KhazanahRubrik Kang Jalal

Ketika Kematian Tidak Lagi Menakutkan

Membaca Skripsi “Studi Komparasi Pemikiran Jalaluddin Rakhmat dan Komaruddin Hidayat tentang Kematian”

Penulis skripsi: Sal Sabillah Nikmatus Solikah
Program Studi Tasawuf dan Psikoterapi
Fakultas Ushuluddin dan Filsafat
Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya
Tahun 2023

Semua Orang Takut Mati. Tetapi Mengapa?

Hampir semua manusia memiliki satu ketakutan yang sama: kematian. Anehnya, kita tahu bahwa kematian pasti datang, tetapi kita lebih senang menghindari pembicaraan tentangnya. Rumah sakit menjadi tempat yang ingin segera ditinggalkan. Pemakaman cepat berlalu dari ingatan. Bahkan kata “mati” sering diganti dengan ungkapan yang lebih halus, seolah-olah mengucapkannya saja sudah membawa kesialan.

iklan

Fenomena inilah yang menarik perhatian Sal Sabillah Nikmatus Solikah, mahasiswa Program Studi Tasawuf dan Psikoterapi UIN Sunan Ampel Surabaya. Dalam skripsinya, ia memilih membandingkan dua pemikir Muslim Indonesia yang sama-sama berbicara tentang kematian, tetapi dengan bahasa yang berbeda: KH. Jalaluddin Rakhmat dan Prof. Komaruddin Hidayat.

Namun, ketika membaca keseluruhan skripsi ini, tampak bahwa pemikiran Kang Jalal memiliki warna yang sangat khas. Ia tidak memulai pembahasan dari rasa takut, melainkan dari cara memandang kehidupan itu sendiri.

Kang Jalal Mengubah Cara Kita Melihat Kematian

Banyak orang memandang kematian sebagai akhir perjalanan. Kang Jalal justru mengajak melihatnya sebagai awal perjalanan berikutnya.

Dalam pandangannya, manusia bukan sekadar tubuh yang suatu hari berhenti bekerja. Yang sejati adalah ruh. Tubuh hanyalah kendaraan selama berada di dunia. Ketika kendaraan itu selesai menjalankan tugasnya, perjalanan tidak berhenti. Yang berubah hanyalah alam yang ditempati.

Karena itulah Kang Jalal menggunakan istilah yang sangat indah: kematian adalah penyucian jiwa.

Cara pandang seperti ini membuat kematian kehilangan wajahnya yang menakutkan. Ia bukan lagi hukuman, melainkan proses kembali menuju kesucian yang telah dipersiapkan Allah bagi setiap hamba-Nya.

Tasawuf Membuat Kematian Terlihat Berbeda

Di sinilah latar belakang penulis sebagai mahasiswa Tasawuf dan Psikoterapi terasa kuat.

Tasawuf (ilmu yang membahas penyucian hati dan perjalanan spiritual menuju kedekatan dengan Allah) memandang kematian bukan sekadar peristiwa biologis. Yang mati hanyalah jasad, sedangkan ruh tetap melanjutkan perjalanan.

Karena itu, orang yang setiap hari membersihkan hatinya sesungguhnya sedang mempersiapkan diri menghadapi kematian.

Bukan mempersiapkan kematian dengan ketakutan.

Tetapi mempersiapkannya dengan kerinduan.

Perspektif seperti inilah yang banyak ditemukan penulis ketika membaca karya-karya Kang Jalal.

Mengapa Kita Takut Mati?

Skripsi ini menarik karena tidak langsung berbicara tentang akhirat. Penulis lebih dahulu mengajak pembaca memahami sumber ketakutan manusia.

Sebagian takut karena merasa masih terlalu mencintai dunia.

Sebagian takut karena merasa amalnya belum cukup.

Sebagian lagi takut karena tidak memahami apa yang sebenarnya terjadi setelah kematian.

Menurut Kang Jalal, rasa takut sering kali lahir bukan karena kematian itu sendiri, tetapi karena manusia tidak mengenalnya. Ketidaktahuan melahirkan kecemasan. Sebaliknya, pengetahuan yang benar melahirkan ketenangan.

