Uncategorize

Cahaya Itu Ada di Dalam Sebaik-Baik Rumah Tuhan 

Penulis: Habib Ali Umar Al-Habsyi (Anggota Dewan Syura IJABI) 

Dalam serangkaian ayat Al-Qur’an, Allah Swt. berfirman menjelaskan perumpamaan cahaya-Nya. Cahaya itu berada di sebuah rumah… Cahaya itu adalah pribadi-pribadi mulia yang telah menyatu dengan kehendak-Nya dan hanya berjalan sesuai arah rida-Nya. Bahkan, mereka itulah manifestasi rida Allah. 

Allah Swt. berfirman: 

اَللّٰهُ نُوْرُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ مَثَلُ نُوْرِهٖ كَمِشْكٰوةٍ فِيْهَا مِصْبَاحٌۗ اَلْمِصْبَاحُ فِيْ زُجَاجَةٍۗ اَلزُّجَاجَةُ كَاَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُّوْقَدُ مِنْ شَجَرَةٍ مُّبٰرَكَةٍ زَيْتُوْنَةٍ لَّا شَرْقِيَّةٍ وَّلَا غَرْبِيَّةٍۙ يَّكَادُ زَيْتُهَا يُضِيْءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌۗ نُوْرٌ عَلٰى نُوْرٍۗ يَهْدِى اللّٰهُ لِنُوْرِهٖ مَنْ يَّشَاۤءُۗ وَيَضْرِبُ اللّٰهُ الْاَمْثَالَ لِلنَّاسِۗ وَاللّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌۙ 

“Allah (pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya seperti sebuah lubang (pada dinding) yang tidak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam tabung kaca (dan) tabung kaca itu bagaikan bintang (yang berkilauan seperti) mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang diberkahi, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di timur dan tidak pula di barat, yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis). Allah memberi petunjuk menuju cahaya-Nya kepada orang yang Dia kehendaki. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” 

iklan

Allah melanjutkan penjelasan, di mana cahaya-Nya dapat ditemukan? Cahaya yang akan menyinari jiwa, akal, dan kehidupan manusia? Jawabannya adalah: 

فِيْ بُيُوْتٍ اَذِنَ اللّٰهُ اَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيْهَا اسْمُهٗۙ يُسَبِّحُ لَهٗ فِيْهَا بِالْغُدُوِّ وَالْاٰصَالِۙ 

“(Cahaya itu ada) di rumah-rumah yang telah Allah perintahkan untuk dimuliakan dan disebut di dalamnya nama-Nya. Di dalamnya senantiasa bertasbih kepada-Nya pada waktu pagi dan petang.” 

Siapa yang menempati Rumah Cahaya Allah itu? Yang harus dimuliakan, diagungkan, dan disucikan; yang di dalamnya nama mulia Allah selalu disebut; lantunan zikrullah dikumandangkan, baik pada waktu pagi maupun petang; dan jiwa penghuninya dipenuhi dengan ketundukan, kekhusyukan, dan pengagungan Zat Yang Maha Agung lagi Maha Tinggi? 

رِجَالٌ لَّا تُلْهِيْهِمْ تِجَارَةٌ وَّلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللّٰهِ وَاِقَامِ الصَّلٰوةِ وَاِيْتَاۤءِ الزَّكٰوةِۙ يَخَافُوْنَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيْهِ الْقُلُوْبُ وَالْاَبْصَارُۙ 

“…orang-orang yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan jual beli dari mengingat Allah, melaksanakan salat, dan menunaikan zakat. Mereka takut kepada hari ketika hati dan penglihatan menjadi guncang (hari Kiamat).” (QS. An-Nur: 35–37

Itu Rumah Siapa? 

Ketika rangkaian ayat di atas turun kepada Baginda Nabi Mulia saw., beliau membacakannya di hadapan para sahabat. Rasa keingintahuan mendorong mereka untuk bertanya, dan Nabi pun menjawab pertanyaan mereka sesuai dengan apa yang Allah wahyukan dan ajarkan. 

Para ulama, di antaranya Jalaluddin as-Suyuthi dalam Ad-Durr al-Mantsur fi al-Tafsir bi al-Ma’tsur (5/36), meriwayatkan dari dua sahabat Nabi saw. melalui jalur Ibnu Mardawaih: 

وَأَخْرَجَ ابْنُ مَرْدَوَيْهِ وَبُرَيْدَةُ، قَرَأَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ الْآيَةَ: ﴿فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللهُ أَنْ تُرْفَعَ﴾ فَقَامَ إِلَيْهِ رَجُلٌ فَقَالَ: أَيُّ بُيُوتٍ هٰذِهِ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: بُيُوتُ الْأَنْبِيَاءِ. فَقَامَ إِلَيْهِ أَبُو بَكْرٍ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، هٰذَا الْبَيْتُ مِنْهَا: بَيْتُ عَلِيٍّ وَفَاطِمَةَ؟ قَالَ: نَعَمْ، مِنْ أَفَاضِلِهَا. 

