Asyura dan Jantung Kemanusiaan
Telaah Filosofis Lintas Tradisi atas Kebangkitan Imam Husain di Karbala
Penulis : Dr. Dimitri Mahayana (Sekretaris Dewan Syura IJABI)
Abstrak
Peristiwa Asyura di Karbala pada tahun 61 Hijriah, ketika Husain bin Ali bersama sekitar tujuh puluh dua orang gugur menghadapi ribuan atau bahkan puluhan ribu pasukan setelah air diblokade selama tiga hari, terus menggetarkan hati manusia lintas mazhab, lintas agama, dan lintas zaman selama empat belas abad. Artikel ini bertanya mengapa peristiwa itu memiliki daya sentuh yang nyaris universal, dan apakah ada struktur makna bersama yang dapat ditemukan di balik beragam pembacaan atasnya. Untuk menjawabnya, digunakan metode filosofis berlapis: deskripsi fenomenologis, peleburan cakrawala hermeneutis, pemetaan konvergensi lintas tradisi, analisis konsep yang disertai uji tanding terhadap penjelasan alternatif, inferensi ke penjelasan terbaik, dan pemeriksaan realisme nilai. Karbala dibaca melalui lima belas pemikir lintas tradisi, dari Foucault, al-Farabi, Habermas, Fanon, Arendt, Levinas, Weil, Buber, Heidegger, Frankl, Camus, Hume, Gadamer, dan Derrida, hingga Mulla Sadra, lalu dilengkapi dan diintegrasikan dengan pembacaan sosio-historis Syahid Ayatullah Sayyid Ali Khamenei atas Asyura. Temuan utama menunjukkan satu benang merah yang berulang, yaitu bahwa manusia adalah subjek bermartabat yang menolak direduksi menjadi objek, sehingga pada akhirnya makna mengalahkan kekuatan. Benang merah ini bekerja pada dua bidang sekaligus. Pada bidang individu, manusia menolak diubah menjadi benda. Pada bidang kolektif, masyarakat menolak dikosongkan dari nilai. Jembatan keduanya adalah basirah, dan tujuannya adalah ishlah, yaitu memulihkan masyarakat yang menyimpang, dengan kekuasaan dan kesyahidan sebagai akibat, bukan tujuan. Karena pola ini berulang, maka setiap hari adalah Asyura dan setiap tempat di bumi adalah Karbala. Pembahasan diperkaya dengan kutipan langsung ujaran Imam Husain dari sumber maqtal dan tarikh. Disimpulkan bahwa Asyura menyentuh jantung kemanusiaan karena ia mementaskan kebenaran universal ini, pada diri manusia maupun pada nasib masyarakat, sampai batas paling ekstrem.
Kata kunci: Asyura, Karbala, Imam Husain, ishlah, basirah, khawass dan awamm, martabat manusia, filsafat lintas tradisi, realisme nilai.
1. Pendahuluan
Tahun 61 Hijriah, bertepatan dengan 10 Oktober 680 Masehi, di sebuah padang gersang di tepi Sungai Eufrat bernama Karbala, sekitar tujuh puluh dua orang berhadapan dengan ribuan pasukan. Mereka dikepung. Air sungai yang mengalir beberapa langkah dari kemah mereka diblokade selama tiga hari. Di tengah rombongan kecil itu ada perempuan, ada orang tua, ada pula bayi berusia enam bulan. Pemimpin mereka adalah Husain bin Ali, cucu Nabi Muhammad. Pada hari kesepuluh Muharram, hari yang kemudian dikenang sebagai Asyura, mereka semua gugur kecuali yang ditawan.
Peristiwa ini sederhana untuk diceritakan dan mustahil untuk dilupakan. Empat belas abad berlalu, dan setiap Muharram jutaan manusia menangisinya. Yang menarik bukan jumlah air mata, melainkan jangkauannya. Juga kedalamannya. Orang yang bukan Muslim pun tersentuh ketika mendengar kisahnya. Karbala menembus batas mazhab, batas agama, dan batas zaman. Ia mengetuk sesuatu yang lebih dalam daripada identitas, yaitu kemanusiaan itu sendiri. Daya sentuh yang lintas batas inilah yang sejak awal diisyaratkan dalam tradisi, sebagaimana sabda Nabi Muhammad saw tentang panas yang abadi di hati orang beriman.
(1) Teks Arab (sesuai sumber)
إنّ لقتل الحسين حرارة في قلوب المؤمنين لا تبرد أبداً
(2) Teks Arab berharakat
إِنَّ لِقَتْلِ الْحُسَيْنِ حَرَارَةً فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ لَا تَبْرُدُ أَبَدًا
(3) Terjemahan
Sesungguhnya pada terbunuhnya Husain ada bara panas di hati orang-orang beriman yang tidak akan pernah dingin selamanya.
(4) Sumber
النوريّ المحدّث الشيخ حسين: مستدرك الوسائل، ج 10، ص 312.
Transliterasi: al-Nuri al-Muhaddits al-Syaikh Husain, Mustadrak al-Wasa’il, jilid 10, halaman 312.
Kedekatan Nabi dengan cucunya, yang menjadi salah satu kunci memahami mengapa kepergiannya menggoreskan luka sedalam itu, terekam dalam sabda yang masyhur.
(1) Teks Arab (sesuai sumber)
حسين منّي وأنا من حسين
(2) Teks Arab berharakat
حُسَيْنٌ مِنِّي وَأَنَا مِنْ حُسَيْنٍ
(3) Terjemahan
Husain dariku dan aku dari Husain.
(4) Sumber
ابن قولويه: كامل الزيارات، ص 117.
Transliterasi: Ibn Qulawayh, Kamil al-Ziyarat, halaman 117.
Mengapa peristiwa ini memiliki daya sentuh yang nyaris universal? Pertanyaan ini menuntun pada dua persoalan yang akan dijawab artikel ini. Pertama bersifat deskriptif, yaitu adakah struktur makna bersama yang berulang di balik beragam pembacaan atas Karbala. Kedua bersifat penjelasan, yaitu mengapa Karbala menyentuh hati manusia lintas bangsa dan lintas zaman. Filsafat dapat menolong kita membaca lapisan-lapisannya. Telaah ini menempuh jalan tersebut bersama lima belas pemikir lintas tradisi, bukan untuk membuktikan teori di atas darah para syuhada, tetapi untuk menunjukkan bahwa apa yang terjadi di Karbala adalah peristiwa di mana hampir setiap tema besar pemikiran tentang manusia menemukan pentasnya yang paling murni.
Telaah ini berpijak pada sumber maqtal dan tarikh yang dikenal luas, yaitu Tarikh al-Rusul wa al-Muluk karya al-Thabari, al-Irsyad karya Syaikh al-Mufid, dan al-Luhuf ala Qatla al-Thufuf karya Sayyid Ibn Thawus, yang banyak bersandar pada riwayat Abu Mikhnaf, serta kompilasi dan rujukan tematik seperti Bihar al-Anwar karya al-Majlisi dan Mujam Karbala. Sebagian detail bersifat historis dan teruji, sebagian lain telah berbaur dengan ingatan kolektif umat. Riwayat dituturkan sebagaimana tradisi menuturkannya, sambil tetap merujuk pada sumber.
