9 Teladan Akhlak Agung Imam ‘Ali ar-Ridha as
Dikompilasi dan Dikutip oleh : Dimitri Mahayana
Oleh Dr. Dimitri Mahayana (Sekretaris Dewan Syura IJABI)
- Keseharian Yang Teramat Indah dan Mulia
Ibrahim bin al-‘Abbas ash-Shuli, seorang sahabat dekat dan saksi mata, menceritakan keseharian Imam ar-Ridha seperti ini: Aku tidak pernah melihat beliau berbicara kasar kepada siapa pun. Beliau juga tidak pernah memotong pembicaraan orang lain, dan tidak pernah menolak permintaan yang mampu beliau penuhi.
Beliau tidak pernah bersandar santai dengan menjulurkan kaki di hadapan teman duduknya. Beliau tidak pernah memanggil pelayannya dengan sebutan yang merendahkan. Beliau tidak pernah tertawa terbahak-bahak; tawa beliau hanyalah senyum. Ketika waktu makan tiba, beliau memanggil semua pelayannya—termasuk penjaga pintu—untuk makan bersama dalam satu meja.
Diambil Dari: al-islam.org → Imamate and the Imams (Ibrahim Amini), “The Eighth Imam”. https://al-islam.org/imamate-and-imams-ibrahim-amini/eighth-imam-ali-ibn-musa-ridha
- Satu Meja Tanpa Diskriminasi: Riwayat Penduduk Balkh
Seorang lelaki dari Balkh berkata: Aku menemani Imam ar-Ridha dalam perjalanan ke Khurasan. Suatu hari Imam membentangkan alas makan dan memanggil semua pelayan—apa pun kedudukannya, termasuk yang berkulit hitam—untuk duduk makan bersama.
Aku berkata, “Semoga aku menjadi tebusanmu, bukankah lebih baik jika mereka makan di tempat terpisah?” Imam menjawab dengan tegas: “Sesungguhnya Tuhan kita Esa, ibu kita satu, ayah kita satu, dan yang membedakan manusia hanyalah amalnya.”
Diambil Dari: al-islam.org → The Story of the Holy Ka’aba and its People (S.M.R. Shabbar), “Eighth Imam: ‘Ali Ibn Musa al-Ridha”. https://al-islam.org/story-holy-kaaba-and-its-people-smr-shabbar/eighth-imam-ali-ibn-musa-al-ridha. Detail perawi “dari Balkh” lihat juga: Story of the Sun (Najafi Yazdi), “Imam al-Ridha’s Social Sira”. https://al-islam.org/story-sun-look-imam-al-ridha-life-sayyid-muhammad-najafi-yazdi/imam-al-ridhas-social-sira-and-his
- Sumpah Kesetaraan dengan Budak Berkulit Hitam
Ibrahim bin al-‘Abbas ash-Shuli juga meriwayatkan sumpah istimewa Imam ar-Ridha. Setiap kali Imam mengucapkan sumpah tertentu, beliau memerdekakan seorang budak, hingga akhirnya semua budaknya menjadi merdeka.
Dalam sumpah itu beliau berkata: “Aku tidak memandang diriku lebih baik daripada orang ini,” sambil menunjuk seorang budak berkulit hitam yang sedang melayaninya, “hanya karena aku memiliki hubungan kerabatan dengan Rasulullah saw., kecuali jika aku melakukan amal saleh yang menjadikanku lebih baik.”
Diambil Dari: al-islam.org → Imam ar-Ridha, A Historical and Biographical Research (Syekh Muhammad Jawad Fadhlallah), “His Distinctions and Characteristics”. https://al-islam.org/imam-ar-ridha-historical-and-biographical-research-shaykh-muhammad-jawad-fadhlallah/his-distinctions
- Di Pemandian Umum: Sang Imam Melayani Seorang Prajurit
Suatu hari di pemandian umum (hammam), seorang prajurit yang tidak mengenal Imam ar-Ridha meminta beliau untuk menyiramkan air ke kepalanya. Imam ar-Ridha pun menuruti permintaan itu dengan tenang.
Ketika seorang lelaki lain yang mengenali Imam memberi tahu prajurit itu siapa yang sebenarnya sedang melayaninya, ia merasa sangat malu dan segera meminta maaf berkali-kali.
Namun, Imam tersenyum lembut dan berkata: “perbuatan ini berpahala. Aku tidak ingin menolak sesuatu yang bisa memberiku pahala.”