Ibnu Mardawaih meriwayatkan dari Anas bin Malik, dan Buraidah meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. membaca ayat berikut: “Di rumah-rumah yang Allah izinkan untuk ditinggikan (kemuliaannya).” 

Lalu seseorang berdiri dan bertanya kepada beliau, “Rumah-rumah apakah ini, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Rumah para nabi.” 

Kemudian Abu Bakar berdiri dan bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah rumah ini—rumah Ali dan Fatimah—termasuk di dalamnya?” Beliau menjawab, “Ya, bahkan termasuk yang paling mulia di antara rumah-rumah itu.” 

Cahaya Allah itu berada di rumah Ali dan Fatimah as. Cahaya Allah itu ternyata adalah Ali dan Fatimah as. 

Demikianlah Allah memfirmankan. Rumah Cahaya harus dimuliakan, diagungkan, dan ditinggikan sebutan serta kehormatannya. Cahaya Allah yang memancar ke seantero jagat raya itu sumbernya adalah Rumah Cahaya yang wajib dimuliakan… itu adalah rumah Ali dan Fatimah as. Karenanya, Nabi saw. pun mengagungkannya dan Jibril as. pun memuliakannya, karena Allah telah memuliakan rumah cahaya-Nya. 

Dalam bagian lain dari kehidupan Baginda, khususnya setelah turun firman suci Allah yang menyebutkan pengagungan Ahlulbait beliau as., yaitu potongan akhir ayat 33 Surah Al-Ahzab (yang dikenal dengan nama Ayat At-Tathir), yang turun secara khusus (tidak bersama rangkaian ayat-ayat di sekitarnya, namun atas perintah Nabi saw. kemudian digabungkan dalam rangkaian ayat tersebut): 

اِنَّمَا يُرِيْدُ اللّٰهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ اَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيْرًاۚ 

“Sesungguhnya Allah hanya hendak menghindarkan segala kotoran dari kalian, wahai Ahlulbait, dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” 

Ketika ayat itu turun, Nabi saw. segera memanggil Ali, Fatimah, Al-Hasan, dan Al-Husein as. Setelah mereka berkumpul, Nabi saw. mengerudungkan kain (kisa’) ke atas mereka sambil membaca ayat suci tersebut. 

Setelah turunnya ayat tersebut, setiap kali Nabi saw. keluar rumah menuju mihrab salat di masjid, beliau selalu berhenti di depan rumah Ali dan Fatimah as. Beliau menyerukan agar segera menegakkan salat seraya melantangkan bacaan ayat suci di atas, agar para sahabat yang berada di dalam masjid mendengarnya. Seakan Nabi saw. ingin menegaskan bahwa merekalah pemilik ayat suci penuh pengagungan Tuhan itu, dan agar mereka menyampaikan pesan suci Nabi saw. kepada generasi demi generasi. Demikian diriwayatkan oleh para ulama Islam, baik dari kalangan Ahlusunah maupun Syiah. 

Dalam Ad-Durr al-Mantsur (5/377–378), Jalaluddin as-Suyuthi merangkum beberapa hadis tentang kebiasaan Nabi saw. tersebut, sebagai berikut: 

Ibnu Abi Syaibah, Ahmad, at-Tirmidzi (yang menilainya hasan), Ibnu Jarir, Ibnu al-Mundzir, ath-Thabarani, al-Hakim (yang mensahihkannya), dan Ibnu Mardawaih meriwayatkan dari Anas ra.: Bahwa Rasulullah saw., ketika keluar menuju salat Subuh, selalu melewati pintu rumah Fatimah ra. dan berseru: “Wahai Ahlulbait. Mari tegakkan salat! Mari tegakkan salat! ‘Sesungguhnya Allah hendak menghindarkan segala kotoran dari kalian, wahai Ahlulbait, dan menyucikan kalian dengan penyucian yang sempurna’.” 

Ibnu Mardawaih meriwayatkan dari Abu Sa‘id al-Khudri ra., ia berkata: “Ketika Ali ra. telah hidup serumah dengan Fatimah ra., Nabi saw. selama empat puluh pagi datang ke pintu rumah mereka dan berkata: ‘Assalamu ‘alaikum wahai Ahlulbait, rahmat Allah dan berkah-Nya atas kalian. Mari tegakkan salat, semoga Allah merahmati kalian. Sesungguhnya Allah hendak menghindarkan segala kotoran dari kalian, wahai Ahlulbait, dan menyucikan kalian dengan penyucian yang sempurna. Aku adalah pihak yang memerangi siapa pun yang kalian perangi, dan aku adalah pihak yang berdamai dengan siapa pun yang kalian berdamai dengannya’.” 

