Mengenang Mukmin Sejati Dari Quraisy Di Yaumul Mab’ats
(Al Munawwarah, Peringatan Yaumul Mab’ats di Pengajian Ahad Allahyarham Ustadz Jalaluddin Rakhmat, 18 Januari 2026)

Penulis : Dr. Dimitri Mahayana (Sekretaris Dewan Syura IJABI)
Allah ‘Azza Wa Jalla berfirman dalam Surah Jumu’ah ayat 2.
هُوَ الَّذِيْ بَعَثَ فِى الْاُمِّيّٖنَ رَسُوْلًا مِّنْهُمْ يَتْلُوْا عَلَيْهِمْ اٰيٰتِهٖ وَيُزَكِّيْهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ وَاِنْ كَانُوْا مِنْ قَبْلُ لَفِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍۙ
Huwal-lażī ba‘aṡa fil-ummiyyīna rasūlam minhum yatlū ‘alaihim āyātihī wa yuzakkīhim wa yu‘allimuhumul-kitāba wal-ḥikmata wa in kānū min qablu lafī ḍalālim mubīn(in).
Dialah yang mengutus seorang Rasul (Nabi Muhammad) kepada kaum yang buta huruf dari (kalangan) mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka, serta mengajarkan kepada mereka Kitab (Al-Qur’an) dan Hikmah (sunah), meskipun sebelumnya mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata.
Ba’atsa menurut Isfahani dalam Al Mufradat fii ghoriibil Qur’an asal arti katanya adalah mengarahkan sesuatu.
Dalam QS 2:259
اَمَاتَهُ اللّٰهُ مِائَةَ عَامٍ ثُمَّ بَعَثَهٗ ۗ
Lalu, Allah mematikannya selama seratus tahun, kemudian membangkitkannya (kembali)
Di sini ba’atsa bermakna membangkitkan kembali setelah mati.
Selanjutnya dalam Surah Al-An’aam 60
وَهُوَ الَّذِيْ يَتَوَفّٰىكُمْ بِالَّيْلِ وَيَعْلَمُ مَا جَرَحْتُمْ بِالنَّهَارِ ثُمَّ يَبْعَثُكُمْ فِيْهِ لِيُقْضٰٓى اَجَلٌ مُّسَمًّىۚ ثُمَّ اِلَيْهِ مَرْجِعُكُمْ ثُمَّ يُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ ࣖ
Wa huwal-lażī yatawaffākum bil-laili wa ya‘lamu mā jaraḥtum bin-nahāri ṡumma yab‘aṡukum fīhi liyuqḍā ajalum musammā(n), ṡumma ilaihi marji‘ukum ṡumma yunabbi’ukum bimā kuntum ta‘malūn(a).
Dialah yang menidurkan kamu pada malam hari dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan pada siang hari. Kemudian, Dia membangunkan kamu padanya (siang hari) untuk disempurnakan umurmu yang telah ditetapkan. Kemudian kepada-Nya tempat kamu kembali, lalu Dia memberitahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.
Di sini yab’atsu, fi’il mudhori’ dari ba’atsa digunakan dalam arti membangunkan dari tidur.
Barangkali , menurut pemahaman alfaqir yang dangkal, salah satu hikmah mab’ats Nabi Saw adalah “membangunkan ummat manusia dari tidur panjang atau kematian hati atau kematian hakiki”. Mengarahkan seluruh ummat manusia dari kegelapan-kegelapan menuju cahaya. Menggerakkan ummat manusia dari akhlaq tercela menuju akhlaq mulia. Mengubah manusia dari kehidupan penyembahan pada berhala termasuk yang terbesar adalah berhala ego, menuju kemerdekaan dan kebebasan mutlak ‘inda robbihim yurzaquun. Yakni, keadaan manusia yang senantiasa mengalir dalam akhlak mulia dan kenikmatan tak terperi dari Yang Maha Pengasih lagi Penyayang.
Melalui bangkitnya Nabi yang membawa Nubuwwah maupun Risalah, mereka yang mengikutinya akan dibawa dari azh-zhulumaat pada an-nuur.