Diambil Dari: al-islam.org → The Life of Imam Muhammad Al-Jawad (Baqir Shareef al-Qurashi), “Under The Wing Of His Father”. https://al-islam.org/life-imam-muhammad-al-jawad-baqir-shareef-al-qurashi/under-wing-his-father
- Sedekah dari Balik Tirai: Menjaga Wajah Peziarah Khurasan
Seorang lelaki yang menemui Imam ar-Ridha di Khurasan. Ia berkata,
“Aku adalah salah seorang pencintamu dan keluarga Nabi. Aku baru pulang dari haji, tetapi sekarang tidak memiliki bekal untuk pulang. Berilah aku secukupnya, dan ketika aku tiba di kampung halaman, aku akan menyedekahkan jumlah yang sama atas namamu. Aku bukan orang miskin di rumah, hanya kehabisan biaya dalam perjalanan.”
Imam masuk ke dalam rumah. Beberapa saat kemudian, beliau menjulurkan tangan dari balik tirai pintu—tanpa menampakkan wajah—dan berkata: “Ambillah dua ratus dinar ini untuk bekal perjalananmu. Tidak perlu engkau menyedekahkannya atas namaku. Pergilah, agar aku tidak melihatmu dan engkau tidak melihatku!”
Salah seorang yang hadir bertanya,”Mengapa engkau berikan kebaikan sebesar itu lalu menyembunyikan wajahmu?”
Imam menjawab:“Agar aku tidak melihat rasa rendah diri dalam wajahnya. Tidakkah kalian mendengar sabda Rasulullah saw., bahwa ‘Orang yang berbuat baik secara tersembunyi akan diberi pahala yang besar seperti tujuh puluh haji’?”
Diambil dari: al-islam.org → Story of the Sun (Najafi Yazdi), “Imam al-Ridha’s Social Sira”. https://al-islam.org/story-sun-look-imam-al-ridha-life-sayyid-muhammad-najafi-yazdi/imam-al-ridhas-social-sira-and-his
- Memperbaiki Sendiri Lampu untuk Tamu
Seorang tamu datang dan menginap hingga malam di rumah Imam ar-Ridha. Tiba-tiba terjadi gangguan pada lampu kamar. Tamu itu berdiri hendak memperbaikinya. Namun Imam segera mencegahnya, lalu memperbaiki lampu itu sendiri, sembari berkata: “Kami tidak mengeksploitasi tamu kami.”
Diambil dari: al-islam.org → Story of the Sun, “Imam al-Ridha’s Social Sira and his Good Conduct towards People”. https://al-islam.org/story-sun-look-imam-al-ridha-life-sayyid-muhammad-najafi-yazdi/imam-al-ridhas-social-sira-and-his
Ayat ini disusul kisah Ibrahim as. yang sendiri menyiapkan anak sapi muda untuk para tamunya—pola yang ditiru sempurna oleh ar-Ridha.
- Hari ‘Arafah: Memberikan Seluruh Harta
Pada hari ‘Arafah, ketika beliau berada di Khurasan, Imam ar-Ridha memerintahkan agar seluruh harta yang ada padanya dibagikan kepada para fakir miskin.
Al-Fadhl bin Sahl, perdana menteri Ma’mun, menyaksikannya dan memberikan komentar tajam: “Ini kerugian!”
Imam menjawab dengan tenang :“Tidak, ini justru keuntungan. Tidak ada kerugian dalam perbuatan yang melaluinya engkau memperoleh pahala dan kemuliaan.”
Diambil Dari: al-islam.org → The Life of Imam Muhammad Al-Jawad (Baqir Syarif al-Qurasyi), “Under The Wing Of His Father”. https://al-islam.org/life-imam-muhammad-al-jawad-baqir-shareef-al-qurashi/under-wing-his-father
- Turun dari Kuda untuk Jenazah Seorang Pengikut Nabi Saw dan Keluarganya as Yang Tak Dikenal
Musa bin Sayyar bercerita: aku menemani Imam ar-Ridha dalam perjalanannya ke Khurasan. Ketika kami mendekati Thus dan tembok kota mulai terlihat, terdengar suara tangisan. Aku mengikuti suara itu—ternyata sebuah pengantaran jenazah.
Pada saat itu juga Imam ar-Ridha turun dari kudanya, mendekati jenazah, menyampaikan belasungkawa kepada keluarga, dan mendoakan almarhum.
Lalu beliau menoleh kepadaku dan berkata:
“Wahai Musa bin Sayyar, siapa yang menghadiri jenazah salah seorang sahabat kami,
ia akan dibersihkan dari dosa seperti bayi yang baru lahir tanpa dosa.”
