Oleh : Abdul Karim dan Fanny Internasional
Sudah cukup lama saya tidak membahas geopolitik. Rasanya seperti ada ruang kosong yang belum kembali terisi. Barangkali karena belakangan ini geopolitik tidak lagi hadir sebagai percakapan yang jauh, dingin, dan hanya milik para diplomat atau analis keamanan. Ia masuk ke ruang hidup kita melalui harga energi, perang, mata uang, pangan, algoritma media sosial, kecerdasan buatan, chip, pusat data, dan perang informasi. Dunia bergerak terlalu cepat, dan setiap percepatan selalu membawa pertanyaan lama yang kembali dalam bentuk baru: siapa yang mengendalikan arah zaman, dan siapa yang hanya dipaksa menyesuaikan diri dengannya?
Geopolitik menjadi menarik bukan semata-mata karena faktanya terus berubah, melainkan karena ia memperlihatkan bagaimana kekuasaan bekerja di balik bahasa kemajuan. Dahulu, kekuasaan mudah dibaca melalui wilayah, tentara, pelabuhan, minyak, dan jalur dagang. Kini kekuasaan juga bersembunyi di dalam server, cloud, model bahasa, chip, kamera pengawas, sistem rekomendasi, infrastruktur data, dan kecerdasan buatan yang tampak ramah di layar gawai kita. Dunia digital membuat kekuasaan lebih halus, tetapi bukan berarti lebih lembut. Ia tidak selalu datang dengan suara sepatu tentara; kadang ia datang dengan notifikasi, aplikasi gratis, kenyamanan, dan janji efisiensi.
Di sela membaca berita-berita internasional, saya juga menyempatkan diri membaca teks-teks teologis. Baru-baru ini, saya membaca ensiklik Paus Leo XIV, Magnifica Humanitas, atau Keagungan Manusia. Ensiklik ini berpusat pada kegelisahan besar: bagaimana manusia menghadapi zaman kecerdasan buatan tanpa kehilangan keutuhan dirinya sebagai ciptaan Tuhan. Di tengah dunia yang semakin percaya kepada mesin, efisiensi, prediksi, data, dan algoritma, ensiklik ini mengingatkan bahwa manusia tidak boleh direduksi menjadi angka, objek pengawasan, pola perilaku, sumber produktivitas, atau sekadar kumpulan data yang bisa dipetakan, dijual, dan diarahkan.
Gagasan dasarnya sederhana, tetapi tajam. Teknologi adalah bagian dari kreativitas manusia. Ia lahir dari akal, imajinasi, kerja, dan kemampuan manusia untuk mengolah dunia. Karena itu, teknologi, termasuk AI, tidak perlu diperlakukan sebagai musuh. Masalahnya bukan pada teknologi sebagai alat, melainkan pada arah moral yang menggerakkannya. Setiap teknologi membawa nilai dari mereka yang menciptakan, membiayai, mengendalikan, dan menggunakannya. Ia membawa kepentingan ekonomi, imajinasi politik, struktur sosial, dan kadang juga ambisi kekuasaan. Maka pertanyaan utama di zaman digital bukan lagi “seberapa canggih AI dapat menjadi?”, melainkan “apakah kecanggihan itu sungguh melayani martabat manusia?”
Di sinilah Magnifica Humanitas menjadi penting. Ia tidak sekadar berbicara tentang mesin pintar, tetapi tentang manusia yang mulai kehilangan ukuran tentang dirinya sendiri. AI memang dapat mempercepat kerja, memperluas pengetahuan, membantu pendidikan, memperbaiki layanan kesehatan, mengoptimalkan industri, bahkan membuka cara baru dalam memahami kompleksitas dunia. Tetapi bila AI tumbuh dalam logika akumulasi modal, monopoli korporasi, perang, pengawasan, dan kompetisi geopolitik yang brutal, ia tidak lagi hanya menjadi alat bantu. Ia berubah menjadi sistem yang mengatur manusia dari luar dan dari dalam: mengatur perhatian, pilihan, konsumsi, kerja, bahkan cara seseorang membayangkan dirinya.
