Kegiatan

Tokoh Lintas Agama dan Akademisi Refleksikan Tragedi Kemanusiaan dalam Momentum Syahidnya Ayatullah Ali Khamenei

Berita IJABI, 7 Maret 2026 – Sejumlah tokoh lintas agama, akademisi, aktivis kemanusiaan, dan diplomat berkumpul secara virtual dalam acara bertajuk “Doa untuk Bangsa dan Dunia: Refleksi untuk Tragedi Umat Manusia.” Forum khidmat ini digelar khusus dalam momentum syahidnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, guna menyuarakan pesan perdamaian sekaligus menegaskan warisan perlawanan mendiang terhadap hegemoni, imperialisme, dan genosida global.

Acara yang dibuka dan dipandu oleh Maran Sutarya, ini menetapkan arah diskursus bukan sekadar sebagai majelis doa, melainkan ruang refleksi kemanusiaan universal untuk menentang penjajahan, menegakkan keadilan, dan menangkal propaganda sektarian yang kerap mengaburkan substansi krisis kemanusiaan dunia.

Teladan Karbala dan Prinsip Anti-Imperialisme

Narasumber pertama, Dr. Airlangga Pribadi Kusman, S.IP., M.Si., Ph.D., menekankan bahwa kepemimpinan Ayatullah Khamenei merupakan model perlawanan nyata terhadap kezaliman. Ia menarik paralelisme historis antara keteguhan Khamenei dengan keteladanan Imam Husein di Karbala—yakni prinsip bersaksi atas kebenaran dan membela kaum tertindas tanpa memandang latar belakang ideologi.

Nuansa keteguhan ini diperkuat oleh Dr. Mukhaer Pakkanna, S.E., M.M. dan Fachrurozi, S.S., M.Hum., yang memandang resistensi Khamenei terhadap ketimpangan global sebagai manifestasi murni dari nilai tauhid—di mana ketundukan mutlak hanya kepada Tuhan, yang melahirkan sikap tidak berpihak pada kekuatan penindas mana pun.

Dari perspektif historis dan diplomatik, Zuhairi Misrawi, Lc., M.A. memberikan kesaksian empiris mengenai kesederhanaan, keberanian, dan keteguhan ideologis Khamenei. Ia menyandingkan visi anti-imperialisme Iran dengan gagasan Soekarno, serta menegaskan bahwa persatuan Islam adalah strategi krusial untuk membebaskan Palestina. Sementara itu, Dr. Abdullah Assegaf, S.E., M.M menyoroti ketahanan Iran di bawah kepemimpinan Khamenei dalam menghadapi blokade internasional, seraya menyebut eksistensi tersebut sebagai simbol kebangkitan kaum tertindas (mustadhafin).

Suasana Audiens yang menghadiri secara Hybrid di Aula Dr, K,H. Jalaluddin Rakhmat

Merobohkan Sekat Sektarian demi Ukhuwah

Tragedi kemanusiaan global yang terjadi saat ini dinilai membutuhkan persatuan umat yang riil. Andar Nubowo, DEA., Ph.D dan Prof. Dr. H. Robby Habiba Abror, S.Ag., M.Hum menekankan warisan terbesar Khamenei dalam menjembatani perbedaan sektarian (Sunni-Syiah) demi mewujudkan Ukhuwah Islamiyah, sekaligus mengakselerasi transisi tatanan dunia menuju multipolar yang lebih berkeadilan.

Urgensi konsolidasi ini juga diperkuat oleh Prof. Dr. H. Arifuddin Ahmad, M.Ag., yang mendesak bangsa-bangsa Muslim membangun kemandirian nasional agar tidak tunduk pada hegemoni imperialisme. Dari sudut pandang inklusif, Azeem Marhendra Amedi, S.H., LL.M. dan H. Wawan Gunawan, S.Ag., M.Ag mengajak publik merefleksikan kembali semangat Konferensi Asia Afrika (Bandung) yang mengedepankan solidaritas kemanusiaan dan pluralisme—termasuk penghormatan Iran terhadap umat beragama lain seperti Kristen—serta menolak keras narasi pembelahan sektarian.

Tinjauan Hukum Internasional dan Sikap Diplomasi RI

Merespons situasi eksternal, pengamat hukum dan hak asasi manusia, Usman Hamid, S.H., M.Phil., memberikan tinjauan yuridis tegas yang mengecam serangan militer Amerika Serikat dan Israel sebagai pelanggaran nyata terhadap Piagam PBB. Usman mendesak pemerintah Indonesia untuk mengambil sikap tegas, menuntut pengadilan internasional bagi pelaku, dan mengevaluasi kembali perjanjian bilateral dengan negara agresor.

Desakan diplomasi objektif ini didukung oleh Roberts S (Forum Lintas Agama) yang berharap eskalasi kekerasan global tidak memicu segregasi sosial di dalam negeri, serta K.H. Sofwan Yahya, Lc., M.Hum.  yang memuji karakter kepemimpinan Khamenei karena mampu menyeimbangkan ketegasan melawan imperialisme dengan keteduhan diplomasi berbasis sains dan teknologi.

Para Syuhada Anak – anak sekolah yang di serang oleh Amerika dan Israel

Hak Perempuan dan Perlindungan Kelompok Rentan

Refleksi atas tragedi kemanusiaan ini juga membedah dampak destruktif perang terhadap peradaban dan kelompok rentan. Dr. Dina Yulianti Sulaeman, S.S., M.Si.  mengelaborasi pandangan progresif Khamenei mengenai kesetaraan kapasitas intelektual perempuan dalam Islam yang menolak objektifikasi elitis Barat. Hal ini diperkuat oleh  Dr. Neng Hannah, M.Ag. yang mendekonstruksi stigma Barat terhadap perempuan Iran berdasarkan pengalaman empirisnya, seraya mengutuk penghancuran fasilitas pendidikan perempuan oleh agresi militer sebagai tragedi kemanusiaan yang nyata.

Terkait perlindungan jiwa, H. Daden Sukendar, S.Pd.I., M.Ag. (Komnas Perempuan) dan Dwi Rubiyanti Kholifah, M.A. menggarisbawahi data, bahwa perempuan dan anak-anak adalah korban paling terdampak dalam konflik bersenjata modern. Keduanya mengapresiasi konsistensi Khamenei dalam mendukung kemerdekaan Palestina dan mendesak penyelesaian konflik global segera dialihkan ke jalur diplomasi non-militer demi menjaga kehormatan kehidupan manusia sesuai esensi syariat Islam.

Tiga Pilar Konklusi Refleksi

Sebagai penutup forum, K.H. Miftah Fauzi Rakhmat, Lc. M.A. merangkum hasil pemikiran dan doa bersama para tokoh ke dalam tiga pilar pesan utama:

  1. Urgensi menjaga dan mempertahankan persaudaraan Islam dengan menjauhi perpecahan sektarian Sunni-Syiah.
  2. Komitmen mutlak pada kemanusiaan dan pembelaan total terhadap hak-hak bangsa Palestina.
  3. Pemuliaan hak-hak perempuan sebagai subjek penting peradaban, merujuk pada keteladanan agung Sayyidah Khadijah.

Refleksi atas tragedi ini harus menjadi momentum bagi dunia—termasuk pemerintah Indonesia—untuk menegaskan kembali bahwa perdamaian sejati hanya dapat berdiri di atas tegaknya keadilan yang objektif.

iklan
Admin IJABI
Reporter |  + posts
Iklan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berkaitan

Back to top button