Itulah sebabnya pembicaraan tentang kematian dalam tradisi tasawuf bukan dimaksudkan untuk membuat orang murung, melainkan agar hidup menjadi lebih bermakna.

Di Mana Letak Perbedaannya dengan Komaruddin Hidayat?

Inilah bagian paling menarik dari penelitian ini.

Penulis menemukan bahwa kedua tokoh sama-sama mengajak manusia tidak takut kepada kematian. Namun jalur yang ditempuh berbeda.

Komaruddin Hidayat lebih banyak menggunakan pendekatan psikologis. Ia mengajak manusia berdamai dengan kematian melalui optimisme, refleksi, dan pencarian makna hidup.

Sementara Kang Jalal melangkah lebih jauh.

Beliau memandang kematian sebagai proses tazkiyah (penyucian jiwa), sebuah perpindahan menuju alam yang lebih hakiki. Karena itu, kematian bukan sekadar diterima, tetapi dipahami sebagai bagian dari kasih sayang Allah kepada manusia.

Di sinilah letak keunikan pemikiran Kang Jalal yang ditangkap dengan baik oleh penulis skripsi ini.

Mengingat Mati, Mencintai Hidup

Ada anggapan bahwa orang yang sering mengingat kematian akan menjadi pesimis.

Kang Jalal justru menunjukkan kebalikannya.

Semakin seseorang sadar bahwa hidup di dunia terbatas, semakin ia menghargai setiap detik kehidupannya. Hubungan dengan keluarga menjadi lebih hangat. Kesempatan berbuat baik menjadi lebih berharga. Kesombongan kehilangan tempatnya.

Kesadaran akan kematian bukan membuat manusia menjauh dari kehidupan, melainkan membuatnya hidup dengan lebih sadar.

Paradoks inilah yang menjadi salah satu pesan paling kuat dari skripsi Sal Sabillah Nikmatus Solikah.

Mengapa Skripsi Ini Layak Dibaca?

Skripsi ini tidak hanya berhasil mempertemukan dua cendekiawan Muslim Indonesia dalam satu tema besar, tetapi juga menunjukkan bahwa pembahasan tentang kematian tidak harus dipenuhi rasa takut.

Melalui pembacaan yang teliti terhadap karya-karya KH. Jalaluddin Rakhmat dan Komaruddin Hidayat, penulis memperlihatkan bahwa kematian dapat menjadi pintu untuk memahami kehidupan secara lebih utuh.

Bagi pembaca yang ingin mengenal pemikiran Kang Jalal, skripsi ini memberikan satu pelajaran penting: beliau tidak pernah mengajak orang mencintai kematian, tetapi mengajak manusia mempersiapkan kehidupan setelahnya dengan hati yang bersih, akhlak yang baik, dan keyakinan bahwa perjumpaan dengan Allah bukanlah akhir dari segalanya, melainkan awal dari perjalanan yang sesungguhnya.

Kematian sebagai Cermin Kehidupan

Di bagian berikutnya, penulis skripsi mulai memperlihatkan perbedaan yang lebih halus antara KH. Jalaluddin Rakhmat dan Prof Komaruddin Hidayat. Keduanya sama-sama berbicara tentang kematian, tetapi titik berangkat keduanya tidak sama.

Komaruddin Hidayat banyak mengajak pembaca merenungkan kematian melalui pengalaman manusia sehari-hari. Ia berbicara tentang kehilangan, kecemasan, pencarian makna, dan bagaimana manusia berdamai dengan kenyataan bahwa hidup memiliki batas. Pendekatannya sangat psikologis. Kematian dipahami sebagai momentum untuk menata ulang cara hidup.

Kang Jalal tidak menolak pendekatan itu, tetapi beliau bergerak lebih dalam. Baginya, pembicaraan tentang kematian tidak bisa dilepaskan dari perjalanan ruh. Manusia bukan hanya makhluk biologis yang suatu hari berhenti bernapas, melainkan makhluk spiritual yang sedang menempuh perjalanan menuju Allah. Karena itu, kematian tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu berkaitan dengan kehidupan sebelum dan sesudahnya.

