Sepenggal Perjalanan di Yogyakarta (10–14 Desember 2025)

Penulis: Dra. Euis Mimin (Anggota Departemen Fathimiyyah IJABI)
Halaqah Kubro KUPI telah usai menjelang malam Senin. Satu per satu peserta mulai berhamburan menuju Stasiun Tugu Yogyakarta dan Bandara Internasional Yogyakarta. Suasana rindu keluarga terasa begitu kuat, seolah menjadi arus besar cerita di antara para peserta Halaqah Kubro yang sebagian besar adalah para ibu. Mereka dengan berat hati meninggalkan keluarga, anak, dan pasangan masing-masing demi menyukseskan sebuah perhelatan nasional yang sarat makna.
Di tengah arus kepulangan itu, saya justru menjadi salah satu dari sedikit peserta yang harus menahan kepulangan ke Bandung. Malam itu saya masih harus bertahan di hotel tempat menginap, karena ada satu agenda penting lain yang tak kalah bermakna dari Halaqah Kubro KUPI yang baru saja berakhir.
Senin pagi, udara Yogyakarta terasa hangat, sangat kontras dengan cuaca beberapa hari sebelumnya. Selama pelaksanaan Halaqah Kubro, Yogyakarta nyaris setiap hari diguyur hujan. Bahkan pada hari Sabtu, hujan turun tanpa jeda sepanjang hari. Seolah hujan sengaja menemani kami yang sedang berproses keras di ruang-ruang diskusi. Pendingin ruangan yang disetel dingin pun terasa tak berdaya menyejukkan kepala yang terus dipacu untuk merumuskan berbagai keputusan penting yang kelak akan dibawa ke Kongres Ulama Perempuan Indonesia tahun 2027. Halaqah Kubro menjadi jembatan inspirasi dan harapan banyak perempuan yang menuntut kesetaraan dalam mempresentasikan dirinya sebagai ulama.

Pagi itu, sarapan di restoran University Hotel tersaji sederhana. Hotel ini memang biasanya menjadi tempat singgah para dosen dari luar kota yang hendak melakukan penelitian, sehingga tamu yang menginap tidak terlalu banyak. Namun, selama perhelatan besar Halaqah Kubro, hotel ini dipenuhi tamu, membuat variasi menu sarapan menjadi lebih beragam. Semangkuk soto ayam menemani obrolan ringan namun hangat bersama beberapa tokoh ulama perempuan dari Lombok, Sulawesi Selatan, dan sejumlah wilayah Indonesia Timur.
Obrolan pagi itu kemudian mengerucut pada isu-isu yang kerap menghantam jamaah perempuan Ahlulbait, salah satunya isu nikah mut’ah. Saya merasa inilah kesempatan untuk menjelaskan kepada mereka yang selama ini belum memahami, bahkan kerap memberikan stigma negatif terhadap praktik tersebut. Diskusi ringan namun penuh makna pun mengalir di antara kami. Hingga kemudian seorang perempuan muda dari Lombok mengajak saya berbincang secara pribadi. Dalam percakapan itu, terselip keinginannya untuk mengetahui lebih jauh tentang perempuan Ahlulbait—sengaja saya menggunakan diksi tersebut, bukan Syiah, karena terasa lebih ringan dan manusiawi.
Di akhir obrolan, perempuan muda itu berkata bahwa jika tidak bertemu dengan sosok yang santai dan terbuka seperti saya, pandangannya tentang perempuan Syiah tidak akan pernah bergeser. Selama ini, dalam benaknya, perempuan Syiah selalu identik dengan cadar, pemikiran ekstrem, dan nikah mut’ah yang dipersepsikan secara keliru sebagai pembenaran zina atau alat legitimasi poligami. Mendengar itu, dalam hati saya mengucap syukur karena akhirnya memiliki ruang untuk meluruskan pemahaman yang keliru.
