Uncategorize

MEMAHAMI PEMIKIRAN ‘ASYURA IMAM KHAMENEI: TELAAH ANALITIS ATAS BUKU ‘ASHURA’ IN THE THOUGHT OF IMAM KHAMENEI

Penulis : Dr. Dimitri Mahayana (Sekretaris Dewan Syura IJABI)

Buku ‘Ashura’ in the Thought of Imam Khamenei (al-Buraq Publications, Dearborn, Michigan, 2021; ISBN 978-1-956276-04-6) adalah kumpulan ceramah Sayyid Ali Khamenei yang disusun oleh Mu’assasat Qadr al-Wilaya al-Thaqafiyya dan diterjemahkan oleh tim al-Buraq. Isinya dibagi menjadi tiga bab: karakter Imam al-Husain dan ‘Asyura, pelajaran (lessons) ‘Asyura, dan perenungan moral (morals, ‘ibar) ‘Asyura. Artikel ini tidak menyajikan ringkasan pasal demi pasal. Artikel ini membaca buku tersebut sebagai satu argumen yang utuh, mencari benang merahnya, menelusuri hubungan antarbagiannya, lalu menguji apakah benang merah itu sahih berdasarkan bukti internal buku itu sendiri.

Abstrak
Tesis sentral buku ini dapat dirumuskan ringkas. Kebangkitan Imam al-Husain bukan demi kekuasaan dan bukan demi kesyahidan. Keduanya adalah akibat. Tujuannya adalah satu kewajiban: mengembalikan masyarakat Islam yang menyimpang ke jalan yang benar. Dari sini buku bergerak ke pertanyaan yang lebih dalam. Mengapa masyarakat yang dibangun Nabi bisa runtuh dalam lima puluh tahun? Jawabannya terletak pada perilaku elite (khawass) dan kelengahan massa (awamm). Faktor penentunya adalah basirah, yaitu pandangan batin, serta kemampuan elite kebenaran menolak godaan dunia pada waktu yang tepat. Karena pola ini berulang, maka “setiap hari adalah ‘Asyura dan setiap tanah adalah Karbala”. Artikel ini merumuskan benang merah tersebut, menguji konsistensinya, menguji batas keberlakuannya, dan menilai kekuatan serta keterbatasannya.

BAB 1. METODOLOGI: CARA BUKU INI MEMBACA ‘ASYURA

Sebelum menelusuri isi, kita perlu memahami metode buku ini. Pendekatan yang paling tepat untuk memahami sebuah karya adalah dengan metode yang diajarkan karya itu sendiri. Buku ini bukan kumpulan ratapan. Ia adalah kerja analitis. Khamenei berkali-kali mengajak pembaca berpikir, bukan hanya menangis. Tiga ciri metodologis menonjol dalam buku ini.

Bagian 1.1. Membedakan Pelajaran (Durus) dari Moral (‘Ibar)

Khamenei membedakan dua cara membaca ‘Asyura. Cara pertama menarik pelajaran (durus): keberanian, pengorbanan, kesetiaan. Cara kedua merenungkan moral (‘ibar): bagaimana sebuah masyarakat bisa runtuh. Ia menegaskan perbedaan ini dengan tajam.

“Pelajaran mengajarkan apa yang harus dilakukan, sedangkan moral menunjukkan bagaimana menyikapi hal yang telah terjadi di masa lalu dan mungkin terjadi di masa depan.”¹

Bagi Khamenei, lapis kedua lebih utama. Pelajaran bersifat normatif dan menggerakkan emosi. Moral bersifat kausal dan diagnostik. Moral menuntut analisis sejarah, bukan sekadar penghayatan. Karena itu ia menyatakan dengan terus terang.

“Moral Asyura lebih penting daripada pelajaran Asyura.”²

Penegasan ini menentukan arah seluruh buku. Bab ketiga, yang membahas moral, adalah jantung karya ini. Artikel ini mengikuti penilaian tersebut. Kita akan memberi bobot terbesar pada analisis kausal, yaitu pada pertanyaan mengapa dan bagaimana, bukan hanya pada pertanyaan apa.

Bagian 1.2. Standar Bukti Lintas Mazhab

Ciri metodologis kedua adalah pemilihan sumber. Ketika mendiagnosis kemunduran masyarakat awal Islam, Khamenei membatasi diri secara ketat. Ia tidak memakai sumber Syiah. Ia memakai sejarawan Sunni dan bahkan menyaring sumber Sunni yang diragukan.

“Segala yang akan saya kisahkan mulai dari sini berasal dari Ibnu al-Atsir. Saya akan menghindari sumber-sumber Syiah, bahkan menghindari penulis Sunni yang diragukan oleh kalangan Sunni sendiri, seperti Ibnu Qutaibah al-Dinawari.”³

Pilihan ini penting secara metodologis. Khamenei sedang membangun argumen dari bukti yang diterima pihak lawan. Diagnosis yang bersandar pada Ibnu al-Atsir tidak mudah ditolak dengan dalih bias mazhab. Dalam istilah ilmu sosial modern, ini adalah penggunaan sumber yang sah lintas komunitas. Standar bukti seperti ini menaikkan daya yakin sebuah klaim historis. Inilah salah satu sisi paling ilmiah dari buku ini.

Bagian 1.3. Sejarah sebagai Model yang Dapat Diuji

Ciri ketiga adalah cara memperlakukan sejarah. Khamenei membaca masa lalu sebagai model. Ia menolak masuk ke perdebatan teologis dan memilih analisis.

“Saya tidak ingin masuk ke perdebatan teologis di sini. Saya hanya ingin menganalisis sejarah, dan Anda pun seharusnya menganalisisnya.”⁴

Lebih jauh, ia menarik masa lalu ke masa kini. Sejarah, baginya, bukan tentang orang lain. Sejarah adalah cermin bagi pembaca.

“Sejarah berarti Anda dan saya; ia berarti mereka yang hadir hari ini. Jika kita yang menyajikan dan menjelaskan sejarah, hendaklah masing-masing kita menimbang posisinya dalam kisah ini.”

Maka ia mendesak generasi muda agar “Saya selalu mengatakan kepada para pemuda serta mahasiswa universitas dan pelajar seminari untuk menanggapi sejarah dengan serius dan merenungkannya.”⁶ Pendekatan ini bersifat komparatif. Masa lalu dan masa kini dibandingkan untuk menguji pola yang sama. Dengan begitu, klaim buku ini dapat dinilai, bukan hanya diimani. Tiga ciri di atas, yaitu prioritas pada analisis kausal, standar bukti lintas mazhab, dan sejarah sebagai model yang dapat diuji, akan kita pakai sebagai alat baca pada bab-bab berikut.

BAB 2. SOSOK AL-HUSAIN: MANUSIA YANG MENGUASAI DIRI DAN MENGHADAPI SATU DUNIA

Buku ini memulai dari sosok, bukan dari peristiwa. Alasannya logis. Sebelum memahami mengapa al-Husain bangkit, pembaca perlu memahami siapa al-Husain. Karakternya menjadi syarat bagi pemahaman atas keputusannya.

Bagian 2.1. Daya Tarik dan Kedudukan

Khamenei membuka dengan dimensi emosional. Nama al-Husain menarik hati lintas batas mazhab.

“Pada tataran emosional, sang Imam memiliki semacam gaya tarik yang menarik kaum Muslim. Memang ada sebagian Muslim yang tidak merasakan gaya tarik ini, tetapi mereka terhalang dari pengenalan terhadap Imam al-Husain.”⁷

Daya tarik ini bukan sekadar sentimen. Ia menjadi pintu masuk menuju pemahaman. Orang tertarik lebih dahulu, lalu didorong untuk memahami. Di sinilah dimensi emosional bertaut dengan dimensi analitis yang ditekankan pada Bab 1.

Bagian 2.2. Penguasaan Diri sebagai Syarat Keteladanan

Inti karakter al-Husain adalah penguasaan diri. Khamenei mengajak pembaca memilih teladan yang tepat.

“Orang yang paling cerdas hanya memilih para wali Allah sebagai panutan mereka. Salah satu ciri terpenting mereka adalah bahwa mereka berada pada tingkat keberanian, kekuatan, dan keberdayaan yang menjadikan mereka tuan, bukan budak, atas diri mereka sendiri.”⁸

Ciri utama teladan sejati adalah menjadi tuan atas dirinya. Sebuah kisah lama dipakai untuk menegaskannya.