Ketika jenazah hendak dibaringkan di samping kubur, Imam mendekat, membuka jalan diantara orang-orang, meletakkan tangannya yang penuh berkah di dada jenazah, dan berkata dengan lembut:
“Wahai fulan, kabar gembira bagimu—Surga! Tidak ada lagi rasa takut bagimu.”
Aku berkata kepadanya, “Semoga aku menjadi tebusanmu—engkau belum pernah ke negeri ini, bagaimana engkau mengenal lelaki ini?”
Beliau menjawab: “Wahai Musa, tidakkah engkau tahu bahwa amal-amal pengikut kami disampaikan kepada kami setiap pagi dan petang? Kami memohonkan ampun kepada Allah atas kekurangan mereka, dan kami memohon limpahan rahmat untuk amal-amal saleh mereka.”
Diambil dari: al-islam.org → Story of the Sun, “Imam al-Ridha’s Social Sira and his Good Conduct towards People”. https://al-islam.org/story-sun-look-imam-al-ridha-life-sayyid-muhammad-najafi-yazdi/imam-al-ridhas-social-sira-and-his
- Memerdekakan Seribu Budak
Sepanjang hidupnya, Imam ar-Ridha dikenal banyak memerdekakan budak, yang disebutkan jumlahnya mencapai seribu. Beliau punya kebiasaan unik: setiap kali bersumpah dengan kalimat “demi pemerdekaan” (kalimat sumpah yang bermakna pembebasan), beliau langsung membebaskan seorang budaknya—hingga semua budaknya merdeka.
Beliau juga sangat memuliakan ibadah para pelayan: ada petugas khusus yang membangunkan mereka untuk shalatul-lail (shalat malam). Kepada pelayan-pelayan, beliau selalu mengulang perkataanya kepada mereka: “Pakaikan kepada mereka apa yang kalian pakai, beri makan mereka dengan apa yang kalian makan.”
Diambil dari: al-islam.org → Imamate and the Imams (Ibrahim Amini), “The Eighth Imam”; juga Imam ar-Ridha, A Historical and Biographical Research
(Fadhlallah).
https://al-islam.org/imam-ar-ridha-historical-and-biographical-research-shaykh-muhammad-jawad-fadhlallah/his-distinctions. Untuk angka “seribu budak” lihat juga: Story of the Sun (Najafi Yazdi), “Imam al-Ridha’s Social Sira”. https://al-islam.org/story-sun-look-imam-al-ridha-life-sayyid-muhammad-najafi-yazdi/imam-al-ridhas-social-sira-and-his
Wa maa taufiiqii illa billah, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi uniib.
Semoga seluruh pahala sedikit upaya pengutipan berbagai sumber ini dalam rangka ta’zhim Ayyamillah Milad Imam dari Ahlul Bait Nabi saw, Ali bin Musa ar Ridha as, 11 Dzulqaidah 1447 H ini bagi Nabi Besar Muhammad Saw dan keluarganya yang suci as dan dzurriyatnya yang saleh ra, kaum mukminin dan mukminat, muslimin dan muslimat; kemudian bagi seluruh leluhur Nabi Saw yang suci as, juga Para Nabi dan Rasul ‘alaihimus salam
Para Shiddiqiin ‘alaihimus salam, Para Syuhada ‘alaihimus salam terkhusus Sayyidina Hamzah bin ‘Abdul Muthalib as, Sayyidina Ja’far bin Abu Thalib as, Syuhada Badr, Uhd, Syuhada Karbala serta Syahid Mulia yang rihlah saat berpuasa, membaca quran pada 10 Bulan Ramadhan 1447 H beserta keluarganya yang syahid dan para sahabatnya yang syahid, dan para guru kita , terkhusus Allahyarham KH Jalaluddin Rakhmat, Bunda Euis Kartini, Ibu Felicitia Rakhmat, Habibna Husein Al Habsyi, Habibna Segaf Al Jufri, dan seluruh guru-guru kita dan para ulama shaleh, pula terkhusus pada seluruh pecinta Keluarga Nabi Saw di dunia dan di Indonesia.
Semoga dengan Milad Mubarok Imam Ridha as ini Allah mengampuni kita semua dan seluruh keluarga dan orang-orang yang kita sayangi, dan Allah meridhoi kaum mukminin dan muslimin dengan Kasih SayangNya, dan memberikan perdamaian dan kemenangan hakiki lahir dan batin dengan segera. Dan kita sampaikan seluruh kebahagiaan ini tentu terkhusus pada Shahibil ‘Ashri waz Zaman ‘afs. Alfaatihah tasbiquhash shalawat…




