Uncategorize

Ridha dalam Doa Sahar

Penulis: Dr. Dimitri Mahayana (Sekretaris Dewan Syura IJABI)

Bagian Pertama: Teks Doa dengan Harakat dan Terjemahan 

— Dibaca pada waktu Sahur (Fajar) di Bulan Ramadan — 

يَا مَفْزَعِي عِنْدَ كُرْبَتِي 

Wahai tempat pelarian-ku di kala duka nestapa-ku 

iklan

وَيَا غَوْثِي عِنْدَ شِدَّتِي 

Dan wahai penolong-ku di kala kesusahan-ku 

إِلَيْكَ فَزِعْتُ 

Kepada-Mu aku berlari mencari perlindungan 

وَبِكَ اسْتَغَثْتُ 

Dan kepada-Mu aku memohon pertolongan 

وَبِكَ لُذْتُ 

Dan kepada-Mu aku berlindung 

لَا أَلُوذُ بِسِوَاكَ 

Tiada tempat berlindung bagiku selain Engkau 

وَلَا أَطْلُبُ الْفَرَجَ إِلَّا مِنْكَ 

Dan tiada yang kuharapkan jalan keluar (faraj) melainkan dari-Mu 

فَأَغِثْنِي وَفَرِّجْ عَنِّي 

Maka tolonglah aku dan lapangkanlah dari-ku segala beban 

يَا مَنْ يَقْبَلُ الْيَسِيرَ 

Wahai Zat yang menerima amal yang sedikit 

وَيَعْفُو عَنِ الْكَثِيرِ 

Dan memaafkan dosa yang banyak 

اِقْبَلْ مِنِّي الْيَسِيرَ 

Terimalah dariku amal yang sedikit ini 

وَاعْفُ عَنِّي الْكَثِيرَ 

Dan maafkanlah dariku kesalahan yang banyak 

إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ 

Sesungguhnya Engkau adalah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang 

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ إِيمَاناً تُبَاشِرُ بِهِ قَلْبِي 

Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu keimanan yang Engkau tanamkan langsung ke dalam hatiku 

وَيَقِيناً حَتَّى أَعْلَمَ أَنَّهُ لَنْ يُصِيبَنِي إِلَّا مَا كَتَبْتَ لِي 

Dan keyakinan, hingga aku benar-benar mengetahui bahwa tiada yang akan menimpaku melainkan apa yang telah Engkau tuliskan (tetapkan) bagiku 