Menurut sebuah hadis yang diriwayatkan dari Imam Shadiq as, penduduk Mekkah tidak memiliki kitab suci dan tidak memiliki pemimpin yang diangkat oleh Allah. Karenanya, penyebutan ummi dinisbatkan oleh Allah kepada mereka.
Menurut Tabatabai, Hal ini tidak berkontradiksi dengan dengan status beliau sebagai rasul yang diutus kepada mereka; beliau memang berasal dari mereka namun diutus kepada seluruh manusia.
Pembahasan lebih detil tafsir ayat ini sangat menarik.
يَتْلُوْا عَلَيْهِمْ اٰيٰتِهٖ وَيُزَكِّيْهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ
Namun demikian, pada majelis mulia ini , kita tidak akan membahas empat tahapan mulia ini; membacakan pada mereka ayat-ayatNya, menyucikan mereka, mengajarkan pada mereka al-Kitab dan al-Hikmah. Ini memerlukan majelis ilmu lain, dan insya Allah Kyai Miftah merupakan salah satu yang sangat ingin kita dengar uraiannya mengenai masalah ini.
Pada majelis kali ini, saya ingin mendiskusikan salah satu figur agung Mukmin dari Keluarga Quraisy yang keimanannya pada Rasulullah Saw mencapai tahapan yang tidak bisa diukur, dan bahkan mencapai derajat-derajat Kewalian dan Keimanan yang sangat tinggi, kedekatan pada Nabi Saw dan keluarganya yang suci as yang sangat tak berjarak lagi; namun demikian pada saat yang sama keimanannya tersembunyi.
Keimanan yang tersembunyi ini , sesuai dengan konteks zaman dan perjuangan Bi’tsah Nabi Saw, adalah hal yang Beliau as pilih dengan cermat dan sangat akurat. Sebagaimana Mukmin dari keluarga Fir’aun yang diungkapkan di surat Mukmin. Dan melalui strategi yang agung ini, dakwah Nabi Saw menjadi lebih terlindungi dan lebih aman, terutama di saat ia masih berusia sangat dini di Makkah Al Mukarramah.
وَقَالَ رَجُلٌ مُّؤْمِنٌۖ مِّنْ اٰلِ فِرْعَوْنَ يَكْتُمُ اِيْمَانَهٗٓ اَتَقْتُلُوْنَ رَجُلًا اَنْ يَّقُوْلَ رَبِّيَ اللّٰهُ وَقَدْ جَاۤءَكُمْ بِالْبَيِّنٰتِ مِنْ رَّبِّكُمْ ۗوَاِنْ يَّكُ كَاذِبًا فَعَلَيْهِ كَذِبُهٗ ۚوَاِنْ يَّكُ صَادِقًا يُّصِبْكُمْ بَعْضُ الَّذِيْ يَعِدُكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ لَا يَهْدِيْ مَنْ هُوَ مُسْرِفٌ كَذَّابٌ
Wa qāla rajulum mu’min(um), min āli fir‘auna yaktumu īmānahū ataqtulūna rajulan ay yaqūla rabbiyallāhu wa qad jā’akum bil-bayyināti mir rabbikum, wa iy yaku kāżiban fa ‘alaihi każibuh(ū), wa iy yaku ṣādiqay yuṣibkum ba‘ḍul-lażī ya‘idukum, innallāha lā yahdī man huwa musrifun każżāb(un).
Seorang laki-laki mukmin dari keluarga Fir‘aun yang menyembunyikan imannya berkata, “Apakah kamu akan membunuh seseorang karena dia berkata, ‘Tuhanku adalah Allah.’ Padahal, sungguh dia telah datang kepadamu dengan membawa bukti-bukti yang nyata dari Tuhanmu. Jika dia seorang pendusta, dialah yang akan menanggung (dosa) dustanya itu, dan jika dia seorang yang benar, niscaya sebagian (bencana) yang diancamkan kepadamu akan menimpamu. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang yang melampaui batas lagi pendusta. (QS 40:28)

**”Abu Thalib: Mukmin Quraisy”** karya Abdullah al-Khanizi, sebuah karya monumental yang mengumpulkan ratusan riwayat dan bukti historis tentang keimanan dan pengorbanan Abu Thalib, mengutip ayat ini di bagian depannya.
