Oleh: Muhammad Bhagas (Anggota Departemen Dakwah/Khidmat dan Seni Budaya PP IJABI)
Pemimpin tertinggi Iran, Sayyid ‘Ali Khamenei, pernah berpesan bahwa jangan sampai perbedaan pendapat di internal umat Islam menjadi sebab tercerai berainya hati mereka sehingga tidak bersatu untuk kemaslahatan bersama dan mengutamakan hal-hal yang menjadi prioritas. Jangan sampai kita luput dari identitas kita sebagai “umat yang satu”. Ini bukan ajakan menyeragamkan pemikiran. Menjadi “umat yang satu” bukan berarti meniadakan perbedaan mazhab, manhaj, atau pendekatan, melainkan bagaimana kita menyikapi perbedaan secara bijaksana sehingga tidak mengabaikan prioritas dan tujuan bersama. Berbeda tanpa bermusuhan. Berbeda tanpa kehilangan solidaritas.
Dengan demikian, jika seseorang selalu mengangkat isu-isu sektarian dan ribut debat keagamaan di ruang publik—alih-alih menggunakan embel-embel “ilmiah”—yang sangat berpotensi menimbulkan perpecahan umat Islam bahkan merusak ukhuwah tanpa mempertimbangkan kemaslahatan dan kondisi, tanpa mempertimbangkan skala prioritas dan apakah signifikan atau tidak, apalagi jika disampaikan dengan cara-cara dan gaya bahasa yang tidak elegan, tidak terukur, bahkan justru memperlebar jarak, maka tanpa sadar ia sedang menyambut Zionis-Israel dengan karpet merah dan memberikan musuh angin segar untuk memuluskan agenda dan tujuan mereka.
Jika sebuah pembahasan benar secara dalil, tetapi salah secara hikmah dan konteks, maka ia bisa berubah menjadi alat yang tanpa sadar memperlemah barisan umat. Sesuatu yang tampak “pembelaan kebenaran” bisa berubah menjadi bahan bakar perpecahan jika tidak disertai kebijaksanaan. Ilmu tanpa hikmah adalah presisi tanpa arah. Kebenaran teks tak boleh mengabaikan keselamatan konteks. Menahan diri tidak otomatis berarti kompromi. Meredam jangan selalu dimaknai menggadaikan prinsip. Melainkan kematangan dalam memahami dan menghadapi realitas. Dalam banyak kondisi, menahan diri adalah bagian dari ikhtiar tanggungjawab sosial dan kedewasaan strategis.
Sejarah menunjukkan tidak selamanya musuh menang karena kekuatan mereka, tetapi juga karena retaknya barisan internal. Ketika energi umat habis untuk saling “menyingkirkan”, maka fokus terhadap penjajahan, kezaliman, dan ketidakadilan melemah, fokus terhadap musuh bersama menjadi goyah, narasi besar tentang persatuan kita menjadi kabur, sehingga membantu meringankan pekerjaan musuh. Musuh tidak selalu perlu menyerang. Cukup membuat kita sibuk untuk saling menyerang. Penting dicatat, peradaban runtuh bukan karena perbedaan, tetapi hilangnya kesadaran kolektif.
Di era media sosial, isu kecil bisa meledak dalam hitungan menit. Potongan video, cuplikan ceramah, potongan tulisan, semuanya bisa dikemas untuk memprovokasi, memainkan emosi, dan memperuncing polarisasi. Jika tidak hati-hati, bisa menjadi amplifier perpecahan tanpa sadar. Itulah makna “menyambut dengan karpet merah”, bukan karena seseorang berniat mendukung musuh, tetapi karena efek dari tindakannya mempermudah agenda mereka. Pada akhirnya kita harus bertanya, siapakah yang selama ini diuntungkan? Pada akhirnya kita harus jujur menjawab, lebih sulit mana: membuktikan diri kita benar atau memastikan cara kita tidak melemahkan barisan dan solidaritas?
Demikian. Semoga bermanfaat dan diluaskan berkahnya. Shalawat, doa kita 🙏 Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammad wa Aali Sayyidina Muhammad wa ‘ajjil farajahum…

Muhammad Bhagas
- Anggota Departemen Perkhidmatan dan Seni IJABI.
- Direktur Kajian Kang Jalal.




