Paradigma Realisme-Rasionalisme Islam: Analisis Tabatabaian, Muthahharian, dan Sadrian Menjawab Posmodernisme, Interpretivisme, Konstruktivisme, Neo-Positivisme, serta Mitos Singularitas AI
Penulis: Dr. Dimitri Mahayana (Sekretaris Dewan Syura IJABI)
Abstrak
Tulisan ini berupaya membangun kerangka etis-filosofis untuk menghadapi disorientasi epistemik dan moral di era digital melalui sintesis Realisme-Rasionalisme Islam. Paradigma ini disarikan dari pemikiran Allamah Muhammad Husain Tabataba’i, Murtadha Muthahhari, dan Mulla Sadra sebagai respon terhadap lima arus besar filsafat kontemporer: posmodernisme, interpretivisme, konstruktivisme, neo-positivisme, dan mitos singularitas kecerdasan buatan (AI). Artikel ini menggunakan pendekatan analisis konseptual dan komparatif untuk menunjukkan bahwa Realisme-Rasionalisme Islam dapat menawarkan keseimbangan antara realitas metafisik dan tanggung jawab etis manusia terhadap teknologi. Melalui prinsip asālat al-wujūd (keaslian eksistensi), fitrah (natur moral bawaan), dan hikmah muta‘āliyyah (kebijaksanaan transendental), paradigma ini mengoreksi reduksionisme empiris dan relativisme epistemik. Hasilnya, terbentuk pedoman etika AI yang menegaskan: (1) AI harus menandai batas antara realitas dan simulasi; (2) makna yang dihasilkan sistem digital harus disertai tanggung jawab epistemik; (3) data harus diintegrasikan dengan hikmah; dan (4) AI wajib diarahkan untuk melayani fitrah manusia, bukan menggantikannya. Dengan demikian, paradigma Realisme-Rasionalisme Islam menghadirkan sintesis ontologis, epistemologis, dan aksiologis yang relevan dengan tantangan etika teknologi modern.
Kata kunci: Realisme-Rasionalisme Islam, Tabataba’i, Muthahhari, Mulla Sadra, Etika AI, Neo-Positivisme, Postmodernisme, Tauhid, Hikmah Muta‘āliyyah
Pendahuluan

Perkembangan kecerdasan buatan (AI) dan budaya digital membawa perubahan fundamental dalam cara manusia memahami realitas, makna, dan nilai. Di satu sisi, AI dianggap sebagai puncak rasionalitas instrumental; di sisi lain, muncul kekhawatiran akan hilangnya makna spiritual dan moralitas.
Fenomena seperti deepfake, dataism, dan mitos singularity memperlihatkan bagaimana teknologi dapat mengaburkan batas antara kenyataan dan ilusi (Harari, 2017; Floridi, 2022). Dalam konteks ini, muncul kebutuhan mendesak untuk mengintegrasikan filsafat Islam klasik dengan etika teknologi kontemporer.
Paradigma Realisme-Rasionalisme Islam yang dirumuskan dari sintesis pemikiran Allamah Tabataba’i, Murtadha Muthahhari, dan Mulla Sadra menawarkan landasan metafisik dan etis untuk menanggapi krisis tersebut. Ketiganya menolak relativisme epistemologis dan materialisme positivistik yang mendominasi filsafat Barat modern. Dalam filsafat mereka, realitas bersifat bertingkat (tasykīk al-wujūd), pengetahuan berakar pada kesatuan subjek-objek (ittihād al-‘āqil wa al-ma‘qūl), dan tindakan moral dituntun oleh fitrah yang berorientasi tauhid.
Artikel ini bertujuan menelusuri bagaimana analisis Tabatabaian, Muthahharian, dan Sadrian dapat menjadi kerangka etika baru bagi teknologi AI, sekaligus kritik terhadap lima arus besar pemikiran kontemporer: posmodernisme, interpretivisme, konstruktivisme, neo-positivisme, dan mitos singularitas AI.