Kegelisahan ini sebenarnya memiliki akar panjang dalam sejarah ajaran sosial Gereja Katolik. Pada masa Revolusi Industri, Paus Leo XIII menerbitkan Rerum Novarum, atau Tentang Hal-Hal Baru. Ensiklik itu lahir ketika mesin industri, kapitalisme pabrik, urbanisasi, dan gerakan buruh mengubah wajah masyarakat Eropa. Mesin menjanjikan kemajuan, tetapi di baliknya muncul penderitaan pekerja, upah murah, jam kerja panjang, kondisi kerja yang tidak manusiawi, dan eksploitasi perempuan serta anak-anak. Saat itu, pertanyaan moralnya bukan apakah mesin berguna, melainkan apakah sistem industri yang dibangun di sekitar mesin masih menghormati manusia.
Garis hubungan antara Rerum Novarum dan Magnifica Humanitas menjadi sangat jelas. Yang satu berbicara kepada zaman mesin industri; yang lain berbicara kepada zaman mesin algoritmik. Yang satu menghadapi pabrik, buruh, kapitalisme awal, dan eksploitasi tenaga kerja; yang lain menghadapi data, AI, platform digital, pusat komputasi, dan kapitalisme prediktif. Tetapi keduanya berangkat dari luka yang sama: ketika sistem menjadi terlalu besar, manusia mudah mengecil di hadapannya. Dahulu pekerja direduksi menjadi tenaga produksi. Kini manusia dapat direduksi menjadi data produksi. Dahulu tubuh manusia diperas oleh mesin pabrik. Kini perhatian, perilaku, wajah, suara, emosi, dan jejak digital manusia diekstraksi oleh mesin komputasi.
Karena itu, perdebatan tentang AI tidak boleh berhenti pada kekaguman teknis. AI sering dibayangkan seolah-olah hidup di awan, bersih, ringan, tanpa tubuh, tanpa bumi. Padahal kecerdasan buatan berdiri di atas infrastruktur yang sangat material: tambang mineral, logam tanah jarang, listrik, air, pusat data, kabel bawah laut, tenaga kerja pelabel data, moderator konten, peneliti, programmer, investor, dan jaringan logistik global. Di balik jawaban cepat sebuah mesin, ada bumi yang digali, energi yang dibakar, pekerja yang disembunyikan, dan data manusia yang dikumpulkan dalam skala raksasa. AI bukan hanya kecerdasan; ia adalah peta kekuasaan yang membentang dari tambang hingga ruang rapat korporasi teknologi.
Di titik ini, kritik terhadap AI harus lebih jujur. Kita sering terlalu mudah menyebutnya “kecerdasan”, seolah-olah ia hanya perkara kemampuan berpikir. Padahal AI juga merupakan sistem ekstraksi. Ia mengambil dari bumi, dari tubuh pekerja, dari perilaku pengguna, dari arsip budaya manusia, dari percakapan, gambar, tulisan, suara, dan kebiasaan sehari-hari. Ia mengubah kehidupan menjadi bahan baku. Bahkan emosi manusia dapat diklasifikasi, diprediksi, dan dimonetisasi. Apa yang tampak sebagai kemajuan digital ternyata tidak pernah benar-benar terlepas dari pertanyaan klasik tentang siapa yang bekerja, siapa yang memiliki, siapa yang menikmati keuntungan, dan siapa yang menanggung biaya tersembunyi.
Inilah sebabnya AI harus dibaca sebagai persoalan geopolitik. Ia bukan sekadar aplikasi yang membantu menulis, menggambar, menerjemahkan, atau menganalisis. Ia adalah struktur kuasa global. Siapa yang memiliki data, menguasai chip, membangun pusat data, mengendalikan cloud, memiliki model dasar, menentukan standar keamanan, mengatur pasar, dan membentuk regulasi, ia akan memiliki posisi strategis dalam abad ke-21. Jika dahulu dominasi global dibangun melalui laut, minyak, koloni, dan jalur perdagangan, kini dominasi juga dibangun melalui infrastruktur digital. Kolonialisme masa depan mungkin tidak lagi selalu menanam bendera di tanah orang lain; ia cukup menanam ketergantungan dalam sistem operasi, platform, algoritma, dan pusat data.
Pertarungan ini tampak dalam tiga model kekuasaan digital besar. Ada model pasar Amerika Serikat, yang memberi ruang luas kepada inovasi korporasi dan modal ventura, tetapi sering melahirkan konsentrasi kekuasaan pada segelintir perusahaan teknologi. Ada model negara China, yang menempatkan teknologi dalam kerangka kekuasaan negara, keamanan, industrialisasi, dan kontrol sosial. Ada pula model Uni Eropa, yang mencoba membangun tata kelola berbasis hak, privasi, dan regulasi. Tiga model ini bukan sekadar pilihan teknis. Ia adalah tiga visi tentang manusia, pasar, negara, kebebasan, dan kontrol. Negara-negara di luar pusat kekuasaan digital dunia akhirnya berhadapan dengan pertanyaan keras: apakah mereka akan menjadi subjek berdaulat, atau hanya menjadi pasar, pengguna, sumber data, dan wilayah eksperimen?
