Uncategorize

14 KISAH TELADAN : Ali Ardashir Larijani 3 Juni 1958 — 17 Maret 2026 

Putra Najaf · Filosof · Negosiator · Ketua Parlemen Dikisahkan dari sumber-sumber utama Iran 2026

Empat Belas Kisah Teladan Ali Larijani 

Dikumpulkan dan dikisahkan berdasarkan sumber-sumber primer Iran. Semua kisah bersandar pada kesaksian nyata, catatan media Iran, dan kenangan orang-orang yang mengenal beliau dari dekat. Edisi Pertama · 2026 

Mukadimah 

Sejarah mencatat banyak politisi. Namun tidak banyak yang berhasil menjadi sekaligus filsuf, pejuang, negosiator, dan ayah yang hadir sepenuhnya. Ali Ardashir Larijani — putra Najaf, murid Kant, ketua parlemen terlama dalam sejarah Republik Islam — adalah sosok yang sulit dimasukkan ke dalam satu kotak. 

Empat belas kisah ini diambil dari kesaksian orang-orang yang mengenalnya dari dekat: cucu Syahid Motahhari yang memanggilnya “Bapak Kedua”, profesor yang bertahun-tahun berdiskusi dengannya, diplomat yang bernegosiasi di meja yang sama, dan jurnalis yang mengikuti perjalanannya dari Najaf hingga lorong-lorong parlemen Teheran. 

iklan

Ini adalah kisah-kisah tentang manusia — bukan tentang jabatan. 

Tidak ada dari kisah-kisah ini yang mengklaim melukiskan seseorang secara penuh dan sempurna. Namun kesemuanya mengangkat satu hal yang mungkin tidak terlihat di balik berita-berita: bahwa di balik setiap jabatan, setiap negosiasi, dan setiap pidato, ada seorang manusia yang mencintai filsafat, menghormati guru-gurunya, menyayangi anak-anak, dan percaya bahwa akal adalah cara hidup — bukan sekadar alat politik. 

Semoga kisah-kisah ini menjadi cermin yang berguna bagi siapa pun yang membacanya. 

Jakarta / Teheran, 2026 

KISAH PERTAMA 

Anak Najaf yang Membawa Doa 

Ketika revolusi mengguncang istana 

Tahun 1979. Angin revolusi baru saja menumbangkan monarki dua setengah abad. Para pemuda revolusioner bergerak ke seluruh sudut Teheran — memeriksa gedung-gedung pemerintah lama, menyegel arsip, dan mendokumentasikan warisan rezim yang jatuh. 

Ali Larijani, ketika itu seorang pemuda berusia dua puluh satu tahun yang baru saja menyelesaikan studi matematika di Universitas Sains dan Teknologi Sharif dengan peringkat pertama, mendapat kesempatan masuk ke salah satu istana kerajaan Shah. Di kamar tidur penguasa yang telah melarikan diri itu, ia menemukan sesuatu yang tidak ia duga — lembaran-lembaran doa, azimat, dan mantra yang disimpan di bawah bantal dan di sudut-sudut ruangan. 

Pemuda itu berdiri lama di depan lembaran-lembaran itu. Di satu sisi, ini adalah seorang penguasa yang selama bertahun-tahun tampil sebagai simbol kekuatan modern Iran — dengan militer tercanggih di kawasan, miliaran petrodolar, dan pengawal asing. Namun di kamar paling pribadinya, yang tersisa hanyalah kertas-kertas doa. Ketakutan manusia yang paling purba. 

Larijani menceritakan peristiwa ini bertahun-tahun kemudian kepada seorang diplomat Arab senior. Bagi Larijani muda, ini bukan kemenangan ideologis. Ini adalah pelajaran tentang kelemahan manusia yang tersembunyi di balik jubah kekuasaan — pelajaran yang ia bawa sepanjang hidupnya dalam berhadapan dengan pejabat dari manapun, termasuk dirinya sendiri. 

“Kekuatan yang sejati bukan yang disimpan di balik tembok istana. Kekuatan yang sejati adalah apa yang ada di dalam diri manusia ketika semua tembok itu runtuh.” 