“Jangan marah, sebab engkau adalah budak hasrat dan amarahmu. Adapun aku, aku menundukkan hasrat dan amarahku hingga keduanya menjadi budakku.”

Penguasaan diri ini bukan urusan pribadi semata. Ia menjadi syarat untuk menyelamatkan orang lain. Hanya orang yang merdeka dari hawa nafsunya yang sanggup berkorban. Catatan ini penting. Pada Bab 3 kita akan melihat bahwa penyelamat haruslah orang yang tanpa pamrih. Pada Bab 4 kita akan melihat bahwa cinta dunia justru menggelincirkan para elite. Penguasaan diri al-Husain adalah lawan langsung dari penyakit itu. Lebih jauh, kedudukannya melampaui manusia.

Cahaya Imam al-Husain bersinar bukan hanya atas kita yang hina dari tanah liat, tetapi juga atas seluruh alam wujud, atas ruh para wali Allah dan orang-orang agung, atas para malaikat yang didekatkan kepada Allah.”¹

Bagian 2.3. Pertempuran Melawan Satu Dunia

Pada masa al-Husain, ancaman terbesar bukanlah pedang, melainkan distorsi.

“Distorsi, pada masa itu, adalah ancaman moral terbesar bagi Islam. Ia bagaikan banjir kerusakan dan kekotoran yang menyapu lalu mengendap di benak kaum Muslim.”¹¹

Menghadapi distorsi menuntut inisiatif. Khamenei menarik prinsip yang berlaku lintas zaman.

“Cara terbaik menggagalkan serangan musuh dan merusak persiapannya adalah dengan menyerang lebih dulu.”¹²

Musuh itu kemudian ia namai secara terbuka. “Musuh itu adalah arogansi Barat, dengan budayanya yang jahil, hina, dan otoriter. Kini ia menghadapi tantangan serius dari Islam yang sejati, bukan Islam propaganda.”¹³ Maka pertempuran Karbala harus dibaca pada dimensi ruhaninya, bukan pada dimensi materialnya.

“Pertempuran al-Husain yang sebenarnya adalah melawan satu dunia penyimpangan dan kegelapan; inilah yang penting. Pihak yang menentangnya memiliki segalanya: uang, emas, kekuasaan, para penulis, penyair, perawi hadis, dan para juru bicara.”¹⁴

Karena dimensi yang menentukan adalah ruhani, maka jumlah pendukung tidak relevan.

“Seandainya tujuh puluh dua sahabatnya itu berjumlah tujuh puluh dua ribu, hal itu pun tidak akan mengurangi keagungannya. Keagungan Imam al-Husain terletak pada keteguhan dan keyakinannya saat menghadapi dunia yang menentangnya dan merampas haknya.”¹⁵

Prinsip ruhani mengatasi material ini akan menjadi salah satu tiang benang merah. Kita akan mengujinya pada Bab 5. Prinsip inilah yang membuat kesyahidan tetap dihitung sebagai keberhasilan.

Bagian 2.4. Karbala yang Membentang Sepanjang Keabadian

Bab tentang karakter ditutup dengan sebuah jembatan menuju tesis pokok. Karbala tidak terkurung ruang dan waktu.

“Karbala membentang sepanjang keabadian. Ia tidak terbatas pada ruang geografis seluas beberapa ratus meter. Sejarah sedang berulang hari ini, ketika satu dunia kezaliman dan arogansi berdiri menghadang Republik Islam.”¹⁶

Gagasan ini menggemakan rumusan pembuka buku, bahwa “Kebangkitan Husaini bukanlah peristiwa sesaat yang dibatasi ruang atau waktu, bukan pula gerakan seperti gerakan material lain yang dampaknya terbatas. Ia adalah pelajaran ilahi dan sejarah dengan banyak babak.”¹⁷ Inilah aksioma yang menyatukan seluruh buku: pola Karbala berulang. Aksioma ini akan kita uji pada Bab 5.

BAB 3. MENGAPA AL-HUSAIN BANGKIT: LOGIKA KEWAJIBAN

Bab kedua buku adalah inti argumen normatifnya. Di sinilah Khamenei mengajukan pertanyaan yang ia sebut sebagai pelajaran terpenting.

Bagian 3.1. Menolak Dua Jawaban yang Populer

Pertanyaan itu sederhana namun tajam. “Mengapa engkau tidak pergi ke tempat yang tidak ada urusannya denganmu dan dengan Yazid, tempat engkau bisa hidup, beribadah, dan berdakwah?”¹⁸ Khamenei lalu menolak dua jawaban yang lazim. Jawaban pertama: al-Husain bangkit demi kekuasaan. Ini tidak sesuai dengan jalan yang ia tempuh.

“Orang yang bangkit demi kekuasaan akan terus menempuh jalan itu selama ia melihat peluang mencapai tujuannya. Jika tidak ada peluang yang masuk akal, kewajiban orang itu adalah mundur.”¹⁹

Jawaban kedua: al-Husain bangkit untuk mencari syahid. Ini pun ditolak karena tidak berdasar dalam syariat.

“Syahid yang kita kenal dalam syariat suci adalah gerak menuju kematian dan penerimaan atasnya demi tujuan yang wajib atau sangat mungkin tercapai. Namun, berbuat dengan tujuan agar terbunuh adalah tidak dapat diterima.”²⁰

Kekeliruan kedua jawaban itu, menurut Khamenei, terletak pada pencampuran sebab dan akibat.

“Mereka yang mengatakan tujuannya adalah kekuasaan, atau tujuannya adalah syahid, telah mencampuradukkan sebab dengan akibat. Keduanya adalah akibat, bukan tujuan itu sendiri.”²¹

Bagian 3.2. Kewajiban yang Belum Pernah Ditunaikan

Jika bukan kekuasaan dan bukan syahid, lalu apa tujuannya? Khamenei merumuskan sebuah kewajiban yang baru dalam sejarah.

“Tujuan manusia agung ini adalah menunaikan sebuah kewajiban agama yang besar, yang belum pernah ditunaikan sebelumnya, tidak oleh Nabi, tidak pula oleh Imam Ali dan Imam al-Hasan.”²²

Kewajiban itu adalah mengembalikan masyarakat yang menyimpang. Bobotnya tidak di bawah pemerintahan Islam.

“Hukum tentang mengembalikan masyarakat yang menyimpang ke jalan yang benar tidaklah kurang penting dibanding pemerintahan Islam itu sendiri.”²³

Alasannya, “hukum ini menjamin hidupnya kembali Islam, sekalipun Islam mungkin telah mati atau hampir mati.”²⁴ Tingkat penyimpangan yang membenarkan kewajiban ini sangat ekstrem.

Jika ini terjadi, Al-Qur’an menjadi terdistorsi, amal baik menjadi amal buruk, yang makruf menjadi yang mungkar, dan Islam menjadi terbalik.”²⁵

Klaim ini tidak dibiarkan tanpa bukti. Sesuai metode pada Bab 1, Khamenei menyandarkannya pada ucapan al-Husain sendiri. Motifnya adalah perbaikan.

“Aku tidak bangkit karena sombong atau angkuh, bukan pula karena hendak berbuat kerusakan atau kezaliman. Aku bangkit semata-mata mencari perbaikan dalam umat kakekku.”²⁶

Standar imam sejati pun ia tegaskan melalui surat al-Husain kepada penduduk Kufah.

“Demi Allah, Imam yang sejati hanyalah dia yang menerapkan Al-Qur’an, menegakkan keadilan, beriman kepada kebenaran, dan menahan dirinya demi Allah.”²⁷

Dasar normatifnya adalah hadis Nabi tentang kewajiban mengubah kemungkaran penguasa.

“Sesungguhnya Allah akan menghimpun bersama penguasa tiran siapa saja yang melihatnya melanggar batas-batas Allah, namun ia tidak mengubahnya melalui ucapan atau tindakan.”²⁸

Bagian 3.3. Syarat Keadaan yang Tepat dan Premis Teologisnya

Kewajiban besar ini tidak berlaku setiap saat. Ia menuntut dua hal: penyimpangan yang ekstrem dan keadaan yang memungkinkan seruan terdengar. Di sinilah Khamenei meletakkan premis teologis yang menopang seluruh argumennya.

