HUSEIN BERSAMAKU

Oleh Kang Wawan
Tak aku sembunyikan Husein di dadaku.
Darahnya aku kobarkan dengan terang di jalanan, dalam panji demonstrasi-demonstrasiku menentang kezaliman. Dalam teriakan-teriakanku memperjuangkan keadilan. Dalam orasi-orasiku yang menusuk kekuasaan. (1998)
Al-Husein menyingsingkan lengan bajuku dalam melawan kemiskinan, dalam menuntut hak pendidikan, dalam membela orang-orang yang dilemahkan. Dalam menemani buruh-buruh yg ditekan. Dalam menemani jurnalis-jurnalis yang dikriminalkan. (2002)
Kecup lembut Al-Husein, aku sampaikan kepada anak-anak yang tertindas, Anak-anak yang dikorbankan oleh zaman. Anak-anak yang dirampas cita-citanya, anak-anak yang diterlantarkan oleh peperangan. (2001-2008)
Sapa penuh hormat dari Al-Husein, aku sampaikan untuk membuka bungkam perempuan-perempuan yang dilecehkan, perempuan-perempuan yang dianiaya kekejaman, perempuan-perempuan yang diperdagangkan. (2009)
Jubah hangat Al-Husein, aku pakai untuk mendekap penganut-penganut agama yang disikriminasikan. Penganut-penganut ajaran yang disesatkan. Penganut-penganut kepercayaan yang disingkirkan. (2005 – 2010)
Tak pernah aku sembunyikan Husein di dadaku. Namanya aku ubah dalam tindakan, kasihnya aku hadirkan dalam pelukan. (2000-2010)
Dari Al-Husein yg penuh kelembutan, aku wartakan amanat perdamaian. Meski tak jarang, kita akan dikhianati oleh keserakahan. (2019)
Dari ribuan lampau. Dari mil yang sangat jauh. Aku mendengar sayup-sayup merdu berbisik, “setiap orang, akan menjumpai padang karbalanya sendiri-sendiri” (1980 – ….. )




