Di Balik Pesona Gagasan dan Pemikiran: Antara Tajassumul A’mal dengan Keadilan Ilahi

Penulis : Muhammad Bhagas (Anggota Departemen Khidmat dan Seni Budaya)
Ketika seseorang menganut suatu pendapat, ideologi dan pemikiran, kemudian hal itu disampaikan atau diajarkan kepada orang lain dan akhirnya pendapat itu diikuti atau berpengaruh besar dalam kehidupan orang lain, sebenarnya yang terjadi bukan hanya transfer pengetahuan, bukan hanya sebagai aktivitas intelektual dan wacana keilmuan, tetapi juga memiliki implikasi pada kebahagiaan dan keselamatan seseorang di alam barzakh dan akhirat. Setiap pemikiran yang diyakini, diajarkan, dan diwariskan memiliki dimensi batin. Aktivitas berpikir dan menyampaikan teori tidak berhenti pada ranah intelektual, melainkan menjadi bagian dari pertanggungjawaban eksistensial manusia di hadapan Allah. Jika kandungannya benar, maka akan menjadi pahala jariyah selama orang-orang mengikuti pendapat itu. Namun jika kandungannya salah atau menyesatkan, maka akan menjadi dosa jariyah selama orang-orang mengikuti pendapat itu.
Hal ini berdasarkan hadis dari Imam Ja’far al-Shadiq as:
لا يتكلم الرجل بكلمة حق يؤخذ بها إلا كان له مثل أجر من أخذ بها، ولا يتكلم بكلمة ضلال يؤخذ بها إلا كان عليه مثل وزر من أخذ بها.
Jika seseorang mengucapkan suatu perkataan yang benar, lalu perkataan itu diterima dan diamalkan orang lain, maka ia memperoleh pahala yang sama seperti pahala orang yang menerima dan mengamalkannya. Dan jika seseorang mengucapkan suatu perkataan yang sesat, lalu perkataan itu diterima dan diikuti, maka ia menanggung dosa yang sama seperti dosa orang yang menerima dan mengikutinya
📚 Tsawab al-A’mal, halaman 162
Hadis Imam Ja’far al-Shadiq as ini menggeser cara pandang kita terhadap ilmu. Selama ini seseorang mungkin mengira bahwa dosa dan pahala hanya berkaitan dengan tindakan fisik. Padahal, sebuah kalimat, teori, pemikiran atau pandangan hidup yang diterima lalu diamalkan orang lain juga menjadi amal yang terus mengalir. Sebagaimana sedekah jariyah tidak berhenti pada saat pemberian dilakukan, demikian pula sebuah pemikiran yang benar atau salah dapat terus menghasilkan pahala atau dosa selama pengaruhnya masih hidup di tengah manusia.
Dalam mazhab Ahlul Bait as, kita tidak boleh sembarangan menerima dan mengajarkan suatu pendapat, pemikiran, dan worldview (pandangan dunia/pandangan hidup). Kita tidak boleh latah ikut-ikutan menganut pemikiran-pemikiran yang dibungkus dengan ungkapan-ungkapan bahasa akademik yang tampak canggih, objektif, dan ilmiah, atau worldview yang mengatasnamakan rasionalitas, semangat progresif, anti kejumudan, studi kritis, rekonstruksi, metode ilmiah, dan embel-embel semacamnya, padahal isi dan hakikatnya justru mengarah pada pelepasan dimensi transenden dari kehidupan. Pemikiran yang cenderung mengikis falsafah eksistensial, tidak lagi mempertimbangkan hal ihwal jiwa manusia, mengaburkan kebenaran filosofis-metafisis, menganggap kerja-kerja filosofis sebagai sesuatu yang tidak membumi, aneh, spekulasi tak berdasar dan tidak memiliki bobot epistemologis, menutup rapat-rapat peluang integrasi, mereduksi agama (dan keberagamaan) hanya sekadar fenomena sejarah, psikologis dan sosial, memutus hubungan manusia dengan realitas spiritual, serta menolak kemungkinan adanya kebenaran universal dan mutlak. Yang seperti ini sangat berpotensi merelatifkan segalanya, dan yang tidak bisa diverifikasi secara empiris sering kali dianggap tidak memiliki nilai epistemologis yang sah.