— Ali Larijani, dikutip diplomat Arab senior, Al-Arabiya 2021 

KISAH KEDUA 

Damaad yang Tidak Pernah Lupa 

Kenangan cucu Syahid Motahhari 

Muhammad Husain Motahhari, cucu dari Ayatollah Syahid Morteza Motahhari, menulis kesaksian yang paling mengharukan tentang Larijani, beberapa jam setelah kabar gugurnya tersebar. Tulisan itu ia unggah di situs Jamaran. 

“Dalam keluarga kami,” tulis Muhammad Husain, “Dokter Ali Larijani dipanggil dengan sebutan Pak Amoli. Ia adalah menantu kesayangan kakek dan anak emas nenekku yang almarhum.” 

Larijani menikahi Farideh Motahhari pada usia sekitar dua puluh tahun — muda sekali untuk ukuran seseorang yang belum punya jabatan apapun. Pernikahan itu bukan pernikahan politik. Morteza Motahhari melihat dalam diri pemuda itu sesuatu yang lebih berharga dari silsilah atau kekayaan: kecerdasan yang haus, integritas yang tak dibuat-buat, dan rasa hormat yang tulus. 

Yang tidak banyak diketahui publik: Larijani muda jauh lebih mapan secara ekonomi dari keluarga Motahhari saat itu. Namun justru inilah yang membuat Motahhari menghormatinya — pemuda itu tidak pernah membanggakan hal itu. Tidak sehari pun. 

Selama bertahun-tahun sesudahnya, Larijani menggambarkan sang mertua dengan kata-kata yang terasa seperti puisi: 

“Dari jauh, ia menyerupai logika. Dari jarak menengah, ia menyerupai filsafat. Dan dari dekat, ia menyerupai irfan — kebijaksanaan mistik.” 

— Ali Larijani tentang Syahid Motahhari 

Muhammad Husain menulis di akhir kenangannya: “Aku berduka untuk seseorang yang kucintai seperti ayahku sendiri. Aku berduka untuk guru yang kujadikan teladan hidup.” 

KISAH KETIGA 

Profesor yang Terus Datang ke Kampus 

Ketika jabatan tidak pernah membuatnya lupa jalan ke ruang kuliah 

Di tahun-tahun Larijani menjabat sebagai Ketua Parlemen — posisi ketiga paling berpengaruh di Republik Islam — ia masih terdaftar sebagai anggota staf pengajar di Universitas Teheran. Ini bukan jabatan kehormatan semata. 

Hamzeh Safawi, profesor Universitas Teheran yang hadir di upacara pemakaman Larijani dan kemudian berbagi kenangannya secara eksklusif dengan media Tabnak, menulis bahwa perkenalan profesionalnya dengan Larijani dimulai tahun 2006. Saat itu Safawi sedang menulis buku tentang kebijakan luar negeri Republik Islam dan mewawancarai sekitar empat puluh pejabat senior. 

“Yang paling berkesan dari wawancara itu bukan isinya, melainkan sikapnya. Saat pertanyaan-pertanyaan saya menjadi kritis, ia tidak defensif. Ia mendengarkan. Benar-benar mendengarkan — bukan hanya menunggu giliran berbicara.” 

— Prof. Hamzeh Safawi, Universitas Teheran, Tabnak 2026 

Bertahun-tahun kemudian, ketika Safawi mengajar sebuah kelas tentang pemikiran strategis, ia mengajukan pertanyaan kepada mahasiswanya: “Siapakah politisi Iran yang menurut Anda paling mampu memahami kompleksitas dunia secara bersamaan?” Kelas hening sejenak. 

Safawi sendiri yang kemudian menjawab: “Ali Larijani.” 

Yang membuatnya tertegun adalah reaksi mahasiswanya — termasuk mereka yang biasanya kritis terhadap sistem politik. Tidak ada yang membantah. Nama itu menembus batas-batas ideologis. 

KISAH KEEMPAT 

Dua Saudara, Dua Cabang Kekuasaan 

Preseden yang tak pernah ada sebelumnya 

Antara tahun 2009 dan 2020, terjadi sebuah fenomena yang belum pernah ada presedennya dalam sejarah Republik Islam: dua bersaudara secara bersamaan memimpin dua dari tiga cabang pemerintahan. Ali Larijani sebagai Ketua Parlemen. Saudaranya, Sadeq Larijani, sebagai Ketua Mahkamah Agung. 