2. Tinjauan Pustaka
Kajian atas Karbala dapat dipetakan ke dalam tiga arus. Arus pertama adalah sumber primer maqtal dan tarikh. Di sini Tarikh al-Thabari menyediakan kerangka kronologis yang paling tua dan banyak dirujuk, al-Irsyad karya al-Mufid menatanya dalam bingkai biografis para imam, dan al-Luhuf karya Ibn Thawus menyajikannya dengan bahasa yang menyentuh. Riwayat Abu Mikhnaf dalam Maqtal al-Husain menjadi sumber awal yang menyangga banyak penuturan berikutnya, sementara al-Futuh karya Ibn A’tsam al-Kufi dan Maqtal al-Husain karya al-Khawarizmi memuat naskah pidato dan surat. Kompilasi besar seperti Bihar al-Anwar karya al-Majlisi menghimpun riwayat-riwayat ini, dan Tuhaf al-Uqul karya Ibn Syu’bah al-Harrani menyimpan khutbah-khutbah penting Imam Husain.
Arus kedua adalah pembacaan filosofis dan ideologis modern atas Asyura. Murtadha Muthahhari, dalam telaahnya tentang epik Husain, menolak penyempitan Asyura menjadi ratapan dan menuntut agar ingatan berubah menjadi kesadaran dan keberanian, sekaligus memperingatkan bahaya penyimpangan makna. Ali Syariati membaca Karbala sebagai paradigma perlawanan terhadap kezaliman. Yang paling sistematis pada arus ini adalah pembacaan Syahid Ayatullah Sayyid Ali Khamenei dalam bukunya tentang Asyura. Ia membedakan pelajaran (durus) dari moral (ibar), menempatkan moral yang bersifat kausal dan diagnostik di atas pelajaran, lalu membaca Karbala sebagai hukum sejarah yang berulang: bagaimana sebuah masyarakat runtuh dari dalam ketika elite (khawass) tergelincir oleh cinta dunia dan massa (awamm) kehilangan basirah. Arus ini kaya secara tematik dan, pada Khamenei, kuat secara analitis, tetapi umumnya bekerja dari dalam satu tradisi.
Arus ketiga adalah tradisi-tradisi filsafat dunia yang akan dipakai sebagai lensa, dari Stoa, falsafah Islam, fenomenologi, eksistensialisme, etika dialog, hingga filsafat pembebasan. Yang belum banyak dikerjakan secara sistematis adalah pertemuan ketiga arus tersebut, yaitu pembacaan Karbala lintas tradisi yang sekaligus diuji dengan metode filosofis yang ketat untuk menemukan struktur makna bersamanya, lalu dipadukan dengan pembacaan sosio-historis seperti yang ditawarkan Khamenei. Kekosongan inilah yang ingin diisi artikel ini. Pembacaan lintas tradisi menyumbang dimensi individual, sedangkan pembacaan Khamenei menyumbang dimensi kolektif dan reformatif, dan keduanya disatukan dalam satu benang merah.
3. Metodologi
Artikel ini memakai pendekatan filosofis berlapis yang saling melengkapi, dengan tetap menjaga kejujuran pada sumber. Langkah pertama adalah deskripsi fenomenologis. Praanggapan mazhab dan teologi dikurung sejenak agar peristiwa tampil apa adanya, yaitu sebuah rombongan kecil yang dilucuti dari kuasa, air, dan perlindungan, memilih kematian daripada ketundukan, dan menimbulkan getaran yang nyaris universal. Dari sini dilakukan penyaringan inti, dengan menanggalkan ciri-ciri khusus zaman dan tempat untuk menemukan struktur yang tetap bertahan.
Langkah kedua adalah peleburan cakrawala dalam pengertian hermeneutika Gadamer, yaitu mempertemukan cakrawala tiap pemikir dengan cakrawala peristiwa. Langkah ketiga adalah pemetaan konvergensi lintas tradisi. Lima belas pemikir diperlakukan sebagai saksi yang sebagian besar saling bebas, lalu pembacaan mereka dipetakan ke tema-tema yang berulang. Bila banyak jalur yang saling bebas menunjuk ke inti yang sama, keserentakan itu menjadi petunjuk kuat, sebagaimana prinsip konsiliensi dalam ilmu.
Langkah keempat adalah analisis konsep yang disertai uji tanding. Konsep inti seperti reduksi manusia menjadi objek, martabat, makna, dan kekuatan diperjelas, lalu penjelasan-penjelasan alternatif diuji secara jujur, antara lain dugaan proyeksi budaya, dugaan keharuan semata, dugaan bias golongan, dan keterbatasan pemilihan tokoh.
Langkah kelima adalah inferensi ke penjelasan terbaik.
Langkah keenam adalah pemeriksaan realisme nilai, dengan sandaran pada pembedaan Allamah Thabathaba’i antara persepsi hakiki dan persepsi yang bersifat kesepakatan, serta gagasan Mulla Sadra tentang gradasi dan penguatan wujud. Agar telaah ini ketat, metode dinyatakan terbuka, penjelasan tandingan diuji, tidak ada pembelaan istimewa, dan kesimpulan tetap terbuka untuk dibantah.
Langkah ketujuh mengikuti pembedaan yang ditegaskan Syahid Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, yaitu antara pelajaran (durus) dan moral (ibar). Pelajaran menjawab pertanyaan apa yang harus dilakukan, sedangkan moral menjawab pertanyaan bagaimana sebuah keadaan bisa terjadi dan mungkin berulang. Telaah ini memberi bobot terbesar pada lapis kausal dan diagnostik itu, sebab di sanalah Asyura berhenti menjadi peristiwa yang dikenang dan menjadi cermin yang menilai pembacanya. Dengan begitu, basirah, yaitu kemampuan melihat yang benar di balik yang tampak, menjadi sasaran sekaligus alat baca artikel ini.
4. Hipotesis
Dari kerangka di atas diajukan lima hipotesis. Hipotesis pertama bersifat deskriptif, yaitu terdapat satu inti makna yang tetap dan berulang pada pembacaan lima belas tradisi atas Karbala. Hipotesis kedua merumuskan inti itu, yaitu bahwa manusia adalah subjek bermartabat yang menolak direduksi menjadi objek, sehingga pada akhirnya makna mengalahkan kekuatan. Hipotesis ketiga bersifat penjelasan, yaitu bahwa konvergensi lintas tradisi dan daya sentuh lintas zaman paling baik dijelaskan oleh kenyataan bahwa Karbala mementaskan ciri nyata dan universal dari diri manusia, sehingga ia berpijak pada realisme nilai, bukan pada relativisme. Tiga hipotesis ini memusatkan perhatian pada subjek individual. Dua hipotesis berikutnya, yang diuraikan setelah ini, melengkapinya dengan dimensi kolektif dan sosio-historis.
