Sisi Lembut Sang Ruhullah: Surat Cinta Imam Khomeini untuk Istrinya

Penulis : K.H. Fajruddin Muchtar (Ketua Departemen Dakwah dan Seni Budaya PP IJABI)
Kepribadian manusia-manusia besar Tuhan, berbeda dengan orang biasa, tidaklah bersifat satu dimensi melainkan memiliki berbagai wajah. Melalui jalan tazkiyatun nafs (penyucian jiwa), mereka mampu menyatukan berbagai sifat yang berlawanan dalam diri mereka.
Sebagai contoh, Imam Khomeini—dengan melampaui derajat keluhuran insani—telah memperluas kapasitas keberadaannya sedemikian rupa hingga mampu menyatukan konsep-konsep seperti irfan, kesederhanaan, jihad, zuhud, politik, manajemen, ketegasan, kasih sayang, prinsip yang tak tergoyahkan, keluwesan, kerendahhatian, serta kemuliaan dalam satu kepribadian. Di balik ketegasan dan sikapnya yang pantang menyerah, beliau memiliki ruh yang lembut dan emosi yang luhur yang terpancar dalam berbagai bentuk.
Dikisahkan oleh Jam-e Jam, salah satunya adalah pada bulan Farvardin tahun 1312 HS (1933 M), saat Imam dalam perjalanan menuju ibadah Haji. Di Beirut, beliau menulis surat untuk istrinya yang setia—yang saat itu tengah mengandung anak kedua dan dalam kondisi emosional yang sensitif karena menanggung rindu akibat perpisahan. Membaca surat ini akan memperkenalkan kita pada sosok Imam dalam level manusia kamil yang memiliki dimensi kepribadian yang beragam.
Naskah Surat [Untuk Ny. Khadijeh Saqafi]
Waktu: Farvardin 1312 / Dzulqa’dah 1351 Tempat: Beirut, Lebanon Subjek: Keluarga
“Daku jadikan diriku tebusan bagimu, kiranya Tuhan menjadikanku kurban untukmu.
Sepanjang waktu di mana aku harus menanggung perpisahan denganmu—wahai cahaya mataku yang tercinta dan penguat hatiku—aku senantiasa mengingatmu. Wajah cantikmu selalu terlukis indah di dalam cermin hatiku.
Sayangku, aku berharap semoga Allah menjagamu dalam kesehatan dan kebahagiaan di bawah naungan perlindungan-Nya. Keadaanku, betapa pun beratnya, akan berlalu; namun alhamdulillah, hingga saat ini segala yang terjadi adalah kebaikan. Sekarang aku sedang berada di kota Beirut yang indah.
Sungguh, tempatmu kosong di sini (aku sangat merindukanmu). Pemandangan kota dan lautnya benar-benar mempesona. Seribu sayang, kekasih tercintaku tidak sedang bersamaku, sehingga pemandangan yang luar biasa ini tidak terasa sempurna di hati.
Bagaimanapun, malam ini adalah malam kedua kami menunggu kapal. Menurut kabar yang beredar, sebuah kapal akan berangkat besok. Namun, karena kami tiba agak terlambat, kami harus menunggu kapal berikutnya. Untuk saat ini kepastiannya belum jelas. Aku berharap kepada Allah, demi kemuliaan nenek moyangku yang suci, agar Dia memudahkan semua jemaah haji menyelesaikan ibadah mereka. Dari sisi ini aku sedikit merasa khawatir, namun dari sisi kesehatan, alhamdulillah aku sehat walafiat. Bahkan, kondisi tubuhku terasa lebih bugar dan lebih baik dari sebelumnya.
Ini adalah perjalanan yang sangat menyenangkan, namun aku sungguh sangat merindukan kehadiranmu. Hatiku pun mulai dirundung rindu kepada putramu [Sayyid Mostafa]. Aku berharap kalian berdua senantiasa sehat dan bahagia di bawah asuhanmu yang terkasih dan penjagaan Allah Yang Maha Tinggi.
Jika kau menulis surat kepada Ayah [ayah mertua Imam] atau kepada Ibu dan Nenek, sampaikan salamku kepada mereka. Aku telah mendoakan dan mewakili ziarah bagi kalian semua. Sampaikan salamku kepada Ny. Shams-Afaq [saudara ipar Imam] dan melalui beliau, sampaikan salam untuk Tuan Dokter [Alavi]. Sampaikan pula salamku kepada Khavar Sultan dan Rubabeh Sultan.
Sampaikan pesan di halaman seberang kepada Syekh Abdul Husain.
Semoga hari-hari umurmu dan kemuliaanmu senantiasa kekal.
Tebusanmu, kurbanmu,
Ruhullah”
Mengenang Sang Pendamping: Qods-e Iran
Tanggal 1 Farvardin 1388 (21 Maret 2009) menjadi kabar yang sangat berat bagi para pecinta keluarga mulia ini. Kepergian sang pendamping dan pemegang rahasia Imam Khomeini. Beliau yang menyimpan begitu banyak kenangan dan rahasia tak terucap dari setiap detik kehidupan Imam, membawa semuanya menuju Sang Kekasih yang telah lebih dulu pergi.
Beliau adalah sosok yang dengan sabar mendampingi Imam melewati masa-masa sulit di penjara, pengasingan, dan ancaman selama bertahun-tahun perjuangan. Tak sedetik pun beliau ragu akan kebenaran jalan yang terjal ini. Baik saat Imam masih hidup maupun setelah wafatnya, beliau tidak pernah merasa bahwa revolusi berhutang padanya atas segala penderitaan yang ia tanggung.
Musim semi tahun ini melangkah jingkat di sudut emperanmu, Jangan sampai ia mengusik tidur musim dingin terakhirmu. Wahai Ibu yang agung, wahai kekasih, bukalah matamu, Alangkah indahnya pergantian tahun dari celah cahaya bulu matamu.
Sebagai ganti rumput dan bunga bakung, mulai sekarang akan tumbuh, Tiang-tiang kerinduan (sutun al-Hannanah) dari tanah Jamaranmu. Wahai musim semi, kirimkanlah hembusan dari alam suci itu, Untuk menenangkan ribuan kuncup yang merunduk dalam dekapanmu.
Tak hanya Mostafa, Ahmad, dan Sang Ruhullah kini, Semua syuhadamu datang menyambutmu dari segala penjuru. Biarlah bendera pertiwi harum oleh aroma cadormu, Tanah air, samudera bunga dari wangi musim semi gaunmu.
Wahai Imam, biarlah cahaya haram ini abadi menyala, Para malaikatlah penjaga ambang suci Qods-e Iran-mu.
Catatan Kaki:
- Qods-e Iran adalah gelar kehormatan bagi istri Imam Khomeini.
- Sutun al-Hannanah: Merujuk pada tiang pohon kurma yang merintih karena rindu pada Rasulullah saw, simbol kerinduan yang mendalam.