“Allah tidak mewajibkan hal yang sia-sia. Keadaan yang tepat tidak berarti tiadanya bahaya; intinya, seseorang harus tahu bahwa tindakannya akan membuahkan hasil yang nyata.”²⁹

Perhatikan dengan saksama. Keadaan yang tepat tidak berarti aman. Kewajiban semacam ini, menurut Khamenei, selalu berbahaya.

“Ini bukan jenis kewajiban yang dapat ditangguhkan karena bahaya. Kewajiban semacam ini selalu berbahaya. Bagaimana mungkin seseorang bangkit melawan pemerintahan tiran tanpa berada dalam bahaya?”³

Justru karena bahaya itu melekat, maka hasil tidak menentukan keabsahan. Al-Husain pasrah pada kedua akibat.

“Demi Allah, aku berharap apa pun yang Allah tetapkan bagi kami adalah kebaikan, baik kami terbunuh maupun menang.”³¹

Maka kesimpulan logisnya tegas.

“Bangkit adalah kewajiban, baik ia berujung pada syahid maupun pemerintahan. Kedua akibat itu punya kelebihannya masing-masing, tetapi bertindak adalah keharusan dalam kedua keadaan.”³²

Inilah simpul terpenting Bab 3. Premis bahwa Allah tidak mewajibkan hal yang sia-sia menjadi kunci. Kita akan menguji premis ini pada Bab 5, sebab di sinilah kekuatan sekaligus titik rawan seluruh argumen.

Bagian 3.4. Membedakan Kewajiban Utama dan Menentukan Musuh

Pelajaran besar lainnya adalah kemampuan memilah. Al-Husain memisahkan kewajiban utama dari kewajiban sekunder.

“Imam al-Husain, pada titik genting sejarah Islam, memisahkan kewajiban utamanya dari kewajiban-kewajiban lainnya, lalu menunaikan kewajiban utama itu. Inilah kelemahan yang selalu diderita kaum Muslim.”³³

Kemampuan memilah ini menuntut kemampuan mengenali musuh. Salah sasaran berakibat fatal.

“Jika kita keliru menentukan musuh yang menyerang Islam, kita akan menderita kerugian besar yang tak terhindarkan, dan kehilangan banyak peluang.”³⁴

Pada zaman ini, Khamenei menamai musuh utama. “Serangan terbesar dan bahaya yang terus-menerus datang dari imperialisme global serta kekuatan kekufuran dan arogansi. Kelemahan internal membuka jalan bagi musuh, tetapi kelemahan itu pada mulanya ditanamkan oleh musuh.”³⁵ Medan perjuangannya pun ia identifikasi. Ia bukan hanya militer.

“Medan mereka bukan medan militer, melainkan medan media dan budaya; kita harus memberi perhatian pada hal ini.”³⁶

Penekanan pada medan media dan budaya ini bertaut langsung dengan Bab 4. Distorsi yang menghancurkan masyarakat awal Islam pada dasarnya adalah kerja media dan budaya pada zamannya.

Bagian 3.5. Istiqamah: Menolak Dalih yang Tampak Sah

Bab ini ditutup dengan tema keteguhan. Keteguhan tersulit bukan menanggung derita, melainkan menolak dalih yang seolah dibenarkan akal dan syariat.

“Istiqamah tidak selalu berarti menanggung kesulitan, sebab menanggung kesulitan jauh lebih mudah dibanding menanggung (secara pasif atau mendiamkan, (tambahan penulis artikel)) perkara yang tampak berlawanan dengan syariat, kebiasaan umum, dan akal sehat.”³⁷

Filosofi pengorbanan al-Husain pun dirangkum dalam satu kalimat ziarah, yaitu bahwa ia berkorban “dan ia mengorbankan jiwanya demi Engkau untuk menyelamatkan hamba-hamba-Mu dari kebodohan dan kebingungan kesesatan.”³⁸ Pengorbanan yang lahir dari penguasaan diri pada Bab 2 kini menemukan tujuannya: menyelamatkan manusia dari kebodohan dan kesesatan.

BAB 4. BAGAIMANA MASYARAKAT RUNTUH: DIAGNOSIS MORAL

Inilah jantung buku. Sesuai prioritas pada Bab 1, di sinilah Khamenei beralih dari pertanyaan apa ke pertanyaan bagaimana. Pertanyaannya menggugah. Bagaimana masyarakat yang dibangun Nabi bisa membunuh cucu Nabi hanya lima puluh tahun kemudian?

Sebagian orang masih hidup pada masa Nabi, tetapi mereka bersekongkol membunuh cucu Nabi dengan kematian yang paling mengerikan. Adakah contoh kemurtadan dan penyimpangan yang lebih buruk dari ini?”³

Pertanyaan ini bukan sekadar sejarah. Ia adalah peringatan bagi setiap masyarakat Islam.

“Jika masyarakat merenungkan keadaan, ia tidak akan mengalami nasib serupa; tetapi jika kita menjadi lengah dan tidak waspada, kita bisa mengalami nasib yang sama. Inilah moral Asyura.”⁴

Bagian 4.1. Empat Pilar dan Pengosongan dari Dalam

Untuk mendiagnosis keruntuhan, Khamenei lebih dulu menggambarkan tatanan yang sehat. Nabi mendirikannya di atas empat pilar.

“Nabi mendirikan tatanan politik di atas berbagai pilar. Empat yang terpenting adalah: penguasaan ilmu agama yang jelas; keadilan mutlak yang bebas dari pilih kasih; ibadah murni kepada Allah yang bebas dari syirik; dan cinta yang melimpah serta emosi yang hangat.⁴¹”⁴²

Salah satu pilar, yaitu keadilan, ia luruskan maknanya agar tidak disalahpahami.

“Keadilan tidak berarti kesamarataan. Kesamarataan kadang justru melahirkan ketidakadilan, sedangkan keadilan berarti menempatkan segala sesuatu pada tempatnya dan memberikan setiap orang haknya.”⁴³

Keruntuhan terjadi ketika keempat pilar dikosongkan dari dalam, sementara bentuk luarnya bertahan. Inilah diagnosis utama buku ini.

“Selama lima puluh tahun itu masyarakat Islam dikosongkan dari hakikat Islam dan nilai-nilainya. Ia adalah masyarakat Islam di permukaan, tetapi hampa di dalam. Di sinilah letak bahayanya.”⁴⁴

Paradoksnya tajam. Masyarakat yang sama pernah mendengar Nabi bersabda bahwa “Al-Hasan dan al-Husain adalah penghulu para pemuda surga. Beliau menyabdakan ini meski keduanya masih kanak-kanak.”⁴⁵ Namun masyarakat itu pula yang kemudian membunuh sang cucu. Bentuk bertahan, isi menguap.

Bagian 4.2. Dua Sebab Penyimpangan dan Terbaliknya Standar

Apa yang membuat isi menguap? Khamenei merumuskan moral pertama Asyura sebagai sebuah pertanyaan kausal.

“Moral pertama Asyura adalah bahwa Imam al-Husain mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan masyarakat Islam lima puluh tahun setelah Nabi wafat. Keadaan apa yang membuatnya yakin Islam tidak dapat diselamatkan kecuali melalui pengorbanan?”⁴

Jawabannya ia ambil dari Al-Qur’an. Sesuai metode pada Bab 1, Al-Qur’an menjadi kunci tafsir. Sebab penyimpangan ada dua.

“Faktor mendasar penyimpangan ini ada dua. Faktor pertama adalah melalaikan zikir kepada Allah yang wujudnya adalah salat. Faktor kedua adalah menuruti hawa nafsu yang rendah. Semua ini dapat diringkas sebagai cinta dunia.”⁴⁷

Kedua sebab itu berujung pada terbaliknya tolok ukur masyarakat. Ketika standar terbalik, yang terbaik tersingkir dan yang terburuk berkuasa.

“Jika standar menjadi terbalik, dan yang memegang kendali adalah mereka yang paling mencintai dunia serta mengabaikan kejujuran dan amanah, maka hasilnya adalah berkuasanya orang seperti Umar bin Sa’d dan Ubaidullah bin Ziyad, serta terbunuhnya orang seperti Imam al-Husain.”⁴⁸

Perhatikan keterkaitannya dengan Bab 2. Cinta dunia adalah lawan langsung dari penguasaan diri al-Husain. Penyakit masyarakat adalah kebalikan dari kesehatan sang teladan.