Seakan tabir gaib telah disingkap untuk Rasulullah saw. tentang apa yang akan dialami oleh Rumah Suci Fatimah dan Ali as., serta bagaimana nasib pintu kehormatan rumah mereka sepeninggal beliau saw. Karena itulah, beliau mengingatkan umat ini dan mengumumkan bahwa Nabi saw. akan berperang melawan siapa pun yang memerangi penghuni Rumah Cahaya Tuhan (Fatimah, Ali, Al-Hasan, dan Al-Husein as.) serta berdamai dengan siapa pun yang berdamai dengan mereka. Sebuah ancaman serius yang menggetarkan pilar-pilar langit. 

As-Suyuthi melanjutkan: 

Ibnu Jarir dan Ibnu Mardawaih meriwayatkan dari Abu al-Hamra’ ra., ia berkata: “Selama delapan bulan di Madinah, aku mengamati Rasulullah saw. Tidak sekali pun beliau keluar untuk salat Subuh kecuali beliau datang ke pintu rumah Ali ra., meletakkan tangannya pada kedua sisi pintu, lalu berkata: ‘Salat… salat! Sesungguhnya Allah hendak menghindarkan segala kotoran dari kalian, wahai Ahlulbait, dan menyucikan kalian dengan penyucian yang sempurna’.” 

Ya Allah, alangkah sedihnya mengingat nasib pintu Rumah Cahaya Allah yang tangan Rasulullah selalu diletakkan padanya. Isyarat apa gerangan yang ingin dikirimkan kepada para sahabat?! Pintu Rumah Cahaya yang dahulu mendapat sentuhan lembut tangan sang Nabi saw. itu, kini setelah kepergiannya, tak lagi disentuh dengan kelembutan. 

Agar semua memahami kemuliaan Rumah Cahaya Allah, Nabi saw. tidak hanya menghampiri rumah Fatimah as. di waktu salat Subuh saja, tetapi dalam lima waktu salat sehari semalam. 

Ibnu Mardawaih meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas ra., ia berkata: “Selama sembilan bulan, kami menyaksikan Rasulullah saw. setiap hari datang ke pintu rumah Ali bin Abi Thalib ra. pada setiap waktu salat. Beliau berkata: ‘Assalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh, wahai Ahlulbait. Sesungguhnya Allah hendak menghindarkan segala kekotoran dari kalian, wahai Ahlulbait, dan menyucikan kalian dengan penyucian yang sempurna. Mari tegakkan salat, semoga Allah merahmati kalian’. Beliau melakukan itu lima kali setiap hari, pada tiap waktu salat.” 

Demikianlah Allah dan Rasul-Nya memuliakan serta mengagungkan Rumah Cahaya Tuhan… rumah Fatimah dan Ali as. 

Namun, apakah umat ini kemudian juga memuliakan dan mengagungkannya? Bagaimana dengan pintu Rumah Cahaya Tuhan itu?! Apakah mereka tidak lagi memuliakannya ketika mereka mengancam untuk membakarnya? Tahukah kita, rumah apa yang mereka ancam untuk dibakar beserta seluruh penghuninya? Itu adalah Rumah Cahaya Allah… rumah Fatimah az-Zahra as., putri Rasulullah saw. 

Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. 

Ibnu Qutaibah ad-Dinawari dalam kitabnya yang berjudul Al-Imamah wa as-Siyasah (atau dikenal dengan Tarikh al-Khulafa’) melaporkan sebagai berikut: 

“Sesungguhnya Abu Bakar ra. mencari tahu keadaan suatu kaum yang tidak hadir untuk membaiatnya dan berkumpul di rumah Ali—semoga Allah memuliakan wajahnya. Maka ia mengutus Umar kepada mereka. Umar datang lalu memanggil mereka sementara mereka berada di rumah Ali, tetapi mereka enggan keluar. Lalu Umar meminta didatangkan kayu bakar dan berkata, ‘Demi (Allah) yang jiwa Umar berada di tangan-Nya, sungguh kalian harus keluar, atau aku akan membakarnya atas siapa saja yang ada di dalamnya.’ 

Lalu dikatakan kepadanya, ‘Wahai Abu Hafsh, di dalamnya ada Fatimah!’ Umar menjawab, ‘Meskipun demikian (aku tidak peduli).’” 

Demikian dilaporkan oleh Ibnu Qutaibah ad-Dinawari dalam Al-Imamah wa as-Siyasah (1/20) dan juga Ibnu Abi al-Hadid al-Mu’tazili asy-Syafi’i dalam Syarah Nahjul Balaghah (11/111). 

Habib Ali Umar Al-Habsyi
+ posts
Iklan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berkaitan

Back to top button