيْكَ وَقَدْ أَظَلَّهَا حُسْنُ تَوَكُّلِي عَلَيْكَ فَقُلْتَ مَا أَنْتَ أَهْلُهُ وَتَغَمَّدْتَنِي بِعَفْوِكَ 

“Tuhanku, seakan-akan diriku berdiri di hadapan-Mu, dinaungi oleh eloknya tawakalku kepada-Mu. Maka Engkau pun berfirman sebagaimana yang layak bagi-Mu, dan Engkau menyelimutiku dengan ampunan-Mu.” 

Baris dari Munajat Syakbaniyah demikian indah. Bagi saya, keindahannya memuncak pada frasa: Wa taghammadtanī bi-‘afwika—“Dan Engkau menyelimuti aku dengan ampunan-Mu.” 

Dosa sebagai Luka Eksistensial 

iklan

Mengapa ampunan digambarkan sebagai “selimut” atau “sarung”? Akar kata taghammada berasal dari ghimd yang berarti sarung pedang. Metafora ini sangat menggetarkan: ia mengisyaratkan bahwa dosa-dosa kita adalah pedang yang tajam. Secara psikologis, pedang ini tidak hanya melukai orang lain, tapi terutama menikam diri sendiri. Carl Jung menyebutnya sebagai kegagalan berdamai dengan “bayangan” (shadow), sementara William James menggambarkannya sebagai “jiwa yang terpecah.” 

Setiap kali kita berdosa, kita melakukan zhalamū anfusahum—penganiayaan pada diri sendiri—yang menciptakan fragmentasi batin antara siapa kita dan siapa yang seharusnya kita menjadi. Bahkan secara neurosains, jejak dosa atau rasa bersalah yang akut dapat mengubah struktur otak; amigdala yang teraktivasi berlebihan menciptakan “karat” kecemasan yang melumpuhkan. Pedang itu, jika dibiarkan tanpa sarung, akan terus mengiris kemanusiaan kita. 

Makna “Ghamada” 

Di sinilah keagungan Tuhan hadir melalui konsep Ghamada. Dalam bahasa Arab, kata ini memiliki tiga dimensi pemulihan: 

1. Penyarungan (Protection): Sebagaimana sarung melindungi pedang agar tidak berkarat dan tidak melukai, ampunan Allah melindungi hamba dari dampak buruk dosanya sendiri. Walaupun pedang-pedang dosa kita tak terhitung telah melukai diri kita dan sesama. Sungguh Allah Yang Maha Sayang amat sangat layak untuk “menyarungi” seluruh pedang-pedang tajam itu, karena sungguh Allah Sangat Layak untuk melakukannya karena kebaikanNya. Bukan karena kebaikan diri maupun amal kita sedikit pun. 

2. Penyelimutan (Concealment): Seperti seseorang yang menutupi dirinya dengan kain agar tak terlihat, Allah melalui sifat Sattar (Maha Menutupi) menyembunyikan berjuta aib kita dari pandangan makhluk. Ia yang Mahamenumbuhkan memberi kita kesempatan untuk tumbuh kembali setiap saat setiap nafas setiap waktu dan memulai kembali tanpa beban rasa malu terhadap sesama apa pun. 

3. Kelimpahan (Abundance): Taghamada al-mikyal berarti mengisi takaran hingga meluap. Ampunan Allah membanjiri seluruh ruang jiwa kita yang kosong. Dan bahkan jauh lebih luas dari itu. 

‘Afw: Menghapus Jejak di Pasir Waktu 

Menariknya, doa ini menggunakan kata ‘Afw, bukan sekadar Maghfirah. Jika Maghfirah adalah menutupi dosa, maka ‘Afw adalah menghapus jejaknya secara total—seperti angin yang menyapu bekas kaki di atas padang pasir. Ini adalah bentuk “dekolonisasi memori” yang radikal. Seringkali kita terjebak dalam “museum dosa” pribadi—terus mengunjungi kenangan pahit yang membuat kita membenci diri sendiri. Namun, melalui ‘Afw, Allah, membebaskan kita dari tirani masa lalu. Seperti kata Viktor Frankl, penderitaan dan kesalahan masa lalu diubah menjadi pencapaian spiritual (transformasi). Pedang yang tadinya melukai, setelah disarungkanNya dengan MaafNya, menjadi modal utama. 

Melalui kesalahan, dalam Cermin MaafNya, hamba mengenal Jejak Kebenaran. Melalui keburukan, dalam Luapan AsihNya, hamba mengenal Cahaya Hangat Kebaikan. Melalui nista-nista diri yang diikrarkan dengan tulus, – dalam Tiupan Aroma KasihNya-, hamba terserap dalam KeindahanNya. 

Kembali ke Jadzbatur Rahman 

Pada akhirnya, memohon untuk “disarungkan” dalam MaafNya adalah langkah keberanian eksistensial. Kita tidak bisa menyarungkan apa yang tidak kita akui. Dengan mengakui “pedang-pedang dosa” kita yang demikian keji dan merusak, kita membuka pintu, dan mengundang dengan suara bak bayi yang memanggil ibunya yang penuh kasih bagi Kasih Allah Yang Mahaluas untuk menyelimuti kita. Dan, semoga melaluiNya, Ia menjawab dengan menyarungi seluruh kedirian kita sehingga kita fana dalam ‘Afw-Nya (Maaf-Nya). Dan kita pun tenggelam dalam Tarikan Ar-Rahman (Jadzbatur Rahman). 

Apa itu Tarikan Ar-Rahman? Yakni Tarikan yang membuat kita mampu menebar maaf, menyayangi dan berkhidmat pada sesama, terutama mereka papa, yatim dan fukara. Barangsiapa yang menyayangi yang di bumi, maka akan disayangi Yang Di Langit. 

Seribu Jalan Pulang 

Di ambang pintu-Mu yang tak pernah terkatup, aku berdiri membawa rongsokan janji. Sumpah yang pecah seribu kali, dikhianti nafsu sendiri. Namun kudengar bisik-Mu di antara desir angin Rahman: “Datanglah, datanglah lagi…” Sebab pelataran ini bukan altar keputusasaan, tapi samudra pengampunan yang tak bertepi. Setiap sujud adalah jembatan, dan setiap air mata adalah peta menuju rumah-Mu yang tenang. 

Wa maa taufiiqii illa billah ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi uniib 

(Bandung, Di malam-malam Syakban, dalam Penantian dan Kerinduan, dzi’bul haqir) 

Dr. Ir. Dimitri Mahayana, M.Eng.
Sekretaris Dewan Syura IJABI |  + posts
Iklan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berkaitan

Back to top button