99 Wasiat Imam Ali bin Abi Thalib as. Kepada Kumail bin Ziyâd. (Bag. 19)
Diambil dari Buku: Tafsir Wasiat Imam Ali as. Kepada Kumail bin Ziyâd.)
Oleh Habib Ali Umar Alhabsyi (Anggota Dewan Syura IJABI)
Seorang Mukmin adalah Saudara Yang Harus Diutamakan.
يَا كُمَيْلُ، الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ، وَلَا شَيْءَ آثَرَ عِنْدَ كُلِّ أَخٍ مِنْ أَخِيهِ.
Wahai Kumail, orang-orang mukmin itu bersaudara, dan tiada sesuatu pun yang lebih berharga bagi setiap saudara selain saudaranya sendiri.
Seperti telah diketahui -dan seharusnya diketahui- bahwa tiada sesuatu yang lebih berharga dari persaudaraan yang dibangun di atas keimanan dan akidah yang benar. Dan saudara seiman dan seakidah adalah sesuatu yang sangat berharga. Karena itu, janganlah kita menyia-nyiakan dan teledor dalam merawatnya. Saudara beriman adalah hamba mulia dengan keimanannya di sisi Allah.
Saudara Mukmin bagi kita adalah gudang kekayaan yang tak terhingga. Ia akan bermanfaat di dunia dan akhirat untuk kebaikan dunia dan akhiratnya. Persaudaraan yang dibangun di atas Prinsip Keimanan dan Takwa akan abadi hingga hari kiamat tiba. Allah SWT. berfirman:
اَلْاَخِلَّاۤءُ يَوْمَىِٕذٍ ۢ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ اِلَّا الْمُتَّقِيْنَۗ
“Teman-teman akrab pada hari itu saling bermusuhan satu sama lain, kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az Zukhruf; 67)
Saudara Mukmin yang bertakwa akan selalu membantu dalam ketaatan dan ketakwaan. Al Majlisi meriwayatkan dari Jabir al Ju’fi dari Imam Muhammad Al Baqir as.:
إِنَّ الْمُؤْمِنَيْنِ الْمُتَوَاخِيَيْنِ فِي اللَّهِ، لَيَكُونُ أَحَدُهُمَا فِي الْجَنَّةِ فَوْقَ الآخَرِ بِدَرَجَةٍ، فَيَقُولُ: يَا رَبِّ!.. إِنَّ صَاحِبِي قَدْ كَانَ يَأْمُرُنِي بِطَاعَتِكَ، وَيُثَبِّطُنِي عَنْ مَعْصِيَتِكَ، وَيُرَغِّبُنِي فِيمَا عِنْدَكَ، فَاجْمَعْ بَيْنِي وَبَيْنَهُ فِي هَذِهِ الدَّرَجَةِ، فَيَجْمَعُ اللَّهُ بَيْنَهُمَا.
“Sesungguhnya dua orang mukmin yang saling bersaudara karena Allah, salah satunya kelak berada di surga lebih tinggi satu derajat daripada yang lain. Maka orang yang di atas berkata: ‘Wahai Tuhanku! Sahabatku dahulu senantiasa memerintahkanku untuk taat kepada-Mu, menahanku dari maksiat kepada-Mu, dan mendorongku untuk mengharapkan apa yang ada di sisi-Mu.’ Maka kumpulkanlah aku bersamanya di derajat yang sama ini. Maka Allah pun mengumpulkan keduanya bersama dalam derajat yang sama di surga.”
Demikianlah keberkahan persahabatan dan persaudaraan yang dibangun di atas Iman dan Takwa.
Setelahnya, Imam Al Baqir as. melanjutkan:
وَإِنَّ الْمُنَافِقَيْنِ لَيَكُونُ أَحَدُهُمَا أَسْفَلَ مِنْ صَاحِبِهِ بِدَرَكٍ فِي النَّارِ، فَيَقُولُ: يَا رَبِّ!.. إِنَّ فُلَانًا كَانَ يَأْمُرُنِي بِمَعْصِيَتِكَ، وَيُثَبِّطُنِي عَنْ طَاعَتِكَ، وَيُزَهِّدُنِي فِيمَا عِنْدَكَ، وَلَا يُحَذِّرُنِي لِقَاءَكَ، فَاجْمَعْ بَيْنِي وَبَيْنَهُ فِي هَذَا الدَّرَكِ، فَيَجْمَعُ اللَّهُ بَيْنَهُمَا . وَتَلَا هَذِهِالآيَةَ: ﴿ الأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ
“Dan sesungguhnya dua orang munafik, salah satunya berada di neraka lebih rendah satu tingkatan daripada yang lain. Maka yang di atas berkata: ‘Wahai Tuhanku! Si fulan dahulu memerintahkanku untuk bermaksiat kepada-Mu, menahanku dari taat kepada-Mu, membuatku berpaling dari apa yang ada di sisi-Mu, dan tidak memperingatkanku tentang pertemuan dengan-Mu. Maka kumpulkanlah aku bersamanya di tingkat ini (dari neraka).’ Maka Allah pun mengumpulkan keduanya bersama di tingkat yang sama (dalam neraka). Kemudian Imam membacakan ayat: (QS. az-Zukhruf; 67)
Dan di antara sempurnanya persaudaraan dan persahabatan itu adalah hendaknya kita lebih mengutamakan saudara kita atas dirinya. Allah SWT. telah memuji kaum yang lebih mengutamakan saudaranya yang membutuhkan atas diri mereka -yang walaupun juga membutuhkan-. Allah berfirman:
وَالَّذِيْنَ تَبَوَّءُو الدَّارَ وَالْاِيْمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّوْنَ مَنْ هَاجَرَ اِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُوْنَ فِيْ صُدُوْرِهِمْ حَاجَةً مِّمَّآ اُوْتُوْا وَيُؤْثِرُوْنَ عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌۗ وَمَنْ يُّوْقَ شُحَّ نَفْسِهٖ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَۚ
“Dan orang-orang (Anshar) yang telah menempati kota (Madinah) dan beriman sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin) mencintai orang yang berhijrah ke (tempat) mereka. Mereka tidak mendapatkan keinginan di dalam hatinya terhadap apa yang diberikan (kepada Muhajirin). Mereka mengutamakan (Muhajirin) daripada dirinya sendiri meskipun mempunyai keperluan yang mendesak. Siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al Hasyr; 9)
Nabi saw. bersabda:
مَا اسْتَفَادَ امْرُؤٌ مُسْلِمٌ فَائِدَةً بَعْدَ فَائِدَةِ الإِسْلَامِ مِثْلَ أَخٍ يَسْتَفِيدُهُ فِي اللَّهِ.
“Seorang Muslim tidak pernah memperoleh suatu manfaat setelah nikmat Islam yang lebih besar daripada saudara (seiman) yang ia peroleh karena Allah.”
(Bersambung insyaallah)




