Penulis: Mohammad Adlany, Ph.D. (Anggota Dewan Syura IJABI)
Rumi berkata:
Ilmu adalah cincin kerajaan Sulaiman, yang diwariskan kepada setiap nabi bagi umat-umat di dunia.
Siapa pun yang mampu menembus jalan keluar dari langit, manusianya menjadi laksana pupil mata yang melihat hakikat.
Akal Adam yang berasal dari tanah belajar ilmu dari Tuhan, hingga nama dan wibawa kekuasaan pun tunduk dan runtuh.
Dari Allah datang firman-Nya: “Sungguh, prasangka itu tidak berguna sedikit pun (dari kebenaran).”
Seluruh alam ini adalah rupa dan jiwa ilmu, dan demikianlah seorang yang tulus menyebut mereka.
Dalam pandangan, ia laksana pupil mata yang begitu kecil, namun justru di dalam kecilnya pupil, terbentang keluasan besar.
Tiada seorang pun dapat menapaki jalan hingga ke langit ketujuh, kecuali cahaya ilmu yang menyalakan perjalanan.
Butalah dia yang meragukan kebenaran, mungkinkah tunggangan prasangka menembus cakrawala langit?
Apabila seluruh ciptaan dan alam semesta dipandang sebagai satu tubuh dan wujud, maka ruhnya adalah pengetahuan. Pengetahuanlah yang memberi makna pada penciptaan ini. Ungkapan Rumi ini merupakan pujian yang sangat agung bagi pengetahuan. Dalam riwayat disebutkan bahwa kekuasaan Nabi Sulaiman bersumber dari cincin yang dikenakannya. Dengan menganalogikan pengetahuan sebagai cincin Sulaiman, Rumi hendak menunjukkan bahwa pengetahuan memiliki sifat kepemimpinan dan kekuasaan.
Kata mukhlish berarti tempat keselamatan dan jalan menuju kebebasan. Sedangkan rah-e borun-syo berarti jalan keluar dari dunia material dan keterikatan duniawi menuju jalan pengenalan terhadap hakikat-hakikat Ilahi. Rumi mengatakan bahwa peran para nabi dalam membimbing manusia laksana peran pupil mata dalam penglihatan. Manusia yang awam memandang para nabi kecil dan remeh, sebagaimana pupil mata tampak hanya sebagai titik kecil yang tidak semua orang menyadari betapa pentingnya.
Manusia, melalui pengetahuan dan ilham dari Tuhan, mencapai kedudukan yang menjadikan pengetahuannya mampu menyingkap hingga langit ketujuh dan meliputi seluruh wujud. Bahkan, nama dan kedudukannya melampaui para malaikat. Sebaliknya, ada jin (iblis) yang—menurut riwayat—telah beribadah selama enam ratus ribu tahun, namun menentang perintah Tuhan dengan tidak mau bersujud kepada Adam. Allah tidak menganggap Iblis itu layak mengetahui pengetahuan agama dan rahasia-rahasia gaib, apalagi mendekati istana luhur tersebut. Sebagaimana dalam firman-Nya:
وَعَلَّمَ آدَمَ الأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلَائِكَةِ فَقَالَ أَنبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَؤُلاءِ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ
“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama seluruhnya, kemudian memperlihatkannya kepada para malaikat seraya berfirman: ‘Sebutkanlah kepada-Ku nama semua itu jika kamu memang benar.’” (QS. Al-Baqarah [2]: 31)
Dengan itu Allah menyampaikan pesan kepada semua makhluk bahwa prasangka (ẓhan) tidak dapat menghantarkan manusia kepada kebenaran.
“Mungkinkah tunggangan prasangka dapat naik menembus ketinggian langit?” Ini adalah isyarat kepada ayat 36 surah Yunus tentang orang-orang kafir dan mereka yang terjebak dalam prasangka:
إِنَّ الظَّنَّ لَا يُغْنِي مِنَ الْحَقِّ شَيْئًا
“Sesungguhnya prasangka itu sedikit pun tidak berguna terhadap kebenaran.” (QS. Yunus [10]: 36)