Pandangan inilah yang membuat bahasa Kang Jalal terasa berbeda. Ketika orang lain berbicara tentang kematian sebagai akhir, beliau justru mengajak melihatnya sebagai proses perpindahan. Ketika banyak orang sibuk bertanya bagaimana cara menghindari kematian, beliau mengajak bertanya, “Sudahkah kita mempersiapkan diri untuk bertemu dengan-Nya?”

Perbedaan itu sesungguhnya berakar pada cara masing-masing memahami manusia. Dalam perspektif Kang Jalal, manusia bukan sekadar makhluk yang memiliki tubuh, melainkan ruh yang sedang mengenakan tubuh. Tubuh memang akan kembali menjadi tanah, tetapi ruh tetap melanjutkan perjalanannya. Karena itu, yang paling penting bukanlah berapa lama seseorang hidup, melainkan bagaimana ia membersihkan jiwanya selama hidup.

Penulis skripsi melihat bahwa cara berpikir seperti ini sangat dipengaruhi oleh tradisi tasawuf yang menjadi salah satu warna kuat dalam pemikiran Kang Jalal. Tasawuf (jalan penyucian hati untuk mendekat kepada Allah) memandang kehidupan dunia sebagai fase pendidikan ruh. Dunia bukan tujuan akhir, melainkan tempat manusia belajar mengenal dirinya dan mengenal Tuhannya. Maka kematian bukan kegagalan hidup, tetapi gerbang menuju tahap berikutnya dalam perjalanan seorang mukmin.

Di sinilah letak keunikan Kang Jalal. Beliau tidak mengajak orang mencintai kematian secara berlebihan, apalagi mengabaikan kehidupan dunia. Sebaliknya, beliau justru mendorong manusia untuk menjalani hidup dengan sebaik-baiknya karena setiap amal, setiap niat, dan setiap akhlak akan menjadi bekal ketika memasuki alam berikutnya.

Dengan kata lain, pembicaraan tentang kematian dalam pemikiran Kang Jalal sesungguhnya adalah pembicaraan tentang kualitas hidup. Orang yang benar-benar memahami kematian akan lebih menghargai waktu, lebih mudah memaafkan, lebih ringan membantu sesama, dan tidak mudah diperbudak oleh ambisi dunia. Kesadaran akan kematian bukan membuat seseorang pasif, melainkan membuatnya hidup dengan kesadaran yang lebih tinggi.

Itulah salah satu temuan penting yang berhasil ditangkap oleh Sal Sabillah Nikmatus Solikah. Melalui penelitian komparatif ini, ia menunjukkan bahwa di balik tema yang sama, Kang Jalal menghadirkan perspektif yang lebih spiritual. Kematian bukan sekadar fakta biologis atau persoalan psikologis, melainkan bagian dari pendidikan jiwa menuju perjumpaan dengan Allah.

Belajar Hidup dari Kesadaran Akan Mati

Salah satu kesan yang muncul setelah membaca skripsi ini adalah bahwa KH. Jalaluddin Rakhmat tidak pernah membahas kematian untuk menumbuhkan pesimisme. Sebaliknya, beliau justru menggunakannya sebagai cara untuk menghidupkan kesadaran manusia.

Dalam banyak tradisi tasawuf, mengingat kematian bukanlah latihan untuk menakut-nakuti diri sendiri. Mengingat kematian adalah latihan untuk menyusun kembali skala prioritas kehidupan. Apa yang selama ini dianggap paling penting sering kali ternyata tidak bernilai ketika seseorang menyadari bahwa seluruh hidupnya memiliki batas.

Penulis skripsi menunjukkan bahwa cara pandang seperti ini menjadi benang merah dalam pemikiran Kang Jalal. Kematian bukan sesuatu yang datang tiba-tiba tanpa hubungan dengan kehidupan. Apa yang disebut kematian sesungguhnya adalah kelanjutan dari cara seseorang menjalani hidupnya. Oleh karena itu, memperbaiki hidup jauh lebih penting daripada sekadar membicarakan kematian.