Namun yang paling mengharukan bukanlah kekuasaan itu sendiri — melainkan kata-kata yang diucapkan Ali Larijani tentang saudara-saudaranya, dalam sebuah forum yang kemudian dikutip media Tabnak: 

“Kami ini adalah anak-anak hauzah dan marji’iyah yang karena kecelakaan masuk ke urusan eksekutif dan tersesat.” 

— Ali Larijani tentang keluarga Larijani, Tabnak 

Kalimat itu mengandung kerendahan hati yang dalam. Ia tidak mengklaim kehebatan keluarga Larijani. Ia tidak berbicara tentang dinasti atau warisan. Yang ia akui adalah bahwa asal mereka adalah ilmu dan agama — bukan kekuasaan. Dan bahwa kekuasaan, jika ada, adalah titipan yang sewaktu-waktu harus dikembalikan. 

Kelima bersaudara — Ali, Sadeq, Mohammad Javad, Bagher, dan Fazel — semua menikah dengan putri-putri keluarga ulama terkemuka, mengikuti jejak ayah mereka. Ali dengan putri Syahid Motahhari. Sadeq dengan putri Ayatollah Vahid Khorasani. Bagher dengan putri Ayatollah Hassanzadeh Amoli. 

Media Iran menyebut ini sebagai “jaringan kekerabatan ilmu”, bukan “jaringan kekuasaan.” Perbedaannya bukan semata semantik — ia mencerminkan bagaimana keluarga ini memandang diri mereka sendiri. 

KISAH KELIMA 

Anak Petani Fariмan yang Menjadi Tamu Kehormatan 

Ketika elite tidak membuatnya lupa akar 

Dalam kesaksiannya yang emosional, Muhammad Husain Motahhari menulis sebuah peristiwa kecil yang mengandung makna besar. 

Suatu hari, dalam sebuah program televisi bernama Safar Bakhair, Larijani berjabat tangan dengan seorang anak anggota polisi muda berusia dua belas tahun. Seorang pengkritiknya mencemooh: “Larijani begitu angkuh dan dingin sampai ia berjabat tangan dengan anak dua belas tahun itu seolah-olah ia adalah Javier Solana!” 

Muhammad Husain tertawa membaca cemoohan itu. Karena sejak kecil ia tahu persis sebaliknya. 

“Sejak kecil, aku menyaksikan sendiri betapa lelaki ini memberikan tempat kepada anak-anak, betapa ia menghitung mereka sebagai manusia seutuhnya.” 

— Muhammad Husain Motahhari, Ecoiran 2026 

Larijani dilahirkan dari keluarga ulama terkemuka. Ia tumbuh di lingkungan ilmiah dan religius paling bergengsi di Iran. Namun warga desa Fariман dan Sistan selalu merasakan bahwa ia seperti mereka. 

“Berkali-kali aku mendengar para petani dan warga desa asalnya berkata bahwa ia adalah orang desa, sama seperti mereka,” tulis Muhammad Husain. “Ia adalah putra marja’, dalam arti paling asli — namun orang-orang kampung merasa ia milik mereka.” 

Inilah kualitas kepemimpinan yang paling langka: kemampuan untuk berada di dua dunia sekaligus tanpa berpura-pura di salah satunya. 

KISAH KEENAM 

Memberi Ruang kepada Kaum Muda 

Sebelum “pemuda” menjadi jargon politik 

Tahun 2000. Larijani masih menjabat sebagai Direktur IRIB — radio dan televisi negara. Ia memanggil seorang jurnalis muda dan menawarkan sesuatu yang tidak lazim: kesempatan untuk bergabung dalam sebuah program pengembangan pemimpin televisi masa depan. 

