Empat Puluh Hari

Empat puluh hari telah berlalu sejak musibah besar itu menimpa.
Namun, kesedihan itu tak juga mereda, luka semakin mendalam, rasa pilu semakin memuncak.
Empat puluh hari
Di Karbala, itu bukanlah akhir kesedihan, melainkan awal perjalanan.
Darah itu tidak terkubur, suara itu tak kunjung diam, dan al-Husain as tidak mungkin bisa dilupakan.
Empat puluh hari
Air mata Zainab tidak mengering, hati Ali as-Sajjad belum tenang, darah Karbala masih tetap bercucuran.
Empat puluh hari
Tepat pada tanggal dua puluh Safar, sejarah dan keimanan bertemu dalam satu pelukan.
Hari ketika rombongan itu kembali menapaki tanah Karbala.
Hari perjumpaan dengan Jabir bin Abdillah.
Hari ketika langkah-langkah pertama menuju pusara al-Husain as menjadi awal tradisi ziarah yang tak pernah terputus oleh zaman.
Sejak saat itu, hari tersebut dikenal sebagai Hari Arbain.
Hari yang mengabadikan duka, cinta, rindu, dan kesetiaan kepada al-Husain as.

Empat puluh hari
Yang tidak mengenal al-Husain tak akan mengerti mengapa jutaan manusia datang memenuhi jalan menuju Karbala.
Yang tak pernah berlinang air mata pada Asyura tak akan bisa memahami rahasia langkah-langkah yang menembus terik matahari dan dinginnya cuaca.
Empat puluh hari
Mereka melangkah bukan karena jalannya mudah atau nyaman, tetapi karena di ujung perjalanan ada misbahul huda.
Di sana ada bahtera keselamatan.
Di sana ada janji setia yang terus ditegaskan setiap tahunnya.
Labbaika ya Husain
Labbaika ya Husain
Di atas tanah Karbala, di sisi pusara pemimpin pemuda surga…