Bagian 4.3. Elite (Khawass) dan Tergelincirnya Mereka oleh Dunia

Di sinilah analisis Khamenei paling tajam dan paling empiris. Ia membedakan akibat penyimpangan elite dan massa

“Ada perbedaan antara elite dan massa. Jika elite menyimpang, mereka termasuk golongan yang dimurkai Allah; sedangkan jika massa menyimpang, mereka termasuk golongan yang tersesat.”⁴⁹

Untuk membuktikan tergelincirnya elite, Khamenei kini menerapkan standar bukti dari Bab 1. Ia mengisahkan contoh-contoh dari Ibnu al-Atsir. Gubernur Abu Musa al-Asy’ari, misalnya, membawa harta yang sangat besar.

“Ketika ia berangkat, ia mengeluarkan harta bendanya dalam muatan yang memerlukan empat puluh ekor bagal untuk mengangkutnya, bahkan saat ia berangkat berjihad.”⁵⁰

Standar pun terbalik hingga orang yang disebut fasik oleh Al-Qur’an menjadi gubernur, sampai Abdullah bin Mas’ud bertanya, “Orang yang oleh Al-Qur’an disebut fasik justru menjadi gubernur. Ketika Abdullah bin Mas’ud melihatnya, ia berkata, “Apakah engkau yang tiba-tiba menjadi saleh, ataukah orang-orang yang menjadi rusak?””⁵¹ Khamenei lalu mendefinisikan inti penyakitnya, yaitu keduniawian.

“Cinta dunia adalah ketika seseorang mengejar keuntungan dirinya, atau memikirkan pengumpulan harta untuk dirinya dengan mengorbankan orang lain. Jika kita lengah, masyarakat perlahan kehilangan nilai-nilainya dan menjadi cangkang kosong.”⁵²

Puncak penyakit itu tampak pada Umar bin Sa’d, yang menukar Imam al-Husain dengan kekuasaan atas Rayy.

“Syarat untuk mengangkat Umar bin Sa’d menjadi gubernur adalah ia memerangi Imam al-Husain. Seandainya seluruh dunia ditawarkan kepada seseorang, ia tidak boleh sampai bermuka masam terhadap Imam al-Husain.”⁵³

Khamenei kemudian melacak akar penyimpangan ini hingga ke titik awalnya. Penyimpangan tidak datang sekaligus. Ia mulai dari hal kecil.

“Tanda awal masalah muncul ketika mereka berkata orang yang lebih dahulu masuk Islam harus mendapat keistimewaan, lalu diberi keistimewaan finansial dari kas negara. Inilah langkah keliru pertama. Semua kecenderungan menyimpang bermula dari hal kecil, lalu memburuk dan membesar.”⁵

Bagian 4.4. Massa (Awamm), Tipologi yang Melampaui Kelas, dan Basirah

Mengapa perilaku elite begitu menentukan? Karena massa mengikuti mereka.

“Massa selalu mengikuti dan meniru elite. Karena itu, kesalahan terburuk seorang tokoh terkenal adalah menyimpang, sebab penyimpangannya mengakibatkan penyimpangan banyak orang.”⁵⁵

Dari sini Khamenei membangun tipologi inti bukunya. Setiap masyarakat terbagi dua.

“Orang akan terbagi menjadi dua kategori. Kategori pertama bertindak berdasarkan pemikiran, pemahaman, kesadaran, dan tekad; inilah elite. Kategori lainnya tidak berhenti (untuk berfikir, memahami, dengan sadar dan bertekad ,- (penjelasan penulis artikel ini)) untuk menentukan jalan yang benar; inilah massa.”⁵⁶

Tipologi ini penting karena bukan tipologi kelas. Elite dan massa bukan ditentukan gelar atau kekayaan, melainkan oleh kesadaran. Sebuah contoh kontemporer ia berikan.

“Seorang sopir truk justru termasuk golongan elite, sementara ulama terhormat dan imam salat itu termasuk golongan massa. Meski hanya seorang sopir, ia mengetahui hakikat berbagai hal, sedangkan sang ulama justru lengah.”⁵⁷

Elite sendiri terbagi dua: elite kebenaran dan elite kebatilan.

“Elite terbagi menjadi dua kelompok: elite kebenaran dan elite kebatilan. Apa yang dapat diharapkan dari elite yang membela kebatilan? Hanya persekongkolan melawan kebenaran dan rakyat.”⁵⁸

Karena tipologi ini soal kesadaran, maka tanggung jawab bersifat universal. Setiap orang diminta menilai dirinya. “Waspadalah menjadi bagian dari massa. Setiap perbuatan yang kita lakukan harus lahir dari basirah. Jika Anda bertindak tanpa basirah, Anda termasuk golongan massa.”⁵⁹ Faktor pembeda terakhir adalah basirah. Inilah konsep yang menghubungkan Bab 3 dan Bab 4.

“Basirah, yaitu pandangan batin, adalah hal terpenting saat membela agama. Mereka yang tidak memiliki basirah cepat tertipu dan terpikat ke pihak kebatilan tanpa menyadarinya.”⁶⁰

Tanpa basirah, kesalehan tidak menjamin kebenaran. Pendukung Ibnu Ziyad pun banyak yang saleh.

“Sebagian orang yang mendukung Ibnu Ziyad bukanlah orang fasik, bukan pula orang yang tidak bermoral; mereka hanya kehilangan basirah.”⁶¹

Maka kekosongan basirah inilah yang membuat massa percaya pada kebohongan terbesar.

“Mereka menyebarkan gagasan bahwa cucu Nabi telah memberontak terhadap imam yang adil. Imam yang adil itu tak lain adalah Yazid bin Mu’awiyah, dan orang-orang pun memercayai mereka!”⁶²

Kesalahan mencampuradukkan kebenaran dan kebatilan, menurut Khamenei, tidak terampuni.

“Sebagian orang dianggap suci, saleh, dan zuhud, tetapi mereka mencampuradukkan kebenaran dan kebatilan. Sebagian kesalahan tidak dapat diampuni, dan salah satunya adalah mencampuradukkan kebenaran dan kebatilan.”⁶³

Bagian 4.5. Wilayah sebagai Pemerintahan Cinta

Diagnosis moral ini memiliki sisi politik-teologis. Khamenei membedakan dua model kekuasaan. Wilayah adalah pemerintahan cinta, monarki adalah penindasan.

“Kekhalifahan dan wilayah berarti pemerintahan yang disertai cinta dan keterhubungan dengan rakyat; tujuannya bukan mendominasi. Adapun seorang raja adalah penguasa yang menindas dan berbuat sekehendaknya.”⁶⁴

Ketika nilai dikosongkan, otoritas keilmuan pun jatuh ke tangan yang tidak tepat, sampai-sampai “Dalam masyarakat itu, orang yang mengajari umat adalah Ka’b al-Ahbar, seorang Yahudi yang tidak pernah hidup di bawah pemerintahan Nabi. Standar telah hilang, dan nilai-nilai diruntuhkan.”⁶⁵ Maka sumber kerusakan harus dilacak hingga benih pertamanya, sebagaimana dalam ziarah Asyura dinyatakan,

“Dalam ziarah Asyura Anda mengucapkan, “Ya Allah, laknatlah tiran pertama yang merampas hak-hak Muhammad dan keluarga Muhammad.” Itulah kebenarannya.”⁶⁶

Dengan demikian Bab 4 menutup diagnosisnya. Kerusakan bermula dari hal kecil, menjalar melalui elite yang cinta dunia, dan menetap karena massa yang kehilangan basirah. Moral akhirnya bersifat praktis.