Puluhan tahun kemudian, jurnalis itu — yang kini menjadi tokoh media terkemuka — mengenang momen itu dalam tulisan yang diterbitkan Jam-e Jam Online setelah gugurnya Larijani: 

“Waktu itu ia sudah memikirkan masa depan, sudah memberikan ruang bagi anak-anak muda di radio dan televisi, jauh sebelum ‘semangat pemuda’ menjadi slogan dan pertunjukan politik.” 

— Jurnalis senior Iran, Jam-e Jam Online 2026 

Ini bukan program yang ia umumkan dengan gembar-gembor. Tidak ada konferensi pers. Tidak ada foto resmi. Hanya sebuah program sunyi yang mengantarkan puluhan jurnalis muda ke posisi-posisi penting dalam media Iran bertahun-tahun kemudian. 

Di hari-hari terakhirnya sebagai pejabat aktif, ketika seseorang dalam sebuah pertemuan bertanya kepadanya dengan nada setengah bercanda — “Kapan kita ketemu lagi? Sudah perang atau kelaparan atau perang saudara?” — Larijani hanya tersenyum dan menjawab: 

“Tidak ada satupun dari itu yang bisa membuatmu berhenti bekerja. Aku menunggumu menyelesaikan tugasmu dan meletakkannya di atas mejaku.” 

— Ali Larijani, dikutip Jam-e Jam Online 2026 

KISAH KETUJUH 

Kant di Teheran, Mulla Sadra di Hatinya 

Seorang filosof yang mencari kebenaran dari dua arah sekaligus 

Di tahun 1995, ketika kebanyakan pejabat Iran seusianya sibuk memanjat tangga birokrasi, Ali Larijani menyelesaikan disertasi doktoralnya: “Metode Matematis dalam Filsafat Kant.” Pembimbingnya adalah Gholam-Ali Haddad-Adel dan Karim Mojtahedi — dua nama terbesar dalam filsafat akademis Iran saat itu. 

Ia kemudian melanjutkan dengan menulis tiga buku tentang Kant yang bertahun-tahun menjadi referensi di kalangan akademisi Iran: tentang metode matematis dalam pemikiran Kant, tentang metafisika dan ilmu-ilmu eksakta, dan tentang intuisi dan proposisi sintetik a priori. 

Ketika ditanya mengapa seorang pejabat negara mempelajari filsuf pencerahan Eropa abad ke-18, jawabannya selalu konsisten: ia tidak sedang mempelajari Kant untuk meniru Barat. Ia sedang mempelajari Kant untuk memahami bagaimana cara berpikir Barat bekerja — dan di mana batas-batasnya. 

Mahmoud Hadhoud, peneliti yang menulis analisis mendalam tentang pemikiran filosofis Larijani, menemukan sesuatu yang menarik: Larijani menempatkan dirinya di antara dua tradisi besar pemikiran Iran. Dari keduanya ia mengambil yang terbaik, dan menjadikan Kant bukan sebagai tuan, melainkan sebagai mitra berdialog. 

“Ia tidak membawa pandangan dunia Kantian ke Iran. Ia menggunakan Kant sebagai alat untuk memahami dan merespons klaim-klaim universalitas Barat, sambil mempertahankan fondasi epistemologi Islam.” 

— Mahmoud Hadhoud, Larijani and Kant: Reason and Intuition, 2026 

Ini adalah sebuah proyek intelektual yang berani dan orisinal — dan ia mengerjakannya di sela-sela ribuan jam rapat kabinet, sidang parlemen, dan negosiasi nuklir. 

KISAH KEDELAPAN 

Tamu di Rumah Sistani 

Ketika nama ayah membuka pintu yang tertutup untuk semua 

Najaf, kota tempat Ali Larijani lahir, menyimpan kenangan yang lebih dalam dari sekadar tempat kelahiran. Kota itu adalah pusat marji’iyah Syiah — tempat di mana para ayatollah terbesar dunia Syiah menetap dan menerima para peziarah. 

Ketika Larijani sebagai mantan Ketua Parlemen berkunjung ke Najaf, ia diterima oleh Ayatollah Agung Ali Sistani — ulama yang terkenal sangat berhati-hati dalam bertemu politisi, karena tidak ingin namanya digunakan untuk kepentingan kelompok manapun. 