وَرَضِّنِي مِنَ الْعَيْشِ بِمَا قَسَمْتَ لِي 

Dan jadikanlah aku ridha dengan penghidupan yang telah Engkau bagikan untukku 

يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ 

Wahai Yang Maha Pengasih dari semua yang mengasihi 

يَا عُدَّتِي فِي كُرْبَتِي 

Wahai bekal-ku di saat kesusahan-ku 

وَيَا صَاحِبِي فِي شِدَّتِي 

Dan wahai teman setia-ku di saat kepayahan-ku 

وَيَا وَلِيِّي فِي نِعْمَتِي 

Dan wahai Wali (Pelindung)-ku dalam segala nikmat-ku 

وَيَا غَايَتِي فِي رَغْبَتِي 

Dan wahai Tujuan Tertinggi-ku dalam setiap keinginan-ku 

أَنْتَ السَّاتِرُ عَوْرَتِي 

Engkaulah yang menutupi aib dan kelemahanku 

وَالْآمِنُ رَوْعَتِي 

Dan yang mengamankan rasa takut dan guncangan-ku 

وَالْمُقِيلُ عَثْرَتِي 

Dan yang memaafkan serta mengampuni ketersandungan-ku 

فَاغْفِرْ لِي خَطِيئَتِي 

Maka ampunilah bagiku segala dosa dan kesalahanku 

يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ 

Wahai Yang Maha Pengasih dari semua yang mengasihi 

Bagian Kedua: Kesulitan sebagai Undangan Ilahi — Jalan Menuju Al-Falah 

I. Kurbah sebagai Pintu Rahmat: Kesulitan adalah Undangan Tuhan 

Doa ini dibuka dengan seruan yang sangat personal dan menyentuh relung jiwa paling dalam: Yā Mafza’ī ‘inda kurbatī — “Wahai tempat berlari-ku di kala duka nestapa-ku.” Kata kurbah (كُرْبَة) dalam bahasa Arab bukan sekadar kesedihan biasa; ia merujuk pada beban berat yang menghimpit dada, tekanan yang menyempitkan napas, gundah gulana yang mencekik ruang gerak jiwa. Ia adalah momen-momen ketika manusia merasa telah kehabisan daya, kehabisan jalan, dan kehabisan harapan dari sesama makhluk. 

Kata Karbala misalnya, menurut sebagian ulama dan ahli bahasa, berasal dari gabungan dua kata: كَرْبٌ وَبَلَاءٌ(karbun wa balā’un) — duka nestapa dan ujian/bencana. Kata 

كَرْبٌ(karbun) adalah maṣdar (kata dasar/gerund) dari akar ك-ر-ب, yang bermakna kesedihan berat, duka, atau kegundahan yang mencekik jiwa — suatu kondisi tekanan batin yang menghimpit dada. 

Adapun كُرْبَةٌ(kurbatun) adalah isim (kata benda/nomina) dari akar yang sama, yang bermakna satu peristiwa atau kejadian konkret yang menyedihkan dan menekan jiwa — satu episode penderitaan yang dialami seseorang. 

Akar katanya sama, yakni ك-ر-ب, namun berbeda wazan (pola morfologis) dan nuansa maknanya: 

  • كَرْبٌ → kondisi atau sifat kesedihan itu sendiri (maṣdar, abstrak) 
  • كُرْبَةٌ → satu kejadian/peristiwa yang mendatangkan kesedihan itu (isim, lebih konkret) 

Maka tidaklah mengherankan bila tanah yang menjadi saksi duka terbesar dalam sejarah Islam itu dinamai كَرْبَلَاءُ(Karbalā’) — tanah karbun wa balā’, tanah duka dan ujian. Sebuah nama yang seolah telah menyimpan rahasianya jauh sebelum peristiwa 10 Muharram 61 H terjadi di atasnya. 

Jadi menurut alfaqir, alangkah indahnya bila pendoa yang melantunkan Yaa mafza’ii ‘inda kurbati mencoba menghadirkan dalam hatinya apa yang terjadi di Karbala. Syahadah Cucu Nabi Saw dan keluarganya as dan para sahabatnya as. Tidak ada karbun maupun kurbatun yang lebih pedih ketimbang apa yang dialami Nabi Saw dan keluarganya yang suci as. Semua karbun maupun kurbatun yang kita alami sebenarnya hanyalah buih bila dibandingkan samudera ujian , karbun dan kurbatun yang dialami oleh Para Kekasih Allah sholatulloh wa salamullah ‘alaihim tersebut. 

Berlari dan Belindung Hanya Pada Yang Maha Pengasih 

Setelah itu, doa ini mengajak berlari menuju Tuhan — fazi’tu, “aku berlari mencari perlindungan.” Seolah jiwa yang mengerti hakikat duka cita berkata: “Melalui tekanan kehidupan dan duka cita  inilah, aku tahu ke mana harus berlari.” Sembari terus menghadirkan, betapa duka cita Imam Husain as ketika bayinya di panah oleh tentara Yazid di siang hari Asyura, dan berbagai duka cita tak terperi lainnya; dan bagaimana Imam Husain as dan para syahid Karbala selalu terhubung pada kepasrahan dan Cinta yang sempurna padaNya. 