Peran mukmin keluarga Fir’aun ini sungguh luar biasa. Dan walaupun ia menyembunyikan keimanannya, namun keutamaannya di sisiNya tak terbantahkan. Dan perannya sungguh luar biasa. Ia berhasil membuat Fir’aun dan tentaranya menundakan gerakannya dalam membunuh Nabiyullah Musa as , Nabiyullah Harun as dan para pengikutnya. Dan penundaan ini memberikan jendela kesempatan emas pada Nabiyullah Musa as , Nabiyullah Harun as dan para pengikutnya untuk menyelamatkan diri.
Di sini peran Abu Thalib memiliki kesangatmiripan dengan Mukmin dari keluarga Fir’aun.
وَعَنِ الإِمَامِ الصَّادِقِ (عَلَيْهِ السَّلَامُ): «إِنَّ أَبَا طَالِبٍ أَظْهَرَ الْكُفْرَ، وَأَسَرَّ الإِيمَانَ
Dari Imam Ash-Shadiq (semoga keselamatan tercurah padanya): ‘Sesungguhnya Abu Thalib menampakkan kekafiran dan menyembunyikan keimanan…..
(Bihâr al-Anwâr, juz 35, hal 18 dll)
Abu Thalib: Teladan Sempurna dari Ayat Al-A’raf 157
فَالَّذِينَ آمَنُوا بِهِ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُوا النُّورَ الَّذِي أُنزِلَ مَعَهُ ۙ أُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
(Surah Al-A’raf [7]: 157 – bagian akhir)
“Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang diturunkan kepadanya (Al-Qur’an), mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
Ayat Al-A’raf 157 ini memberikan empat kriteria fundamental bagi orang-orang yang beruntung (al-muflihuun): **iman kepada Nabi ﷺ**, **ta’zir (memuliakan)**, **nash-r (menolong)**, dan **ittiba’ an-nur (mengikuti cahaya Al-Qur’an)**. Sejarah menunjukkan **Abu Thalib bin Abdul Muthalib**, paman dan pelindung Rasulullah ﷺ merupakan perwujudan dari ayat tersebut yang sempurna.
Namun demikian, hal terindahnya adalah, Sang Pelindung Nabi saw ini melakukan itu semua sembari tidak mendeklarasikannya terang-terangan terutama di depan kaumnya (yakni Quraisy). Dan ini sungguh merupakan teladan agung bagi kita semua untuk selalu melaksanakan agama dan keindahannya serta kebenarannya sesuai dengan konteks sosial. Konteks apa yang paling bermanfaat dalam ruang waktu dan masyarakat kita.
Hal tersebut yang juga mendasari pentingnya Maqashid Asy Syari’ah yang diajarkan Allahyarham UJR pada beberapa tahun terakhir sebelum beliau rihlah.
فَالَّذِينَ آمَنُوا بِهِ – Orang-orang yang Beriman Kepadanya
Pengakuan Eksplisit tentang Kenabian Muhammad ﷺ
Al-Khanizi dalam bukunya (hal. 131-134) menuliskan dengan sangat indah.
“ Sejumlah pemuka Quraisy: “ Wahai Abu Thalib, anak saudaramu telah mencela tuhan-tuhan kami, menghina agama kami, menganggap bodoh akal kami, dan memandang sesat bapak-bapak kami. Apakah engkau menghentikan dia atau menyerahkannya kepada kami, karena engkau berbeda pandangan dengan apa yang kami lakukan. Oleh karena itu, kami memandang engkau dapat memperingatkannya.”
Abu Thalib bersikap lembut kepada mereka dan menjawab dengan kata-kata yang halus hingga mereka beranjak meninggalkannya. …
Abu Thalib pada Nabiyullah Muhammad Saw: “ Kasihanilah aku dan dirimu! Jangan bebani aku dengan perkara yang tidak mampu aku pikul”
Rasulullah Saw menjawab: “ Wahai pamanku, kalaupun mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan tugas ini sehingga Allah memenangkannya atau aku binasa karenanya, maka aku tidak akan meninggalkannya!”
….
“Pergilah, hai anak saudaraku! Sampaikanlah apa yang ingin kau katakana. Demi Allah, aku tidak akan menyerahkanmu pada sesuatu apa pun untuk selama-lamanya!”