Di sinilah pandangan Ayatullah Ali Khamenei tentang AI menjadi relevan untuk dibaca secara geopolitik dan etis. Ia tidak melihat AI sekadar sebagai teknologi baru yang harus dipakai agar negara tampak modern. Ia melihatnya sebagai medan strategis yang menentukan keseimbangan kekuatan global. Bagi Khamenei, negara yang hanya menjadi pengguna AI akan tetap berada dalam ketergantungan. Ia mungkin terlihat canggih karena memakai teknologi terbaru, tetapi tetap tidak berdaulat bila fondasi teknologinya dimiliki pihak lain. Menjadi pengguna bukanlah keunggulan jika data, algoritma, infrastruktur, pusat komputasi, chip, dan standar pengembangannya dikendalikan kekuatan luar.
Pernyataan ini penting karena membongkar ilusi digital banyak negara berkembang. Kita sering bangga ketika cepat mengadopsi teknologi baru, tetapi lupa bertanya apakah kita menguasai lapisan terdalamnya. Kita memakai platform, tetapi tidak memiliki infrastrukturnya. Kita mengumpulkan data warga, tetapi sistem pengolahannya bergantung pada perusahaan asing. Kita bicara transformasi digital, tetapi chip, cloud, model AI, dan standar keamanan datang dari pusat kekuatan global lain. Kedaulatan di era AI bukan hanya soal memiliki bendera dan wilayah, melainkan kemampuan menentukan nasib sendiri dalam ruang digital. Tanpa itu, kemerdekaan politik dapat diam-diam dikurangi oleh ketergantungan teknologi.
Namun pandangan tentang kemandirian teknologi tidak boleh jatuh menjadi nasionalisme teknokratis yang buta moral. Penguasaan AI tetap harus ditundukkan pada pertanyaan etis: untuk apa teknologi itu dibangun, siapa yang dilayani, siapa yang dilindungi, dan siapa yang mungkin dikorbankan? Khamenei menekankan pentingnya hukum dan nilai dalam mengatur dunia maya, sebab teknologi dapat menjadi peluang bila diarahkan secara benar, tetapi dapat berubah menjadi ancaman bila dilepaskan dari kendali moral. Di sini persoalannya bukan hanya bagaimana sebuah bangsa tidak bergantung kepada kekuatan asing, melainkan bagaimana bangsa itu tidak menjadikan warganya sendiri sebagai objek kontrol digital.
Di titik inilah Paus Leo XIV dan Ayatullah Ali Khamenei dapat dibaca dalam satu medan percakapan, bukan sebagai sintesis teologis antara Katolik dan Syiah, melainkan sebagai etika peradaban. Keduanya datang dari tradisi yang berbeda, tetapi sama-sama menolak penyembahan terhadap teknologi. Keduanya tidak anti-kemajuan, tetapi menolak kemajuan yang mengorbankan manusia. Paus Leo XIV berbicara tentang martabat manusia yang tidak boleh dikalahkan oleh mesin, pasar, dan logika dominasi. Khamenei berbicara tentang kedaulatan teknologi dan keharusan agar bangsa tidak menjadi konsumen pasif dari sistem yang dikendalikan kekuatan besar. Dalam bahasa yang berbeda, keduanya sedang memberi peringatan yang sama: teknologi tanpa moral akan berubah menjadi bentuk baru penjajahan.
Peringatan itu semakin mendesak karena AI kini diperlakukan sebagai “api baru”. Seperti api, ia bisa menghangatkan, menerangi, dan membantu manusia bertahan hidup. Tetapi api yang sama juga bisa membakar rumah, kota, bahkan peradaban. AI dapat membantu diagnosis medis, pendidikan personal, riset ilmiah, mitigasi bencana, dan efisiensi produksi. Tetapi AI juga dapat mempercepat perang, memperhalus propaganda, memperluas disinformasi, memperkuat pengawasan, menciptakan senjata otonom, merusak demokrasi, dan membuat keputusan hidup-mati tampak seperti masalah kalkulasi teknis. Bahaya terbesar bukan ketika mesin menjadi terlalu pintar, melainkan ketika manusia menyerahkan keputusan moral kepada sistem yang tidak memiliki jiwa, tanggung jawab, dan rasa bersalah.
