Dosa Yang Berpengaruh Pada Kehidupan Dunia

Petikan ceramah Allah yarham K.H. Jalaluddin Rakhmat pada kajian bulan Ramadhan 2016
Ada kutipkan satu peristiwa dari tokoh sufi yang terkenal, Jalaluddin Rumi. Alkisah seorang pedagang dari Tabriz datang ke Konia kota yang kemudian menjadi tempat wafatnya Jalaluddin Rumi walaupun ia berasal dari Afganistan atau Balakh. Tapi ia kemudian pindah ke Konia dan meninggal di situ. Ia menjadi ulama yang sangat dihormati.
Ceritanya ada seorang pedagang yang merasa heran karena dagangannya bangkrut melulu, padahal seluruh kewajiban sudah ia penuhi. Jadi ia sudah membayar zakat, berinfak, seluruh kewajiban-kewajiban yang diberikan Allah Swt. kepadanya sebagai orang kaya sudah ia penuhi. Maka tiada ada jalan keluar ini dari kebangkrutan dagangnya kecuali bertanya. Ia datang ke Turki sekarang ini dan ia mencari-cari ulama yang kira-kira punya makrifat dan bisa memberikan nasehat kepada nya untuk mengobati gangguan ekonominya.
Mula-muala ia dibawa kepada seorang ulama yang sangat dekat dengan raja. Ia mempersiapkan hadiah yang besar untuk ulama itu. Dahulu itu kebiasaan kalau orang mau ketemu ulama mereka kirimkan hadiah sesuai dengan perintah Allah dalam Al Quran kepada sahabat kalau mereka mau berjumpa dengan Rasulullah Saw. Mereka harus bersedekah lebih dahulu. Jadi ulama dahulu biasanya menerima tamunya dan sekaligus hadiahnya. Dan ulama dulu memang didatangi untuk memecahkan persoalan-persoalan kehidupan sesuai dengan tuntunan agama.
Jadi dia dibawa ke rumah ulama. Rumah ulama itu sangat besar dan ia melewati lorong-lorong yang sempit sampai ketemu ulamanya di ujung lorong itu. Kata pedagang dari Tabriz itu, apa kamu tidak salah bawa? Aku minta dibawa kepada ulama kamu bawa ini kepada pejabat kata dia. Mungkin pedagang itu dijaman itu sih kayanya dibedakkan antara ulama dengan pejabat sekali lagi ulama juga sekarang sekaligus pejabat, dan ulama yang pejabat itu rata-rata rumahnya besar.
Pedagang dari Tabriz itu mungkin tidak percaya. Saya mau balik lagi lah tolong carikan yang benar-benar ulama. Kalau begitu katanya besok kita temui Jalaluddin Rumi. Dia seorang ulama yang benar-benar ulama, dan hidup zuhud dan hanya kalau kebetulan aja kita bisa berjumpa dengannya.
Esoknya dia datang membawa katanya 200 keping emas sebagai hadiah. Lalu dia dibawa dan Jalaluddin Rumi sedang baca kitab menghadap ke tembok. Pedagang itu datang melewati pintu kemudian mengucapkan salam. Jalaluddin Rumi menjawab salam sambil tidak berbalik dari tembok itu atau tidak berbalik dari membaca bukunya cuma dia berkata, uang yang 200 keping itu kau berikan kepada fakir miskin di tempat-tempat sekitar ini dan aku tahu dan kau datang ke sini karena yang hilang berkali-kali dari 200 keping yang kau mau sedekahkan itu.
Dia tercengang juga bahwa ternyata Rumi telah mengetahuinya. Kemudian Rumi berbalik dan berkata kepadanya, dagang kamu itu bangkrut usaha kamu terhambat karena dahulu engkau pernah datang ke negeri Faranggi, kalau sekarang itu Perancis, dan kau melewati seorang Darwis yang beragama Nasrani yang dalam keadaan penuh debu berbaring di pinggir jalan, kau melewatinya dan kau meludahinya, kalau kamu tidak percaya, katanya, kamu lihat ke tembok itu. Lalu Jalaluddin Rumi mengusapkan tangannya ke tembok, dan betul ia melihat waktu itu ia melangkah di sebuah pasar menemukan seorang fakir yang tidur dalam keadaan penuh debu dan juga penuh bau sehingga dia ke paksa meludahnya. Kata Jalaluddin Rumi engkau sudah meludahi salah seorang di antara waliyullah. Kamu hanya bisa menyelesaikan persoalan kamu kalau kamu balik lagi ke situ, dan turunlah dari kendaraanmu kau peluk dia kau minta maaf kepadanya dan bersihkan tubuh dia yang penuh debu dengan linangan air matamu.
Singkatnya cerita dia datang lagi menemui itu dan begitu bertemu Darwis itu berkata sampaikan salamku kepada Jalaluddin Rumi, kata dia.
Kisah ini menunjukkan beberapa hal. Yang pertama, mungkin yang menyenangkan kita ialah bahwa di antara para waliyullah ada hubungan telekomunikasi melalui alam malakut. Yang kedua, bahwa dosa yang kita lakukan di dunia ini akan berpengaruh kepada kehidupan kita di dunia ini juga. Jadi kalau kita menyakiti hati orang lain, kalau kita berbuat dzalim kepada orang lain kedazliman kita itu juga akan ke siksa dari kedzaliman itu akan ditimpakan kepada kita.
Wallau a’lam




