Puasa dan Intensifikasi Kesadaran

Penulis: Mohammad Adlany, Ph.D (Anggota Dewan Syura IJABI)
Dalam filsafat Islam, pengetahuan sejati tidak hanya diperoleh melalui abstraksi rasional, tetapi melalui penyucian jiwa. Jiwa yang keruh oleh syahwat dan keterikatan dunia tidak mampu menerima cahaya pengetahuan ilahiah secara jernih.
Puasa bekerja sebagai metode takhliyah (pengosongan) dan tajliyah (penampakan cahaya). Ketika tubuh dikurangi bebannya, ketika dorongan material dilemahkan, batin memperoleh kejernihan. Kesadaran menjadi lebih reflektif dan lebih hadir.
Dalam filsafat Islam, jiwa manusia bersifat dinamis dan bergerak secara substansial. Artinya, jiwa bukan entitas statis; ia bertumbuh, melemah, atau meningkat dalam intensitas wujud. Setiap tindakan memiliki konsekuensi ontologis terhadap struktur eksistensi jiwa.
Puasa mempercepat gerak substansial ini. Dengan melemahkan dominasi materialitas, ia memperkuat dimensi immaterial jiwa. Kesadaran tidak lagi sepenuhnya terserap oleh dunia inderawi, tetapi mulai menyaksikan realitas yang lebih dalam. Di sinilah puasa menjadi metode epistemik: ia membuka kemungkinan penyaksian spiritual terhadap dimensi ilahiah realitas.