Dukungan awal bagi hipotesis ini dapat dibaca pada ujaran Imam Husain sendiri tentang maksud kebangkitannya, yang menegaskan bahwa tujuannya adalah perbaikan dan penegakan martabat, bukan perebutan kekuasaan. Dalam wasiatnya kepada saudaranya, Muhammad bin al-Hanafiyah, beliau menyatakan maksud itu dengan jernih.
(1) Teks Arab (sesuai sumber)
إنّي لم أخرج أشراً ولا بطراً ولا مفسداً ولا ظالماً وإنّما خرجت لطلب الإصلاح في أمّة جدّي صلى الله عليه وآله وسلم أريد أن آمر بالمعروف وأنهى عن المنكر، وأسير بسيرة جدّي وأبي عليّ ابن أبي طالب عليه السلام فمن قبلني بقبول الحقّ فالله أولى بالحقّ
(2) Teks Arab berharakat
إِنِّي لَمْ أَخْرُجْ أَشِرًا وَلَا بَطِرًا وَلَا مُفْسِدًا وَلَا ظَالِمًا، وَإِنَّمَا خَرَجْتُ لِطَلَبِ الْإِصْلَاحِ فِي أُمَّةِ جَدِّي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ، أُرِيدُ أَنْ آمُرَ بِالْمَعْرُوفِ وَأَنْهَى عَنِ الْمُنْكَرِ، وَأَسِيرَ بِسِيرَةِ جَدِّي وَأَبِي عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ عَلَيْهِ السَّلَامُ، فَمَنْ قَبِلَنِي بِقَبُولِ الْحَقِّ فَاللهُ أَوْلَى بِالْحَقِّ
(3) Terjemahan
Sungguh aku keluar bukan karena sombong, bukan karena angkuh, bukan untuk berbuat kerusakan, dan bukan untuk berbuat zalim. Aku keluar hanyalah untuk mencari perbaikan pada umat kakekku. Aku hendak menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, dan meniti jalan kakekku dan ayahku, Ali bin Abi Thalib. Maka siapa yang menerimaku dengan menerima kebenaran, Allah lebih utama dengan kebenaran.
(4) Sumber
المجلسيّ: بحار الأنوار، ج 44، ص 330.
Transliterasi: al-Majlisi, Bihar al-Anwar, jilid 44, halaman 330.
Bahwa kebangkitan itu tidak ditujukan untuk kuasa dan harta, melainkan untuk menegakkan tanda-tanda agama dan keamanan bagi yang terzalimi, ditegaskan pula dalam munajatnya.
(1) Teks Arab (sesuai sumber)
ألّلهمّ إنّك تعلم أنّه لم يكن ما كان منّا تنافساً في سلطان، ولا التماساً من فضول الحطام، ولكن لنري المعالم من دينك، ونظهر الإصلاح في بلادك، ويأمن المظلومون من عبادك
(2) Teks Arab berharakat
اللَّهُمَّ إِنَّكَ تَعْلَمُ أَنَّهُ لَمْ يَكُنْ مَا كَانَ مِنَّا تَنَافُسًا فِي سُلْطَانٍ، وَلَا الْتِمَاسًا مِنْ فُضُولِ الْحُطَامِ، وَلَكِنْ لِنُرِيَ الْمَعَالِمَ مِنْ دِينِكَ، وَنُظْهِرَ الْإِصْلَاحَ فِي بِلَادِكَ، وَيَأْمَنَ الْمَظْلُومُونَ مِنْ عِبَادِكَ
(3) Terjemahan
Ya Allah, Engkau mengetahui bahwa apa yang kami lakukan bukanlah perebutan kekuasaan, bukan pula memburu sisa-sisa harta dunia, melainkan agar kami menampakkan tanda-tanda agama-Mu, menegakkan perbaikan di negeri-Mu, dan agar hamba-hamba-Mu yang terzalimi memperoleh rasa aman.
(4) Sumber
المجلسيّ: بحار الأنوار، ج 97، ص 80.
Transliterasi: al-Majlisi, Bihar al-Anwar, jilid 97, halaman 80.
Dua hipotesis di atas memusatkan perhatian pada subjek individual. Namun semangat terpenting Asyura, sebagaimana dibaca Khamenei, terletak pada bidang yang lebih luas, yaitu bidang kolektif dan sosio-historis. Dari sana diajukan dua hipotesis pelengkap.
Hipotesis keempat bersifat reformatif dan teleologis. Tujuan terdalam kebangkitan Karbala bukanlah perebutan kekuasaan, bukan pula pencarian kesyahidan. Keduanya adalah akibat, bukan tujuan. Tujuannya adalah satu kewajiban, yaitu ishlah, mengembalikan masyarakat yang menyimpang ke jalan yang benar. Dengan demikian martabat individu yang menolak direduksi menemukan muaranya pada penyelamatan kolektif. Khamenei menegaskan pembedaan sebab dan akibat ini secara langsung.
Kutipan (Khamenei):
“Mereka yang mengatakan tujuannya adalah kekuasaan, atau tujuannya adalah syahid, telah mencampuradukkan sebab dengan akibat. Keduanya adalah akibat, bukan tujuan itu sendiri.”
— Khamenei, ‘Ashura’ in the Thought of Imam Khamenei, hlm. 37.
Klaim ini selaras dengan ujaran Imam Husain yang telah dikutip pada awal bagian ini, bahwa motifnya adalah perbaikan, bukan kuasa. Maka kekuasaan dan kesyahidan tetap dihitung sebagai akibat yang sah dari satu tujuan reformatif.
Hipotesis kelima bersifat diagnostik dan historis. Asyura adalah hukum sejarah yang berulang tentang bagaimana sebuah masyarakat runtuh dari dalam. Masyarakat dikosongkan dari nilai sementara bentuk luarnya bertahan.
Kutipan (Khamenei):
“Selama lima puluh tahun itu masyarakat Islam dikosongkan dari hakikat Islam dan nilai-nilainya. Ia adalah masyarakat Islam di permukaan, tetapi hampa di dalam. Di sinilah letak bahayanya.“
— Khamenei, ‘Ashura’ in the Thought of Imam Khamenei, hlm. 82.
Pengosongan itu berjalan melalui dua jalur. Elite kebenaran tergelincir oleh cinta dunia, dan massa kehilangan basirah, yaitu pandangan batin yang membedakan yang benar dari yang batil. Ketika keduanya terjadi, tolok ukur masyarakat terbalik.
Kutipan (Khamenei):
“Jika standar menjadi terbalik, dan yang memegang kendali adalah mereka yang paling mencintai dunia serta mengabaikan kejujuran dan amanah, maka hasilnya adalah berkuasanya orang seperti Umar bin Sa’d dan Ubaidullah bin Ziyad, serta terbunuhnya orang seperti Imam al-Husain.”
— Khamenei, ‘Ashura’ in the Thought of Imam Khamenei, hlm. 103.
Karena polanya tetap, maka berlaku rumusan bahwa setiap hari adalah Asyura dan setiap tanah adalah Karbala. Penjaganya pun satu, yaitu basirah disertai keberanian bertindak pada waktu yang tepat.
