Qodama shidqin di sisi-Mu bersama Husain dan para sahabat Husain
(Majelis Aza ke 9, Muharram 1448 H, 23 Juni 2026)
Penulis : Dr. Dimitri Mahayana (Sekretaris Dewan Syura IJABI)
Bagian 1
Sebuah Perenungan atas Makna Larik Terakhir Ziarah Asyura
I. Narasi Nizami tentang Habib demikian menakjubkan. Habib bin Mazhahir as adalah sosok yang merangkum kedalaman spiritual dengan keteguhan dalam perjanjian.
Habib ibn Mazahir:
- Melayani Rasulullah Saw dan meriwayatkan hadis beliau
- Salah seorang sahabat dan pembela khusus Imam Ali as.
- Membela Imam Ali as dalam perang Jamal, Shiffin, dan Nahrawan.
- Salah seorang sahabat Imam Hasan as dan Imam Husain as di Kufah
- Beliau alim dan fakih.
Beliau mengetahui rahasia-rahasia Ilahi, mempunyai kasyaf, dan karamah. Hafal al-Quran dan setiap malam beliau menyempurnakan bacaan Kitab Suci dengan khatam. Dalam hal ini, Habib adalah contoh nyata dari mereka yang menggabungkan ilmu dengan amal, yang mengalami rahasia-rahasia ilahi karena dedikasinya yang total.
Rasulullah saw memberitahu bahwa Habib akan syahid di Karbala.
Pada masa Rasulullah saw, Habib berjalan di belakang Imam Husain as. Lalu mengambil debu yang diinjak Imam Husain as dan mengusapkannya ke wajahnya. Rasulullah saw melihat kejadian-kejadian ini. Lalu beliau mencium kening Habib sambil berkata, [1] ‘Jibril telah membertahukanku bahwa ia akan hadir pada peristiwa Karbala dan membela Husainku.’
Inilah tanda cinta sejati: tidak sekadar pernyataan, tetapi tindakan yang lahir dari hati yang telah beresonansi dengan langkah Rasulullah Saw dan keluarganya as.
Telah diriwayatkan Imam (as) juga berkata: [2] ‘Wahai Habib, betapa mulianya engkau sehingga Allah mengaruniaimu kemampuan menyelesaikan bacaan Kitab Suci pada setiap malam’
II. Pertanyaan Peziarah
Maka, bagaimana agar kita kelak digabungkan dengan Habib, Muslim, Jawn dan para Syuhada Karbala lain yang demikian mulia? Inilah pertanyaan yang menggerakkan setiap peziarah . Suatu pertanyaan yang mengalirkan air mata dan menggerakkan hati untuk bertanya dan mencari makna.
Menurut saya, mungkin jawabannya ada dan tersembunyi dalam doa Ziarah Asyura
III. Dalam Akhir dari Ziarah Asyura
ﺛَﺒِّﺖْ ﻟِﻲ ﻗَﺪَمَ ﺻِﺪْقٍ ﻋِﻨْﺪَكَ ﻣَﻊَ اﻟْﺤُﺴَﯿْﻦِ وَأَﺻْﺤَﺎبِ اﻟْﺤُﺴَﯿْﻦِ اﻟﱠﺬِﯾﻦَ ﺑَﺬَﻟُﻮا ﻣُﮭَﺠَﮭُﻢْ دُونَ اﻟْﺤُﺴَﯿْﻦِ ﻋَﻠَﯿْﮫِ اﻟ ﱠﺴﻼَمُ
“(Ya Allah, dan) teguhkanlah bagiku qodama shidqin di sisi-Mu bersama Husain dan para sahabat Husain yang telah mengorbankan jiwa mereka demi Husain, salam sejahtera atasnya.”
Di penghujung Ziarah Asyura, para peziarah Al Husain (zuwwarul Husain) bermohon pada Allah diberi keteguhan dalam qadama shidqin di sisiNya bersama Al Husain dan para sahabat Al Husain. Mereka telah mencapai qodama shidqin di sisi Allah bersama Imam Husain as, dan inilah yang menjadi doa dan harapan terdalam setiap peziarah: mencapai kedudukan yang sama.
Para sahabat Al Husain telah mencapai qodama shidqin di sisi Allah bersama Imam Husain as, sebagaimana yang disebutkan dalam ziarah tersebut. Frasa qadama shidqin hanya muncul satu kali dalam ziarah ini, yakni di bagian akhir—di ujung, sebagai puncak harapan. Dan sebagai penjelasan yang sangat penting, mereka telah mengorbankan segalanya demi Al Husain ‘alaihis salam.
Ciri utama keadaan puncak ini—keadaan qadama shidqin—adalah pengorbanan total, kejujuran sejati, antara ucapan dan perbuatan, antara keyakinan dan amal.
Seolah, ada suatu petunjuk lembut, qadama shidqin ini merupakan puncak harapan para peziarah Al Husain dalam ziarahnya. Dan ciri utama keadaan puncak ini adalah mengorbankan segalanya demi Al Husain ‘alaihis salam.
Mereka yang menangis dan hadir dalam jutaan majelis duka cita Al Husain dari masa ke masa, saling mengokohkan dalam merawat ingatan kolektif pada Al Husain memiliki sebuah keinginan terakhir di ujung doa-nya, kebersamaan dengan Al Husain dan para sahabatnya di taman qadama shidqin. Inilah impian rohani mereka: menjadi sederajat dengan para sahabat sejati.
Bersambung…