Di sinilah kita menemukan benang merah pertama: setiap kesulitan, setiap hal yang menekan jiwa dengan kesedihan, pada hakikatnya adalah Undangan Tuhan. Bukan hukuman semata, bukan penelantaran — melainkan seruan lembut sekaligus kuat dari Sang Maha Kasih yang ingin hamba-Nya mendekat. Kesulitan adalah bahasa langit yang terkadang lebih fasih dari seribu nikmat dalam menyadarkan manusia tentang kelemahan dirinya dan Keagungan Rabbnya. Setiap hal yang secara lahiriah dan emosional mendatangkan kepedihan bagi kita adalah pada hakikatnya undangan untuk menuju kedekatan padaNya. Agar kita menoleh pada Eksistensi Yang Mahagaib. Agar kita kemudian menghadapkan wajah padaNya. Dan memahami bahwa tiada apa pun lagi yang bisa diharapkan kecuali Ia Yang Maha Kasih dan Maha Penyayang.  

Sesungguhnya keimanan seseorang tampak paling nyata di saat ia ditimpa musibah; apakah ia berlari kepada Tuhan ataukah berlari dari-Nya. Doa Yā Mafza’ī mengajarkan: lari ke Tuhan adalah jawaban paling fitri atas setiap kurbah. 

III. Fitrah Manusia: Perjalanan Menuju Lā Khawfun ‘Alaihim wa Lā Hum Yahzanūn 

Manusia — dalam perjalanan eksistensialnya — sesungguhnya sedang menapaki sebuah jalan panjang menuju satu kondisi yang disebut Al-Qur’an sebagai keadaan tanpa rasa takut dan tanpa kesedihan. Dalam Surat Yunus ayat 62, Allah berfirman: 

أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ 

“Ketahuilah, sesungguhnya para wali (kekasih) Allah itu tidak ada rasa takut pada mereka dan tidak pula mereka bersedih hati.” 

KH Jalaluddin Rakhmat — guru bangsa yang telah mendahului kita — dalam salah satu magnum opusnya, Doa dan Kebahagiaan, menyebut kondisi ini sebagai al-falah: kebahagiaan sejati, kemenangan hakiki yang bukan sekadar kesenangan duniawi, melainkan kondisi jiwa yang telah menemukan sebuah kondisi mudawamah dalam sangka baik (huznuzh zhon) kepada Tuhan Yang Maha Pengasih.  

Inilah fitrah manusia . Ia selalu mengejar kesempurnaan eksistensialnya. Yakni, al falah. Kebahagiaan yang sejati. Hemat penulis, ini adalah kondisi bebas dari rasa takut, bebas dari kesedihan. Dalam bahasa stoic, jiwa yang selalu memilih untuk bahagia dan berbuat yang paling luhur. 

Namun manusia sering tertipu: ia mengira al-falah ada di dalam harta, di dalam pangkat, di dalam cinta manusia, di dalam aman dari musibah dunia.  

Maka ia menghabiskan hidupnya mengejar bayang-bayang. Sementara sumber al-falah yang sejati hanya ada pada Satu: Allah — Sumber Kebahagiaan Abadi yang tidak pernah surut, tidak pernah mengecewakan, tidak pernah meninggalkan. 

Doa Yā Mafza’ī dengan jernih menyatakan: Lā aludhu bisiwāka — “Tiada tempat berlindung bagiku selain Engkau.” Ini bukan kalimat keputusasaan; ini adalah kalimat pembebasan. Ketika seorang hamba berkata demikian dengan segenap jiwa, ia telah memutus ketergantungan dari segala selain Allah. Ia telah menemukan bahwa tidak ada yang bisa memberi keamanan sejati kecuali Allah, dan tidak ada yang bisa memberi ketenangan sejati kecuali Allah. 

Ia memahami kebutuhan hakikinya pada Allah. Ia memahami bahwa ia selalu membutuhkan Allah lebih dari bayi membutuhkan ibunya. Setiap saat dan setiap waktu.   