Dalam konteks perang dan keamanan, AI membawa paradoks yang menakutkan. Negara-negara akan beralasan bahwa mereka harus menguasainya demi pertahanan, agar tidak tertinggal dari musuh. Tetapi logika perlombaan ini justru dapat mempercepat ketegangan global. Setiap pihak merasa harus lebih cepat, lebih presisi, lebih otomatis, lebih prediktif. Akibatnya, ruang refleksi moral menyempit. Keputusan yang dahulu membutuhkan pertimbangan manusia dapat terdorong menjadi keputusan sistemik yang dipercepat oleh mesin. Perang tidak hanya menjadi lebih canggih, tetapi juga berpotensi menjadi lebih jauh dari rasa manusiawi. Ketika kekerasan dibungkus bahasa efisiensi, korban mudah berubah menjadi angka.
Hal yang sama juga terjadi dalam ekonomi. Sejarah menunjukkan bahwa teknologi tidak otomatis menciptakan kesejahteraan bersama. Banyak penemuan besar justru pada awalnya memperkaya kelompok kecil sambil memperberat hidup banyak orang. Mesin industri tidak serta-merta memuliakan buruh; perlu perjuangan sosial, regulasi, serikat pekerja, moralitas publik, dan institusi demokratis agar kemajuan tidak hanya menjadi milik pemilik modal. Begitu pula AI. Ia tidak otomatis membebaskan manusia dari kerja yang melelahkan. Tanpa arah moral dan institusi yang adil, AI justru bisa memperbesar ketimpangan, melemahkan posisi pekerja, mengonsentrasikan keuntungan, dan mengubah manusia menjadi pelengkap dari sistem otomatisasi.
Karena itu, narasi bahwa teknologi pasti membawa kemajuan harus dicurigai. Kemajuan untuk siapa? Produktivitas untuk siapa? Efisiensi yang menguntungkan siapa? Bila pekerja kehilangan pekerjaan, bila seniman kehilangan ruang hidup, bila guru diganti oleh sistem murah, bila warga dipantau atas nama keamanan, bila data pribadi diambil tanpa kendali, bila bumi dibebani pusat data yang haus energi, apakah semua itu masih bisa disebut kemajuan? Teknologi baru hanya menjadi kemajuan sejati bila memperluas martabat, kebebasan, kesejahteraan, dan tanggung jawab manusia. Jika tidak, ia hanya menjadi alat lama kekuasaan yang memakai wajah baru.
Kritik terhadap korporasi AI juga harus diletakkan di sini. Di balik narasi inovasi, sering tersembunyi impian imperial: menguasai infrastruktur pengetahuan, membangun ketergantungan global, mengendalikan standar, mengumpulkan data, menarik modal, dan menentukan arah masa depan manusia. Perusahaan-perusahaan teknologi tidak lagi sekadar menjual produk; mereka membentuk ekosistem kehidupan. Mereka memengaruhi cara manusia belajar, bekerja, berkomunikasi, mencintai, memilih informasi, memahami kebenaran, dan membayangkan masa depan. Ketika kekuasaan sebesar itu berada pada korporasi privat yang digerakkan oleh kompetisi pasar dan ambisi dominasi, maka pertanyaan moral tidak bisa dihindari: siapa yang mengawasi para pengawas digital?
Di sinilah kekhawatiran Paus Leo XIV terhadap monopoli teknologi bertemu dengan kekhawatiran Khamenei terhadap dominasi kekuatan besar. Keduanya memahami bahwa konsentrasi AI dapat melahirkan bentuk baru ketundukan. Pada tingkat individu, manusia tunduk pada algoritma yang mengarahkan perhatian dan pilihan. Pada tingkat masyarakat, publik tunduk pada platform yang mengatur distribusi informasi. Pada tingkat negara, bangsa-bangsa tunduk pada infrastruktur digital yang tidak mereka miliki. Pada tingkat peradaban, umat manusia tunduk pada logika efisiensi, prediksi, dan kontrol yang makin lama makin dianggap wajar.