Media Arab Al-Arabiya yang meliput kunjungan itu menulis penjelasan yang diberikan oleh sumber-sumber dekat biro Sistani: 

“Hubungan hormat antara Syaikh Hashem Amoli dan Sistani adalah alasan utama mengapa pintu itu terbuka bagi Ali Larijani. Sistani mengenal keluarga Larijani dengan baik — dan kepercayaan itu melampaui batas generasi.” 

— Sumber biro Sistani, dikutip Al-Arabiya Farsi 2021 

Ini adalah warisan yang tidak bisa dibeli dengan jabatan apapun: nama baik seorang ayah yang selama puluhan tahun membangun reputasi sebagai ulama yang lurus dan tulus. Dan sang anak — dengan segala jabatannya — masih mengandalkan nama ayah itu sebagai kartu terpentingnya. 

Di Najaf, di hadapan Sistani, Ali Larijani bukan Ketua Parlemen. Ia adalah putra Syaikh Hashem Amoli. 

KISAH KESEMBILAN 

“Dari Jauh Ia Seperti Logika” 

Penggambaran seorang murid tentang guru dan mertuanya 

Di antara banyak ungkapan indah yang pernah diucapkan Larijani, satu yang paling sering dikutip adalah tentang Ayatollah Morteza Motahhari — guru sekaligus mertuanya: 

“Dari jauh, ia menyerupai logika. Dari jarak menengah, ia menyerupai filsafat. Dan dari dekat, ia menyerupai irfan.” 

— Ali Larijani tentang Syahid Motahhari 

Kalimat ini bukan sekadar pujian. Ini adalah peta perjalanan intelektual seorang murid yang mencoba menemukan guru terbaiknya melalui tiga dimensi berbeda — dan menemukan bahwa semakin dekat ia mendekati, semakin kaya yang ia temukan. 

Yang membuat kalimat ini semakin mengharukan adalah fakta bahwa Motahhari dibunuh pada tahun 1979, tak lama setelah revolusi. Larijani kehilangan mertua sekaligus gurunya di usia sangat muda — saat ia baru memulai kehidupan rumah tangganya bersama putri sang syahid. 

Puluhan tahun kemudian, Muhammad Husain Motahhari — cucu Motahhari — membalikkan kalimat itu untuk menggambarkan Larijani sendiri: 

“Aku meminjam ungkapan itu untuk guruku yang juga syahid: dari jauh ia menyerupai politik, dari jarak menengah ia menyerupai kebijaksanaan, dan dari dekat ia menyerupai irfan.” 

— Muhammad Husain Motahhari, Ecoiran 2026 

Seorang murid yang mampu mengajarkan kembali pelajaran dari gurunya — itulah keberhasilan tertinggi sebuah warisan. 

KISAH KESEPULUH 

Akal sebagai Cara Hidup 

Kesaksian seorang akademisi di upacara pemakaman 

Hamzeh Safawi, profesor Universitas Teheran, berdiri di tengah kerumunan saat upacara pemakaman Larijani. Ia menulis: 

“Hampir dua jam aku menangis. Bukan karena kehilangan pribadi semata — melainkan karena kehilangan sebuah aset intelektual bagi negara ini.” 

— Prof. Hamzeh Safawi, Tabnak 2026 

Yang paling ia kenang bukan pertemuan-pertemuan formal. Yang paling ia kenang adalah cara Larijani merespons kritik. Di era ketika banyak pejabat menganggap kritik sebagai serangan pribadi, Larijani memiliki kapasitas yang langka: ia bisa mendengar dan berpikir. 

“Dari pertemuan-pertemuan pertama kami,” tulis Safawi, “ia langsung membentuk gambaran berbeda dalam benakku dibanding banyak pejabat lain — kapasitasnya untuk menerima kritik, kesiapannya untuk mendengar, kemampuannya untuk tidak defensif.” 

Safawi kemudian menulis kesimpulan yang menjadi seperti epitaf: 

“Bagi saya, Ali Larijani adalah seorang politisi multi-dimensi — seseorang yang memahami ekonomi, keamanan, dan politik sekaligus, dengan pikiran filosofis. Rasionalitas baginya bukan sekadar slogan — ia adalah cara hidupnya.” 