“Moral Asyura adalah jangan membiarkan ruh Revolusi dan putra-putra Revolusi terisolasi di tengah masyarakat.”⁶⁷

BAB 5. BENANG MERAH DAN PENGUJIANNYA: ‘ASYURA SEBAGAI HUKUM SEJARAH

Bagian 5.1. Merumuskan Benang Merah

Empat bab di atas dapat dirangkai menjadi satu benang merah. Bab 2 menunjukkan siapa al-Husain: manusia yang menguasai diri dan menghadapi satu dunia kegelapan. Bab 3 menjelaskan mengapa ia bangkit: untuk menunaikan kewajiban mengembalikan masyarakat, dengan kekuasaan dan syahid hanya sebagai akibat. Bab 4 menjelaskan bagaimana masyarakat bisa sampai pada keadaan itu: melalui pengosongan dari dalam, tergelincirnya elite oleh dunia, dan hilangnya basirah pada massa. Benang merahnya adalah ini. ‘Asyura adalah hukum sejarah. Ia menggambarkan satu pola yang berulang: ketika elite kebenaran tunduk pada dunia dan massa kehilangan basirah, masyarakat runtuh dari dalam, dan darah orang seperti al-Husain tertumpah. Penjaganya juga satu: basirah dan keberanian bertindak pada waktu yang tepat. Karena polanya tetap, maka berlaku aksioma bahwa setiap hari adalah ‘Asyura dan setiap tanah adalah Karbala.

“Selama masih ada kebenaran dan kebatilan di setiap masa, akan selalu ada seorang Husain dan seorang Yazid. Karena itu umat harus cukup bijak untuk membuat pilihan yang benar.”⁶

Bagian 5.2. Uji Konsistensi Internal

Benang merah ini harus diuji, bukan hanya disajikan. Uji pertama adalah konsistensi internal. Apakah klaim-klaim buku saling menopang, ataukah saling bertabrakan?

Klaim bahwa kekuasaan dan syahid hanyalah akibat terbukti konsisten dengan bukti yang dipakai buku. Khamenei tidak menyandarkannya pada penafsiran bebas, melainkan pada ucapan al-Husain tentang perbaikan. Bukti internal mendukung klaim. Pada titik ini argumen kukuh.

Uji kedua menyangkut sebuah ketegangan yang tampak. Di satu sisi buku menyatakan massa mengikuti elite, sehingga tanggung jawab seolah terpusat pada elite. Di sisi lain buku menuntut setiap individu menilai dirinya sendiri. Apakah ini kontradiksi? Tidak. Buku menyelesaikannya melalui tipologi yang melampaui kelas. Karena elite dan massa ditentukan oleh basirah, bukan oleh gelar, maka setiap orang berpeluang menjadi elite. Tanggung jawab pun menjadi universal. Khamenei menegaskannya dengan keras.

“Jangan salahkan aku, tetapi salahkanlah dirimu sendiri.”⁶

Tuntutan ini diperkuat dengan seruan agar setiap orang menghancurkan berhala dalam dirinya, yaitu bahwa “Kita harus tunduk kepada Allah dan menghancurkan berhala yang bersemayam di dalam diri masing-masing kita.”⁷⁰ Dengan demikian ketegangan itu terselesaikan secara internal. Benang merah lolos uji konsistensi.

Bagian 5.3. Uji Batas: Risiko Klaim yang Tidak Terbantahkan

Uji ketiga lebih kritis. Di manakah batas keberlakuan benang merah ini? Perhatikan dua premis yang menopangnya. Premis pertama: keadaan yang tepat tidak berarti aman, asalkan tindakan membuahkan hasil yang nyata. Premis kedua: hasil itu bisa berupa kekuasaan atau syahid, dan keduanya tetap sah.

Gabungan dua premis ini menimbulkan persoalan metodologis. Jika menang dihitung sebagai keberhasilan, dan terbunuh pun dihitung sebagai keberhasilan, lalu keadaan apa yang akan dihitung sebagai kegagalan? Secara empiris, klaim semacam ini sukar dibantah. Apa pun hasilnya, kewajiban dianggap tertunaikan. Sebuah klaim yang tidak dapat dibantah oleh bukti apa pun adalah klaim yang lemah secara empiris.

Namun di sinilah letak kejujuran buku ini. Khamenei tidak menyembunyikan landasannya. Ia menyatakan secara eksplisit bahwa keabsahan kewajiban bersandar pada premis teologis, bukan pada perhitungan untung rugi. Premis itu adalah bahwa Allah tidak mewajibkan hal yang sia-sia. Validitas benang merah, dengan demikian, bukanlah validitas empiris yang dapat diuji dengan eksperimen. Ia adalah validitas teologis dan tipologis. Penopangnya adalah prinsip ruhani mengatasi material yang sudah ditegaskan pada Bab 2. Bukti pembenarnya bersifat historis dan kumulatif, yaitu pengaruh Asyura yang justru menguat seiring waktu.

“Semakin waktu berlalu, semakin terang matahari abadi ini bersinar. Ia adalah matahari kesyahidan, penderitaan akibat kezaliman, dan keterasingan jihad.”⁷¹

Bagian 5.4. Paralel Husain–Khomeini: Kekuatan dan Keterbatasannya

Benang merah ini menemukan rujukan hidupnya pada paralel Husain dan Khomeini. Inilah langkah pemersatu sekaligus langkah paling dapat diperdebatkan dalam buku. Khamenei membedakan dua jenis kemenangan.

“Kemenangan jenis kedua, dan inilah yang lebih penting, adalah kemenangan sepanjang keabadian. Inilah kemenangan pemikiran dan metode.”⁷²

Atas dasar itu ia menyimpulkan bahwa “Imam Khomeini meniru kebangkitan, gerakan, dan hidupnya pada jalan Husaini. Karena itu ia berhasil menjaga Republik Islam dan memaksa musuh melepaskan ancamannya.”⁷³ Keadaan al-Husain, dalam pembacaannya, berulang dalam skala kecil pada masa Khomeini, dan hanya berbeda pada hasil.

“Keadaan Imam al-Husain berulang dalam skala kecil pada masa Imam Khomeini. Perbedaannya, dalam satu kasus berujung pada syahid, dan dalam kasus lain berujung pada berdirinya pemerintahan Islam.”⁷⁴

Bagian 5.5. Kesimpulan: Mengapa Moral Lebih Penting daripada Pelajaran

Pengujian di atas mengembalikan kita pada penilaian metodologis Khamenei sendiri. Ia menempatkan moral di atas pelajaran. Setelah menelusuri benang merahnya, alasannya menjadi jelas. Pelajaran hanya mengajarkan keutamaan. Moral menjelaskan mekanisme keruntuhan dan syarat keselamatan. Pelajaran membuat orang mengagumi al-Husain. Moral membuat orang memeriksa dirinya.

Maka benang merah buku ini terbukti kukuh dalam batas-batasnya. Ia menyatukan karakter, kewajiban, dan diagnosis menjadi satu hukum sejarah ruhani: masyarakat runtuh dari dalam ketika basirah hilang dan dunia menguasai elite, dan masyarakat selamat ketika basirah hidup dan keberanian bertindak pada waktu yang tepat. Validitasnya bersifat internal, koheren, dan teologis, bukan empiris-prediktif, dan buku ini menyatakan landasan itu secara terbuka.

Pada akhirnya, kekuatan buku ini tidak hanya terletak pada analisis, tetapi juga pada penutupnya yang menggugah. Di tengah diagnosis yang dingin, Khamenei menghadirkan adegan al-Qasim yang memandang kematian lebih manis daripada madu.

“Imam al-Husain hendak mengujinya, maka beliau bertanya, “Bagaimana engkau memandang kematian?” Jawaban al-Qasim adalah, “Lebih manis daripada madu.”⁷⁵

Adegan itu bukan pelarian dari analisis, melainkan buktinya. Nilai yang utuh melahirkan keberanian semacam itu. Di sinilah pelajaran dan moral bertemu. Karena itu makna Karbala melampaui satu peristiwa dan satu umat.

“Pertempuran al-Taff tidak menyelamatkan satu umat atau satu golongan; ia menyelamatkan seluruh kemanusiaan.”⁷⁶

Inilah pemikiran ‘Asyura dalam buku ini. ‘Asyura adalah teladan untuk dikagumi, pelajaran untuk dijalankan, dan moral untuk merenungi diri. Selama ada kebenaran dan kebatilan, akan selalu ada Husain dan Yazid. Maka pertanyaan terakhir buku ini ditujukan kepada setiap pembaca: di mana ia berdiri.

CATATAN

1. Sayyid Ali Khamenei, ‘Ashura’ in the Thought of Imam Khamenei (Dearborn, MI: al-Buraq Publications, 2021), hlm. 105. Teks asli: “Lessons teach us what to do, but morals show us how to deal with things that happened in the past and might happen in the future.”