Ia sedikit demi sedikit, melalui konsisten mengikuti makna Yaa Mafza’i, menyadari betapa Allah lebih menantinya ketimbang ibu yang telah kehilangan anaknya dalam tahun-tahun yang panjang. 

Ia makin menyadari betapa Allah Sangat Dekat dan selalu terbuka untuk memeluk dan merangkul kita dengan Kasih SayangNya dan PengabulanNya kapan saja kita menangis dan meratap pedih atas duka cita kita. 

Dan inilah jalan menuju Lā Khawfun ‘Alaihim wa Lā Hum Yahzanūn. Ini adalah para wali Allah. Melalui ujian yang direspon dengan doa Yaa Mafza’I ‘inda kurbatii,  jiwa mereka pelahan terpaut pada EksistensiNya Yang Merangkul mereka dalam segenap duka , segenap lantunan harapan dan doa. Pelahan mereka memahami ke mana mereka harus menghadapkan wajah, agar menemukanNya. Ke mana saja engkau menghadap di situlah Wajah Allah

III. Puncak Doa: Iman dan Yakin — Kunci Kebebasan Jiwa 

Bagian penutup doa ini adalah puncak sekaligus mahkotanya. Setelah seluruh pengakuan kelemahan, setelah semua permohonan pertolongan, hamba menyampaikan dua permohonan agung yang menjadi inti dari seluruh kehidupan spiritual: 

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ إِيمَاناً تُبَاشِرُ بِهِ قَلْبِي 

وَيَقِيناً حَتَّى أَعْلَمَ أَنَّهُ لَنْ يُصِيبَنِي إِلَّا مَا كَتَبْتَ لِي 

“Ya Allah, aku memohon keimanan yang Engkau tanamkan langsung ke hatiku, dan keyakinan hingga aku tahu bahwa tiada yang menimpaku melainkan apa yang telah Engkau tuliskan bagiku.” 

Perhatikan dua hal yang diminta: Iman dan Yakin. Keduanya bukan sekadar pengetahuan intelektual — ia adalah cahaya yang merasuki relung hati terdalam. Iman yang tubāshiru bihi qalbī — yang “langsung menyentuh hati” — adalah iman yang hidup, iman yang bergerak, iman yang bukan hanya diucapkan di lidah atau dipahami di akal, melainkan dirasakan sebagai kenyataan oleh seluruh jiwa dan raga. 

Dan keyakinan yang diminta adalah bahwa tidak ada sesuatu pun yang menimpa dirinya kecuali itu adalah tulisan atau ketetapan Allah. Mā katabta lī — apa yang Engkau tuliskan bagiku. Ini bukan fatalisme pasif yang membuat manusia berdiam tanpa ikhtiar; ini adalah tawakal aktif yang membebaskan jiwa dari ketakutan berlebih, dari kecemasan yang menghancurkan, dari kesedihan yang melumpuhkan. 

Ketika seorang hamba telah mencapai yakin pada taraf ini, terjadilah sesuatu yang luar biasa: ia mampu mencintai kejadian apa pun yang menimpanya. Ia tidak menerimanya dengan pasrah. Ia tidak hanya bersabar dengan menahan gigi . Ia mencintainya, karena ia tahu dengan sebenar-benar tahu bahwa setiap yang menimpanya adalah: 

Tulisan Sang Maha Kasih — Ketetapan Sang Maha Cinta — Bunga mawar terindah dari tangan Sang Maha Kekasih 

KH Jalaluddin Rakhmat menuliskan khusus dalam Doa dan Kebahagiaan tentang mensyukuri musibah. Tidak lain adalah memandang semua ujian, bala dan musibah yang Allah tetapkan dengan penuh keridhaan, bahkan rasa syukur. Bukan karena ia tidak merasakan sakitnya ujian, namun karena mata batinnya melihat keindahan di balik setiap ketetapan Allah. 