Sangat disayangkan, sebagian dari pemikiran-pemikiran yang menyihir tersebut sangat problematis jika ditinjau secara filosofis, bahkan pada level yang sangat fundamental pun rapuh yaitu pijakan ontologis dan epistemologisnya.
Berdasarkan prinsip tajassumul a’mal yang dianut dalam mazhab Ahlul Bait as, keyakinan dan amal bukan sekadar catatan yang tersimpan di dalam buku amal, melainkan memiliki realitas yang akan menampakkan dirinya di alam barzakh dan akhirat. Dengan kata lain, apa yang hari ini kita yakini, bela, dan sebarkan sedang membentuk hakikat batin kita sendiri. Pemikiran yang benar menjadi cahaya dan kebahagiaan yang menemani perjalanan ruh, sedangkan pemikiran yang batil berubah menjadi beban dan penderitaan bagi pemiliknya.
Dari sudut pandang irfan, hal ini menunjukkan bahwa ilmu bukan sekadar informasi yang mengisi pikiran, tetapi juga membentuk wujud batin manusia. Setiap keyakinan yang benar mendekatkan jiwa kepada al-Haqq, sedangkan setiap keyakinan yang batil menciptakan hijab antara hamba dan Tuhannya. Karena itu, menjaga akidah dan worldview bukan hanya persoalan identitas mazhab, tetapi juga persoalan keselamatan dan kebahagiaan eksistensial (tingkat kesempurnaan jiwa manusia)
Pada saat yang sama, penting dicatat bahwa kekritisan dan metode ilmiah itu sendiri bukanlah sesuatu yang tercela. Dalam tradisi intelektual Islam, penggunaan akal, argumentasi yang kuat dan metodologi ilmiah justru memiliki kedudukan penting. Yang menjadi persoalan bukanlah berpikir kritis atau bersikap ilmiah, melainkan bila pendekatan tersebut dijadikan dasar untuk menolak dimensi metafisik, wahyu, dan otoritas ilahi secara apriori. Dengan demikian, kritik dalam konteks ini lebih tepat dipahami sebagai kritik terhadap paradigma yang dipandang bertentangan dengan worldview tauhid, bukan terhadap aktivitas ilmiah itu sendiri.
Juga penting dicatat, apa yang disampaikan dalam tulisan ini tidak boleh dipahami tanpa kerangka dan prinsip keadilan ilahi (al-‘adl al-ilahi). Dalam perspektif keadilan ilahi, pertanggungjawaban itu tidak bersifat mekanis-normatif atau otomatis-normatif. Dengan keadilan-Nya, manusia tidak hanya dinilai berdasarkan nilai-nilai normatif agama (atau lahiriah teks-teks agama), tetapi juga timbangan holistik terhadap seluruh aspek kehidupannya lahir maupun batin. Allah Yang Maha Adil menilai manusia berdasarkan seluruh unsur atau aspek yang terlibat di dalam prosesnya: niat, tingkat pengetahuan, tingkat kesadaran, kemampuan intelektual, usaha mencari kebenaran, akses terhadap kebenaran, relasi-relasinya, seluruh rintangan dan kondisi kehidupannya, dan kompleksitas pengalamannya. Boleh jadi ada tiga orang yang memiliki kesalahan yang sama dalam ranah pemikiran, namun Allah memandang dan memperlakukan mereka secara berbeda karena terdapat perbedaan pada detail aspek-aspek yang terlibat dalam keseluruhan proses mereka.
Dengan demikian, tajassumul a’mal tidak tepat dipahami secara sederhana seolah-olah setiap kesalahan intelektual dan kesesatan pemikiran pasti berubah menjadi azab tanpa mempertimbangkan rahmat Allah. Tajassum a’mal berjalan berdampingan dengan keadilan, rahmat, syafaat dan keluasan ampunan Allah. Allah tidak menzalimi seorang pun, bahkan sekecil dzarrah.
Semoga bermanfaat dan diluaskan berkahnya. Shalawat, du‘aukum 🙏
Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammad wa Aali Sayyidina Muhammad wa ‘ajjil farajahum…

Muhammad Bhagas
- Anggota Departemen Perkhidmatan dan Seni IJABI.
- Direktur Kajian Kang Jalal.



