Uncategorize

Jangan Lupakan Genosida Palestina Dalam Munajat Sya’baniyah (Bagian 1) 

Oleh: Ustadz Dr. Dimitri Mahayana (Sekretaris Dewan Syura IJABI) 

Tak terhitung jiwa—sebagian besar wanita dan anak-anak—telah tewas di Gaza. Rumah sakit dibom, anak-anak kelaparan, keluarga utuh dihapus dari catatan sipil. Dunia menonton, tetapi sedikit yang bertindak. Sistem internasional yang seharusnya melindungi justru terlibat dalam kejahatan terhadap kemanusiaan ini. 

Yang lebih menghancurkan adalah perasaan tidak berdaya yang menggerogoti kita. Kita bukan diplomat, bukan tentara, bukan miliarder. Kita hanya individu biasa yang menyaksikan genosida terjadi di layar setiap hari, sambil hidup terus berjalan seperti biasa. 

Rasa bersalah, ketidakberdayaan, dan putus asa—tiga monster yang perlahan membunuh jiwa kita. Bagaimana kita bisa bahagia ketika saudara-saudara kita dibantai? Bagaimana kita bisa penuh harapan ketika dunia ini begitu gelap? 

Apakah masih relevan berbicara tentang spiritualitas ketika anak-anak sedang kelaparan di Gaza? Munajat Sya’baniyah—doa bisik para Imam Ahlulbait yang telah menyaksikan pembantaian Karbala, pengasingan, dan pemenjaraan—menjawab. Justru di saat-saat seperti inilah harapan kepada Allah paling dibutuhkan. Bukan harapan yang melarikan diri dari realitas, tetapi harapan yang mentransformasi kita dari penonton lumpuh menjadi agen KasihNya yang aktif. 

iklan

Dan paradoks yang akan kita telusuri: jalan terbaik untuk keluar dari kegelapan dan menemukan harapan kita sendiri adalah dengan membawa cahaya dan harapan bagi mereka yang menderita. 

Kontinuitas di Tengah Krisis yang Berkepanjangan 

إِلٰهِي لَا تَرُدَّ حَاجَتِي، وَلَا تُخَيِّبْ طَمَعِي، وَلَا تَقْطَعْ مِنْكَ رَجَائِي وَأَمَلِي 

“Tuhanku, janganlah Engkau tolak keperluanku, janganlah Engkau kecewakan harapanku, dan janganlah Engkau putuskan pengharapan dan amalku dari-Mu.” 

Baris Munajat Sya’baniyah ini mengingatkan kita pada kisah keluarga Nabi Muhammad—Ali, Fatimah, Hasan, dan Husain—yang berpuasa tiga hari berturut-turut. Bagaimana mereka telah menjadi tajalliyat Kasih Sayang Allah. Setiap berbuka, datang orang miskin, yatim, dan tawanan meminta makanan. Mereka memberikan seluruh makanan mereka dan berbuka hanya dengan air. 

Al-Qur’an merekam peristiwa ini: 

وَيُطْعِمُونَ ٱلطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِۦ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا ۝ إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ ٱللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنكُمْ جَزَآءً وَلَا شُكُورًا 

“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.” (QS Al-Insān: 8-9) 

Mereka memberikan semuanya, padahal mereka lapar. Kunci ayat ini terletak pada frasa “padahal mereka sendiri menyukainya”—memberi bukan dari kelebihan, tetapi dari kekurangan. Inilah yang menciptakan koneksi spiritual yang dalam. 

Viktor Frankl, penyintas Holocaust, menemukan hal serupa di kamp konsentrasi Nazi. Mereka yang bertahan bukan yang paling kuat fisik. Mereka yang bertahan adalah mereka yang memiliki makna. Sering makna itu datang dari membantu sesama tahanan. 

“Kesuksesan, seperti kebahagiaan, tidak bisa dikejar,” tulisnya. “Ia harus muncul sebagai efek samping yang tidak disengaja dari dedikasi seseorang pada tujuan yang lebih besar dari dirinya sendiri.” 

Di tengah penderitaan ekstrem, mereka yang berbagi roti atau memberi semangat mengalami dimensi kemanusiaan yang lebih tinggi. Ketika kita fokus membantu orang lain, kita lupa tentang penderitaan kita sendiri—dan dalam kelupaan itu, kita menemukan kelegaan. 

Bayangkan seorang muslim bernama Fatima di Indonesia yang menonton berita genosida Gaza setiap hari. Dia merasa bersalah hidup normal sementara anak-anak Gaza kelaparan. Dia merasa tidak berdaya—bukan politisi, bukan militer, bukan kaya. Dia mulai depresi, kehilangan harapan, bahkan kehilangan nafsu makan. “Mengapa Allah membiarkan ini terjadi? Apa gunanya doa saya?” 

Titik balik terjadi ketika dia mulai mengubah ketidakberdayaan menjadi tindakan kecil yang bermakna. Setiap subuh, dia membaca baris Munajat tadi tujuh kali, memvisualisasikan tali cahaya dari hatinya ke Arsy Kasih Sayang Allah, lalu dari Arsy Kasih Sayang Allah turun ke Gaza. Ini mengingatkan bahwa kita semua tersambung dalam jaringan kasih Allah Yang Mahaluas. 

Dia berdoa: “Ya Allah, jangan putuskan hubungan cinta kasih ku dengan Palestina. Jangan biarkan saya berpaling. Tunjukkan apa yang bisa saya lakukan.” 

Lalu dimulailah amal-amal kecil. Alih-alih terpaku pada “Saya tidak bisa mengubah dunia,” dia fokus pada “Saya bisa melakukan setidaknya hal kecil yang saya mampu.” Donasi bulanan sekecil apapun untuk Gaza, diniatkan dan dilaksanakan secara konsisten. Setiap kali makan, dia membayangkan anak Gaza yang lapar, lalu mendonasikan setara satu porsi makan. 

Dia bergabung dengan komunitas aktivis Palestina, bertransformasi dari penonton pasif menjadi aktor aktif. Dia belajar mengubah rasa bersalah menjadi bahan bakar. Setiap kali merasa bersalah makan enak sementara Gaza lapar, dia mengakui perasaan itu. Dia bersyukur atas nikmat, dengan pengaku bersalah. Ia mentransfer donasi kecil, lalu makan dengan kesadaran penuh. 

Rasa bersalah tanpa tindakan bersifat destruktif, tetapi rasa bersalah yang ditransformasi menjadi tindakan bersifat konstruktif. 

Dalam tiga bulan, Fatima membentuk kelompok kecil yang berkomitmen untuk bertindak demi Palestina. Mereka bertemu mingguan, berbagi berita dari Gaza, berbagi tindakan yang sudah dilakukan, berbagi “cahaya kecil”—bukti bahwa perjuangan mereka berdampak, sekecil apapun—dan berdoa bersama. 

Dari isolasi menuju komunitas, dari ketidakberdayaan menuju kekuatan kolektif. Hasilnya bukan genosida yang berhenti besok, tetapi penguatan hubungan yang autentik dengan korban genosida. Dari “Saya tidak bisa berbuat apa-apa” menjadi “Saya sedang berbuat sesuatu, sekecil apapun, dan itu bermakna.” Dari depresi yang melumpuhkan menjadi tujuan yang memberdayakan. 

Paradoks Frankl terwujud: dengan fokus membantu Gaza, Fatima menemukan makna dan harapan untuk hidupnya sendiri. 

(Bersambung ke bagian 2) 

Dr. Ir. Dimitri Mahayana, M.Eng.
Sekretaris Dewan Syura IJABI |  + posts
Iklan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berkaitan

Back to top button