Maka etika AI tidak boleh hanya menjadi hiasan seminar atau dokumen korporasi. Ia harus menjadi pertarungan politik, ekonomi, hukum, ekologis, dan spiritual. Etika AI berarti memastikan bahwa manusia tetap menjadi tujuan, bukan bahan baku. Ia berarti melindungi pekerja dari otomatisasi yang tidak adil, menjaga warga dari pengawasan yang melampaui batas, melindungi anak-anak dari manipulasi digital, menjaga bumi dari kerakusan infrastruktur komputasi, dan memastikan keputusan moral tidak diserahkan kepada mesin. Etika AI juga berarti membangun kedaulatan teknologi, agar negara-negara tidak sekadar menjadi koloni data dalam tata dunia digital.
Pada akhirnya, perdebatan tentang AI bukan hanya soal apakah mesin dapat berpikir, menulis, menggambar, menganalisis, atau mengambil keputusan. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: siapa yang mengendalikan mesin itu, nilai apa yang ditanamkan ke dalamnya, siapa yang memperoleh keuntungan, siapa yang menanggung kerugian, dan untuk masa depan seperti apa ia diarahkan? Bila AI hanya menjadi alat akumulasi modal, pengawasan massa, perang presisi, manipulasi sosial, dan dominasi geopolitik, maka kecanggihannya justru menjadi kemunduran peradaban. Tetapi bila AI ditempatkan di bawah kendali etika, hukum, kedaulatan publik, dan orientasi kemanusiaan, ia dapat menjadi bagian dari ikhtiar memperbaiki hidup bersama.
Zaman ini tidak kekurangan kecanggihan. Yang mulai langka adalah kebijaksanaan. Kita mampu menciptakan mesin yang semakin pintar, tetapi belum tentu mampu menjaga agar manusia tidak semakin kehilangan nurani. Kita mampu membangun sistem yang memprediksi perilaku, tetapi belum tentu mampu mendidik hati agar tidak rakus mengendalikan orang lain. Kita mampu mempercepat keputusan, tetapi belum tentu mampu memperdalam tanggung jawab. Karena itu, suara-suara religius tentang AI tidak boleh cepat-cepat dianggap kuno atau anti-teknologi. Justru dari sana muncul peringatan yang sangat modern: kemajuan tanpa martabat hanya akan melahirkan perbudakan baru, dan teknologi tanpa moral hanya akan mempercepat keruntuhan manusia dari dalam dirinya sendiri.
Daftar Pustaka :
- Pope Leo XIII. Rerum Novarum: Encyclical of Pope Leo XIII on Capital and Labor.
- Pope Leo XIV. Magnifica Humanitas: Encyclical of His Holiness Pope Leo XIV on Safeguarding the Human Person in the Time of Artificial Intelligence.
- Crawford, Kate. Atlas of AI: Power, Politics, and the Planetary Costs of Artificial Intelligence. Yale University Press, 2021.
- Bradford, Anu. Digital Empires: The Global Battle to Regulate Technology. Oxford University Press, 2023.
- Acemoglu, Daron, and Simon Johnson. Power and Progress: Our Thousand-Year Struggle Over Technology and Prosperity. PublicAffairs, 2023.
- Buchanan, Ben, and Andrew Imbrie. The New Fire: War, Peace, and Democracy in the Age of AI. MIT Press, 2022.
- Hao, Karen. Empire of AI: Dreams and Nightmares in Sam Altman’s OpenAI. Penguin Press, 2025.
- Iran and the Artificial Intelligence Revolution : Vision, Institutionalization, and Offensive Uses Against Israel and the West [ https://jiss.org.il/en/davidiiran-and-the-ai-revolution ]
- Artificial Intelligence in Iran : Recent Developments and Outlook [ https://jiss.org.il/en/davidiiran-and-the-ai-revolution ]
- Nations Must Master AI for Fall to ‘Power-seekers’ Monopoly [ https://english.almayadeen.net/news/technology/nations-must-master-ai-or-fall-to–power-seekers—monopoly ]
- Pope Leo’s Magnifca Humanitas : AI must Serve Humanity not Concentrate Power [ https://www.vaticannews.va/en/pope/news/2026-05/pope-leo-xiv-encyclical-magnifica-humanitas-ai ]
- Pope Leo Presents ‘Magnifica Humanitas’ Calling for Disarmamnet of AI [ https://www.vaticannews.va/en/pope/news/2026-05/pope-leo-xiv-magnifica-humanitas-presentation-ai-disarmament ]