— Prof. Hamzeh Safawi, Universitas Teheran, Tabnak 2026 

KISAH KESEBELAS 

Anak Pertama yang Masuk Universitas Teknologi 

Kemenangan sains di tengah tradisi agama 

Keluarga Larijani adalah keluarga ulama. Ayah mereka, Ayatollah Mirza Hashem Amoli, adalah salah satu marja’ terkemuka Iran yang murid-muridnya mencakup nama-nama seperti Naser Makarem Shirazi dan Abdullah Javadi Amoli. Rumah mereka di Qom adalah pusat kunjungan para ulama dan pejabat. 

Dalam lingkungan seperti itu, pilihan Ali Larijani untuk masuk ke Universitas Sains dan Teknologi Sharif — salah satu universitas teknik paling bergengsi di Iran, tempat para insinyur dan ilmuwan ditempa — adalah sebuah pernyataan yang tidak mudah. 

Ia lulus dari Sharif dengan predikat peringkat pertama di jurusan Matematika dan Ilmu Komputer. Kemudian, ketika kebanyakan sarjana teknik bergerak ke industri atau akademisi sains, ia berbelok ke filsafat — meraih gelar doktor dalam filsafat Barat dari Universitas Teheran. 

Perjalanan intelektual ini — dari madrasah Qom ke Sharif, dari Sharif ke filsafat Kant, dari Kant ke gedung parlemen — adalah perjalanan yang tidak pernah membuang satu pijakan untuk mengambil yang lain. Ia membawa semuanya. 

“Anak kelima dari bersaudara Larijani ini memilih jalur yang paling tidak terduga dalam keluarga ulama — dan justru jalur itu yang membawanya ke tempat-tempat yang paling berpengaruh.” 

— Tabnak, laporan keluarga Larijani 2019 

KISAH KEDUABELAS 

Diplomat yang Sabar di Meja yang Penuh Tekanan 

Ketika Eropa berbicara tentang nuklir Iran 

Tahun 2005 hingga 2007. Larijani duduk di meja negosiasi sebagai Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi dan negosiator nuklir utama Iran. Di seberang meja: juru runding dari Eropa, Amerika Serikat, Rusia, dan Tiongkok. 

Para diplomat Barat yang bernegosiasi langsung dengannya kemudian berbagi kesaksian yang cukup konsisten. CNN mengutip analisis para diplomat: ia adalah sosok yang “sofistikated dan cerdas.” Seorang diplomat Arab senior yang berkali-kali berhadapan dengannya di forum internasional memberikan gambaran yang lebih lengkap: 

“Kuat, sabar, dengan pandangan-pandangan yang tidak mudah goyah — namun pendengar yang baik dan sangat piawai dalam berdialog. Apa yang membedakannya adalah rasionalitasnya. Meskipun ia percaya pada prinsip-prinsip revolusi, ia sekaligus mencari solusi atas masalah-masalah yang ada dan merupakan negosiator yang handal. Dapat dicapai solusi politik dan praktis bersamanya.” 

— Diplomat Arab senior, Al-Arabiya Farsi 2021 

Yang paling mengharukan bukan soal strategi nuklirnya. Yang mengharukan adalah cara ia dikenang oleh mereka yang duduk di sisi yang berlawanan dari meja: bukan sebagai lawan yang keras kepala, melainkan sebagai manusia yang bisa diajak berpikir bersama. 

Diplomat itu kemudian ditanya: dari mana kualitas-kualitas itu berasal? Jawabannya singkat: “Mungkin dari pendidikan filsafatnya, di mana ia meraih gelar doktor, dan dari kecintaannya pada ilmu pengetahuan.” 

KISAH KETIGABELAS 

Jalan di Tengah Bom 

Hari terakhir yang terlihat publik 

13 Maret 2026. Teheran sedang dibombardir. Ledakan terdengar di berbagai sudut kota. Ratusan ribu warga memilih berdiam di rumah atau mencari perlindungan. 

Ali Larijani keluar ke jalan. 