2. Sayyid Ali Khamenei, ‘Ashura’ in the Thought of Imam Khamenei (Dearborn, MI: al-Buraq Publications, 2021), hlm. 112. Teks asli: “The morals of ‘Ashura’ are more important than the lessons of ‘Ashura’.”

iklan

3. Sayyid Ali Khamenei, ‘Ashura’ in the Thought of Imam Khamenei (Dearborn, MI: al-Buraq Publications, 2021), hlm. 88. Teks asli: “Everything I will relate from now on comes from Ibn al-Athir. I will avoid any Shia sources and even any Sunni authors who the Sunnis cast doubts upon, such as Ibn Qutayba al-Dinawari.”

4. Sayyid Ali Khamenei, ‘Ashura’ in the Thought of Imam Khamenei (Dearborn, MI: al-Buraq Publications, 2021), hlm. 86. Teks asli: “I don’t want to get into theological arguments here. I only want to analyze history, and you should analyze it too.”

5. Sayyid Ali Khamenei, ‘Ashura’ in the Thought of Imam Khamenei (Dearborn, MI: al-Buraq Publications, 2021), hlm. 118. Teks asli: “History means you and I; it means those present here today. If we are the ones presenting and explaining history, each of us consider his position in this story.”

6. Sayyid Ali Khamenei, ‘Ashura’ in the Thought of Imam Khamenei (Dearborn, MI: al-Buraq Publications, 2021), hlm. 107. Teks asli: “I always tell the youths and the university and seminary students to take history seriously and contemplate it.”

7. Sayyid Ali Khamenei, ‘Ashura’ in the Thought of Imam Khamenei (Dearborn, MI: al-Buraq Publications, 2021), hlm. 23. Teks asli: “On an emotional level, the Imam has a kind of gravity that attracts Muslims. It is true that there are some Muslims who do not feel this gravity, but they are deprived of the knowledge of Imam al-Husayn.”

8. Sayyid Ali Khamenei, ‘Ashura’ in the Thought of Imam Khamenei (Dearborn, MI: al-Buraq Publications, 2021), hlm. 25. Teks asli: “the smartest people of all choose only the Authorities of Allah as their role models. Of the most important characteristics of the Authorities of Allah is that they are at a level of bravery, strength, and empowerment that allows them to be masters rather than slaves of their own selves.”

9. Sayyid Ali Khamenei, ‘Ashura’ in the Thought of Imam Khamenei (Dearborn, MI: al-Buraq Publications, 2021), hlm. 25. Teks asli: “Do not be angry, for you are the slave of your desire and temper. As for me, I harnessed my desire and temper until they became my slaves.”

10. Sayyid Ali Khamenei, ‘Ashura’ in the Thought of Imam Khamenei (Dearborn, MI: al-Buraq Publications, 2021), hlm. 25. Teks asli: “the light of Imam al-Husayn shines not only upon us lowly people of clay, but also upon all the realms of existence, the souls of the Authorities of Allah and the greats, the angels drawn near to Allah.”

11. Sayyid Ali Khamenei, ‘Ashura’ in the Thought of Imam Khamenei (Dearborn, MI: al-Buraq Publications, 2021), hlm. 27. Teks asli: “Distortion, at the time, was the greatest moral threat to Islam. It was like a sweeping flood of corruption and foulness that stagnated in the minds of the Muslims.”

12. Sayyid Ali Khamenei, ‘Ashura’ in the Thought of Imam Khamenei (Dearborn, MI: al-Buraq Publications, 2021), hlm. 28. Teks asli: “The best way to thwart the enemy’s attack and ruin its preparations is to attack first.”

13. Sayyid Ali Khamenei, ‘Ashura’ in the Thought of Imam Khamenei (Dearborn, MI: al-Buraq Publications, 2021), hlm. 29. Teks asli: “The enemy is Western arrogance, with its ignorant, lowly, and authoritarian culture. Today it is facing a serious challenge from true Islam, not the Islam of propaganda.”

14. Sayyid Ali Khamenei, ‘Ashura’ in the Thought of Imam Khamenei (Dearborn, MI: al-Buraq Publications, 2021), hlm. 31. Teks asli: “His actual battle was with a whole world of deviance and darkness; this is the important thing. Those opposing him had everything: money, gold, power, authors, poets, hadith transmitters, and speakers.”

15. Sayyid Ali Khamenei, ‘Ashura’ in the Thought of Imam Khamenei (Dearborn, MI: al-Buraq Publications, 2021), hlm. 31. Teks asli: “if his seventy-two companions were seventy-two thousand, that wouldn’t have diminished his greatness either. Imam al-Husayn’s greatness lies in his steadfastness and certainty as he faced a world that was opposing him and usurping his right.”

16. Sayyid Ali Khamenei, ‘Ashura’ in the Thought of Imam Khamenei (Dearborn, MI: al-Buraq Publications, 2021), hlm. 33. Teks asli: “Karbala’ extends across eternity. It is not limited to a geographical space of a few hundred meters. History is repeating itself today as a whole world of injustice and arrogance is standing in the face of the Islamic Republic.”

17. Sayyid Ali Khamenei, ‘Ashura’ in the Thought of Imam Khamenei (Dearborn, MI: al-Buraq Publications, 2021), hlm. 13. Teks asli: “The Husayni uprising is not a momentary event limited by a space or period in time, nor is it a movement like other material movements that have limited effects and consequences. It is a divine lesson and a history of multiple chapters and components.”

18. Sayyid Ali Khamenei, ‘Ashura’ in the Thought of Imam Khamenei (Dearborn, MI: al-Buraq Publications, 2021), hlm. 35. Teks asli: “Why didn’t you go to a place where you had nothing to do with Yazid and Yazid had nothing to do with you, where you could live and worship and preach?”

19. Sayyid Ali Khamenei, ‘Ashura’ in the Thought of Imam Khamenei (Dearborn, MI: al-Buraq Publications, 2021), hlm. 36. Teks asli: “A person who revolts for the sake of government will continue on this path as long as he sees a possibility of achieving his goal. If there was no reasonable possibility, this person’s duty would be to go back.”

20. Sayyid Ali Khamenei, ‘Ashura’ in the Thought of Imam Khamenei (Dearborn, MI: al-Buraq Publications, 2021), hlm. 37. Teks asli: “The martyrdom we are familiar with in our sacred law is a movement toward death and an acceptance of it for an obligatory or probable goal. Nevertheless, acting for the purpose of being killed is unacceptable.”

21. Sayyid Ali Khamenei, ‘Ashura’ in the Thought of Imam Khamenei (Dearborn, MI: al-Buraq Publications, 2021), hlm. 37. Teks asli: “those who say that the goal was government or the goal was martyrdom have mixed up cause and consequence. They were consequences and not goals in themselves.”

22. Sayyid Ali Khamenei, ‘Ashura’ in the Thought of Imam Khamenei (Dearborn, MI: al-Buraq Publications, 2021), hlm. 37. Teks asli: “the great man’s goal was to fulfill a great religious obligation that had never been performed before, neither by the Prophet nor Imam ‘Ali and Imam al-Hasan.”

23. Sayyid Ali Khamenei, ‘Ashura’ in the Thought of Imam Khamenei (Dearborn, MI: al-Buraq Publications, 2021), hlm. 41. Teks asli: “The ruling about returning a deviant society to the right path is no less important than Islamic government itself.”

24. Sayyid Ali Khamenei, ‘Ashura’ in the Thought of Imam Khamenei (Dearborn, MI: al-Buraq Publications, 2021), hlm. 41. Teks asli: “this ruling guarantees reviving Islam though it might be dead or close to death.”

25. Sayyid Ali Khamenei, ‘Ashura’ in the Thought of Imam Khamenei (Dearborn, MI: al-Buraq Publications, 2021), hlm. 40. Teks asli: “If this happens the Qur’an becomes distorted, good deeds become bad deeds, the right becomes the wrong, and Islam turns upside down.”

26. Sayyid Ali Khamenei, ‘Ashura’ in the Thought of Imam Khamenei (Dearborn, MI: al-Buraq Publications, 2021), hlm. 46. Teks asli: “I did not revolt out of pride or arrogance nor out of a desire to cause corruption or commit tyranny. I only revolted seeking reform in the umma of my grandfather.”

27. Sayyid Ali Khamenei, ‘Ashura’ in the Thought of Imam Khamenei (Dearborn, MI: al-Buraq Publications, 2021), hlm. 46. Teks asli: “By Allah, the true Imam is but the one who applies the Qur’an, upholds justice, believes in the Truth, and restrains himself for the sake of Allah.”

