Uncategorize

Seruan Lantang Syi‘ah Sebelum Revolusi Iran 1979 

Oleh Muhammad Bhagas (Anggota Departemen Khidmat dan Seni Budaya)

Keterlibatan Syi‘ah dalam membela Palestina bukanlah fenomena baru yang lahir setelah revolusi Iran. Ia memiliki keterpautan historis puluhan tahun sebelumnya. Hal ini dibuktikan oleh Muhammad ‘Abdul Jalil dalam bukunya berjudul al-Marja’iyyah al-Syi‘iyyah wa al-Qadhiyyah al-Filasthiniyyah yang terbit pada tahun 2002. Ia menjelaskan secara khusus hubungan antara institusi marja’iyyah (otoritas keagamaan) Syi‘ah dengan masalah Palestina pada abad ke-20. Buku tersebut adalah sebuah dokumentasi historis yang menelusuri bagaimana para marja’ besar Syi‘ah di Iran dan Irak secara berani dan konsisten mengambil sikap membela rakyat Palestina yang tertindas sebelum dan pasca revolusi Iran.  

Nilai penting buku itu terletak pada pijakan sumbernya. Penulis merujuk pada sumber-sumber primer: fatwa-fatwa, surat-surat terbuka, berbagai pidato, dialog dan keputusan yang dikeluarkan oleh para ulama marja’ Syi‘ah. Ini menjadikannya sumber yang sangat berharga. Karena itu, karya itu bukan sekadar opini, melainkan arsip historis yang memberi kita kesempatan untuk melihat persoalan ini lebih secara luas, jernih dan menggalinya lebih dalam lagi. 

Muhammad ‘Abdul Jalil menyebutkan sebuah momen penting: Konferensi Islam di Yerusalem tahun 1931 untuk membahas masalah Palestina. Dalam momen ini berkumpul para tokoh dan ulama lintas mazhab dari berbagai negara. Di antara mereka hadir Syaikh Muhammad Husain Kasyif al-Githa, ulama besar Syi‘ah dari Najaf, Sayyid Amin al-Husaini, mufti Palestina, dan Syaikh Muhammad Rasyid Ridha, pemikir Islam Mesir. Kehadiran Syaikh Muhammad Kasyif al-Ghita di forum tersebut menjadi sejak bersejarah keterlibatan Syi‘ah dalam membela Palestina sebelum berdirinya Republik Islam Iran 1979. Ia turut menyerukan solidaritas umat Islam lintas mazhab dalam menghadapi tantangan dihadapi negeri tersebut. 

Menarik dan penting untuk dicatat, penyelenggaraan momen tersebut bertepatan dengan malam Isra’ Mi’raj 27 Rajab. Hampir 10.000 orang berkumpul di Masjid al-Aqsha. Bersama mereka ada 150 peserta konferensi. Lalu tanpa disangka, mufti Palestina Sayyid Amin al-Husaini meminta Syaikh Muhammad Kasyif al-Ghitha untuk maju memimpin shalat isya. Maka marja’ Syi‘ah dari Najaf ini memimpin shalat bagi ribuan jamaah Sunni di Masjid al-Aqsha, sebuah pemandangan yang sangat indah mengharukan sekaligus simbol persatuan Islam yang sangat kuat. Setelah shalat, ia menyampaikan khutbah yang sangat panjang dengan fasih dan penuh semangat. 

iklan

Tidak berhenti sampai di situ. Penulis juga menunjukkan peran lain Syaikh Muhammad Kasyif al-Githa terkait pembelaan terhadap Palestina: 

1. Pada tanggal 5 Rajab 1357 H Syaikh Muhammad Kasyif al-Ghitha mengeluarkan fatwa bersejarah yang ditujukan kepada Jam’iyyah Difa’ ‘an Filisthin (Asosiasi Pembelaan Terhadap Palestina) yang bermarkas di Baghdad. Fatwa ini sangat revolusioner untuk zamannya: 

  • Ia menyebut pendudukan Palestina sebagai pendudukan yang memalukan dan tidak sah yang tidak akan pernah bisa dilegitimasi 
  • Ia menyatakan bahwa jihad untuk Palestina bukan hanya kewajiban atas bangsa Arab dan umat Islam, tetapi juga atas setiap manusia berdasarkan hati nurani dan akal sehat  
  • Ia merinci tingkatan-tingkatan partisipasi: bergabung langsung berperang, membantu dengan harta, membantu dengan lisan dan pena. Ia menjamin bahwa para mujahidin Palestina itu seperti para sahabat setia di perang Badar 
  • Fatwa ini ia akhiri dengan kalimat: “Demi Allah, seandainya usiaku belum melewati dasawarsa keenam, dan tulang-tulang yang telah rapuh ini terkena penyakit, aku adalah yang pertama menyambut seruan ini, dan aku akan pergi sendiri hari ini ke negeri suci itu, sebagaimana aku pernah pergi ke sana kemarin Sungguh sangat berat bagiku bahwa tidak tersisa dariku untuk membela (Palestina) kecuali kata-kata dan ungkapan-ungkapan ini yang sesak oleh erangan dan terbakar oleh rintihan. Dan di sisi Allah aku memperhitungkan semua itu, dan Dia-lah sebaik-baik pelindung kami dan sebaik-baik penolong” 

2. Kemudian Syaikh Muhammad Kasyif al-Ghitha mengeluarkan serangkaian seruan yang dimuat di surat-surat kabar Irak. Isinya sangat tegas dan berani: 