Kemudian , ia berbisik kepadanya sambil membaca bait-bait syair berikut:
Demi Allah, mereka semua tak akan menyentuhmu
Hingga aku terkubur berkalang tanah
Jalankan tugasmu, dan jangan merendah
Sampaikan tugas itu dan sejuklah matamu
Kau seru aku, dan kutahu, kau menasihatiku
Kau benar, dan karenanya kau aman
Kutahu bahwa agama Muhammad
Sebaik-baik agama bagi umat manusia” (Syarh Nahjul Balaghah juz 3, hal 306 (Ibn Abil Hadid/seorang Mu’tazilah, dan sumber-sumber lain)
Syair-syair Abu Thalib lain bisa dibaca di buku Al Khanizi tersebut hal 358 sd 375.
Dalam suatu riwayat, dijelaskan bahwa :
سَمِعْتُ أَمِيْرَ الْمُؤْمِنِيْنَ عَلَيْهِ السَّلَامُ يَقُوْلُ: وَاللهِ مَا عَبَدَ أَبِي وَلاَ جَدِّي عَبْدُ الْمُطَّلِبِ وَلاَ هَاشِمٌ وَلاَ عَبْدُ مَنَافٍ صَنَمًا قَطُّ، قِيْلَ: فَمَا كَانُوْا يَعْبُدُوْنَ؟ قَالَ: كَانُوْا يُصَلُّوْنَ إِلَى الْبَيْتِ عَلَى دِيْنِ إِبْرَاهِيْمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ مُتَمَسِّكِيْنَ بِهِ.
Aku mendengar Amirul Mukminin (semoga keselamatan atasnya) bersabda: “Demi Allah, ayahku, kakekku Abdul Muthalib, Hasyim, dan Abdul Manaf tidak pernah menyembah berhala sama sekali.” Ditanyakan (kepadanya): “Lalu apa yang mereka sembah?” Beliau bersabda: “Mereka melaksanakan shalat menghadap ke Baitullah (Ka’bah) di atas agama Ibrahim (semoga keselamatan atasnya), berpegang teguh padanya.” (Bihar al Anwar , juz 35 hal 81)
Ini sangat signifikan karena menunjukkan bahwa Abu Thalib memiliki fondasi tauhid yang kuat bahkan sebelum bi’tsah Nabi ﷺ.
وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ – Mereka Memuliakannya dan Mereka Menolongnya
Ta’zir, sebagaimana dijelaskan Raghib Isfahani, adalah **”an-nushrah ma’a at-ta’zhim” (النُّصْرَةُ مَعَ التَّعْظِيمِ)** – pertolongan yang disertai dengan pengagungan dan penghormatan.
Nashr adalah pertolongan aktif dalam misi kenabian. Abu Thalib menunjukkan nash-r dalam berbagai bentuk.
Kisah Makanan dan Susu Di Gelas Besar
Abu Thalib memiliki sedikit harta, dan banyak anggota keluarga. Anggota keluarganya tidak pernah kenyang apabila mereka duduk di atas hidangan, baik sendiri-sendiri maupun bersama-sama.
Apabila Rasulullah saw bergabung dalam hidangan itu, mereka meninggalkannya. Mereka menunggu beliau kenyang dan memakan sisanya. Apabila waktu makan tiba dan tidak melihat anak saudaranya, Abu Thalib berkata kepada mereka, “Bersabarlah kalian hinga anakku datang.”
Apabila salah seorang dari mereka minum susu dari gelas besar, Abu Thalib mengambil gelas itu. Ia ingin agar Rasulullah Saw minum terlebih dahulu, barulah seluruh keluarganya dari gelas yang sama. Abu Thalib berkata, “Engkau diberkahi.” (As Sirah An Nabawiyyah juz 1 hal 80, al-Bihar juz 6, hal 124 dan 129).