Inilah maqam al-hurr — jiwa yang bebas. Bebas bukan karena ia memiliki segalanya, melainkan karena ia tidak diperbudak oleh apa pun selain Allah. Bebas dari ketakutan kepada selain-Nya. Bebas dari harapan yang bergantung kepada selain-Nya. Dan karena kebebasan inilah ia mencapai al-falah yang sejati — kebahagiaan yang tidak bisa dicabut oleh musibah, tidak bisa direnggut oleh kematian, tidak bisa diusik oleh satu pun pergolakan dunia. 

Ia telah menjadi wali Allah . Dalam semua keadaan termasuk dalam setiap musibah ia tidak kehilangan Allah. Ia selalu dekat dengan Allah.  Musibah apa pun yang menimpanya tidak membuat ia kehilangan Allah.  Ia tidak kehilangan apa yang sesungguhnya berharga dan Paling Berharga bagi dirinya. 

IV. Ridha                                                                                                                                                                Doa ini ditutup dengan permohonan yang maknanya teramat dalam: Wa raddinī min al-‘ayshi bimā qasamta lī — “Jadikanlah aku ridha dengan penghidupan yang Engkau bagikan untukku.” Ridha — rela, puas, bahagia — dengan segala yang Allah putuskan. Bukan sekadar sabar yang menahan (shabr), melainkan ridha yang memeluk (ridā). 

Pada maqam ridha inilah seorang hamba mencapai kemampuan mensyukuri bukan hanya nikmat, tetapi juga musibah. Karena baginya, keduanya adalah pemberian dari Tangan yang sama — Tangan yang tak pernah memberi kecuali dengan kasih sayang yang sempurna, bahkan ketika rasa sakitnya begitu nyata. 

Kondisi jiwa seperti inilah yang QS Yunus 62 sebut sebagai sifat para wali-Nya: Lā khawfun ‘alaihim wa lā hum yahzanūn. Mereka tidak takut kepada apa yang akan datang — karena mereka tahu Allah yang akan datang bersama masa depan itu. Mereka tidak bersedih atas apa yang telah berlalu — karena mereka tahu Allah hadir dalam setiap yang telah berlalu itu. Mereka adalah manusia-manusia yang telah selesai dengan dirinya sendiri, karena telah menemukan Tuhan-nya. 

Saya ingin menutup bahasan kita dengan mengutip Sayyid Ruhullah Al Khomeini dalam kitab beliau Junud al-‘Aql wal- Jahl 

Ridha adalah kegembiraan hamba pada Allah SWT, kehendak dan takdir-nya. Tingkatan tertingginya merupakan tingkatan kesempurnaan insani yang tertinggi dan maqam terbesarnya jadzbah (tarikan ilahiah) dan mahabbah (cinta pada Allah SWT semata). Ringkasnya, ridha adalah kegembiraan dan kesenangan hamba terhadap Allah, kehendak, qadha dan qadar-Nya. ….. (kemudian Beliau mengutip dari Ibn Sina , al-Isyarat) “ Seorang ‘arif itu ceria, berseri-seri dan murah senyum, menghormati yang kecil karena tawadunya …. Bagaimana tidak ceria sementara ia sangat gembira dengan Allah dan dengan segala sesuatunya! Karena ia melihat Allah di dalamnya; …” 

“Ya Allah, aku memohon keimanan yang Engkau tanamkan langsung ke hatiku, dan keyakinan hingga aku tahu bahwa tiada yang menimpaku melainkan apa yang telah Engkau tuliskan bagiku. Dan jadikanlah aku ridha dengan penghidupan yang telah Engkau bagikan untukku” 

Bihaqqi Muhammad wa ali Muhammad. Allahumma sholli ‘ala Sayyidina Muhammad wa ali Sayyidina Muhammad 

Wa maa taufiiqii illa billah ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi uniib 

Malam Jumat, 9 Bulan Ramadhan 1447 H 

Dr. Ir. Dimitri Mahayana, M.Eng.
Sekretaris Dewan Syura IJABI |  + posts
Iklan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berkaitan

Back to top button