Kajian Pustaka
1. Postmodernisme dan Krisis Realitas
Postmodernisme (Lyotard, 1984; Derrida, 1978) menolak narasi besar dan menggantinya dengan pluralitas makna yang tak berujung. Bagi Derrida, realitas hanyalah teks yang dapat didekonstruksi tanpa akhir. Pandangan ini menimbulkan fragmentasi ontologis dan nihilisme epistemik (Baudrillard, 1994).
2. Interpretivisme dan Konstruktivisme
Interpretivisme (Schutz, 1967) dan konstruktivisme sosial (Berger & Luckmann, 1966) menegaskan bahwa pengetahuan adalah produk interaksi sosial, bukan refleksi realitas objektif. Dalam konteks digital, pandangan ini tercermin pada AI yang belajar sepenuhnya dari data sosial tanpa referensi metafisik.
3. Neo-Positivisme dan Dataism
Neo-positivisme (Carnap, 1950; Hempel, 1965) menganggap hanya proposisi yang dapat diverifikasi secara empiris yang bermakna. Dalam era big data, pandangan ini bereinkarnasi sebagai dataism (Harari, 2017), yakni kepercayaan bahwa data adalah otoritas tertinggi kebenaran.
4. Singularitas AI
Narasi singularity (Kurzweil, 2005) mengasumsikan bahwa AI akan melampaui kecerdasan manusia dan menjadi entitas otonom. Secara ontologis, pandangan ini bersifat transhumanistik dan menyingkirkan konsep ruh serta nilai ilahi.
Dalam menghadapi arus-arus tersebut, menurut penulis; pemikiran Tabataba’i, Muthahhari, dan Sadra menawarkan paradigma alternatif yang menggabungkan ontologi realis, epistemologi rasional, dan etika tauhidik. Penulis menyebutnya sebagai Paradigma TMS (Tabatabai-Muthahhari-Sadra) dalam menjawab tantangan filsafat sains dan AI.
Metode Penelitian
Tulisan singkat ini menggunakan metode analisis konseptual-komparatif (conceptual-comparative analysis). Pendekatan ini bertujuan membandingkan asumsi dasar lima paradigma Barat kontemporer dengan konsep-konsep utama dalam Realisme-Rasionalisme Islam. Sumber primer meliputi karya Tabataba’i (Bidayat al-Hikmah, Nihayat al-Hikmah, al-Mizan fi Tafsir al-Qur’an), Muthahhari (Philosophical Instructions, Man and Faith dan sekitar tujuh puluh karya yang sudah diterjemahkan di dalam bahasa Indonesia), dan Mulla Sadra (al-Hikmah al-‘Arsyiyyah, al-Asfar al-Arba‘ah, al-Masya’ir). Analisis diarahkan untuk merumuskan prinsip etika AI berbasis hikmah muta‘āliyyah (kebijaksanaan transendental).
Diskusi dan Pembahasan
1. Melawan Posmodernisme: Realitas Sebagai Gradasi Wujud
Postmodernisme menolak totalitas dan koherensi realitas. Paradigma TMS menegaskan bahwa realitas bukanlah teks, melainkan wujud bertingkat (asālat al-wujūd). Setiap entitas memiliki derajat eksistensial yang berkesinambungan dari materi hingga Tuhan. Paradigma ini juga mengkritik fragmentasi posmodern sebagai krisis makna spiritual. Dalam kerangka berfikir TMS yang realis – rasionalis dekonstruksi tanpa tujuan adalah regressus ad infinitum yang tidak etis karena tidak memiliki arah ontologis.
Implikasi dalam bidang AI: Sistem seperti deepfake boleh memanipulasi citra, tetapi harus menandai mana yang hakiki. Tanpa itu, manusia akan tersesat dalam hyperreality (Baudrillard, 1994).