Di sinilah pembahasan Kang Jalal terasa sangat membumi. Beliau tidak mengajak pembaca larut dalam perdebatan metafisik mengenai alam kubur atau detail kehidupan setelah mati. Yang lebih ditekankan adalah bagaimana kesadaran akan kematian mampu mengubah perilaku manusia ketika masih hidup.

Orang yang sadar bahwa hidupnya terbatas akan lebih berhati-hati menjaga lisannya. Ia tidak mudah menyakiti orang lain hanya karena perbedaan pendapat. Ia memahami bahwa permusuhan yang dipelihara bertahun-tahun tidak akan memiliki arti ketika seseorang telah kembali kepada Allah.

Kesadaran yang sama juga membuat seseorang lebih ringan memaafkan. Ia tidak ingin membawa kebencian sebagai bekal perjalanan ruhnya. Dalam perspektif ini, memaafkan bukan hanya akhlak sosial, tetapi juga cara membersihkan hati sebelum bertemu dengan Sang Pencipta.

Penulis skripsi melihat bahwa dimensi inilah yang membedakan Kang Jalal dari banyak pembicaraan populer mengenai kematian. Kematian bukan sekadar objek renungan intelektual, melainkan energi moral yang mendorong manusia menjadi pribadi yang lebih baik. Orang yang benar-benar memahami kematian justru akan semakin mencintai kehidupan, karena setiap kesempatan hidup adalah peluang untuk memperbaiki diri.

Pandangan ini juga memperlihatkan mengapa Kang Jalal begitu dekat dengan tradisi tasawuf. Dalam tasawuf, perjalanan spiritual tidak diukur dari banyaknya pengetahuan, melainkan dari perubahan akhlak. Ilmu yang tidak mengubah hati dianggap belum selesai menjalankan fungsinya. Karena itu, pembicaraan tentang kematian selalu berujung pada pertanyaan yang sangat sederhana tetapi mendalam: apakah hati kita hari ini lebih bersih dibandingkan kemarin?

Pertanyaan itulah yang perlahan mengubah kematian dari sesuatu yang menakutkan menjadi guru kehidupan. Ia mengingatkan manusia bahwa usia bukanlah sesuatu yang bisa diperpanjang sesuka hati, tetapi kualitas hidup selalu bisa diperbaiki selama kesempatan itu masih diberikan Allah.

Melalui pembacaan terhadap karya-karya KH. Jalaluddin Rakhmat, Sal Sabillah Nikmatus Solikah memperlihatkan bahwa mengingat kematian bukan berarti menjauh dari dunia. Justru dengan menyadari keterbatasan dunia, manusia belajar menggunakan setiap detik kehidupannya dengan lebih bijaksana, lebih rendah hati, dan lebih dekat kepada Allah. Itulah makna terdalam yang ingin disampaikan Kang Jalal ketika berbicara tentang kematian: bukan mengajarkan manusia bagaimana mati, melainkan bagaimana hidup dengan kesadaran bahwa setiap langkah adalah persiapan menuju perjumpaan dengan-Nya.

Kematian yang Melahirkan Harapan

Di bagian akhir penelitiannya, Sal Sabillah Nikmatus Solikah sampai pada sebuah kesimpulan yang menarik. Meskipun KH. Jalaluddin Rakhmat dan Prof Komaruddin Hidayat sama-sama berbicara tentang kematian dengan bahasa yang menenangkan, keduanya berangkat dari fondasi yang berbeda. Perbedaan itulah yang justru memperkaya cara umat Islam memahami salah satu kepastian terbesar dalam hidup manusia.

Dalam pembacaan penulis, Komaruddin Hidayat lebih banyak mengajak manusia menerima kematian sebagai bagian dari siklus kehidupan. Kematian dipahami sebagai guru yang mengingatkan manusia untuk hidup lebih bermakna, lebih damai, dan lebih siap menghadapi keterbatasan dirinya.

Sementara itu, Kang Jalal membawa pembaca melangkah lebih jauh. Beliau tidak berhenti pada ajakan untuk menerima kematian. Beliau mengajak manusia melihat kematian melalui lensa tauhid. Segala sesuatu berasal dari Allah dan akan kembali kepada Allah. Karena itu, kematian bukan sekadar perpindahan dari satu keadaan menuju keadaan lain, tetapi perjalanan pulang menuju asal kehidupan.