      • a memperingatkan bahwa jika Zionis menguasai Palestina, maka tidak menutup kemungkinan di masa depan Irak, Hijaz dan negara-negara Arab lainnya juga tidak aman (akan dikuasai)  
      • Ia mengidentifikasi ancaman Zionis sebagai bagian dari “perang Salib baru” dan mengingatkan orang-orang kafir harbi (yaitu yang memerangi umat Islam) telah bersatu melawan Islam 
      • Ia menyerukan mobilisasi: pengumpulan dana, perlengkapan militer, doa bersama di masjid-masjid dan di makam-makam orang saleh 
      • Ia menegaskan wajib bangkit untuk menjaga kehormatan dan negeri-negeri kaum muslimin dari musuh-musuh yang sangat kejam 

      3. Dialog konfrontatif dengan Duta Besar Inggris dan Amerika tahun 1954. Mungkin ini adalah bagian yang paling mengesankan dan menunjukkan keseriusan Syaikh Muhammad Kasyif al-Ghitha dalam membela Palestina. Dalam sebuah pertemuan dengan duta besar Inggris dan Amerika di Irak, ia berbicara tanpa basa basi.
      Kepada Duta Besar Amerika: • Ia menegaskan bahwa Palestina adalah jantung dunia Arab sejak ribuan tahun sebelum dan sesudah Islam, dan bahwa Zionis tidak memiliki hak apa pun atasnya sebagaimana telah dibuktikan oleh para ahli sejarah 

        • Ia menyatakan bahwa Israel tidak akan bisa berdiri tanpa dukungan Amerika dan pengkhianatan pemerintah Arab  
        • Ia mengingatkan bahwa tentara Arab sebenarnya sudah menang dan berhasil mengepung Tel Aviv, namun kemudian “ditusuk dari belakang” melalui pemerintah Arab sendiri 
        • Ia meminta duta besar untuk mengembalikan pengungsi Palestina ke tanah air mereka, bukan memberi mereka tunjangan pengungsi. Ia menegaskan: “Tidak ada kehormatan dan tidak ada terima kasih; kembalikan mereka ke tanah air mereka… Dan semua yang kalian bayarkan, seberapa pun jumlahnya, nilainya tidak lebih dari satu desa dari desa-desa Palestina yang kalian rampas dari mereka, apalagi kota seperti Haifa, Jaffa, Akka, dan sejenisnya” 
        • Ia menegaskan: “Kaum muslimin Arab Palestina adalah orang-orang mulia yang tidak menerima kehinaan, dan kematian lebih baik bagi mereka daripada bantuan pengungsian ini” 

        Ketika duta besar Amerika tidak sanggup menanggapi ketegasan ini, ia berkata, “Tidak… tidak… semua ini tidak berlaku ya Syaikh,” lalu ia bangkit dan pergi. Ini adalah momen yang luar biasa, seorang ulama besar Syi‘ah membuat diplomat adidaya tidak berdaya menghadapinya
        Demikian sekelumit peran Syaikh Muhammad Kasyif al-Ghitha dalam membela Palestina. Sebenarnya ada para marja’ Syi‘ah lainnya yang disinggung dalam buku itu kaitannya dengan perjuangan Palestina: Ayatullah Sayyid Muhsin al-Thabathaba’i al-Hakim, Sayyid Muhammad Baqir al-Shadr, Imam Khomeini, Syaikh Muhammad Mahdi Syamsuddin hingga para marja’ masa setelahnya seperti Ayatullah Sayyid ‘Ali Khamenei, Ayatullah Sayyid ‘Ali al-Sistani, Ayatullah Muhammad al-Fadhil al-Lankarani, Ayatullah Sayyid Muhammad Sa‘id al-Hakim, Ayatullah Yusuf al-Shana’i, Ayatullah Muhammad Taqi Bahjat, Ayatullah Musa al-Ardibili dan Ayatullah Jawad al-Tabrizi. 
        Oh ya, sebelum membahas peran dan fatwa para ulama Syi‘ah dalam masalah Palestina, di bab sebelumnya penulis menyampaikan fakta tentang perjuangan politik marja’ Syi‘ah, misalnya bagaimana Syaikh Muhammad Taqi al-Syirazi yang tinggal di Karbala menjadi otak dan penggerak utama Revolusi Irak 1920 melawan penjajahan Inggris. Dalam posisinya sebagai marja’ beliau berperan dalam: 

        • Meletakkan garis-garis besar strategi revolusi • Menulis surat terbuka kepada kaum muslimin di Baghdad, Kazhimiyah, Najaf, dan Karbala untuk bersatu 
        • Mengkoordinasikan para kepala suku dari berbagai etnis dan kelompok 
        • Mempersiapkan perlawanan bersenjata yang terorganisir 

        Artinya, pembelaan para ulama marja’ Syi‘ah terhadap Palestina melampaui keputusan politik semata, ia adalah kelanjutan dari tradisi panjang perlawanan terhadap imperialisme dan penjajahan.  
        Fatwa dan seruan para ulama Syi‘ah yang tercatat dalam buku itu menjadi argumen bahwa posisi Iran dalam masalah Palestina hari ini bukanlah kebijakan negara yang lahir tiba-tiba dari kalkulasi geopolitik, ia adalah ekspresi dari spirit teologis-ideologis dan institusi otoritas kegamaan yang sudah berakar kuat dalam sejarah Syi‘ah, di samping tentunya didasarkan pada nilai-nilai universal kemanusiaan. 

        Semoga catatan ini bermanfaat dan diluaskan berkahnya. Teriring dukungan dan doa kita untuk rakyat Palestina dan kaum mustadh‘afin di berbagai tempat lainnya. Shalawat. 

        Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammad wa Aali Sayyidina Muhammad wa ‘ajjil farajahum… 

        Muhammad Bhagas
        + posts
        • Anggota Departemen Perkhidmatan dan Seni IJABI.
        • Direktur Kajian Kang Jalal.
        Iklan

        Tinggalkan Balasan

        Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

        Berkaitan

        Back to top button