2. Melawan Interpretivisme dan Konstruktivisme: Makna Bukan Sekadar Konstruksi Sosial
Interpretivisme menempatkan makna sebagai hasil negosiasi sosial. Paradigma realis-rasionalis membedakan makna haqiqi (dari Tuhan) dan majazi (dari manusia). AI yang dilatih dari data sosial tidak dapat mengklaim kebenaran ontologis.
Paradigma ini mengakui bahwa pengetahuan tumbuh sosial, namun dibatasi oleh fitrah. Sistem yang mengabaikan nilai-nilai fitrah—misalnya mempromosikan kekerasan atau pornografi—melanggar etika.
Dalam kerangka paradigma TMS , konsensus sosial tidak lain adalah tahap epistemik menengah yang harus diuji melalui hikmah.
Implikasi dalam AI: Model bahasa besar (LLM) seperti GPT dapat mengekspresikan makna, tetapi outputnya harus disertai peringatan epistemik: “ini interpretasi, bukan kebenaran mutlak.”
3. Melawan Neo-Positivisme: Data Bukan Tuhan
Neo-positivisme menjadikan yang terukur sebagai satu-satunya realitas. Paradigma TMS menegaskan keberadaan realitas supra-sensorik (al-ghayb). Dalam kritik paradigma TMS ,materialisme ilmiah tak lain adalah “sains tanpa ruh.” Paradigma filsafat sains berbasis hikmah TMS menawarkan integrasi empirisme dan rasionalisme dalam kerangka probabilitas metafisik.
Implikasi dalam AI: Data harus dipadukan dengan hikmah. Sejatinya, dalam bidang sains data dan AI, data hanyalah jalan menuju kebenaran yang lebih dalam dari data dan lebih berlaku universal. Para saintis data menyebutnya sebagai insights. Dalam paradigma TMS , insights atas data, baik dihasilkan oleh data analyst maupun hasil model yang sudah ditanam dalam AI, hanya bernilai bila terkait dengan tataran realitas yang lebih tinggi . Dan ini tidak lain adalah apa yang diakses oleh al-hikmah. Dalam sistem medis berbasis AI, algoritma boleh memprediksi, tetapi keputusan akhir tetap pada dokter yang berakhlak. AI yang tidak memiliki qualia, tidak punya basis ontologis untuk tindak etis. Oleh karena itu, paradigma TMS mendukung pendekatan human in the loop dalam AI , seperti yang didengungkan oleh Standford , Thinking Machines Lab dll.
4. Melawan Singularitas AI: Mesin Bukan Penerus Manusia
Narasi singularity Kurzweil menggantikan Tuhan dengan mesin. Paradigma TMS menegaskan bahwa manusia memiliki ruh ilahi yang tak bisa direduksi menjadi algoritma. Dalam paradigma TMS, transhumanisme mungkin bisa mengarah istibdāl (penggantian Tuhan) atau menggeser otoritas Ilahi. Setidaknya , transhumanisme bisa menjauhkan manusia dari kepercayaan pada Ruh Tuhan dan Sumber Pengetahuan Ilahi yang ada dalam dirinya sendiri. Dan ini akan menghambat perjalanan manusia dan kemanusiaan menuju Yang Ilahi dan Berakhlak Seperti Akhlak Tuhan; menebar kasih dan Rahmat bagi semesta.
Implikasi dalam bidang AI: AI adalah alat, bukan tuan. Ini adalah seperti gagasan Noam Chomsky. Secerdas apa pun, AI tak lebih hanya seperti mesin ketik namun super canggih. Harus ada komitmen etis, dan seluruh sistem AI wajib diarahkan untuk melayani fitrah manusia, bukan menggantikannya. Dalam hal ini, balapan AI yang semakin menggila maupun riset-riset seperti Brain Computer Integration , human-robot serta misalnya robot sebagai pasangan hidup (pengganti istri atau suami) harus dikontrol oleh negara dan otoritas bersama pengawas AI dunia secara ketat.