28. Sayyid Ali Khamenei, ‘Ashura’ in the Thought of Imam Khamenei (Dearborn, MI: al-Buraq Publications, 2021), hlm. 47. Teks asli: “Allah indeed musters with the tyrannical ruler whoever sees him transgressing the bounds of Allah, breaking the covenant with Allah, opposing the precept of the Prophet of Allah, and treating the servants of Allah sinfully and aggressively without bringing about a change through word or deed.”

29. Sayyid Ali Khamenei, ‘Ashura’ in the Thought of Imam Khamenei (Dearborn, MI: al-Buraq Publications, 2021), hlm. 41. Teks asli: “Allah does not make futile things obligatory. Naturally, the right circumstances don’t mean the absence of danger; the point is that a person should know that his act will have a tangible result.”

30. Sayyid Ali Khamenei, ‘Ashura’ in the Thought of Imam Khamenei (Dearborn, MI: al-Buraq Publications, 2021), hlm. 43. Teks asli: “this was not the kind of obligation that could be suspended due to danger. Such an obligation is always dangerous. How could a person revolt against a tyrannical rule without being in danger?”

31. Sayyid Ali Khamenei, ‘Ashura’ in the Thought of Imam Khamenei (Dearborn, MI: al-Buraq Publications, 2021), hlm. 48. Teks asli: “By Allah, I hope that whatever Allah decrees for us will be good, whether we are killed or victorious.”

32. Sayyid Ali Khamenei, ‘Ashura’ in the Thought of Imam Khamenei (Dearborn, MI: al-Buraq Publications, 2021), hlm. 44. Teks asli: “revolting is an obligation whether it ends in martyrdom or government. Both consequences have their own advantages, but acting is a must in both cases.”

33. Sayyid Ali Khamenei, ‘Ashura’ in the Thought of Imam Khamenei (Dearborn, MI: al-Buraq Publications, 2021), hlm. 50. Teks asli: “Imam al-Husayn, at a critical juncture of Islamic history, separated his primary duty from his other duties and fulfilled that duty. This is the weakness that Muslims have always suffered from.”

34. Sayyid Ali Khamenei, ‘Ashura’ in the Thought of Imam Khamenei (Dearborn, MI: al-Buraq Publications, 2021), hlm. 53. Teks asli: “If we make a mistake in determining the enemy that is harming and attacking Islam, we will suffer a great, unavoidable loss, and we will lose many opportunities.”

35. Sayyid Ali Khamenei, ‘Ashura’ in the Thought of Imam Khamenei (Dearborn, MI: al-Buraq Publications, 2021), hlm. 54. Teks asli: “The greatest attack and the constant danger come from global imperialism and the powers of faithlessness and arrogance. Internal weakness within society paves the way for the enemy, however, this weakness is enforced by the enemy in the first place.”

36. Sayyid Ali Khamenei, ‘Ashura’ in the Thought of Imam Khamenei (Dearborn, MI: al-Buraq Publications, 2021), hlm. 56. Teks asli: “Their arena was not military but that of media and culture; we must pay attention to that.”

37. Sayyid Ali Khamenei, ‘Ashura’ in the Thought of Imam Khamenei (Dearborn, MI: al-Buraq Publications, 2021), hlm. 71. Teks asli: “Uprightness doesn’t always mean bearing hardships, as bearing hardships is a lot easier for a great person than bearing matters that seem to be against the Sharia, common custom, and plain reason.”

38. Sayyid Ali Khamenei, ‘Ashura’ in the Thought of Imam Khamenei (Dearborn, MI: al-Buraq Publications, 2021), hlm. 58. Teks asli: “and sacrificed his soul for Your sake in order to save your servants from ignorance and the perplexity of error.”

39. Sayyid Ali Khamenei, ‘Ashura’ in the Thought of Imam Khamenei (Dearborn, MI: al-Buraq Publications, 2021), hlm. 77. Teks asli: “Some people had been alive during the time of the Prophet, but they conspired to kill the Prophet’s Grandson a most gruesome death. Are there worse examples of apostasy, regression, and deviation?”

40. Sayyid Ali Khamenei, ‘Ashura’ in the Thought of Imam Khamenei (Dearborn, MI: al-Buraq Publications, 2021), hlm. 78. Teks asli: “If society contemplates the situation, it will not suffer a similar fate. However, if we become oblivious and do not be careful, we might suffer the same fate. This is the moral of ‘Ashura’.”

41. Barangkali ini bermakna empati dan kasih sayang pada sesama (catatan penulis artikel)

42. Sayyid Ali Khamenei, ‘Ashura’ in the Thought of Imam Khamenei (Dearborn, MI: al-Buraq Publications, 2021), hlm. 83. Teks asli: “the Prophet established a political order on various pillars. The most important of them are the following four: Masterful unambiguous knowledge of religion; Absolute justice that is free of favoritism; Pure worship of Allah that is free of any polytheism; and Overwhelming love and fervent emotion.”

43. Sayyid Ali Khamenei, ‘Ashura’ in the Thought of Imam Khamenei (Dearborn, MI: al-Buraq Publications, 2021), hlm. 84. Teks asli: “justice does not mean equality. Equality may entail injustice sometimes, but justice means putting everything in its proper place and giving everyone their dues.”

44. Sayyid Ali Khamenei, ‘Ashura’ in the Thought of Imam Khamenei (Dearborn, MI: al-Buraq Publications, 2021), hlm. 82. Teks asli: “over those fifty years, Islamic society was being voided of the truth of Islam and its values. It was an Islamic society externally, but internally it was hollow. This is where the danger lies.”

45. Sayyid Ali Khamenei, ‘Ashura’ in the Thought of Imam Khamenei (Dearborn, MI: al-Buraq Publications, 2021), hlm. 80. Teks asli: “Al-Hasan and al-Husayn are the masters of the youth of Paradise. He said this about them although they were still children.”

46. Sayyid Ali Khamenei, ‘Ashura’ in the Thought of Imam Khamenei (Dearborn, MI: al-Buraq Publications, 2021), hlm. 99. Teks asli: “The first moral of ‘Ashura’ is that Imam al-Husayn sacrificed himself to save Islamic society fifty years after the Prophet’s passing. What are the circumstances that made Imam al-Husayn believe that Islam could not be revived and saved except through a sacrifice?”

47. Sayyid Ali Khamenei, ‘Ashura’ in the Thought of Imam Khamenei (Dearborn, MI: al-Buraq Publications, 2021), hlm. 101. Teks asli: “The fundamental factors of this deviation and error are two. The first factor is neglecting the mention of Allah whose manifestation is prayer. The second factor is following base desires. All of this may be summarized as loving this world.”

48. Sayyid Ali Khamenei, ‘Ashura’ in the Thought of Imam Khamenei (Dearborn, MI: al-Buraq Publications, 2021), hlm. 103. Teks asli: “If the standards become reversed, and those who assume control are those who most love the world, seek personal interests, and neglect honesty and trustworthiness, the result would be the rulership of people like ‘Umar b. Sa’d and ‘Ubayd Allah b. Ziyad and the death of someone like Imam al-Husayn.”

49. Sayyid Ali Khamenei, ‘Ashura’ in the Thought of Imam Khamenei (Dearborn, MI: al-Buraq Publications, 2021), hlm. 88. Teks asli: “There is a difference between the elites and the masses. If the elites strayed, they would be included among those who incurred Allah’s wrath, whereas if the masses strayed, they would be included among the astray.”

50. Sayyid Ali Khamenei, ‘Ashura’ in the Thought of Imam Khamenei (Dearborn, MI: al-Buraq Publications, 2021), hlm. 90. Teks asli: “When he went out, he took his possessions out of his palace in loads that needed forty mules to carry them, even when he went to wage jihad.”

51. Sayyid Ali Khamenei, ‘Ashura’ in the Thought of Imam Khamenei (Dearborn, MI: al-Buraq Publications, 2021), hlm. 92. Teks asli: “This person whom the Qur’an called profligate became governor. When ‘Abdullah b. Mas’ud saw him, he said, “Did you become righteous all of a sudden or did the people turn corrupt?””