Kutipan (Khamenei):
“Selama masih ada kebenaran dan kebatilan di setiap masa, akan selalu ada seorang Husain dan seorang Yazid. Karena itu umat harus cukup bijak untuk membuat pilihan yang benar.”
— Khamenei, ‘Ashura’ in the Thought of Imam Khamenei, hlm. 12.
5. Pembahasan: Membaca Karbala bersama Para Filsuf
5.1 Foucault: keberanian mengatakan yang benar
Husain menolak satu hal yang tampak kecil, yaitu baiat kepada Yazid. Penolakan itu yang memicu segalanya. Di akhir hidupnya, Michel Foucault mengembangkan konsep parrhesia, keberanian mengatakan yang benar. Parrhesiast adalah orang yang berbicara jujur kepada kekuasaan, dari posisi yang lebih lemah, dengan taruhan nyawanya sendiri. Ia tidak berbicara untuk menyenangkan. Ia mengikat dirinya pada kebenaran yang ia ucapkan, dan menerima risikonya.
Husain adalah parrhesiast dalam bentuknya yang paling utuh. Ketika ia diminta berbaiat, ia menolak dengan menegaskan jati diri dan kemuliaan yang tak boleh ditundukkan, sampai pada kalimat bahwa orang sepertinya tidak akan membaiat orang seperti Yazid. Foucault mengajarkan bahwa kekuasaan menghasilkan rezim kebenaran, jaringan yang menentukan apa yang boleh dianggap sah. Yazid mewarisi mesin legitimasi itu. Husain menusuk mesin tersebut dengan satu kata, yaitu tidak.
Foucault juga menulis bahwa di mana ada kekuasaan, di situ ada perlawanan. Karbala adalah titik di mana perlawanan itu memilih bentuk yang paling sunyi dan paling mahal, yaitu kesediaan untuk mati demi kalimat yang benar.
5.2 Al-Farabi: kota yang utama dan kota yang menindas
Mengapa Husain bangkit? Al-Farabi membangun gambaran al-madinah al-fadhilah, kota yang utama, yang disusun menyerupai tubuh yang sehat dan diarahkan kepada satu tujuan, yaitu sa’adah, kebahagiaan sejati seluruh warga. Di hadapannya ada kota-kota yang sakit, termasuk madinat al-taghallub, kota yang berdiri di atas penaklukan dan dominasi. Pemerintahan Yazid adalah potret kota yang menindas itu. Tujuannya bukan kebahagiaan warga, tetapi kelanggengan kuasa. Bangkitnya Husain, dalam bahasa al-Farabi, adalah upaya menegakkan kembali orientasi kota kepada kebahagiaan sejati, melawan logika dominasi yang sudah mengeras menjadi sistem. Maksud kebangkitan ini telah dikutip pada bagian hipotesis, yaitu mencari perbaikan pada umat, menyuruh kebaikan, dan mencegah kemungkaran.
5.3 Habermas: kata yang tidak boleh dipaksa
Yang dituntut dari Husain adalah baiat. Yang ia tolak adalah cara baiat itu diminta. Jurgen Habermas membedakan tindakan komunikatif dari tindakan strategis. Pada yang pertama, manusia mencapai kesepahaman melalui argumen, dalam situasi tanpa paksaan kecuali kekuatan argumen yang lebih baik. Pada yang kedua, manusia memperlakukan sesamanya sebagai alat. Legitimasi sejati, kata Habermas, lahir dari kesepakatan yang tidak dipaksa. Baiat di bawah todongan pedang adalah komunikasi yang dirusak sampai ke akarnya. Kata setuju yang dikeluarkan karena takut mati bukanlah persetujuan, melainkan suara yang dipalsukan. Husain menolak memberi suara palsu itu, dan sepanjang perjalanan ia berkali-kali memilih kata sampai detik terakhir, sementara pihak lain memilih pedang.
5.4 Fanon: martabat yang direbut kembali
Di antara para sahabat Husain ada Jaun, seorang bekas budak berkulit hitam yang dahulu dimerdekakan. Pada hari itu ia maju meminta izin berperang. Husain menawarkan agar ia pergi menyelamatkan diri, tetapi Jaun menolak. Ia memohon agar darahnya yang gelap diizinkan bercampur dengan darah keluarga suci itu, dan tradisi mengabadikan doa Husain agar wajahnya diterangkan dan namanya dimuliakan. Frantz Fanon menulis tentang mereka yang dihinakan di bumi, dan tentang pembebasan sebagai perebutan kembali martabat. Karbala adalah panggung pengakuan itu. Imperium Umayyah memperlakukan rakyat sebagai instrumen kekuasaan, tetapi di kemah Husain, Jaun bukan instrumen siapa pun. Ia subjek penuh yang memilih nasibnya sendiri dan menuntut agar darahnya diakui setara.
5.5 Arendt: kekuasaan kecil melawan kekerasan besar
Umar bin Sa’ad, panglima yang memimpin pengepungan, sebenarnya ragu, tetapi ia diiming-imingi jabatan dan memilih karier di atas nuraninya. Hannah Arendt membedakan kekuasaan dari kekerasan. Kekuasaan lahir ketika manusia bertindak bersama dalam kesepakatan, sedangkan kekerasan bersifat instrumental dan bisu. Arendt juga menulis tentang kedangkalan kejahatan, tentang pelaku yang bukan monster melainkan birokrat yang berhenti berpikir. Pasukan yang mengepung Husain adalah gambaran itu. Kejahatan terbesar di Karbala dilakukan oleh orang-orang biasa yang berhenti bertanya. Di seberang mereka, tujuh puluh dua orang bertindak bersama dalam keyakinan penuh. Yang sedikit memiliki kekuasaan, yang banyak hanya memiliki kekerasan. Jauh sebelumnya, Husain telah menyeru para ulama dan tokoh untuk tidak berdiam diri, dan menempatkan jalannya urusan di tangan para ulama yang amanah pada hukum Allah, sebuah teguran atas sikap diam di hadapan kezaliman.
5.6 Levinas: wajah yang memerintah jangan membunuh
Di antara semua episode Karbala, yang paling sukar dipikul hati adalah kisah air. Abbas bin Ali, saudara Husain dan pembawa panji, pergi ke sungai membawa wadah air. Ia berhasil mengisinya, tetapi tidak meminumnya meski ia sendiri kehausan, sebab anak-anak di kemah belum minum. Dalam perjalanan kembali, kedua lengannya ditebas, wadah air tertembus anak panah, dan ia gugur di tepi sungai. Lalu ada bayi enam bulan, yang dikenal sebagai Ali al-Ashghar. Husain mengangkatnya di hadapan pasukan, meminta seteguk air untuk sang bayi, dan jawabannya adalah anak panah. Emmanuel Levinas menempatkan etika sebagai filsafat pertama, yang sumbernya adalah wajah sesama yang rentan dan justru karena itu memerintah, jangan membunuh. Abbas adalah jelmaan ideal etika Levinas. Ia menahan diri untuk minum walaupun bukan sesuatu yang dilarang, karena wajah-wajah bayi dan anak-anak dan mereka yang kehausan di kemah Husain. Wajah bayi yang kehausan adalah wajah Levinas dalam wujudnya yang paling murni, perintah etis yang absolut. Di sisi lain anak panah musuh yang menembus leher itu adalah pelanggaran atas perintah yang sudah tertulis sangat jelas di wajah sang bayi.