Pengorbanan di Lembah Syi’b
Dari laman nu.or.id, “Berbagai upaya sudah ditempuh kaum musyrikin untuk menghalangi dakwah Rasulullah. Bahkan, mereka pernah bersekongkol untuk membunuhnya. Tapi semua itu selalu gagal. Di belakang Rasulullah ada Bani Hasyim dan Bani Muthalib yang membela mati-matian, apapun risikonya. Akhirnya, sampailah puncak kepanikan kaum musyrikin. Puncak kegeraman orang Qurasiy itu berujung pada upaya untuk memakzulkan Rasulullah, berikut para pengikutnya, dan semua dari kalangan Bani Hasyim dan Bani Muthalib yang melindunginya. Orang Quraisy membuat kebijakan sepihak agar para pembela Rasulullah dirugikan. Kebijakan ‘curang’ itu berisi tentang larangan menikahi kedua suku Bani Hasyim dan Bani Muthalib, melakukan transaksi dengan mereka, membuka jalan nafkah untuk mereka, berdamai dengan mereka, dan membantu mereka, sampai pihak Bani Muthalib bersedia menyerahkan Rasululllah saw untuk dibunuh. Kebijakan-kebijakan kejam itu mereka tulis di atas sebuah shahifah (lembaran) yang berisi perjanjian dan sumpah, “Bahwa mereka selamanya tidak akan menerima perdamaian dari Bani Hasyim dan tidak akan berbelas kasihan terhadap mereka, kecuali jika mereka bersedia menyerahkannya (Rasulullah saw, pent.) untuk dibunuh.” (lihat Al-Mubarakfuri, Rahiq al-Makhtum, hal. 106) Perjanjian itu dilaksanakan dan digantungkan di dalam Ka’bah. Bani Hasyim dan Bani Muthalib, baik yang sudah beriman atau yang masih kafir, tetap bersikukuh untuk membela Rasulullah saw. Mereka pun terisolasi di celah bukit milik Abu Thalib pada malam pertama bulan Muharram tahun ke-7 kenabian, ada pula yang menyebutkan selain tanggal tersebut (lihat Al-Mubarakfuri, Rahiq al-Makhtum, hal. 106) Orang-orang yang sudah beriman dikucilkan di bukit itu lantaran keyakinan yang mereka anut. Sementara mereka yang belum beriman dan tetap mendapat pengucilan itu karena dianggap melindungi Rasulullah. Artinya, seluruh anggota Bani Hasyim dan Bani Muthalib diboikot, kecuali hanya satu orang, Abu Lahab. Pemboikotan itu berlangsung selama tiga tahun. Dari bulan Muharram tahun ke-7 kenabian sampai bulan Muharram tahun ke-10 kenabian. Selama tiga tahun itu, Bani Hasyim dan Bani Muthallib sangat menderita. Tidak ada makanan yang bisa mereka makan. Bahkan, sampai mereka terpaksa memakan dedaunan dan kulit-kulit. Tidak hanya itu, jeritan kaum wanita dan bayi-bayi mengerang di balik kelaparan yang mencekam. Setiap ada sahabat Rasulullah saw datang untuk membeli makanan dari kafilah yang datang ke Makkah, Abu Lahab berseru pada kafilah itu agar melipatgandakan harganya, sehingga sahabat tadi tidak mampu membelinya. “Wahai pedagang, naikkan harga kalian untuk para sahabat Muhammad, supaya mereka tidak dapat membeli apapun!” Seru Abu Lahab. (lihat Al-Buthi, Fiqh al-Sirah, hal. 86)
Sumber: https://nu.or.id/sirah-nabawiyah/kisah-kepedihan-bani-hasyim-dan-bani-muthalib-saat-diboikot-kafir-quraisy-Meb8T
Ketika diasingkan di Lembah Syi’b, Abu Thalib selalu melindungai Kanjeng Nabi Saw dan selalu terjaga untuk mengawasinya.
Ketika malam menyelimuti mereka dengan gelapnya kelam dan tiba saat mereka untuk tidur, Abu Thalib menghamparkan dan membentangkan tikar untuk Rasulullah Saw disaksikan oleh mereka semuanya.
Ketika malam telah larut dan mereka telah tertidur pulas, sementara ia masih terjaga, ia sendiri bangkit, lalu menukarkan tempat tidur putranya, Ali as , dengan Rasulullah Saw.
Ia memindahkan putranya ke tempat tidur Rasulullah as dan memindahkan Rasulullah Saw ke tempat tidur Ali as.