Cara pandang seperti ini membuat pembahasan Kang Jalal terasa sangat menenteramkan. Tidak ada kesan bahwa kematian adalah hukuman yang harus ditakuti. Yang perlu ditakuti justru adalah ketika manusia menjalani hidup tanpa arah, tanpa penyucian hati, dan tanpa memperbaiki hubungan dengan Allah maupun dengan sesama manusia.

Itulah sebabnya hampir setiap pembahasan Kang Jalal mengenai kematian selalu berujung pada kehidupan. Beliau tidak sibuk menggambarkan bagaimana seseorang meninggal, melainkan bagaimana seseorang seharusnya hidup sebelum kematian datang menjemputnya. Ukuran keberhasilan hidup bukan semata-mata panjangnya usia, banyaknya harta, atau tingginya jabatan, tetapi sejauh mana hati menjadi lebih bersih, akhlak menjadi lebih lembut, dan amal menjadi lebih ikhlas.

Di sinilah penulis skripsi melihat kekuatan pemikiran Kang Jalal. Perspektif tasawuf yang beliau gunakan tidak membuat seseorang menjauh dari realitas sosial. Sebaliknya, kesadaran bahwa hidup ini sementara justru melahirkan tanggung jawab moral yang lebih besar. Orang yang sadar akan kepastian kematian akan lebih berhati-hati menggunakan kekuasaan, lebih jujur dalam bekerja, lebih ringan berbagi, dan lebih mudah memaafkan. Kesadaran spiritual diterjemahkan menjadi akhlak sosial.

Pesan seperti ini terasa sangat relevan di tengah kehidupan modern. Manusia hari ini begitu sibuk mengejar pencapaian hingga sering lupa bahwa setiap hari sebenarnya adalah perjalanan menuju perjumpaan dengan Allah. Kesibukan membuat manusia lupa berhenti sejenak untuk bertanya: apa yang sedang saya bawa menuju kehidupan berikutnya?

Melalui skripsinya, Sal Sabillah Nikmatus Solikah berhasil memperlihatkan bahwa membaca karya-karya KH. Jalaluddin Rakhmat bukan sekadar mempelajari gagasan tentang kematian. Yang dipelajari sesungguhnya adalah seni menjalani kehidupan dengan kesadaran spiritual yang utuh. Kematian tidak lagi diposisikan sebagai akhir yang menakutkan, melainkan sebagai pengingat agar setiap hari diisi dengan amal yang lebih baik daripada hari sebelumnya.

Pada akhirnya, mungkin inilah pelajaran paling berharga dari pemikiran Kang Jalal. Kita tidak pernah mengetahui kapan kematian datang. Yang dapat kita tentukan hanyalah bagaimana kita menjalani hidup sebelum saat itu tiba. Maka, mengingat kematian bukan berarti mengurangi cinta kepada kehidupan. Justru karena kehidupan begitu singkat, setiap detiknya menjadi sangat berharga untuk diisi dengan ilmu, cinta, pengabdian, dan akhlak yang baik.

Itulah sebabnya, dalam perspektif Kang Jalal sebagaimana dibaca melalui skripsi ini, kematian bukan akhir dari harapan. Ia adalah awal dari perjumpaan dengan Tuhan yang selama hidup selalu dipanggil dalam doa, dicari dalam ibadah, dan dirindukan dengan hati yang terus berusaha disucikan.

Penutup: Belajar Menghadapi Kematian, Belajar Menghargai Kehidupan

Membaca skripsi karya Sal Sabillah Nikmatus Solikah memberi kesan bahwa pembahasan tentang kematian tidak selalu identik dengan suasana muram. Sebaliknya, melalui perbandingan pemikiran KH. Jalaluddin Rakhmat dan Prof Komaruddin Hidayat, penulis memperlihatkan bahwa kesadaran akan kematian justru dapat menjadi sumber kekuatan untuk menjalani kehidupan dengan lebih bermakna.