5.7 Simone Weil: kekuatan yang mengubah manusia menjadi benda
Dalam telaahnya tentang Iliad, Simone Weil mendefinisikan kekuatan sebagai sesuatu yang mengubah manusia menjadi benda, kadang menjadi mayat, kadang membuat yang masih hidup lumpuh oleh teror sampai kehilangan jiwa. Blokade air adalah kekuatan dalam wujud paling telanjang. Tujuannya bukan sekadar membunuh, tetapi menghancurkan jiwa lebih dahulu, dengan menjadikan dahaga sebagai senjata agar kemah Husain menyerah. Yang gagal mereka pahami, jiwa Husain tidak takluk pada kekuatan. Ia tetap menjadi subjek sampai detik terakhir. Ia berdoa, ia mengangkat bayinya, ia memandang maut sebagai jamuan. Kekuatan menguasai tubuh-tubuh di Karbala, tetapi tidak satu jiwa pun di kemah itu yang berhasil ia ubah menjadi benda.
5.8 Buber: malam Asyura dan dunia Aku-Engkau
Pada malam sebelum Asyura, Husain mengumpulkan para sahabatnya, melepaskan baiat mereka, dan mempersilakan mereka pergi di bawah gelap malam karena musuh hanya menginginkan dirinya. Tak seorang pun pergi. Mereka menjawab satu demi satu, sebagian berkata bahwa andai dibunuh lalu dihidupkan lalu dibunuh lagi berkali-kali, mereka tidak akan meninggalkannya. Tentang mereka, Husain bersaksi sendiri.
(1) Teks Arab (sesuai sumber)
فإنّي لا أعلم أصحاباً أولى ولا خيراً من أصحابي ولا أهل بيت أبرّ ولا أوصل من أهل بيتي، فجزاكم الله عنّي جميعاً خيراً
(2) Teks Arab berharakat
فَإِنِّي لَا أَعْلَمُ أَصْحَابًا أَوْلَى وَلَا خَيْرًا مِنْ أَصْحَابِي، وَلَا أَهْلَ بَيْتٍ أَبَرَّ وَلَا أَوْصَلَ مِنْ أَهْلِ بَيْتِي، فَجَزَاكُمُ اللهُ عَنِّي جَمِيعًا خَيْرًا
(3) Terjemahan
Sungguh aku tidak mengetahui adanya sahabat-sahabat yang lebih utama dan lebih baik daripada sahabat-sahabatku, dan tidak pula keluarga yang lebih berbakti dan lebih erat menyambung daripada keluargaku. Semoga Allah membalas kalian semua dariku dengan kebaikan.
(4) Sumber
الطبريّ: تاريخ الطبريّ، ج 4، ص 317.
Transliterasi: al-Thabari, Tarikh al-Thabari, jilid 4, halaman 317.
Martin Buber membedakan relasi Aku-Itu, ketika yang lain menjadi objek yang dipakai, dari relasi Aku-Engkau, ketika yang lain hadir sebagai pribadi utuh sehingga lahir perjumpaan sejati. Yazid memandang Husain sebagai Itu, halangan yang harus disingkirkan. Tetapi di dalam kemah pada malam Asyura, hanya ada Aku-Engkau. Husain tidak memerintah para sahabat sebagai bawahan. Ia membebaskan mereka, dan mereka menjawab sebagai pribadi yang setara, dari hati ke hati. Karbala adalah komunitas Aku-Engkau yang berdiri utuh sampai mati, di tengah dunia yang ingin menjadikan semuanya Itu.
5.9 Heidegger: keberadaan yang menyongsong kematian dengan tegak
Martin Heidegger menulis bahwa manusia adalah ada yang menyongsong kematian, dan bahwa hidup yang otentik dimulai ketika seseorang berhenti lari dari kefanaan, mendengar panggilan nuraninya, dan dengan tegak memeluk kematiannya sendiri sebagai miliknya yang paling pribadi, alih-alih larut dalam kerumunan yang anonim. Para sahabat Husain diberi tahu bahwa fajar membawa kematian yang pasti. Mereka tidak lari ke dalam kerumunan yang selamat. Dengung bacaan Al-Qur’an pada malam itu adalah suara mereka yang memiliki keberadaannya sendiri. Ada ironi yang patut diakui, sebab Heidegger sendiri pernah tunduk pada sebuah tirani di zamannya. Mungkin justru itulah pelajarannya, bahwa gagasan tentang keteguhan yang otentik menemukan perwujudannya yang paling jujur bukan pada penciptanya, melainkan di sebuah padang bernama Karbala.
5.10 Frankl: kebebasan terakhir dan makna dalam derita
Hurr bin Yazid al-Riyahi adalah panglima pasukan terdepan yang semula menghadang jalan Husain. Tetapi pada pagi Asyura, sesuatu bergetar dalam dirinya. Ia memilih antara surga dan neraka, lalu memacu kudanya menyeberang dari barisan penindas ke barisan yang tertindas, dan Husain menyambutnya dengan menegaskan bahwa ia memang merdeka sebagaimana ibunya menamainya. Viktor Frankl, yang menyusun logoterapi dari pengalamannya di kamp maut, menulis bahwa segala sesuatu dapat dirampas dari manusia kecuali satu, yaitu kebebasan terakhir untuk memilih sikap dalam keadaan apa pun, dan bahwa derita yang dipikul demi makna berhenti menjadi derita. Seluruh kemah Husain memilih makna kematian di atas keselamatan. Pilihan itu telah ditegaskan sejak surat ringkas yang beliau tulis kepada Bani Hasyim.
(1) Teks Arab (sesuai sumber)
بسم الله الرحمن الرحيم، من الحسين بن عليّ إلى بني هاشم، أمّا بعد، فإنّه من لحق بي استشهد، ومن تخلّف عنّي لم يبلغ الفتح والسلام
(2) Teks Arab berharakat
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ، مِنَ الْحُسَيْنِ بْنِ عَلِيٍّ إِلَى بَنِي هَاشِمٍ، أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّهُ مَنْ لَحِقَ بِي اسْتُشْهِدَ، وَمَنْ تَخَلَّفَ عَنِّي لَمْ يَبْلُغِ الْفَتْحَ، وَالسَّلَامُ
(3) Terjemahan
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dari Husain bin Ali kepada Bani Hasyim. Amma ba’du: sesungguhnya siapa yang menyusulku akan gugur sebagai syahid, dan siapa yang tertinggal dariku tidak akan mencapai kemenangan. Wassalam.
(4) Sumber
الطبريّ ابن رستم: دلائل الإمامة، ص 188.