Sehingga jika ada orang , – dan mungkin juga infiltran-, yang berniat buruk maka kejahatan itu akan menimpa putranya sendiri, sementara Rasulullah Saw selamat.
Ia menjadikan putranya sebagai tebusan sehingga kejahatan tidak menimpa Rasulullah Saw.
Sungguh itu merupakan ta’ziir yang tak terkata. Sungguh Abu Thalib menolong Rasulullah Saw dan sembari mengagungkannya serta mengutamakannya bahkan ketimbang anaknya sendiri.
Kisah yang kita kutip di atas tentang strategi perlindungan di malam hari menunjukkan kesiapan Abu Thalib untuk mengorbankan segalanya demi Rasulullah Saw.
“Selama dalam pengepungan di Syi’b, dalam menghadapi berbagai penderitaan dan bencana Abu Thalib as menggubah syair yang berapi-api.
Sampaikan berita dariku kepada para pemuka di antara mereka
Terutama para pemuka dari Bani Ka’b
Tidakkah kaliahan tahu bahwa kami temukan Muhammad
Seorang Nabi seperti Musa, tertulis dalam kitab-litab suci dahulu
Ia cintai para hamba semuanya
Tak bersikap lalim pada orang yang mendapat cinta khusus dari Allah
Orang yang kalian baca dalam kitab-kitab kalian
Suatu hari menjadi seperti unta lapar bagi kalian
Sadarlah, sadarlah, sebelum kuburan digali
Dan orang yang tak berdosa menjadi seperti pendosa
Jangan ikuti perintah kesesatan dan penuhi
Janji kami disertai cinta dan kedekatan
Demi Baitullah, kami tak akan serahkan Ahmad
Agar ia selamat dari bencana dan kesusahan
Ketika pendahulu berlalu dari kami dan kalian
Dan tangan-tangan memotong dengan pedang yang tajam
Barangkali syair di bawah inilah yang dibacakannya di Syi’b.
Tidakkah kalihan tahu bahwa permusuhan itu dosa
Perkara buruk nan hitam kelam, tidak teguh
Jalan petunjuk akan diketahui esok
Dan bahwa kenikmatan dunia tidaklah abadi
Jangan bodohkan akal kalian tentang Muhammad
Jangan ikuti perkara sesat dan kelam
Kalian berharap dapat membunuhnya
Hanyalah harapan kalian ini seperti mimpi orang tidur
Demi Allah, kalian tak dapat membunuhnya
Takkan kalian lihat jejak janggut dan jakun
….. Kalian kira, kami akan serahkan Muhammad
Sama sekali kami takkan serahkan dia pada siapa pun
Dermawan dari kaum itu, menolak permusuhan
punya kedudukan kokoh pada dua cabang, dari keluarga Hasyim
Orang terpercaya, kekasih di tengah hamba
Ditugas membawa risalah penutup dari Tuhan Yang Mahaperkasa
Ia perlihatkan pada manusia kemuliaan dan Burhan atasnya
Dan si bodoh di kaumnya tidak sama dengan orang berilmu
Seorang Nabi yang diberi wahyu dari sisi Tuhannya
Dan yang berkata “tidak”, akan mendapatkan penyesalan (Syarh Nahj al Balaghah, juz 3, hal. 313 dll)
Sahifah dan Berakhirnya Pemboikotan
Kehidupan yang demikian berat di Syi’b telah dijalani selama dua tahun menurut satu pendapat, atau tiga tahun menurut pendapat lain. Pada suatu hari, Allah mewahyukan pada Rasul yang agung saw apa yang tejadi pada sahifah. Rayap telah memakan semua yang tertulis berupa kata-kata kezaliman dan permusuhan pada sahifah itu. Tidak ada yang tersisa selain nama Allah.
Rasul menyampaikan berita ini kepada pamannya, Abu Thalib as.
“Wahai putra saudaraku, apakah Tuhanmu mengabarkan hal ini kepadamu?”
Ketika Rasul memberikan jawaban positif, orang tua itu berkata, “ Sungguh engkau tidak pernah berbohong kepadaku.”
