Aman Dari Dosa-Dosa Besar?
Oleh Muhammad Bhagas (Anggota Departemen Khidmat dan Seni Budaya)
Dalam suatu majelis ada seorang ulama yang dikenal banyak mengajarkan amalan Ahlul Bait as menyampaikan pesan yang sangat berharga. Ia mengingatkan bahwa saat kita mengetahui orang lain melakukan dosa-dosa besar, misalnya kita membaca berita di media sosial tentang kasus pembunuhan, perzinahan, mengedarkan narkoba, miras, korupsi, menzhalimi hak orang lain dan lain-lain, atau mungkin kita punya kenalan yang kita tahu dia selalu meninggalkan shalat, meremehkan ibadah, maka pada saat yang sama kita jangan merasa diri kita aman dan bersih dari dosa-dosa besar. Seakan-akan catatan amal orang lain isinya dosa-dosa besar, sedangkan dalam catatan kita bersih dari hal itu.
Mungkin kita membatin: kan kita tidak melakukan semua perbuatan buruk itu? Bukankah selama ini kita terjaga dari dosa-dosa besar itu? Lantas, mengapa kita tidak boleh merasa aman dari dosa-dosa besar?
Tunggu dulu. Sebab, tanpa disadari dosa-dosa kecil yang dilakukan berulang kali atau terus menerus itu bisa menumpuk hingga menjadi dosa besar bagi pelakunya. Jangan lupakan maksiat mata, telinga dan lisan yang diulang-ulang, maksiat pikiran dan perasaan yang dianggap biasa-biasa saja, cara bersikap atau merespon yang tidak mengenakkan di hati orang, belum lagi akhlak (perangai) yang buruk terhadap keluarga dan teman-teman, yang mana itu dilakukan selama bertahun-tahun, lantas masihkah diri ini merasa aman dan bersih dari dosa besar? Tidakkah itu menumpuk menjadi gunung dosa?
Imam ‘Ali bin Abi Thalib as pernah mewanti-wanti soal ini. Kata beliau: La tastashghiru qalilal atsam, fa innas shaghira yuhsha wa yarji‘u ilal kabir. Janganlah meremehkan dosa-dosa kecil karena dosa-dosa kecil akan dihitung dan terpulang menjadi dosa-dosa besar (al-Khishal, jilid 2, halaman 616). Bahkan diriwayatkan juga Imam ‘Ali as memperingatkan, “Dosa yang paling parah adalah dosa yang dianggap remeh oleh pelakunya” (Nahjul Balaghah, halaman 559, no. 477). Dalam ungkapan lain disebutkan, “Dosa yang paling besar di sisi Allah SWT adalah dosa yang dianggap kecil oleh pelakunya” (Ghurar al-Hikam, no. 3141).
Masihkah kita tidak merasa? Masihkah kita tidak berkaca? Dengan menyadari hal ini semoga kita lebih mawas diri dan lebih berhati-hati dalam menjalani keseharian kita zhahir maupun batin, dan terhindar dari sibuk memperhatikan aib orang lain sambil melupakan aib diri sendiri. Tidak pula gegabah menghujat dan memastikan orang lain masuk neraka lalu merasa diri lebih suci dari orang itu karena kita tidak pernah tahu semua yang dia dilakukan selama 24 jam. Seakan-akan tidak ada peluang bertobat hingga orang itu meninggal. Selama kita masih hidup di dunia, kita tidak pernah tahu kedudukan dan hakikat diri kita di sisi Allah SWT, jadi bagaimana mungkin kita merasa lebih mulia dari orang lain? Mari ingat lagi pesan Imam ‘Ali bin Abi Thalib as :
يا عبد الله، لا تعجل في عيب أحد بذنبه، فلعله مغفور له، ولا تأمن على نفسك صغير معصية، فلعلك معذب عليه
Wahai hamba Allah, janganlah tergesa-gesa (menghujat/menghakimi) orang lain karena dosa yang dilakukannya. Boleh jadi dia telah diampuni. Dan janganlah kamu merasa aman atas dosa yang dianggap kecil sekali pun. Boleh jadi justru karena dosa itulah kamu diazab (Nahjul Balaghah, halaman 197, no. 140)
Semoga catatan ini bermanfaat dan diluaskan berkahnya untuk kita semua. Teriring doa untuk semua guru dan ulama kita. Untuk semua yang punya hak atas diri kita. Shalawat dan al-Fatihah menyertainya 🤲🙏
Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammad wa Aali Sayyidina Muhammad wa ‘ajjil farajahum…

Muhammad Bhagas
- Anggota Departemen Perkhidmatan dan Seni IJABI.
- Direktur Kajian Kang Jalal.



