Berikut penjelasan K.H. Miftah F. Rakhmat, Ketua Dewan Syura IJABI, tentang istilah ‘Idul Qurban dalam pemaknaan irfani dan progresif :
- Hari raya kurban, ‘Idul Qurban terdiri dari dua kata. ‘Id artinya kembali, dan qurban (qurb) mendekatkan diri ke hadirat Allah Swt. Menarik. Jika sudah kembali, mengapa harus mendekat lagi? Bukankah setiap yang kembali itu mendekatkan diri? Bukankah setiap yang dekat itu kembali? Ternyata tidak. Ada dekat yang tidak kembali, yaitu dekat tanpa makrifat yang sejati. Tanpa pengenalan dan pengakuan yang sesungguhnya. Bayangkan, bila seseorang kembali ke tengah-tengah keluarga, tanpa benar-benar hadir di sisinya. Seperti berada dalam kebersamaan, tapi hati masih merasa sepi. Ternyata tidak semua yang kembali itu dekat.
Maka kembalilah dengan makrifat. Kembalilah dengan pengorbanan. Kembalilah dengan pengetahuan dan pengakuan. Kembali yang sejati adalah dengan pengorbanan diri. Membesarkan Dia dan takluk di hadapan segala ketentuanNya. Berserah diri. Pasrah, tak berarti.
‘Idul Qurban adalah kembali yang sesungguhnya. Kembali tanpa ada keterikatan diri. Hari raya yang ditandai dengan gemuruh takbir. Sebab, takbir adalah hakikat pujian yang sesungguhnya. MembesarkanNya, membesarkan jalan karuniaNya, membesarkan seluruh nikmatNya, membesarkan wasilah yang mengantarkannya. Takbir adalah membesarkan semua itu.
Membesarkan bahwa tiada satu pun amalan kita yang layak untuk anugerahNya, tiada satu pun perbuatan yang membuat kita berhak menerima kebahagiaan dariNya. Tidak, tidak ada satu pun. Melainkan karena kasih dan sayangNya jua. Takbir adalah membesarkan Dia dan menghilangkan kita. Bukan hanya mengecilkan, juga menghilangkan. Menghapus seluruh keakuan, meluruhkan segenap ego dan keangkuhan.
- Makna kedua ‘Idul Qurban adalah penolakan. ‘Id artinya kembali. Bagaimana mungkin bisa kembali ke rumah, kalau kita menempuh arah yang tidak menuju rumah? Bila kita ingin kembali, kita mesti menolak segala arah kecuali yang menuju Dia. Kita mesti katakan tidak pada setiap hal yang bukan untuk Dia. Kita mesti melemparkan segala lontaran untuk setiap bentuk yang memisahkan kita dengan Dia.
Islam adalah agama yang diawali dengan kata tidak. Laa ilaaha illa Allah. Tidak ada tuhan selain Allah. Ternyata mengucap kata “tidak” itu tidak semudah terdengarnya. Tidak adalah sebuah ungkap penegasian, ungkap perlawanan, ungkap perjuangan dan keteguhan. Mampukah kita berkata “tidak!” pada setiap kesewenangan. Pada setiap ketidakadilan. Pada setiap laku curang dan kemaksiatan. Setiap teladan pengorbanan itu mengajarkan kata tidak pada kehinaan. Hayhat minna adzzillah. Pantang kami hina. Pantang kami tunduk pada kepongahan. Pantang kami berdiam diri melihat kezaliman.
Hari ini ujiannya diperlihatkan pada kita. Hari ini ujiannya adalah saudara-saudara kita di Palestina. Mereka yang setiap hari terpejam dengan kesiapan. Seberkas ruang leher terbuka, di hadapan belati tajam yang siap memangsa. Berbaring mereka dengan sepenuh cinta, dengan ungkap syukur yang tak terkira. Labbayka wa sa’dayka. Mereka bahagia menyambut seruanMu. Suka cita kembali ke hadiratMu. Mata terpejam penuh cinta, dan hadirlah pengakuan itu. Mereka kembali dengan sepenuh kesempurnaannya. Kesiapan itu telah lama dinantinya.
Hari raya ini ujiannya ada pada kita. Mungkin tidak ada ruang di leher kita yang terbuka. Mungkin tidak ada belati tajam yang siap memangsa. Masihkah mungkin kita berbaring sepenuh cinta, bila tidak ada pengorbanan yang kita berikan untuk mereka? Ujian kita adalah untuk berkata tidak. Dimulai pada diri kita. Katakan tidak pada setiap kezaliman itu. Katakan tidak pada setiap ketidakadilan itu. Mulailah dari diri kita. Katakan tidak pada setiap penjajah itu. Dan besarkan orang-orang yang berkorban itu dalam diri kita.
Demikian. Semoga bermanfaat dan diluaskan berkahnya. Selamat lebaran ‘Idul Qurban. Mohon maaf lahir dan batin. Shalawat, teriring doa kita.
Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammad wa Aali Sayyidina Muhammad wa ‘ajjil farajahum…





