Al Qur'an

Agama, Rezeki Spiritual Manusia 

Oleh Mohammad Adlany, Ph.D. (Anggota Dewan Syura IJABI) 

Dalam pandangan Islam, manusia adalah makhluk dua dimensi: jasmani dan ruhani. Kehidupan jasmani bergantung pada makanan dan minuman, sedangkan kehidupan ruhani bergantung pada ilmu dan iman. Karena itu, sebagaimana tubuh memerlukan rezeki material, jiwa pun memerlukan rezeki spiritual agar dapat tumbuh dan sempurna. Rezeki spiritual ini adalah pengetahuan Ilahi dan petunjuk wahyu yang disalurkan melalui agama.

 Agama, dengan demikian, bukan sekadar aturan lahiriah, tetapi merupakan rezeki maknawi dari alam gaib yang menumbuhkan kesadaran, menyucikan hati, dan menuntun manusia menuju kesempurnaan. 

Manusia yang tidak memiliki ilmu dan iman tidaklah memiliki rezeki spiritual. Ia hidup dalam kegelapan batin dan belum mencapai tingkat kehidupan insani yang sejati. Hakikat manusia tidak terletak pada bentuk fisiknya, tetapi pada kesadarannya terhadap kebenaran. 

Sebagaimana diungkapkan dalam Al-Qur’an melalui kisah Nabi Syuaib as: 

قَالَ يَا قَوْمِ أَرَأَيْتُمْ إِن كُنتُ عَلَىٰ بَيِّنَةٍ مِّن رَّبِّي وَرَزَقَنِي مِنْهُ رِزْقًا حَسَنًا 

“Wahai kaumku, bagaimana pendapatmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku dan Dia telah menganugerahkan kepadaku rezeki yang baik dari sisi-Nya?” (Surah Hūd [11]: 88)

Dalam ayat ini, “رِزْقًا حَسَنًا” (rezqan ḥasanan) tidak hanya bermakna rezeki material, melainkan mencakup rezeki spiritual, yaitu ilmu, makrifat, dan kenabian yang menghidupkan hati. Rezeki material, seperti makanan dan pakaian, juga dimiliki oleh hewan, tetapi rezeki manusia sejati adalah makrifat kepada Tuhan. Sebagaimana malaikat memperoleh kehidupan dengan makrifat dan ketaatan, manusia pun memperoleh kemuliaannya dengan ilmu dan iman.

Dengan demikian, Nabi Syuaib as menyebut kenabiannya sebagai rezeki yang baik karena kenabian mengandung pengetahuan yang menghidupkan manusia dan membimbingnya ke arah kesempurnaan rohani. 

Agama, Rezeki dari Alam Ghaib 

Al-Qur’an menegaskan bahwa agama adalah bagian dari rezeki spiritual yang diturunkan Allah kepada manusia melalui para Nabi dan Rasul. Firman-Nya: 

iklan

شَرَعَ لَكُم مِّنَ الدِّينِ مَا وَصَّىٰ بِهِ نُوحًا 

“Dia telah mensyariatkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh.” (Surah Ash-Shūrā [42]: 13) 

Yang dimaksud dengan syariat dalam ayat ini adalah inti agama yang satu, yaitu tauhid, keadilan, kenabian, hari akhirat, dan hukum-hukum agama (syariat). Semuanya merupakan rezeki dari Allah bagi manusia.
Ayat ini menunjukkan bahwa agama bukanlah produk sosial, sejarah, atau budaya, melainkan rezeki Ilahi yang diturunkan dari alam ghaib. Allah memberikan agama kepada para Nabi besar — terutama para Ulul ‘Azmi — untuk menjadi panduan hidup manusia dan sebagai sarana mereka memperoleh rezeki spiritual.

Nabi Nuh as menjadi contoh seorang hamba yang mengamalkan lahir agama dan memahami batin maknanya. Karena kesempurnaan amal dan makrifatnya, Allah menganugerahinya penghormatan khusus: 

سَلَامٌ عَلَىٰ نُوحٍ فِي الْعَالَمِينَ 

“Kesejahteraan (salam) dilimpahkan atas Nuh di seluruh alam.” (Surah Ash-Ṣāffāt [37]: 79) 

Salam Ilahi ini merupakan bentuk tertinggi dari rezeki spiritual — suatu derajat di mana Tuhan sendiri, para malaikat, dan para Nabi memberikan salam dan penghormatan. 

Derajat serupa dijanjikan pula kepada kaum beriman yang bersabar dan teguh di jalan kebenaran. Allah Swt berfirman: 

وَالْمَلَائِكَةُ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِم مِّن كُلِّ بَابٍ ۝ سَلَامٌ عَلَيْكُم بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ 

“Dan para malaikat masuk kepada mereka dari semua pintu (sambil berkata): ‘Salam sejahtera atas kalian karena kesabaran kalian.’ Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.” (Surah Ar-Ra‘d [13]: 23–24) 

Ayat ini menegaskan bahwa kesabaran dan keteguhan dalam menegakkan agama membuka pintu-pintu rahmat dan salam dari para malaikat. Rezeki spiritual tertinggi tidak lain adalah kedekatan dengan Tuhan dan keselamatan abadi di sisi-Nya. 

Rezeki spiritual para mukmin ini berupa salam, yakni ketenangan dan kebahagiaan hakiki sebagai buah dari kesabaran dan ketaatan kepada agama. Dalam pandangan para arif, salam ini adalah “pangan jiwa” yang menghidupkan ruh sebagaimana makanan menghidupkan jasad.

Menegakkan Agama, Wujud Syukur atas Rezeki Spiritual 

Allah memerintahkan agar rezeki spiritual berupa agama ini ditegakkan secara kolektif. Firman-Nya: 

أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ 

“Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah-belah di dalamnya.” (Surah Ash-Shūrā [42]: 13) 

Menegakkan agama tidak cukup dengan pengetahuan hukum lahiriah, tetapi memerlukan pemahaman terhadap hikmah dan tujuan batin agama. Sebagaimana ditegaskan oleh para mufasir, agama hanya dapat ditegakkan dengan persatuan dan tauhid, karena tauhid adalah sumber seluruh kesempurnaan dan rezeki spiritual manusia. 

Seluruh Rasul Allah menyeru kepada penegakan agama dengan menjaga persatuan. Persatuan ini hanya dapat terwujud melalui tauhid, yakni kesadaran bahwa seluruh perbedaan manusia berpuncak pada satu sumber kebenaran. Tauhid, dengan demikian, adalah sebaik-baik rezeki spiritual yang mempersatukan umat dalam kebenaran Ilahi.

Walhasil, Rezeki spiritual adalah hakikat kehidupan manusia. Ia tidak berupa harta atau kedudukan, melainkan agama yang menyinari jiwa. Agama Ilahi adalah bentuk tertinggi dari rezeki ini, karena ia menghubungkan manusia dengan sumber segala kebenaran dan kebahagiaan. Menegakkan agama berarti menegakkan kehidupan spiritual manusia — kehidupan yang memancar dari tauhid. 

Mohammad Adlany Ph. D.
Dewan Syuro IJABI |  + posts
Iklan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berkaitan

Back to top button