Transliterasi: al-Thabari Ibn Rustam, Dala’il al-Imamah, halaman 188.
5.11 Camus: pemberontak yang berkata tidak, dan dengan itu berkata kita
Albert Camus menulis bahwa pemberontak adalah manusia yang berkata tidak, tetapi dalam penolakannya ia sekaligus menegaskan sebuah ya, yaitu nilai yang ia anggap lebih berharga daripada nyawanya. Pemberontak Camus tidak bangkit demi merebut kuasa, melainkan karena ada garis yang tidak boleh dilanggar atas martabat manusia. Begitu ia berkata tidak demi dirinya, ia menemukan bahwa ia berkata tidak demi semua orang. Husain berkata tidak. Ia bahkan sampai akhir tidak menyerang lebih dahulu. Penolakannya atas penghinaan terhadap martabat manusia ia rumuskan dalam kalimat yang lintas abad.
(1) Teks Arab (sesuai sumber)
ألا إنّ الدعيّ ابن الدعيّ قد ركز بين اثنتين بين السلّة والذلّة وهيهات منّا الذلّة يأبى الله ذلك لنا ورسوله والمؤمنون
(2) Teks Arab berharakat
أَلَا إِنَّ الدَّعِيَّ ابْنَ الدَّعِيِّ قَدْ رَكَزَ بَيْنَ اثْنَتَيْنِ بَيْنَ السَّلَّةِ وَالذِّلَّةِ، وَهَيْهَاتَ مِنَّا الذِّلَّةُ، يَأْبَى اللهُ ذَلِكَ لَنَا وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ
(3) Terjemahan
Ketahuilah, sesungguhnya si anak tak sah keturunan dari yang tak sah itu telah memaksaku memilih di antara dua hal, antara menghunus pedang (kematian) dan kehinaan. Sungguh jauh, kehinaan itu dari kami. Allah enggan menimpakannya atas kami, demikian pula Rasul-Nya dan kaum mukmin.
(4) Sumber
الأمين السيّد محسن: لواعج الأشجان، ص 131.
Transliterasi: al-Amin al-Sayyid Muhsin, Lawa’ij al-Ashjan, halaman 131.
Karbala adalah pemberontakan dalam pengertian Camus, sebuah ya yang diucapkan melalui tidak, sebuah solidaritas yang melampaui satu rombongan kecil dan merangkul siapa saja yang pernah ditindas. Ketika kita menangisi Husain, kita sebenarnya merasakan kita ada yang dimaksud Camus.
5.12 Hume: simpati yang menyatukan hati lintas zaman
Mengapa kisah ini mampu membuat manusia di mana pun meneteskan air mata? David Hume menjawabnya dengan satu kata, yaitu simpati. Bagi Hume, moralitas tidak lahir dari penalaran dingin, sebab akal seharusnya menjadi pelayan bagi rasa, dan ada mekanisme dalam jiwa yang membuat perasaan menular dari satu hati ke hati lain. Ketika kita melihat penderitaan yang tak bersalah dan keteguhan yang mulia, simpati menyala dengan sendirinya. Karbala seakan dirancang oleh sejarah untuk menyalakan simpati itu sampai puncaknya. Itulah sebabnya majelis duka Muharram bekerja begitu kuat, dan itulah sebabnya tokoh di luar Islam pun terguncang oleh kisah ini. Simpati Humean tidak mengenal batas iman. Ia hanya mengenal hati manusia.
5.13 Gadamer: peristiwa yang membaca kita
Hans-Georg Gadamer mengajarkan bahwa memahami selalu merupakan percakapan antara cakrawala kita dan cakrawala peristiwa yang kita hadapi, yang ia sebut peleburan cakrawala, serta bahwa peristiwa besar terus membentuk kita melalui sejarah pengaruhnya. Karbala adalah contoh sempurna sejarah pengaruh itu. Setiap tahun, cakrawala kita melebur dengan cakrawala Karbala, dan pertanyaan-pertanyaannya menjadi pertanyaan kita. Di hadapan siapa aku berbaiat hari ini? Air mana yang kublokade bagi sesamaku? Pada barisan mana aku berdiri ketika nurani memanggil seperti memanggil Hurr? Asyura tidak menunggu kita memahaminya. Ia balik membaca kita.
5.14 Derrida: keadilan yang melampaui hukum, dan jejak yang tak terhapus
Di padang pasir, air adalah keramahan yang paling dasar, dan memblokade air berarti melanggar keramahan pada lapisannya yang paling purba. Jacques Derrida membedakan keadilan dari hukum. Hukum bisa ditegakkan oleh kekuasaan lengkap dengan stempel resminya, tetapi keadilan selalu melampaui hukum dan menggugat hukum yang tidak adil. Yazid memiliki hukum, sebab ia khalifah yang sah secara formal. Husain menyeru kepada keadilan yang berdiri di atas hukum itu. Dan inilah yang paling memukau, setelah pembunuhan itu Husain justru menjadi jejak yang tak bisa diusir. Nama Yazid menjadi kutukan, nama Husain menjadi tangisan. Yang gugur ternyata yang bertahan. Asyura adalah kerja duka yang tak pernah usai, sebab keadilan yang dituntutnya belum tuntas.
5.15 Mulla Sadra: kematian sebagai puncak keberadaan
Husain memandang kematian sebagai kebahagiaan. Bagaimana mungkin? Mulla Sadra, dengan hikmah muta’aliyahnya, mengajarkan keutamaan wujud, bahwa yang sungguh nyata adalah eksistensi yang bertingkat-tingkat dalam intensitasnya, serta gerak substansial, bahwa jiwa terus bergerak dan menguat. Dalam kerangka ini, kematian bukan pemadaman, melainkan perpindahan ke derajat wujud yang lebih pekat. Bagi Sadra, jiwa Husain telah begitu menguat oleh cinta dan makrifat sehingga kematian tubuh baginya adalah pendakian. Dunia memblokade air bagi Husain, tetapi jiwanya telah sampai pada mata air wujud yang tak pernah kering. Tempat para pencinta yang syahid itu bahkan telah disebut jauh sebelumnya oleh Amirul Mukminin Ali ketika melewati Karbala.
(1) Teks Arab (sesuai sumber)
ومصارع عشّاق شهداء، لا يسبقهم من كان قبلهم، ولا يلحقهم من بعدهم
(2) Teks Arab berharakat
وَمَصَارِعُ عُشَّاقٍ شُهَدَاءَ، لَا يَسْبِقُهُمْ مَنْ كَانَ قَبْلَهُمْ، وَلَا يَلْحَقُهُمْ مَنْ بَعْدَهُمْ
(3) Terjemahan
Dan inilah tempat-tempat gugurnya para pencinta yang syahid, tiada yang mendahului keutamaan mereka dari orang-orang sebelum mereka, dan tiada pula yang menyusulnya dari orang-orang sesudah mereka.
(4) Sumber
المجلسيّ: بحار الأنوار، ج 41، ص 295.