Bagi pembaca yang ingin mengenal pemikiran Kang Jalal, skripsi ini menghadirkan satu pesan yang sangat kuat. Kematian bukanlah tema yang harus dihindari, apalagi ditakuti secara berlebihan. Ia adalah guru yang diam-diam mengajarkan manusia tentang arti waktu, arti kesempatan, dan arti setiap amal yang dilakukan selama hidup.

Dalam perspektif Kang Jalal, kematian bukan sekadar berhentinya detak jantung atau berakhirnya usia biologis. Kematian adalah momentum ketika seluruh perjalanan hidup dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Karena itu, persiapan menghadapi kematian tidak dimulai ketika seseorang jatuh sakit atau memasuki usia senja. Persiapan itu dimulai sejak hari ini, melalui akhlak yang semakin baik, hati yang semakin bersih, dan hubungan yang semakin tulus dengan sesama manusia.

Cara pandang seperti ini membuat kematian kehilangan wajahnya yang menyeramkan. Yang menakutkan bukanlah kematian itu sendiri, melainkan apabila kita menghadapinya tanpa bekal. Sebaliknya, bagi orang yang setiap hari berusaha memperbaiki diri, kematian adalah bagian dari perjalanan pulang kepada Tuhan yang selama ini disembah, dicintai, dan dirindukan.

Di sinilah letak keindahan pemikiran Kang Jalal. Beliau tidak mengajak pembacanya sibuk menghitung kapan kematian datang, tetapi mengajak menghitung apa yang telah dilakukan sebelum kematian itu tiba. Fokusnya bukan pada misteri waktu kematian, melainkan pada kualitas kehidupan.

Barangkali karena itulah karya-karya Jalaluddin Rakhmat tentang kematian tidak pernah terasa gelap. Di balik setiap pembahasannya selalu ada harapan. Harapan bahwa manusia dapat memperbaiki dirinya. Harapan bahwa pintu taubat selalu terbuka. Harapan bahwa kasih sayang Allah jauh lebih luas daripada dosa-dosa manusia yang dengan tulus ingin kembali kepada-Nya.

Melalui skripsi ini kita akhirnya memahami bahwa berbicara tentang kematian sesungguhnya adalah berbicara tentang kehidupan. Semakin seseorang menyadari bahwa hidup di dunia hanyalah persinggahan, semakin ia terdorong mengisi hari-harinya dengan sesuatu yang bernilai. Ia tidak mudah menyia-nyiakan waktu. Ia tidak ringan menyakiti orang lain. Ia belajar memaafkan, belajar bersyukur, dan belajar meninggalkan jejak kebaikan yang akan tetap hidup setelah dirinya tiada.

Mungkin itulah pelajaran terbesar yang dapat dipetik dari pembacaan terhadap pemikiran KH. Jalaluddin Rakhmat. Kematian bukanlah lawan kehidupan. Kematian adalah cermin yang membuat manusia melihat kehidupannya dengan lebih jernih. Dan ketika cermin itu digunakan dengan benar, seseorang tidak akan hidup dalam ketakutan, tetapi dalam kesadaran bahwa setiap hari adalah kesempatan baru untuk menjadi hamba Allah yang lebih baik daripada hari kemarin.

Jejak Pemikiran Kang Jalal

Dalam skripsi ini, Sal Sabillah Nikmatus Solikah membangun analisisnya dengan merujuk pada karya-karya KH. Jalaluddin Rakhmat yang membahas kematian, tasawuf, dan kehidupan spiritual, terutama buku Memaknai Kematian, kemudian membandingkannya dengan karya-karya Prof. Komaruddin Hidayat mengenai tema yang sama. Pendekatan komparatif tersebut memperlihatkan kekhasan Kang Jalal dalam memandang kematian sebagai perjalanan ruh menuju Allah, bukan sekadar akhir kehidupan biologis.

Pijakan Akademik

Sal Sabillah Nikmatus Solikah. Studi Komparasi Pemikiran Jalaluddin Rakhmat dan Komaruddin Hidayat tentang Kematian. Skripsi, Program Studi Tasawuf dan Psikoterapi, Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya, 2023.

Website |  + posts
Iklan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berkaitan

Artikel Lain
Close
Back to top button