Menjelang siang, saya dijemput oleh Mba Ita—perempuan luar biasa yang dikenal sebagai pemilik Griya Si Geboy—untuk melanjutkan agenda lain yang tak kalah penting, yakni bertemu dengan teman-teman Fathimiyyah Yogyakarta dan Solo. Misi saya kali ini adalah menyerap dan mendengar persoalan yang tengah dihadapi Fathimiyyah di wilayah tersebut. Perjalanan sekitar tiga puluh menit ditemani obrolan ringan yang mengalir, mengurai rindu setelah sekian lama tak berjumpa.
Setibanya di Griya Si Geboy, sambil menunggu kedatangan teman-teman dari Solo, saya diajak berkeliling area rumah yang terasa sejuk karena dikelilingi banyak pepohonan. Bahkan terlihat pohon rambutan yang tengah berbuah lebat. Kebun belakang yang dipenuhi pohon suji dan pandan—daun yang digunakan sebagai pewarna dan pewangi cendol—memberikan nuansa kontras dengan panasnya kota Yogyakarta.
Kehadiran Mba Ary dari Fathimiyyah Yogyakarta dan Mba Ria Maran, istri Ketua Tanfidziyah IJABI yang kini bermukim di Kutoarjo, menghentikan obrolan kami tentang rencana kebun jagung dan peternakan ayam petelur yang tengah dirancang Mba Ita. Tak lama kemudian, rombongan Fathimiyyah Solo datang, dipimpin oleh Mba Indah, seorang perempuan pengusaha yang tangguh. Suasana pun semakin hangat dan akrab.
Di sela menikmati cendol khas Griya Si Geboy dan batagor, saya menyimak berbagai persoalan yang tengah dihadapi jamaah IJABI di Yogyakarta dan Solo. Terungkap fenomena lahirnya sejumlah organisasi yang mengaburkan keberadaan IJABI dan ormas Ahlulbait lainnya. Muncul pula opini bahwa IJABI dinilai kurang mampu menjawab persoalan jamaah yang mengalami kesulitan ekonomi. Kondisi ini berimbas pada berkurangnya jumlah jamaah dan beralihnya sebagian dari mereka ke kelompok lain.
Di tengah kebingungan tersebut, saya merasa lega karena teman-teman Fathimiyyah masih memiliki keinginan untuk bertanya, berdiskusi, dan mencari jalan agar tetap dapat menjaga silaturahmi tanpa kehilangan jati diri. Saya pun menawarkan program konseling dasar yang kini menjadi salah satu program utama PP Fathimiyyah. Dengan segala keterbatasan, mereka hanya berharap untuk lebih sering dijenguk, baik secara daring maupun luring, sebagai bentuk penguatan moral dan solidaritas.
Agenda kemudian berlanjut ke rumah Mba Ary. Kami menikmati jus buah dan seblak prasmanan yang menjadi usaha Mba Ary. Semangkuk seblak dan segelas jus membawa kami pada obrolan tentang perjalanan usaha masing-masing. Cerita jatuh bangun usaha Mba Indah, Griya Si Geboy milik Mba Ita, seblak prasmanan Mba Ary, serta kisah usaha Mba Rela, Mba Habibah, Mba Devi, dan Mba Nuning, menjadi potret ketangguhan perempuan dalam menghadapi realitas hidup. Cerita-cerita itu menyentuh sisi reflektif dalam diri saya, yang hingga kini masih menyimpan harapan untuk memiliki usaha sendiri.
Malam hari, dengan diantar mobil Grand Max yang dikemudikan Mba Ita, saya menuju Stasiun Tugu Yogyakarta. Tepat pukul 22.16 WIB, Kereta Mutiara Selatan membawa saya kembali ke Bandung, mengakhiri perjalanan empat hari di Yogyakarta dengan agenda yang padat namun penuh makna. Perjalanan ini sarat cerita dan pengalaman berharga—bertemu dengan banyak perempuan luar biasa dari berbagai latar belakang dan daerah di Indonesia, serta menyerap dinamika dan persoalan di tubuh Fathimiyyah. Jeda sejenak untuk menuliskan pengalaman ini menjadi cara saya mengambil napas sebelum kembali melanjutkan khidmat berikutnya.






