Khazanah

Ketika Kemampuan Terbatas: Karbala dan Kaum Mustadh’afin

Saya selalu merasa bahagia dan bangga kepada saudara-saudara yang Allah muliakan dengan kesempatan berziarah ke Karbala, terlebih kepada mereka yang tidak hanya rela menabung dan berkorban demi menjadi tamu Imam Husain a.s., tetapi juga tidak pernah melupakan hak-hak saudara-saudaranya yang sedang miskin, sakit, menjadi janda, menjadi yatim, atau hidup dalam berbagai kesulitan. Mereka memahami bahwa cinta kepada Imam Husain a.s. tidak berhenti di Karbala, melainkan terus mengalir ke rumah-rumah kaum mustadh’afin. Semakin sering mereka berziarah, semakin lembut hati mereka kepada sesama. Semakin dalam kecintaan mereka kepada Imam Husain a.s., semakin besar pula kepedulian mereka kepada orang-orang yang lemah. Semoga Allah memperbanyak hamba-hamba seperti mereka.

Tulisan ini sama sekali bukan ajakan untuk mempertentangkan Karbala dengan kaum mustadh’afin. Sebaliknya, tulisan ini lahir dari keyakinan bahwa keduanya tidak boleh dipisahkan. Karbala mengajarkan kita mencintai Allah melalui Imam Husain a.s., sedangkan kaum mustadh’afin mengajarkan kita membuktikan cinta itu dalam kehidupan nyata. Karena itu, ziarah dan pelayanan kepada sesama bukanlah dua jalan yang saling bersaing, melainkan dua cahaya yang saling menyempurnakan.

Namun kehidupan tidak selalu memberi kemampuan yang sama kepada setiap orang. Ada saat ketika Allah melapangkan rezeki sehingga seseorang dapat berziarah ke Karbala sekaligus membantu orang-orang yang membutuhkan. Alangkah indahnya keadaan seperti itu. Tetapi ada pula saat ketika kemampuan kita sangat terbatas sehingga kita harus menentukan prioritas. Keadaan seperti ini tidak hanya terjadi dalam urusan ziarah. Hampir setiap hari kita mengalaminya: antara membeli sesuatu yang sebenarnya belum mendesak atau membantu tetangga yang sedang kesulitan; antara memperbarui barang yang masih layak dipakai atau membantu biaya pengobatan orang sakit; antara menambah kenyamanan hidup kita sendiri atau menghadirkan harapan bagi sebuah keluarga yang sedang berjuang bertahan hidup. Di situlah Allah mendidik hati kita melalui pilihan-pilihan kecil yang sering kali tidak diketahui siapa pun.

Pada saat seperti itulah fiqh al-awlawiyyāt—fikih tentang menentukan prioritas amal—menjadi sangat penting. Yang kita tanyakan bukanlah, “Amal mana yang lebih mulia secara mutlak?” Sebab banyak amal yang sama-sama mulia. Pertanyaan yang lebih tepat adalah, “Dalam keadaan yang Allah berikan kepadaku hari ini, amal apakah yang paling besar manfaatnya dan paling mendekatkanku kepada keridaan Allah?”

Imam Husain a.s. berkorban di Karbala untuk menghidupkan agama Allah, menegakkan keadilan, menjaga amanah, dan membela martabat manusia. Karena itu, setiap ziarah kepada beliau semestinya melahirkan semangat yang sama. Semakin dekat seseorang kepada Karbala, semakin dekat pula ia kepada nilai-nilai yang diperjuangkan Karbala.

iklan

Rasulullah saw. bersabda:

مَنْ قَضَى لِأَخِيهِ الْمُؤْمِنِ حَاجَةً كَانَ كَمَنْ عَبَدَ اللَّهَ دَهْرًا

“Barang siapa memenuhi kebutuhan saudaranya yang mukmin, maka seakan-akan ia telah beribadah kepada Allah sepanjang hidupnya.”

Imam Ja’far ash-Shādiq a.s. juga bersabda:

قَضَاءُ حَاجَةِ الْمُؤْمِنِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ حَجَّةٍ مَقْبُولَةٍ

“Memenuhi kebutuhan seorang mukmin lebih baik daripada seribu haji yang diterima.”

Riwayat-riwayat ini tidak dimaksudkan untuk mengurangi keagungan haji ataupun ziarah. Sebaliknya, ia mengingatkan bahwa seluruh ibadah harus berbuah pada lahirnya rahmat bagi sesama manusia. Ibadah yang benar akan membuat kita semakin peka terhadap penderitaan orang lain.

Karena itu, apabila Allah telah melapangkan rezeki sehingga kita mampu berziarah ke Karbala sekaligus mengangkat kehidupan kaum mustadh’afin, maka itulah nikmat yang patut disyukuri. Berziarahlah dengan penuh kerinduan, lalu pulanglah dengan semangat untuk menjadi pelayan bagi sesama.

Namun apabila pada suatu waktu kemampuan kita benar-benar terbatas, marilah masing-masing bermuhasabah di hadapan Allah. Dalam keadaan yang sedang aku hadapi hari ini, pengorbanan apakah yang paling dikehendaki Allah dariku? Di mana aku dapat menghadirkan manfaat yang paling besar? Pertanyaan ini bukan untuk menghakimi pilihan orang lain, melainkan untuk membersihkan niat dan menata prioritas amal kita sendiri.

Pada akhirnya, Karbala bukan hanya sebuah tempat yang didatangi, tetapi juga nilai yang dihidupkan. Setiap kali kita menjaga amanah, membela yang lemah, mengangkat martabat orang miskin, menghibur hati seorang janda, membantu seorang anak yatim, atau mengembalikan hak kepada pemiliknya, sesungguhnya kita sedang membawa cahaya Karbala ke dalam kehidupan.

Sungguh bahagia dan bersyukur kaki-kaki yang teruji menuju Karbala melahirkan langkah-langkah baru menuju rumah-rumah kaum mustadh’afin. Dan semoga setiap kepedulian kepada kaum mustadh’afin semakin menumbuhkan kerinduan kita kepada Imam Husain a.s. Sebab keduanya tidak pernah saling bertentangan; keduanya bertemu dalam satu tujuan, yaitu mencari keridaan Allah melalui cinta kepada Imam Husain a.s. dan pengabdian kepada hamba-hamba-Nya.

====================
Selamat datang saudara-saudaraku: betapa bahagiaku segera menyambut kepulangan kalian dengan selamat. Doakan aku agar suatu waktu dapat berjalan menuju Sayyidusy Syuhada.

Edi HM
+ posts
Iklan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berkaitan

Back to top button