Abu Thalib keluar dari Syi’b didampingi berberapa orang dari orang Bani Hasyim dan Bani Muthalib. Mereka mendatangai Masjidil Haram. Ketika orang-orang Quraisy melihatnya, mereka mengira ia datang untuk menyerahkan Muhammad kepada mereka karena pengepungan itu telah menyengsarakannya.
Terjadi suatu dialog yang demikian taktis dan diplomatis. Di antaranya, Abu Thalib berkata, “ Aku mendatangi kalian karena satu hal , yaitu setengah antara kami dan kalian, bahwa anak saudaraku memberitahukan kepadaku, dan ia tidak pernah berbohong kepadaku, bahwa Allah telah mengirim rayap pada sahifah kalian. Rayap itu tidak menyisakan apa pun selain nama Allah. Jika kenyataan seperti apa yang dikatakannya, maka hendaklah kalian sadar terhadap apa yang telah kalian lakukan. Demi Allah, kami tidak akan menyerahkannya hingga pada akhirnya kami mati. Namun, jika apa yang dikatakannya itu tidak benar maka kami akan menyerahkannya pada kalian…”
Jika kalian setuju dengan penawaran ini maka bukalah sahifah itu. Sahifah itu memperlihatkan apa yang telah diberitahukan kepada mereka. Namun, mereka mengatakan, “ Ini adalah sihir anak saudaramu.”
Di hadapan mereka, Abu Thalib berkata,
“Dengan pengepungan kepada kami, perkara telah jelas. Telah tampak bahwa kalian lebih mementingkan kezaliman dan permusuhan.”
Ketika itu, ia bersama beberapa orang yang menyertainya berdiri. Ia memegang tirai Ka’bah sambil memohon agar Allah memberikan pertolongan kepada mereka dengan suara rintihan orang yang teraniaya,
“ Yaa Allah, tolonglah kami atas orang-orang yang menzalimi kami, yang memutuskan silaturahmi dengan kami, dan menghalalkan apa yang diharamkan atas mereka terhadap kami.”
Ketika itu, sekelompok Quraisy pergi. Mereka telah menyaksikan kezaliman dan kesewenang-wenangan mereka yang kelewat batas. Mereka pun membatalkan perjanjian yang tertulis pada sahifah. Dengan demikian pengepungan yang telah berlangsung selama dua atau tiga tahun ini berakhir. (As Sirah Nabawiyyah juz 1, hal 276-277 dan sumber-sumber lain)
Sya’ir Abu Thalib ketika keluar dari Syi’b.
Dalam perkara sahifah terdapat Pelajaran
Ketika kekuatan gaib memberi berita yang menakjubkan
Dengannya Allah menghapus kekafiran
Dan kedurhakaan mereka
Dan kebencian mereka pada kebenaran yang nyata
Apa yang mereka katakana tentang perkara itu menjadi batil
Dan orang yang mereka-reka apa yang bukan kebenaran
Adalah berdusta.” (Ibnu al-Atsir, al Kamil, juz 2 hal 62)
Ancaman Perang kepada Quraisy
Dalam rangka mencari Rasulullah Saw yang sempat hilang Abu Thalib pernah memobilisasi para pemuda dari kalangan Bani Hasyim dan Muthalib. Ia memerintahkan kepada mereka agar menyembunyikan senjata tajam masing-masing di balik baju. Kemudian , ia menyuruh setiap orang dari mereka berdiri di samping seorang pemuka Quraisy. Apabila ia telah berputus asa menari Muhammad atau darahnya tertumpah dengan sia-sia , atau jika Muhammad telah dibunuh, maka mereka dapat segera mendatangi para pemuka Quraisy dan menyerang mereka sehingga mreka tidak memiliki kesempatan untuk membalas. Kemudian, mereka menemukan Rasulullah Saw dalam keadaan baik, tidak tersentuh keburukan sedikit pun. Abu Thalib menggandeng tangannya dan membawanya ke tengah-tngah khalayak QUraisy sambil berteriak kepada mereka, “ Wahai sekalian kaum Quraisy, tahukah kalian apa yang telah aku sembunyikan?”
Abu Thalib menceritakan. Semua niatnya. Tampak kekalahan pada wajah Abu Jahal.