Hari itu adalah Hari Quds — peringatan tahunan solidaritas dengan Palestina yang selalu dirayakan setiap Jumat terakhir bulan Ramadan. Di tahun-tahun normal, jutaan orang turun ke jalan. Di tahun itu, dalam kondisi perang, angkanya jauh berkurang. Namun Larijani ada di sana. Bersama Presiden Pezeshkian dan sejumlah pejabat lainnya. Berjalan di jalanan Teheran di bawah ancaman rudal. 

Jam-e Jam Online menulis: “Kehadiran heroiknya dalam pawai Hari Quds adalah penutup indah dari sebuah rekam jejak yang gemilang — menempatkannya di antara ikon-ikon perlawanan dunia.” 

“Fïlsuf yang bijaksana dan berakhlak mulia, yang gugur di tangan orang-orang jahat.” 

— Jam-e Jam Online, Maret 2026 

Ini adalah momen terakhir Larijani terlihat oleh publik. Empat hari kemudian, 17 Maret 2026, sebuah rudal mengakhiri hidupnya. 

Mereka yang hadir di pawai itu bersaksi: ia berjalan, bukan berlari. Ia tersenyum, bukan meringkuk. Seperti seorang guru yang ingin mengajarkan satu pelajaran terakhir tentang keberanian kepada murid-murid yang menyaksikannya. 

KISAH KEEMPATBELAS 

Thawaf Terakhir di Makam Fatimah Ma’sumah 

Perjalanan pulang yang tidak diduga 

Setelah syahid, jenazah Larijani dibawa ke Qom — kota tempat ia menghabiskan masa-masa awal pendidikannya, kota tempat keluarga besar Larijani berakar, kota yang ia wakili di parlemen selama bertahun-tahun. 

Di sana, peti matinya di-thawaf-kan — diarak mengelilingi kompleks makam Hazrat Fatimah Ma’sumah, saudari Imam Ali ar-Ridha yang dimakamkan di Qom. Ribuan orang memadati jalanan. 

Seorang anak Najaf — kota dua makam suci — kembali ke pangkuan kota suci yang satunya. Lingkaran yang menutup dengan sempurna. 

Cucu Syahid Motahhari, Muhammad Husain, menulis tentang saat ia mengetahui kabar itu: 

“Aku berdiri terpaku di samping kendaraan yang membawa jenazah. Suara seorang wanita terdengar: ‘Ini kendaraan jenazah Syahid Larijani.’ Kata-kata itu bergema seratus kali di telingaku — Syahid Larijani? Dalam keluarga kami, ia dipanggil Pak Amoli. Damaad kesayangan kakek. Anak emas nenekku. Bagi banyak dari Anda, Dokter Ali Larijani dimulai dari IRIB atau jabatan keamanannya atau gedung parlemen. Namun Pak Amoli bagiku dimulai dari kenangan-kenangan manis masa kecilku.” 

— Muhammad Husain Motahhari, Ecoiran / Jamaran 2026 

Dan di sanalah ia dimakamkan — tidak jauh dari para ulama yang mendidiknya, tidak jauh dari kota yang merawat ilmunya. Seorang manusia yang memilih jalan yang sulit, menjalaninya dengan cara yang tidak biasa, dan mengakhirinya dengan cara yang tidak ia rencanakan sendiri. 

Penutup 

Empat belas kisah ini hanyalah serpihan dari sebuah kehidupan yang panjang dan kompleks. Mereka tidak merangkum seseorang secara penuh — tidak ada kisah yang bisa melakukan itu. 

Namun mereka mengungkap satu hal yang mungkin tidak terlihat di balik berita-berita: bahwa di balik setiap jabatan, setiap negosiasi, dan setiap pidato, ada seorang manusia yang mencintai filsafat, menghormati guru-gurunya, menyayangi anak-anak, dan percaya bahwa akal adalah cara hidup — bukan sekadar alat politik. 

“Aku berduka bukan hanya atas kehilangan seorang tokoh politik — tetapi atas kehilangan sebuah sumber daya intelektual bagi bangsa ini.” 

— Prof. Hamzeh Safawi, Universitas Teheran 

Semoga kenangan tentang beliau menjadi pelita — bukan sekadar catatan sejarah. 