Transliterasi: al-Majlisi, Bihar al-Anwar, jilid 41, halaman 295.
5.16 Khamenei: ishlah, basirah, dan hukum Asyura yang berulang
Lima belas lensa di atas menyoroti reduksi manusia pada bidang individu. Khamenei menambahkan bidang yang lain, yaitu bidang masyarakat dan sejarah. Ia membaca Asyura bukan sebagai ratapan, melainkan sebagai kerja analitis, dan membedakan dua lapis pembacaan. Pelajaran (durus) mengajarkan apa yang harus dilakukan, sedangkan moral (ibar) menjelaskan bagaimana sebuah masyarakat bisa runtuh. Lapis kedua ia nilai lebih utama.
Kutipan (Khamenei):
“Moral Asyura lebih penting daripada pelajaran Asyura.”
— Khamenei, ‘Ashura’ in the Thought of Imam Khamenei, hlm. 112.
Pertanyaan pokoknya menggugah. Bagaimana masyarakat yang dibangun Nabi bisa membunuh cucu Nabi hanya lima puluh tahun kemudian? Jawabannya tidak terletak pada satu tiran, melainkan pada perilaku elite dan kelengahan massa. Khamenei membedakan keduanya dengan tegas.
Kutipan (Khamenei):
“Ada perbedaan antara elite dan massa. Jika elite menyimpang, mereka termasuk golongan yang dimurkai Allah; sedangkan jika massa menyimpang, mereka termasuk golongan yang tersesat.”
— Khamenei, ‘Ashura’ in the Thought of Imam Khamenei, hlm. 88.
Tipologi ini bukan tipologi kelas. Elite dan massa ditentukan oleh kesadaran, bukan oleh gelar atau kekayaan. Karena itu setiap orang berpeluang menjadi elite, dan tanggung jawab bersifat universal.
Kutipan (Khamenei):
“Seorang sopir truk justru termasuk golongan elite, sementara ulama terhormat dan imam salat itu termasuk golongan massa. Meski hanya seorang sopir, ia mengetahui hakikat berbagai hal, sedangkan sang ulama justru lengah.”
— Khamenei, ‘Ashura’ in the Thought of Imam Khamenei, hlm. 115.
Faktor penentunya adalah basirah. Tanpa basirah, kesalehan tidak menjamin kebenaran, sebab sebagian pendukung kebatilan justru tampak saleh dan zuhud.
Kutipan (Khamenei):
“Basirah, yaitu pandangan batin, adalah hal terpenting saat membela agama. Mereka yang tidak memiliki basirah cepat tertipu dan terpikat ke pihak kebatilan tanpa menyadarinya.”
— Khamenei, ‘Ashura’ in the Thought of Imam Khamenei, hlm. 67.
Penyakit elite adalah cinta dunia, yang merupakan lawan langsung dari penguasaan diri Imam Husain. Puncaknya tampak pada Umar bin Sa’d, yang menukar Imam Husain dengan kekuasaan atas Rayy.
Kutipan (Khamenei):
“Syarat untuk mengangkat Umar bin Sa’d menjadi gubernur adalah ia memerangi Imam al-Husain. Seandainya seluruh dunia ditawarkan kepada seseorang, ia tidak boleh sampai bermuka masam terhadap Imam al-Husain.”
— Khamenei, ‘Ashura’ in the Thought of Imam Khamenei, hlm. 97.
Karena pola itu berulang, Karbala tidak terkurung ruang dan waktu. Di sinilah rumusan setiap tanah adalah Karbala memperoleh dasarnya.
Kutipan (Khamenei):
“Karbala membentang sepanjang keabadian. Ia tidak terbatas pada ruang geografis seluas beberapa ratus meter. Sejarah sedang berulang hari ini, ketika satu dunia kezaliman dan arogansi berdiri menghadang Republik Islam.”
— Khamenei, ‘Ashura’ in the Thought of Imam Khamenei, hlm. 33.
Pembacaan ini melengkapi telaah lima belas pemikir di atas, bukan menggantikannya. Jika para filsuf menyoroti reduksi manusia menjadi objek pada bidang individu, Khamenei menyoroti reduksi yang sama pada bidang kolektif, yaitu pengosongan masyarakat dari nilai dan hilangnya basirah. Ishlah adalah penolakan atas reduksi itu pada tingkat umat, dan basirah adalah daya yang melihat kebenaran yang tak boleh direduksi. Dengan begitu benang merah yang sama, yaitu manusia yang menolak direduksi, terbukti bekerja sekaligus pada diri individu dan pada tubuh masyarakat.
6. Temuan: Benang Merah Manusia yang Menolak Direduksi
Lima belas pemikir memandang Karbala dari sudut yang berbeda, tetapi satu kesaksian terus berulang. Foucault melihat keberanian mengatakan yang benar. Al-Farabi melihat kota utama melawan kota penindas. Habermas melihat kata yang menolak dipaksa. Fanon melihat martabat yang direbut kembali. Arendt melihat kekuasaan sejati pada yang sedikit. Levinas melihat wajah yang memerintah jangan membunuh. Weil melihat jiwa yang menolak menjadi benda. Buber melihat dunia Aku-Engkau. Heidegger melihat keberadaan yang otentik. Frankl melihat kebebasan terakhir dan makna dalam derita. Camus melihat pemberontakan yang melahirkan solidaritas. Hume melihat simpati yang menyatukan hati. Gadamer melihat percakapan yang tak selesai. Derrida melihat keadilan yang melampaui hukum. Mulla Sadra melihat kematian sebagai puncak keberadaan.
Tariklah benang dari semua titik itu, dan ujungnya bertemu pada satu kalimat. Manusia tidak boleh direduksi menjadi objek. Ia bukan Itu, bukan benda, bukan instrumen, bukan angka. Ia membawa wajah yang memerintah, kebebasan yang tak bisa dipaksa, makna yang tak bisa dipadamkan derita, dan keberadaan yang oleh maut justru dipekatkan, bukan dihapuskan. Inilah hipotesis kedua yang terbukti melalui konvergensi lintas tradisi. Dan karena konvergensi itu lintas budaya dan lintas zaman, hipotesis ketiga pun memperoleh dukungan, yaitu bahwa benang merah ini berpijak pada kenyataan, bukan pada selera satu kelompok.
Asyura menyentuh jantung kemanusiaan karena di Karbala kebenaran ini didramakan sampai batas paling ekstrem. Sebuah imperium mengerahkan kekuatan total, yaitu pasukan, air, takhta, hukum, dan legitimasi resmi. Sebuah rombongan kecil menjawab dengan martabat total, sampai-sampai air pun ditolak bagi seorang bayi. Lalu sejarah memutuskan. Yazid memiliki segalanya dan kehilangan hati manusia selamanya. Husain kehilangan segalanya dan memenangkan hati manusia untuk selamanya. Pembalikan itulah yang menyentuh kita, sebab ia membuktikan bahwa pada akhirnya kekuatan kalah oleh makna, dan benda kalah oleh wajah.
