Hadis

Kehati-hatian dari Kebijaksanaan, Buah Akal Sehat 

Oleh Mohammad Adlany, Ph.D (Anggota Dewan Syura IJABI) 

Dalam Nahj al-Balaghah, Imam Ali bin Abi Ṭhalib as memberikan banyak wejangan yang tidak hanya bernilai moral, tetapi juga mengandung prinsip-prinsip epistemologis dan aksiologis yang mendalam. Salah satu ungkapan beliau yang sarat makna adalah: 

ثَمَرَةُ التَّفْرِيطِ النَّدَامَةُ، وَثَمَرَةُ الْحَزْمِ السَّلَامَةُ 

“Buah dari sikap lalai dan meremehkan adalah penyesalan, dan buah dari kehati-hatian serta kebijaksanaan adalah keselamatan.”[Nahj al-Balaghah, ḥikmah no. 181]
Ungkapan ini tidak sekadar mengandung ajaran moral, tetapi juga menyentuh dasar-dasar filsafat praktis dalam pandangan Islam, khususnya yang berkaitan dengan hubungan antara akal teoretis, akal praktis, dan keseimbangan jiwa manusia. 

Akal Teoretis dan Akal Praktis: Dua Dimensi Rasionalitas Manusia 
Dalam kerangka filsafat Islam, akal manusia memiliki dua fungsi utama: akal teoretis (al-‘aql al-naẓhar) dan akal praktis (al-‘aql al-‘amali). Akal teoretis bertugas untuk memahami kebenaran, membedakan antara yang benar dan yang salah, serta menghasilkan pengetahuan tentang realitas. Sedangkan akal praktis berfungsi dalam ranah tindakan—yakni membuat keputusan, mengarahkan kehendak, dan mewujudkan pengetahuan dalam bentuk amal. Kedua jenis akal ini bekerja dalam domain yang berbeda, tetapi saling melengkapi dan menyempurnakan. Hanya jiwa yang kuat yang mampu menyatukan keduanya sehingga kehidupan manusia berjalan di jalan yang lurus. 
Dengan demikian, rasionalitas sejati bukan hanya berpikir benar, tetapi juga bertindak benar.

Konsep jihad batin atau jihad akbar dalam konteks ini berarti perjuangan manusia untuk mengenal potensi dirinya, memahami fungsi setiap kekuatan batin (akal, jiwa, dan kehendak), serta menyelaraskannya agar darinya lahir keputusan yang bijak dan amal saleh.

Perjuangan ini merupakan bentuk tertinggi dari pengendalian diri, karena menuntut manusia untuk mengelola dorongan nafsu, kepentingan pribadi, dan keterbatasan intelektualnya. Dalam perspektif Imam Ali as, kemenangan sejati bukanlah menundukkan orang lain, melainkan menundukkan diri sendiri melalui kebijaksanaan dan kehati-hatian.

Perbedaan antara Kebodohan-ilmiah dan Kebodohan-tindakan
Dalam tradisi Islam, perlu dibedakan antara kebodohan-ilmiah (jahl) dan kebodohan-tindakan (jahālah). Kebodohan-ilmiah menunjuk pada ketidaktahuan ilmiah—yaitu ketiadaan pengetahuan dalam ranah akal teoretis. Adapun kebodohan-tindakan merupakan kebodohan dalam perbuatan, yaitu ketika seseorang mengetahui kebenaran tetapi gagal menerapkannya dalam keputusan dan perilaku praktis.
Oleh sebab itu, seorang berilmu bisa saja jatuh dalam kebodohan-tindakan jika ia tidak mampu menyesuaikan ilmunya dengan akal praktis. Imam Ali as memperingatkan hal ini dalam sabda beliau: 

رُبَّ عَالِمٍ قَدْ قَتَلَهُ جَهْلُهُ، وَعِلْمُهُ مَعَهُ لَا يَنْفَعُهُ 

iklan

“Betapa banyak orang berilmu yang terbunuh oleh kebodohannya sendiri, dan ilmunya tidak bermanfaat baginya.”[Nahj al-Balaghah, ḥikmah no. 107, hlm. 469]
Hadis ini menegaskan bahwa ilmu tanpa akhlak dan kebijaksanaan adalah ilmu yang mandul. Pengetahuan sejati harus berbuah tindakan yang benar dan keputusan yang berlandaskan takwa. 

Akal, Takwa, dan Pusat Pengambilan Keputusan Batin
Akal praktis dalam diri manusia berfungsi sebagai pusat pengambil keputusan batiniah. Namun agar ia tidak menyimpang, pusat ini harus dikendalikan oleh takwa. Dengan demikian, setiap keputusan yang dihasilkan bukan hanya benar secara logis, tetapi juga benar secara moral dan religius.

Ilmu tanpa kendali takwa ibarat pedang di tangan orang buta—berbahaya dan destruktif. Oleh karena itu, Imam Ali as menegaskan bahwa manusia yang bertindak tanpa perencanaan dan kehati-hatian hanya akan menuai penyesalan, sedangkan orang yang berhati-hati dan berpikir matang akan menikmati keselamatan dan keberhasilan. 

Dalam Hikmah ke-48 Nahj al-Balaghah, Imam Ali as menyatakan bahwa kemenangan dalam urusan pribadi maupun sosial hanya akan terwujud apabila keputusan-keputusan diambil berdasarkan pemikiran yang matang, analisis mendalam, dan kehati-hatian. Ia juga menekankan pentingnya menjaga rahasia dan menahan diri dari tergesa-gesa dalam bertindak.[Nahj al-Balaghah, ḥikmah no. 48, hlm. 420]
Dengan demikian, kehati-hatian bukanlah tanda kelemahan, tetapi bukti kematangan akal. Sementara tergesa-gesa adalah bentuk kegagalan dalam memanfaatkan anugerah akal yang telah Allah karuniakan.
Walhasil, dari ungkapan suci Imam Ali as dapat disimpulkan bahwa keseimbangan antara akal teoretis dan akal praktis merupakan syarat utama keselamatan manusia. Ilmu tanpa kebijaksanaan hanyalah beban intelektual, sementara kehati-hatian tanpa ilmu akan menjerumuskan ke dalam stagnasi.

Kehidupan yang ideal adalah kehidupan yang dijalankan dengan akal, iman, dan takwa, di mana setiap keputusan lahir dari perenungan mendalam dan disertai orientasi moral yang benar. Karena itu, buah dari kehati-hatian adalah keselamatan. 

Mohammad Adlany Ph. D.
Dewan Syuro IJABI |  + posts
Iklan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berkaitan

Back to top button