Oleh Muhammad Bhagas (Anggota Departemen Khidmat dan Seni Budaya PP IJABI)
Imam Ahmad bin Hanbal yang merupakan ulama besar Sunni yang sangat dihormati dalam kitab Musnad-nya meriwayatkan sabda Rasulullah Muhammad SAW berikut ini :
فلا تبغضه وإن كنت تحبه فازدد له حبا
Janganlah kamu membenci ‘Ali. Jika kamu mencintainya, maka tambahlah kecintaanmu kepadanya (yakni tingkatkanlah kecintaanmu terus menerus)
📚 Musnad Ahmad bin Hanbal, jilid 38, halaman 66
Demikianlah sabda Baginda Nabi SAW yang barangkali luput dari perhatian sebagian muslimin. Dari hadits yang mulia ini kita mengetahui bahwa perintah Baginda Nabi SAW tak hanya berhenti pada mencintai Imam ‘Ali bin Abi Thalib as, tetapi juga menambah dan mengembangkan kecintaan tersebut. Bukan sekadar menanam benih cinta lalu membiarkannya begitu saja. Ibarat tanaman, ia harus dirawat, disiram, dipelihara, ditumbuhkembangkan, hingga menghasilkan beragam manfaat dan keindahan.
Menariknya, dalam hadis tersebut Baginda Nabi SAW tidak menyebutkan sampai di mana batasan menambah kecintaan itu. Tidak pula dijelaskan secara rinci bentuk-bentuknya. Hal ini menunjukkan bahwa pintu untuk memperkuat kecintaan kepada Imam ‘Ali as terbuka luas melalui berbagai cara yang sesuai dengan syariat dan nilai-nilai Islam. Demikian pula tidak disebutkan batasan waktu tertentu, sehingga upaya menambah kecintaan itu dapat dilakukan kapan saja, berulang kali, bahkan menjadi bagian dari kehidupan seorang mukmin.
Perintah untuk menambah kecintaan kepada Imam ‘Ali as sangat jelas baik dari sisi redaksi maupun kandungan maknanya. Ia mengandung pesan bahwa cinta kepada beliau bukanlah keadaan yang statis, melainkan sebuah perjalanan ruhani yang harus terus bertumbuh.
Karena seluruh Ahlul Bait as merupakan satu mata rantai cahaya petunjuk yang tidak terpisahkan, maka semangat menambah kecintaan kepada Imam ‘Ali as juga berlaku terhadap Sayyidah Fathimah al-Zahra’ as, Imam Hasan al-Mujtaba as, Imam Husain as, dan para imam suci dari keturunan beliau as. Kecintaan kepada mereka adalah bagian inti dari keimanan dan kecintaan kepada Rasulullah SAW.
Di sinilah kita dapat memahami salah satu hikmah dan landasan tersirat dari adanya majelis-majelis Ahlul Bait as. Ketika kaum muslimin berkumpul untuk mengenang kehidupan mereka, mempelajari ilmu dan akhlak mereka, mendengarkan keutamaan-keutamaan mereka, melantunkan shalawat, meneteskan air mata atas musibah mereka, atau mengekspresikan syukur dan kegembiraan atas hari-hari kelahiran mereka, sesungguhnya semua itu merupakan sarana untuk menambah kecintaan sebagaimana yang diperintahkan oleh Rasulullah SAW.
Bagaimana mungkin kecintaan itu benar-benar bertambah jika sosok yang dicintai tidak disebut-sebut dalam keseharian? Bagaimana mungkin cinta itu tumbuh jika perjalanan hidup, ilmu, perjuangan, dan pengorbanan mereka tidak dikenang dan dipelajari?
Bagaimana mungkin kecintaan itu bertambah jika kita tidak berusaha menghubungkan batin dan mendrkatkan diri kita terus menerus kepada sosok yang dicintai melalui berbagai ungkap cinta dan perkhidmatan?
Mungkinkah kecintaan itu bertambah jika kita tidak berupaya menghadirkan pengorbanan dan persembahan cinta terus menerus demi sosok yang dicintai?
Mungkinkah kecintaan itu bertambah jika kita tidak menghadirkan pengorbanan demi mereka, walaupun hanya berupa waktu yang kita sisihkan untuk menghadiri majelis mereka, tenaga yang kita curahkan untuk melayani para pecinta mereka, atau harta yang kita infakkan untuk menghidupkan syiar-syiar mereka?
Mungkinkah kecintaan itu bertambah bila hal-hal yang berkaitan dengan mereka tidak menjadi fokus perhatian dalam kehidupan kita?
Lebih dari itu, adakah kecintaan itu bertambah bila seorang pecinta tidak berusaha menyesuaikan orientasi hidupnya, akhlaknya, lisannya, perilakunya, dan cita-citanya dengan nilai-nilai yang diajarkan oleh sosok yang dicintainya?
Oleh karena itu, memperingati hari-hari yang berkaitan dengan Ahlul Bait as, mengadakan majelis-majelis mereka, menyebut keutamaan mereka, mengenang perjuangan mereka, bersedih atas kesedihan mereka, bergembira atas kegembiraan mereka dan menghidupkan syiar-syiar mereka bukanlah sesuatu yang asing dari ajaran Islam. Semua itu merupakan manifestasi dari upaya menambah kecintaan kepada mereka sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Rasulullah SAW.
Tidakkah kita berpikir?
Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat dan diluaskan berkahnya. Mohon menyertakan kami dalam amalan dan doa. Terima kasih banyak. Shalawat 🤲🙏
Allahumma shalli wa sallim wa barik ‘ala Sayyidina Muhammad wa Aali Sayyidina Muhammad wa ‘ajjil farajahum…

Muhammad Bhagas
- Anggota Departemen Perkhidmatan dan Seni IJABI.
- Direktur Kajian Kang Jalal.