Benang merah ini bekerja pada dua bidang sekaligus. Pada bidang individu, lima belas pemikir menunjukkan manusia yang menolak diubah menjadi objek. Pada bidang kolektif, pembacaan Khamenei menunjukkan masyarakat yang menolak dikosongkan dari nilai. Jembatan keduanya adalah basirah, yaitu daya yang melihat manusia dan kebenaran yang tak boleh direduksi, sedangkan tujuannya adalah ishlah, yaitu memulihkan apa yang hendak direduksi. Inilah isi hipotesis keempat dan kelima, dan keduanya tidak menarik diri dari hipotesis kedua, melainkan memperluasnya. Karena pola ini berulang lintas zaman, maka setiap tanah adalah Karbala, dan yang dipertaruhkan bukan satu golongan.
Kutipan (Khamenei):
“Pertempuran al-Taff tidak menyelamatkan satu umat atau satu golongan; ia menyelamatkan seluruh kemanusiaan.”
— Khamenei, ‘Ashura’ in the Thought of Imam Khamenei, hlm. 150.
Maka kemenangan sejati di Karbala bukanlah kemenangan sesaat, melainkan kemenangan pemikiran dan jalan yang menguat seiring waktu. Itulah sebabnya, baik pada diri manusia maupun pada nasib masyarakat, Asyura terus membaca setiap zaman dan menuntut jawabannya.
7. Kesimpulan
Karbala tidak berakhir di padang itu. Ia dibawa keluar oleh seorang saksi. Zainab binti Ali, saudari Husain, selamat dari pembunuhan dan ditawan. Di Kufah dan di istana Damaskus, di hadapan para penguasa, ia berdiri dan berbicara. Ketika Ibnu Ziyad bermaksud merendahkannya dengan mengungkit nasib keluarganya, ia menjawab dengan kalimat yang mengubah kekalahan menjadi kemenangan abadi, ma ra’aytu illa jamila, aku tidak melihat apa pun kecuali keindahan.
Inilah saksi dalam pengertian Paul Ricoeur, yang membawa peristiwa menjadi kisah, dan kisah menjadi identitas yang terus hidup. Zainab mengangkut Karbala dari medan ke ruang bicara, dari darah ke makna, dari satu subuh ke setiap Muharram sepanjang sejarah. Para filsuf dengan susah payah menjelaskan dengan istilah-istilah mereka apa yang Zainab lihat dengan jernih dalam satu pandangan, yaitu keindahan kemanusiaan yang menolak direduksi. Zainab adalah pemilik basirah yang sesungguhnya. Ia melihat keindahan di tengah reruntuhan, lalu meneruskan ishlah itu dengan kesaksiannya, sehingga pekerjaan Karbala tidak berhenti pada kematian.
Maka membaca Asyura bersama para filsuf akhirnya membawa kita kembali ke hati yang paling sederhana, bukan untuk mengagumi sebuah peristiwa jauh, tetapi untuk ditanyai olehnya. Di hadapan siapa kita berbaiat. Air mana yang kita tahan dari sesama. Wajah siapa yang kita biarkan terluka. Apakah kita memandang dengan basirah, atau kita larut sebagai massa yang lengah. Karbala memandang kita, dan menunggu jawaban kita.
Daftar Pustaka
- Abu Mikhnaf, Lut bin Yahya. Maqtal al-Husain (Waqat al-Thaff).
- al-Amin, Muhsin. Lawaij al-Ashjan fi Maqtal al-Husain.
- al-Farabi, Abu Nasr. Ara Ahl al-Madinah al-Fadilah.
- al-Khawarizmi, al-Muwaffaq bin Ahmad. Maqtal al-Husain.
- al-Majlisi, Muhammad Baqir. Bihar al-Anwar, juz 41, 44, 45, 97. Beirut: Dar Ihya al-Turats al-Arabi.
- al-Mufid, al-Syaikh. al-Irsyad fi Marifat Hujajillah ala al-Ibad.
- al-Nuri, Husain. Mustadrak al-Wasail, juz 10.
- al-Thabari, Muhammad bin Jarir. Tarikh al-Rusul wa al-Muluk (Tarikh al-Thabari), juz 4.
- al-Thabari, Muhammad bin Jarir bin Rustam. Dalail al-Imamah.
- Ibn Atsam al-Kufi, Muhammad bin Ali. al-Futuh, juz 5.
- Ibn Qulawayh, Jafar bin Muhammad. Kamil al-Ziyarat.
- Ibn Syubah al-Harrani, al-Hasan bin Ali. Tuhaf al-Uqul an Al al-Rasul.
- Ibn Tawus, Ali bin Musa. al-Luhuf fi Qatla al-Thufuf.
- Mahad Sayyid al-Syuhada. Mujam Karbala. 2016. Tersedia di https://books.almaaref.org/view.php?id=424
- Arendt, Hannah. The Human Condition. Chicago: University of Chicago Press, 1958.
- Arendt, Hannah. Eichmann in Jerusalem: A Report on the Banality of Evil. New York: Viking, 1963.
- Arendt, Hannah. On Violence. New York: Harcourt, 1970.
- Buber, Martin. Ich und Du (I and Thou). 1923.
- Camus, Albert. L’Homme revolte (The Rebel). Paris: Gallimard, 1951.
- Derrida, Jacques. Force de loi. Paris: Galilee, 1994.
- Derrida, Jacques. Spectres de Marx. Paris: Galilee, 1993.
- Fanon, Frantz. Les Damnes de la terre (The Wretched of the Earth). Paris: Maspero, 1961.
- Foucault, Michel. Fearless Speech. Los Angeles: Semiotext(e), 2001.
- Frankl, Viktor E. Man’s Search for Meaning. 1946.
- Gadamer, Hans-Georg. Wahrheit und Methode (Truth and Method). Tubingen: Mohr, 1960.
- Habermas, Jurgen. Theorie des kommunikativen Handelns (The Theory of Communicative Action). Frankfurt: Suhrkamp, 1981.
- Heidegger, Martin. Sein und Zeit (Being and Time). 1927.
- Hume, David. A Treatise of Human Nature. 1739-1740.
- Khamenei, Sayyid Ali. ‘Ashura’ in the Thought of Imam Khamenei. Dearborn, MI: al-Buraq Publications, 2021. ISBN 978-1-956276-04-6.
- Levinas, Emmanuel. Totalite et Infini (Totality and Infinity). The Hague: Nijhoff, 1961.
- Muthahhari, Murtadha. Hamasah-yi Husaini (The Epic of Husain).
- Ricoeur, Paul. Temps et recit (Time and Narrative), 3 jilid. Paris: Seuil, 1983-1985.
- Sadr al-Din al-Syirazi (Mulla Sadra). al-Hikmah al-Mutaaliyah fi al-Asfar al-Aqliyyah al-Arbaah.
- Syariati, Ali. Jihad wa Syahadat (Jihad and Martyrdom).
- Tabatabai, Muhammad Husain. al-Mizan fi Tafsir al-Quran.
- Weil, Simone. L’Iliade ou le poeme de la force. 1940.




