Blog

Tasawuf: Oase di Tengah Kegelisahan Manusia Modern

Ada warisan ilmu yang terus hidup, bukan hanya karena dibaca, tetapi karena terus diteliti. Demikian pula karya-karya KH. Jalaluddin Rakhmat. Selama puluhan tahun, buku-buku beliau tidak hanya menemani pembaca di ruang-ruang pengajian, tetapi juga menjadi bahan kajian di berbagai perguruan tinggi di Indonesia.

Salah satunya adalah skripsi yang ditulis oleh Ach. Rofiki Hasbullah pada Program Studi Ilmu Tasawuf, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Dalam penelitian berjudul Urgensi Tasawuf di Era Modern dalam Perspektif Jalaluddin Rakhmat, Rofiki mengkaji bagaimana Kang Jalal memandang tasawuf bukan sebagai pelarian dari kehidupan modern, melainkan sebagai jawaban atas kegelisahan manusia modern yang semakin kehilangan arah spiritual.

Bagi Kang Jalal, kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, dan ekonomi tidak otomatis membuat manusia lebih bahagia. Justru ketika kehidupan semakin dipenuhi kecepatan, persaingan, dan ukuran-ukuran material, manusia sering kehilangan sesuatu yang paling mendasar: ketenangan jiwa. Di sinilah tasawuf menemukan kembali relevansinya.

Rubrik Membaca Kang Jalal lahir dari penelitian-penelitian seperti ini. Namun yang akan Anda baca bukanlah ringkasan skripsi. Tokoh utama dalam setiap tulisan tetaplah KH. Jalaluddin Rakhmat beserta gagasan-gagasannya. Skripsi Ach. Rofiki Hasbullah menjadi pijakan ilmiah yang membantu kita membaca kembali pemikiran Kang Jalal dengan lebih jernih, sementara bahasanya kami hadirkan kembali agar lebih hangat, lebih ringan, dan lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Mudah-mudahan perjalanan ini bukan hanya menambah pengetahuan, tetapi juga membantu kita menemukan kembali makna hidup di tengah dunia yang terus bergerak semakin cepat.

iklan

Manusia modern hidup dengan berbagai kemudahan yang belum pernah dinikmati generasi-generasi sebelumnya. Perjalanan menjadi lebih cepat, komunikasi melintasi benua hanya dalam hitungan detik, informasi tersedia di ujung jari, dan berbagai pekerjaan dapat diselesaikan dengan bantuan teknologi. Namun di balik semua kemajuan itu, muncul pertanyaan yang sederhana tetapi mengusik: mengapa manusia justru semakin mudah cemas, semakin kesepian, dan semakin sulit menemukan ketenangan?

Pertanyaan inilah yang menjadi titik berangkat pemikiran Kang Jalal sebagaimana dibaca oleh Ach. Rofiki Hasbullah. Dalam skripsinya dijelaskan bahwa modernitas memang berhasil meningkatkan kualitas hidup dari sisi material, tetapi pada saat yang sama sering membuat manusia terasing dari dimensi ruhaniahnya. Ukuran keberhasilan berubah menjadi angka, jabatan, harta, dan prestasi. Akibatnya, manusia perlahan kehilangan hubungan yang akrab dengan dirinya sendiri dan dengan Tuhannya.

Kang Jalal tidak menolak modernitas. Beliau tidak pernah mengajak umat Islam meninggalkan ilmu pengetahuan atau memusuhi kemajuan teknologi. Yang beliau kritisi adalah ketika modernitas berubah menjadi cara hidup yang hanya mengukur segala sesuatu dengan manfaat material. Ketika uang menjadi ukuran kebahagiaan, popularitas menjadi ukuran keberhasilan, dan kekuasaan menjadi ukuran kemuliaan, manusia sedang berjalan menjauh dari fitrahnya.

Di sinilah tasawuf memperoleh makna yang baru. Banyak orang membayangkan tasawuf sebagai kehidupan yang menjauh dari dunia, hidup menyendiri, atau hanya menghabiskan waktu untuk berzikir. Kang Jalal menawarkan pemahaman yang berbeda. Tasawuf adalah seni menjaga hati agar tidak dikuasai oleh dunia. Dunia tetap dijalani, pekerjaan tetap dilakukan, ilmu pengetahuan tetap dikembangkan, tetapi semuanya ditempatkan sebagai jalan menuju Allah, bukan sebagai tujuan akhir kehidupan.

