Uncategorize

99 Wasiat Imam Ali bin Abi Thalib as. Kepada Kumail bin Ziyâd. (Bag.21) 

(Diambil dari Buku: Tafsir Wasiat Imam Ali as. Kepada Kumail bin Ziyâd.) 

Oleh Habib Ali Umar Al Habsyi (Anggota Dewan Syura IJABI) 

يَا كُمَيْلُ، كُلُّ مَصْدُورٍ يَنْفُثُ، فَمَنْ نَفَثَ إِلَيْكَ مِنَّا بِأَمْرٍ، وَأَمَرَكَ بِسِتْرِهِ، فَإِيَّاكَ أَنْ تُبْدِيَهُ، فَلَيْسَ لَكَ مِنْ إِبْدَائِهِ تَوْبَةٌ، وَإِذَا لَمْ تَكُنْ لَكَ تَوْبَةٌ فَالْمَصِيرُ إِلَى لَظَى. 

Wahai Kumail, setiap orang yang memiliki sesuatu dalam dadanya akan menyalurkannya. Maka jika seseorang dari kami membisikkan kepadamu suatu urusan dan memerintahkan agar engkau merahasiakannya, maka waspadalah jangan sekali-kali engkau menyingkapnya. Sebab jika engkau menampakkannya, tiada tobat bagimu; dan bila tiada tobat bagimu, maka tempat kembalimu adalah ke dalam api yang menyala-nyala (Ladẓâ). 

Kata: الْمَصْدُورٍ/al Mashdûr artinya seorang yang di dalam dadanya ada rahasia yang ia sembunyikan. Tentu orang yang seperti itu terkadang untuk melegakan “sesak nafasnya” ia bermaksud menyampaikannya kepada teman akrab yang terpercaya. Agar ia juga berbagi kesedihan yang ia rasakan. Yang dimaksud di sini adalah seorang Mukmin yang di dalam dadanya menyimpan hadis-hadis keutamaan Ahlulbait as yang ia dengar dan riwayatkan dari Nabi saw dan para imam Ahlulbait as., tetapi ia khawatir untuk menyampaikannya secara terbuka, mengingat tidak sedikit orang yang akan menolaknya, mengecamnya bahkan mungkin akan menyakiti dan mencelakainya. Karena -kenyataannya- tidak semua kaum Muslimin siap mendengar dan apalagi menerima dan mengimani keutamaan-keutamaan Ahlulbait as.

Di sini, apabila ada seorang Mukmin menyampaikan hadis keutamaan agung Ahlulbait mulia Nabi as lalu ia meminta agar hadis itu tidak disebarkan, maka kita pun harus menyimpannya baik-baik sehingga ada jiwa tulus yang siap mendengarnya. 

Data-data sejarah melaporkan bagaimana sebagian ulama dengan tanpa alasan yang jelas keberatan bahkan menolak hadis-hadis Nabi saw tentang keutamaan Imam Ali as. dan Ahlulbait as. Hadis: “Tidak mencintai Ali kecuali orang Mukmin dan tidak membencinya kecuali seorang mufafik” yang sangat masyhur dan shahih itu pun mereka ragukan dan mereka tolak. Demikian juga dengan hadis-hadis lain, seperti hadis: “Ali Pembagi neraka dan surga.” Mereka menolaknya. 

Di bawah ini, saya kutipkan keterangan saya dalam kitab Ali Neraca Kebenaran: 128-129, tentang bagaimana sikap sebagian ulama dalam usaha mereka dalam menghadang hadis-hadis keutamaan Imam Ali as dan Ahlulbait as.: Al Hiskâni meriwayatkan dengan sanad bersambung kepada Syarîk bin Abdillah, ia berkata, “Aku berada di sisi A’masy ketika beliau sakit. Maka Abu Hanifah, Ibnu Syubramah dan Ibnu Abi Lalâ masuk menemuinya lalu berkata kepadanya, ‘Hai Abu Muhammad, sesungguhnya engkau sekarang sedang berada di akhir kehidupan dunia dan awal kehidupan akhirat. Engkau dahulu telah menyampaikan hadis-hadis tentang keutamaan Ali bin Abi Thalib, maka bertaubatlah darinya!  

Maka A’masy berkata, ‘Dudukkan dan sandarkan aku!’ setelah disandarkan ia berkata, ‘Abu Mutawakkil an Nâji menyampaikan hadis kepadaku dari Abu Sa’id al Khudri, ia berkata, ‘Rasulullah saw. bersabda: “Kelak ketika hari kiamat tiba, Allah berfirman kepadaku dan kepada Ali, “Lemparkan ke dalam api neraka Jahannam setiap orang yang membenci kalian berdua. Dan masukkan ke dalam surga setiap orang yang mencintai kelian berdua.” 

Itulah firman Allah: 

iklan

ألْقِيا فِي جَهَنَّمَ كُلَّ كَفَّارٍ عَنِيْدٍ. 

“Allah berfirman; Lemparkanlah olehmu berdua ke dalam neraka jahannam semua orang yang sangat ingkar (kafir) lagi keras kepala.” (QS. Qâf [50];23)

Maka Abu Hanifah berkata kepada teman-temanya, ‘Ayo kita segera pergi dari sini, jangan sampai ia mendatangkan yang lebih keras lagi dari hadis ini!.” 

Habib Ali Umar Al-Habsyi
+ posts
Iklan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berkaitan

Back to top button