Uncategorize

99 Wasiat Imam Ali bin Abi Thalib as. Kepada Kumail bin Ziyâd. (Bag.14) 

(Diambil dari Buku Tafsir Wasiat Imam Ali as. Kepada Kumail bin Ziyâd.) 

Oleh Habib Ali Umar Al Habsyi (Anggota Dewan Syura IJABI) 

يَا كُمَيْلُ، إِيَّاكَ إِيَّاكَ وَالتَّطَرُّقَ إِلَى أَبْوَابِ الظَّالِمِينَ، وَالِاخْتِلَاطِ بِهِمْ، وَالِاكْتِسَابِ مِنْهُمْ. وَإِيَّاكَ أَنْ تُطِيعَهُمْ، وَأَنْ تَشْهَدَ فِي مَجَالِسِهِمْ بِمَا يَسْخَطُ اللهَ (عَلَيْكَ). 

Wahai Kumail, waspadalah, waspadalah dari mendatangi pintu-pintu para zalim, bergaul dengan mereka, dan mencari penghidupan dari mereka. Jangan sekali-kali engkau menaati mereka, dan jangan menjadi saksi dalam majelis-majelis mereka terhadap sesuatu yang membuat Allah murka kepadamu. 

Demikianlah Manhaj Hidup Islami yang diajarkan Ahlulbait as. dalam berhubungan dengan orang-orang zalim. Para Imam Ahlulbait as hidup di masa-masa gelap para penguasa zalim yang merampas Hak Kepemimpinan Ahlulbait as. , dan memerintah kaum Muslimin atas nama Islam dan Khilâfah Islamiyah, sementara perilaku mereka jauh dari ajaran-ajaran Islam. Kezaliman mewarnai setiap lembaran kehidupan mereka. Dan tidak jarang kaum shaleh menjadi korban kezaliman dan perlakukan kesemena-menaan para penguasa dan aparatur pemerintahan. Cara yang menjadikan para Syi’ah Ahlulbait as di sepanjang masa bisa selamat dari keterlibatan dalam kezaliman adalah menjauh dari mereka. Tidak bergaul dengan mereka yang dapat memberi legalitas atas berbagai kezaliman dan penyimpangan para penguasa atau mendukung kekuasaan mereka. 

Dalam wasiat di atas, Imam Ali as juga mengingatkan Kumail [dan tentunya ini adalah Garis Ajaran Islam untuk kita semua] agar tidak mengagungkan dan menyanjung para zalim, dan menghadiri majlis-maljis dan jamuan-jamuan mereka, karena hal demikian akan mengundang murka Allah. Dan apabila kondisi -karena satu dan lain keadaan- memaksa ia harus hadir di majlis-majlis mereka, atau dipaksa hadir, hendaknya ia selalu melanggengkan berdzikir kepada Allah SWT. agar ia terhindar dari murka Allah apabila Allah menjatuhkan kepada mereka. Dan apabila kondisi memungkinkan, hendaknya ia mengingatkan mereka dengan nasihat-nasihat. Karena boleh jadi nasihat yang tulus memberi pengaruh sehingga mereka berhenti dari kemaksiatan. Dan hendaknya seorang Mukmin yang terpaksa hadir di majelis-majelis para zalim, memohon perlindungan kepada Allah dari murka Allah SWT.  

iklan

Itulah yang ditegaskan dalam wasiat lanjutan di bawah ini: 

يَا كُمَيْلُ، إِنِ اضْطُرِرْتَ إِلَى حُضُورِهِمْ، فَدَاوِمْ ذِكْرَ اللهِ تَعَالَى، وَالتَّوَكُّلَ عَلَيْهِ، وَاسْتَعِذْ بِاللهِ مِنْ شَرِّهِمْ، وَأَطْرِقْ عَنْهُمْ، وَأَنْكِرْ بِقَلْبِكَ فِعْلَهُمْ، وَاجْهَرْ بِتَعْظِيمِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ لِتُسْمِعَهُمْ، فَإِنَّهُمْ يَهَابُونَكَ، وَتُكْفَى شَرَّهُمْ. 

Wahai Kumail, jika engkau terpaksa menghadiri majelis mereka, maka perbanyaklah mengingat Allah Yang Mahatinggi, bertawakallah kepada-Nya, berlindunglah kepada Allah dari kejahatan mereka, tundukkan pandanganmu dari mereka, ingkarilah dalam hatimu perbuatan mereka, dan nyaringkanlah pengagungan kepada Allah Yang Mahaperkasa agar mereka mendengarnya, maka mereka akan segan kepadamu, dan engkau akan terlindung dari kejahatan mereka. 

Melantangkan Dzikrullah, mengagungkan nama Allah di hadapan mereka adalah sebuah bentuk protes atas maksiat dan kezaliman dan sekaligus pengingat agar mereka berhenti dari bermaksiat kepada Allah. Karena kesudahan kezaliman dan bermaksiat kepada Allah adalah murka Allah dan adzab yang pedih. Di dunia sebelum di akhirat. Dan paling rendahnya tahapan protes dan mengingkari perbuatan maksiat dan kezaliman adalah menolak dengan hati. Dengan demikian, Allah akan menyelamatkan dari keburukan dan kejahatan mereka. 

Seperti itulah Allah SWT. mengingatkan kaum Muslimin: 

وَلَا تَرْكَنُوْٓا اِلَى الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُۙ وَمَا لَكُمْ مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ مِنْ اَوْلِيَاۤءَ ثُمَّ لَا تُنْصَرُوْنَ 

“Janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim sehingga menyebabkan api neraka menyentuhmu, sedangkan kamu tidak mempunyai seorang penolong pun selain Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan.” (QS. Hud; 113) 

(Bersambung Insyaallah

Habib Ali Umar Al-Habsyi
+ posts
Iklan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berkaitan

Back to top button