Karena itu, Kang Jalal selalu mengingatkan bahwa syariat dan tasawuf tidak boleh dipertentangkan. Dalam penelitian ini dijelaskan bahwa menurut beliau, syariat adalah pintu masuk menuju tasawuf. Ibadah bukan tujuan akhir, melainkan langkah pertama untuk membentuk hati yang bersih. Salat, puasa, zakat, dan ibadah lainnya menjadi latihan agar manusia mampu mengendalikan dirinya sebelum akhirnya mencapai kedewasaan spiritual.

Ach. Rofiki juga menemukan tiga nilai tasawuf yang menurut Kang Jalal sangat dibutuhkan manusia modern, yaitu zuhud, sabar, dan wara’. Ketiganya bukan ajaran untuk meninggalkan dunia, tetapi cara agar dunia tidak menguasai hati.

Zuhud bukan berarti membenci harta. Kang Jalal menjelaskan bahwa zuhud adalah kebebasan batin dari ketergantungan kepada dunia. Seseorang boleh memiliki kekayaan, jabatan, atau kedudukan, tetapi semua itu tidak boleh menjadi pusat hidupnya. Ketika kehilangan harta membuat seseorang kehilangan arah hidup, berarti yang menguasai dirinya bukan lagi Allah, melainkan dunia.

Sabar bukan sekadar bertahan menghadapi musibah. Dalam dunia yang serba cepat, sabar berarti kemampuan mengendalikan diri dari keputusan-keputusan yang lahir karena emosi, ambisi, dan hawa nafsu. Orang yang sabar tetap bekerja keras, tetapi tidak kehilangan kejernihan hati ketika hasilnya belum sesuai harapan.

Sedangkan wara’ adalah kehati-hatian moral. Di tengah dunia yang sering menghalalkan segala cara demi keuntungan, wara’ mengajak manusia bertanya bukan hanya, “Apakah ini boleh?” tetapi juga, “Apakah ini baik di hadapan Allah?” Sikap inilah yang menjaga seseorang tetap jujur meskipun kesempatan untuk berbuat curang terbuka lebar.

Bagi Kang Jalal, ketiga nilai itu bukan milik para sufi yang hidup di masa lampau. Justru nilai-nilai tersebut menjadi semakin penting ketika manusia hidup di tengah budaya konsumtif, kompetisi tanpa batas, dan banjir informasi seperti sekarang. Tasawuf bukan penghambat kreativitas, melainkan pengarah agar kreativitas manusia tidak berubah menjadi alat yang merusak dirinya sendiri maupun orang lain.

Barangkali inilah pesan yang ingin disampaikan Kang Jalal kepada masyarakat modern. Krisis terbesar manusia bukanlah kekurangan teknologi atau ilmu pengetahuan, melainkan kekurangan makna. Ketika hati kehilangan arah, sebanyak apa pun kemajuan yang dicapai tidak akan pernah menghadirkan ketenteraman.

Tasawuf, dalam pandangan Kang Jalal, bukan jalan untuk melarikan diri dari dunia. Tasawuf adalah jalan agar manusia mampu hidup di tengah dunia tanpa kehilangan jiwanya. Ia mengajarkan bahwa bekerja adalah ibadah, ilmu adalah amanah, harta adalah titipan, dan hidup adalah perjalanan kembali kepada Allah.

Karena itu, semakin modern dunia ini, semakin besar pula kebutuhan manusia kepada tasawuf. Bukan tasawuf yang mengasingkan diri dari kehidupan, melainkan tasawuf yang menghidupkan kembali hati. Sebab hanya hati yang hidup yang mampu menjadikan kemajuan sebagai rahmat, bukan sebagai sumber kegelisahan.

Karya Kang Jalal yang Dibaca

KH. Jalaluddin Rakhmat

  • Membuka Tirai-Tirai Kegaiban: Renungan-Renungan Sufistik
  • Jangan Bakar Taman Surgamu
  • Meraih Cinta Ilahi
  • Reformasi Sufistik
  • Islam Aktual

Pijakan Akademik

Ach. Rofiki Hasbullah. Urgensi Tasawuf di Era Modern dalam Perspektif Jalaluddin Rakhmat. Skripsi, Program Studi Ilmu Tasawuf, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 2023.

Website |  + posts
Iklan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berkaitan

Artikel Lain
Close
Back to top button