2026 

Referensi 

Semua kisah dalam buku ini bersandar pada sumber-sumber yang dapat diverifikasi. Berikut daftarnya. 

A. Sumber Primer Iran 

[1] Safawi, Hamzeh. Khaterāt az Shahid Ali Larijani [Kenangan tentang Syahid Ali Larijani]. Tabnak.ir, Maret 2026. URL: tabnak.ir/fa/news/1363516 

[2] Motahhari, Muhammad Husain. Khaterāt-e Nave-ye Khānevāde-ye Motahhari az Ali Larijani [Kenangan Cucu Keluarga Motahhari tentang Ali Larijani]. Ecoiran.com (dari Khabar Online), Maret 2026. URL: ecoiran.com/bakhsh-siasat-dakhli-109/127659 

[3] Jam-e Jam Online. Mard-e Sarāfrāz-e Āzmun-hā-ye Sakht [Lelaki Mulia dalam Ujian-Ujian Berat]. Jamejamonline.ir, Maret 2026. URL: jamejamonline.ir/fa/news/1546546 

[4] Jamaran News Agency. Zendegināme-ye Ali Larijani [Biografi Ali Larijani] — termasuk pesan belasungkawa dari H. Rouhani, I. Jahangiri, dan H. Entezami. Jamaran.news, Maret 2026. URL: jamaran.news/moallef-6-ali-larijani 

[5] Tabnak.ir. Hame Chiz Darbāre-ye Lārijāni-hā [Segala tentang Keluarga Larijani]. Tabnak, Agustus 2019. URL: tabnak.ir/fa/news/60279 

[6] Wikipedia Farsi. Ali Larijani. fa.wikipedia.org/wiki/Ali_Larijani 

B. Sumber Arab & Internasional Terpercaya 

[7] Al-Arabiya Farsi. Ali Larijani: Ra’is-e Bāzmānde [Ali Larijani: Pemimpin yang Bertahan] — termasuk kesaksian diplomat Arab senior. Al-Arabiya Farsi, Juni 2021. URL: farsi.alarabiya.net/iran/2021/06/01 

[8] Al Jazeera. Who Was Ali Larijani, Iran’s Philosopher-Security Chief Killed by Israel? Al Jazeera, Maret 2026. URL: aljazeera.com/features/2026/3/3 

[9] CNN. Ali Larijani Was a ‘True Insider’ of Iran’s Regime. CNN, Maret 2026. URL: cnn.com/2026/03/17/world/ali-larijani-insider-iran-regime 

[10] Foreign Policy. Ali Larijani, Iran’s Wartime Leader, Is Pragmatic but Not a Peacemaker. Foreign Policy, Maret 2026. URL: foreignpolicy.com/2026/03/06/iran-larijani-war-leader-deal-peace 

[11] Radio Free Europe / Radio Liberty. Ali Larijani: Iran’s Key Power Broker and Canny Operator. RFERL, Maret 2026. URL: rferl.org/a/ali-larijani-killed-israeli-strike-iran-security 

[12] Britannica. Ali Larijani. Encyclopedia Britannica, diperbarui Maret 2026. URL: britannica.com/biography/Ali-Larijani 

C. Sumber Akademis & Analitis 

[13] Hadhoud, Mahmoud. Larijani and Kant: Reason and Intuition. Substack, Maret 2026. URL: mahmoudhadhoud.substack.com/p/larijani-and-kant-reason-and-intuition 

[14] Institute of Policy and Society. Larijani: The Man After the Storm. Politics & Society Institute, Februari 2026. URL: politicsociety.org/2026/02/23/larijani-the-man-after-the-storm 

[15] Edge Induced Cohesion. Ali Larijani (1958-2026): Philosopher, Power Broker, and Pillar of the Islamic Republic. Maret 2026. URL: edgeinducedcohesion.blog/2026/03/18 

[16] Moslem, Mehdi. Factional Politics in Post-Khomeini Iran. Syracuse University Press, 2002. ISBN: 0815629788. [Buku akademis utama tentang dinamika faksi Iran, menyebut posisi Larijani dalam spektrum politik] 

Admin IJABI
Reporter |  + posts
Iklan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berkaitan

Back to top button