52. Sayyid Ali Khamenei, ‘Ashura’ in the Thought of Imam Khamenei (Dearborn, MI: al-Buraq Publications, 2021), hlm. 96. Teks asli: “Worldliness is when a person seeks his own advantage and welfare or thinks about collecting wealth for himself at the expense of others. If we are not careful, society gradually slips toward losing its values and becomes an empty shell.”

53. Sayyid Ali Khamenei, ‘Ashura’ in the Thought of Imam Khamenei (Dearborn, MI: al-Buraq Publications, 2021), hlm. 97. Teks asli: “The condition for making ‘Umar b. Sacd governor was him fighting Imam al-Husayn. Even if the whole world were offered to a person, he should not so much as frown at Imam al-Husayn.”

54. Sayyid Ali Khamenei, ‘Ashura’ in the Thought of Imam Khamenei (Dearborn, MI: al-Buraq Publications, 2021), hlm. 123. Teks asli: “The first signs of trouble appeared when they said that those who had precedence in Islam should have privileges, and so they were given financial privileges out of the treasury. This was the first misstep. All deviant trends begin with a small thing then worsen and grow.”

55. Sayyid Ali Khamenei, ‘Ashura’ in the Thought of Imam Khamenei (Dearborn, MI: al-Buraq Publications, 2021), hlm. 95. Teks asli: “As for the masses, they always follow the elites and imitate them. For this reason, the worst mistake a well-known person could make is to deviate because his deviation would result in the deviation of many people.”

56. Sayyid Ali Khamenei, ‘Ashura’ in the Thought of Imam Khamenei (Dearborn, MI: al-Buraq Publications, 2021), hlm. 114. Teks asli: “people will be divided into two categories. The first category acts based on thought, understanding, consciousness, and determination. This category is the category of the elites. The other category does not pause to determine the right path and stance. This is the category of the masses.”

57. Sayyid Ali Khamenei, ‘Ashura’ in the Thought of Imam Khamenei (Dearborn, MI: al-Buraq Publications, 2021), hlm. 115. Teks asli: “A truck driver was a member of the elites whereas that esteemed scholar and prayer leader was one of the masses. Although the man was only a driver, he knew the truth of things while the scholar was oblivious.”

58. Sayyid Ali Khamenei, ‘Ashura’ in the Thought of Imam Khamenei (Dearborn, MI: al-Buraq Publications, 2021), hlm. 117. Teks asli: “The elites are divided into two groups: the elites of the truth and the elites of falsehood. What could be expected from the elites that support falsehood? Only conspiracy against the truth and the people.”

59. Sayyid Ali Khamenei, ‘Ashura’ in the Thought of Imam Khamenei (Dearborn, MI: al-Buraq Publications, 2021), hlm. 119. Teks asli: “beware of being part of the masses. Every deed that we do must be out of insight. If you act without insight, you belong to the masses.”

60. Sayyid Ali Khamenei, ‘Ashura’ in the Thought of Imam Khamenei (Dearborn, MI: al-Buraq Publications, 2021), hlm. 67. Teks asli: “insight is the most important thing when defending religion. Those who lack insight are quickly deceived and lured to the side of falsehood without even realizing it.”

61. Sayyid Ali Khamenei, ‘Ashura’ in the Thought of Imam Khamenei (Dearborn, MI: al-Buraq Publications, 2021), hlm. 67. Teks asli: “Some of those who supported Ibn Ziyad were neither profligate nor immoral; they only lacked insight.”

62. Sayyid Ali Khamenei, ‘Ashura’ in the Thought of Imam Khamenei (Dearborn, MI: al-Buraq Publications, 2021), hlm. 113. Teks asli: “They spread the idea that the Prophet’s grandson had rebelled against the just Imam. That just Imam was none other than Yazid b. Mu’awiya, and the people believed them!”

63. Sayyid Ali Khamenei, ‘Ashura’ in the Thought of Imam Khamenei (Dearborn, MI: al-Buraq Publications, 2021), hlm. 141. Teks asli: “Some people were considered saintly, pious, worshipful, and abstinent, but they made the mistake of confusing truth and falsehood. Some mistakes cannot be forgiven, and one of them is confusing truth and falsehood.”

64. Sayyid Ali Khamenei, ‘Ashura’ in the Thought of Imam Khamenei (Dearborn, MI: al-Buraq Publications, 2021), hlm. 93. Teks asli: “the caliphate and the wilaya mean a government that is accompanied by love and connection to the people; their purpose is not to dominate. A king is a domineering ruler who does whatever he wants.”

65. Sayyid Ali Khamenei, ‘Ashura’ in the Thought of Imam Khamenei (Dearborn, MI: al-Buraq Publications, 2021), hlm. 94. Teks asli: “In that society, the person teaching people was Ka’b al-Ahbar, the Jew who did not live under the Prophet’s rule. Standards were lost and values were undermined.”

66. Sayyid Ali Khamenei, ‘Ashura’ in the Thought of Imam Khamenei (Dearborn, MI: al-Buraq Publications, 2021), hlm. 122. Teks asli: “in the visitation of ‘Ashura’ you say, “O Allah, curse the first tyrant who usurped the rights of Muhammad and the family of Muhammad.” That’s the truth.”

67. Sayyid Ali Khamenei, ‘Ashura’ in the Thought of Imam Khamenei (Dearborn, MI: al-Buraq Publications, 2021), hlm. 105. Teks asli: “the moral of ‘Ashura’ is not to allow the isolation of the spirit of the Revolution and the sons of the Revolution in society.”

68. Sayyid Ali Khamenei, ‘Ashura’ in the Thought of Imam Khamenei (Dearborn, MI: al-Buraq Publications, 2021), hlm. 12. Teks asli: “as long as there is truth and falsehood in every day and age, there will be a Husayn and a Yazid, so the umma must be prudent enough to make the right choice.”

69. Sayyid Ali Khamenei, ‘Ashura’ in the Thought of Imam Khamenei (Dearborn, MI: al-Buraq Publications, 2021), hlm. 145. Teks asli: “So do not blame me, but blame yourselves.”

70. Sayyid Ali Khamenei, ‘Ashura’ in the Thought of Imam Khamenei (Dearborn, MI: al-Buraq Publications, 2021), hlm. 143. Teks asli: “We must submit to Allah and destroy the idol that lies within each one of us.”

71. Sayyid Ali Khamenei, ‘Ashura’ in the Thought of Imam Khamenei (Dearborn, MI: al-Buraq Publications, 2021), hlm. 59. Teks asli: “the more time passes, the brighter this eternal sun shines. It is the sun of martyrdom, suffering injustice, and the estrangement of jihad.”

72. Sayyid Ali Khamenei, ‘Ashura’ in the Thought of Imam Khamenei (Dearborn, MI: al-Buraq Publications, 2021), hlm. 68. Teks asli: “The second kind of victory, and it is the more important of the two, is the victory across eternity. This is the victory of thought and method.”

73. Sayyid Ali Khamenei, ‘Ashura’ in the Thought of Imam Khamenei (Dearborn, MI: al-Buraq Publications, 2021), hlm. 75. Teks asli: “our great Imam Khomeini modeled his uprising, movement, and life after the Husayni path. This is why he succeeded in preserving the Islamic Republic and in forcing the enemy to give up its threats.”

74. Sayyid Ali Khamenei, ‘Ashura’ in the Thought of Imam Khamenei (Dearborn, MI: al-Buraq Publications, 2021), hlm. 43. Teks asli: “The circumstances of Imam al-Husayn were repeated in miniature in Imam Khomeini’s time. The difference is that in one case they led to martyrdom and in the other to the establishment of an Islamic government.”

75. Sayyid Ali Khamenei, ‘Ashura’ in the Thought of Imam Khamenei (Dearborn, MI: al-Buraq Publications, 2021), hlm. 147. Teks asli: “Imam al-Husayn wanted to test him, so he asked, “How do you see death?” Al-Qasim’s response was, “Sweeter than honey.””

76. Sayyid Ali Khamenei, ‘Ashura’ in the Thought of Imam Khamenei (Dearborn, MI: al-Buraq Publications, 2021), hlm. 150. Teks asli: “The Battle of al-Taff did not save one umma or one group of people; it saved the whole of humanity.”

Dr. Ir. Dimitri Mahayana, M.Eng.
Sekretaris Dewan Syura IJABI |  + posts
Iklan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berkaitan

Back to top button