Diskusi dan Sintesis Etika AI
Tabel berikut merangkum prinsip etika AI menurut paradigma Realisme-Rasionalisme Islam:
| Tantangan | Analisis Etis | Pedoman AI Etis |
| Posmodernisme | Narasi tauhid | AI wajib menandai simulacra vs realitas |
| Interpretivisme | Makna hakiki vs majazi | Output AI harus disertai penjelasan epistemik |
| Konstruktivisme | Batas fitrah sosial | AI governance berbasis nilai akhlak |
| Neo-Positivisme | Dimensi ghaib | Data harus diintegrasikan dengan hikmah |
| Singularitas | Ruh ilahi | AI sebagai alat bantu |
Dengan demikian, paradigma ini bukan sekadar kritik, tetapi juga formulasi kebijakan etis bagi dunia digital yang berlandaskan integrasi antara ontologi, epistemologi, dan aksiologi Islam.
Kesimpulan
Paradigma Realisme-Rasionalisme Islam yang disuarakan oleh Trio ‘Arif , Filsuf dan ilmiawan besar TMS (Tabatabai-Muthahhari-Sadra) memberikan kerangka etika integral untuk menghadapi tantangan posmodernisme, interpretivisme, konstruktivisme, neo-positivisme serta narasi singularitas AI. Ia menegaskan bahwa:
- Realitas bersifat bertingkat dan memiliki makna hakiki.
- Akal manusia mampu mengenali realitas melalui rasionalitas dan intuisi.
- Pengetahuan harus dibatasi oleh fitrah dan diarahkan oleh tauhid.
- Data dan algoritma harus disinergikan dengan hikmah dan akhlak.
Dalam dunia di mana data dapat membutakan hati dan mesin dapat menggoda ego, paradigma ini menjadi kompas moral: gunakan AI tanpa menjadi budaknya, bangun teknologi tanpa kehilangan ruh, dan arahkan seluruh inovasi menuju Tuhan sebagai Wujud Tertinggi.
Paradigma TMS ini menegaskan: sehebat apapun AI seolah memiliki “kecerdasan super” bahkan singularitas, secara hakiki ia tetap merupakan alat bantu bagi manusia, yang merupakan ekstensi wujud rasionalitas manusia. Selayaknya manusia dan kemanusiaan meletakkannya dan mengendalikannya pada tempatnya yang tepat sesuai fithrah dan nilai-nilai akhlak, dan tidak menempatkannya hingga melampaui batas alamiahnya.
Daftar Pustaka
- Baudrillard, J. (1994). Simulacra and Simulation. University of Michigan Press.
- Berger, P. L., & Luckmann, T. (1966). The Social Construction of Reality. Anchor Books.
- Carnap, R. (1950). Logical Foundations of Probability. University of Chicago Press.
- Derrida, J. (1978). Writing and Difference. University of Chicago Press.
- Floridi, L. (2022). The Ethics of Artificial Intelligence. Oxford University Press.
- Harari, Y. N. (2017). Homo Deus: A Brief History of Tomorrow. Vintage.
- Hempel, C. (1965). Aspects of Scientific Explanation. Free Press.
- Kurzweil, R. (2005). The Singularity Is Near. Viking.
- Lyotard, J.-F. (1984). The Postmodern Condition: A Report on Knowledge. University of Minnesota Press.
- Muthahhari, M. (1986). Philosophical Instructions. World Organization for Islamic Services.
- Sadra, M. (1981). al-Asfar al-Arba‘ah. Beirut: Dar Ihya’ al-Turath al-‘Arabi.
- Tabataba’i, M. H. (1980). Nihayat al-Hikmah. Qum: Islamic Publications Office.
- Tabataba’i, M. H. (1997). al-Mizan fi Tafsir al-Qur’an (Vol. 1–20). Qum: Mu’assasah al-Alami li al-Matbu‘at.