Kemudian Abu Thalib mengatakan,
“Demi Allah, kalau kalian membunuhnya maka aku tidak akan membiarkan siapa pun dari kalian tetap hidup hingga kami dan kalian binasa!”
وَاتَّبَعُوا النُّورَ الَّذِي أُنزِلَ مَعَهُ – Mengikuti Cahaya yang Diturunkan Bersamanya
Abu Thalib mempercayai seluruh kata-kata Rasulullah Saw dengan sebenar-benar kepercayaan. Demikian pula Cahaya yang diturunkan bersama Rasulullah Saw . Al-Khanizi menjelaskan dengan elaboratif bahwa muatan isi Sya’ir-Sya’ir Abu Thalib sangat sesuai dengan Tauhid yang merupakan inti ajaran Al-Qur’an. Juga keimanan pada Kenabian Muhammad Saw. Maupun keimanan pada yaumul ma’ad.
Lebih dari itu, Abu Thalib termasuk dari mukmin yang keimanannya sempurna.
Riwayat dari Imam ash-Shadiq as:
” Perumpamaan Abu Thalib adalah seperti perumpamaan Ashabul Kahfi, mereka menyembunyikan iman dan menampakkan kemusyrikan, maka Allah memberi mereka pahala dua kali lipat. Abu Thalib juga menyembunyikan keimanan dan menampakkan kemusyrikan, lalu Allah memberinya pahalanya, dua kali! Dia tidak keluar dari dunia sebelum Allah SWT memberinya kabar gembira tentang surga.”
(Sumber: al-Khanizi, hal. 223)
Imam Hasan Al Askari as dalam sebuah hadis yang panjang yang disandarkan kepada kakek-kakeknya yang suci diriwayatkan bersabda,
“ Allah SWT telah mewahyukan kepada Rasulullah saw, “Aku telah menguatkanmu dengan dua kelompok orang, yaitu satu kelompok membelamu secara sembunyi-sembunyi dan sekelompok lagi membelamu secara terang-terangan. Kelompok yang membelamu secara sembunyi-sembunyi, pemimpin dan yang paling utama dari mereka adalah pamanmu, Abu Thalib. Adapun, kelompok yang membelamu secara terang-terangan , pemimpin dan yang paling utama dari mereka adalah putranya, Ali bin Abi Thalib as.” (Al Hujjah hal. 115 dan Al-Ghadir juz 7, hal 368)
أُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ – Mereka itu lah orang-orang yang Bahagia (menang)
Saya ingin mengakhiri tulisan singkat ini dengan mengisahkan .
Pada suatu ketika, seeorang bertanya pada Imam ‘Ali as, “ Wahai Amirul Mukmini, engkau berada di tempat yang diturunkan Allah kepadamu, sementara ayahmu disiksa di dalam neraka.”
Imam Ali as menjawab,
“Semoga Allah menghancurkan mulutmu. Demi Tuhan yang mengutus Muhammad sebagai Nabi pembawa kebenaran, kalau ayahku memintakan syafaat bagi semua orang yang berdosa di muka bumi, pasti Allah memberi syafaat kepada mereka. Apakah ayahku disiksa di dalam neraka, sementara anaknya pemisah antara surga dan neraka? Cahaya Abu Thalib pada Hari Kiamat akan mengalahkan cahaya semua makhluk kecuali lima cahaya… (dan seterusnya). “ (Al Hujjah hal. 15, Tadzkirah al Khawwash hal. 11; dan lain-lain)
Sungguh telah menang Abu Thalib (Qod aflaha Abu Thalib) !
Semoga Allah merahmati Abu Thalib, paman dan pelindung Nabi ﷺ, dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang mengikuti jejaknya dalam beriman, memuliakan, menolong, dan mengikuti cahaya Al-Qur’an. Putranya telah menjadi Amirul Mukminin as, yang membela Kanjeng Nabi Saw secara terang-terangan , mewarisi kepemimpinan ruhaniahnya, mencapai derajat kedekatan tertinggi dengan Kanjeng Nabi Saw. Dan ia pun telah menjadi yang mukmin paling utama yang membela Kanjeng Nabi Saw secara rahasia.
Wa maa taufiiqii illa billah ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi uniib




