Kegiatan

Al Ghadir: Nikmat Kesempurnaan Risalah, Anugerah Jalan Hidayah

Peringatan Idul Ghadir 1447 H

BANDUNG, IJABI NEWS — “Kurindukan tangan perkasa yang menampar kezaliman, meruntuhkan kepongahan, mengangkat nasib mustadh’afin… tangan lembut Amirul Mukminin.”

Lirik-lirik penuh rindu itu menggema, memecah keheningan Aula Dr. K.H. Jalaluddin Rakhmat, Jl. Kampus II, Babakan Sari, Kiaracondong, Bandung, pada Selasa malam, 2 Juni 2026. Mulai pukul 18.30 WIB, lagu-lagu gubahan sang pemikir besar IJABI, Allahyarham KH. Jalaluddin Rakhmat, sengaja dihadirkan sebagai pembuka, melarung emosi sekaligus menegaskan kembali baiat spiritual kepada sang pemegang wilayah kesucian, Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib AS.

Peringatan Hari Raya Idul Ghadir tahun ini menjadi momentum sakral untuk melepas dahaga rindu yang mendalam. Mengangkat tema “Al-Ghadir: Nikmat Kesempurnaan Risalah, Anugerah Jalan Hidayah,” hajatan besar Pengurus Pusat IJABI ini merefleksikan kembali titik balik krusial dalam sejarah peradaban Islam.

Sejak senja, aula yang sarat nilai historis tersebut telah dipadati sekitar 300 jemaah. Kehadiran mereka membuktikan bahwa jarak dan rintangan geografis bukanlah penghalang bagi para pecinta kesucian. Para peserta datang bergelombang dari berbagai penjuru Jawa Barat, mulai dari wilayah Priangan Timur seperti Tasikmalaya dan Garut, perwakilan Sukabumi yang menempuh jalur barat, hingga komunitas Bandung Raya sebagai tuan rumah yang menyambut hangat kedatangan para pencinta Ahlul Bait. Pertemuan lintas daerah ini mengubah suasana aula menjadi lautan persaudaraan (ukhuwah) yang kental, menghidupkan kembali tradisi silaturahmi yang kokoh.

Suasana khidmat kian larut saat Ketua Pengurus Pusat (PP) IJABI, Ustadz Maran Sutarya, menyampaikan sambutannya. Dengan bahasa yang sejuk namun sarat makna, beliau menggarisbawahi hakikat wilayah sebagai kenikmatan terbesar yang menjadi penyempurna agama Islam. Menurutnya, lembaran sejarah yang sangat penting ini acap kali terlewat dari perhatian umat. Karena itu, menjadi tugas mulia bagi setiap Muslim untuk kembali membuka catatan sejarah tersebut dan mengenalkannya secara luas kepada kaum Muslimin. Langkah ini penting agar keindahan dan kesempurnaan pesan Ghadir Khum dapat dihayati bersama sebagai momentum sakral ketika Allah SWT menetapkan pemimpin bagi umat Islam sepeninggal Rasulullah SAW demi menjaga kesinambungan hidayah.

Kekhidmatan malam itu semakin membubung ketika jemaah diajak mendengarkan kembali ujaran-ujaran luhur dan rekaman suara Allahyarham KH. Jalaluddin Rakhmat. Melalui untaian kalimatnya yang khas dan menggetarkan sanubari, beliau menyampaikan ulasan mendalam mengenai Ayat Tabligh. Penjelasannya yang bernas, runtut, dan kaya argumentasi ilmiah seolah menghadirkan kembali sosok sang pemikir di tengah-tengah jemaah, memberikan pencerahan bahwa perintah penyampaian wilayah kepemimpinan tersebut bersifat mutlak demi tegaknya kesempurnaan risalah pasca-kenabian.

Suasana haru sekaligus penuh keteladanan juga menyeruak saat Kang Iwan tampil ke depan. Dalam penyampaiannya, ia mengajak jemaah mengenang ketulusan Abah Tantan, seorang pejuang setia yang rela berpindah domisili demi memenangkan Allahyarham KH. Jalaluddin Rakhmat dalam pemilihan anggota DPR RI beberapa tahun silam. Pengorbanan tanpa pamrih itu menjadi bukti nyata bagaimana cinta dan kesetiaan diwujudkan melalui kerja-kerja konkret.

Lebih jauh, Kang Iwan menghubungkan jejak sejarah antara Padang Arafah dan Lembah Al-Ghadir. Ia memaparkan sebuah konsepsi yang mendalam: jika Hari Arafah menjelaskan secara gamblang tentang apa yang harus dijaga oleh umat Islam, yakni nilai-nilai kesucian agama, maka Hari Al-Ghadir menjelaskan siapa yang bertugas menjaganya, yaitu Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib AS beserta keturunan sucinya.

Sentuhan spiritual yang menggetarkan batin kemudian dilanjutkan oleh Kang Nizhami. Dengan untaian kata yang menyentuh, ia mengisahkan betapa agung dan luasnya kecintaan Rasulullah SAW kepada umatnya. Menurutnya, manifestasi cinta Nabi yang begitu besar itu terwujud dalam kecintaan kepada Ahlul Bait. Cinta suci tersebut kemudian bertransformasi menjadi api yang membakar kebatilan sekaligus obor penerang di tengah gelapnya zaman, yang menjamin keselamatan spiritual umat manusia dalam mengarungi samudra kehidupan.

Peringatan Ghadir tahun ini semakin berbobot dengan pemaparan Ustadz Hasan Zakaria, Ph.D., yang mengupas dimensi teologis dan sosiologis peristiwa Ghadir Khum. Pada awal pemaparannya, beliau mengutip sabda Imam Ja’far ash-Shadiq AS yang menegaskan bahwa Idul Ghadir merupakan hari raya yang sangat agung. Keagungan hari tersebut sedemikian besar sehingga siapa saja yang berderma atau melakukan kebajikan pada hari itu akan memperoleh pahala yang setara dengan memberikan kebaikan kepada para nabi dan orang-orang saleh (shalihin).

Lebih jauh, Ust. Hasan Zakaria membedah konsep hidayah dengan pendekatan logis yang jernih. Beliau menjelaskan bahwa jika Allah SWT belum memberikan hidayah kepada seorang hamba, maka berdasarkan prinsip keadilan ilahi, Allah tidak akan mengazab mereka yang menolak kebenaran. Namun, pada kenyataannya Allah telah membekali manusia dengan dua bentuk hidayah yang kokoh.

Pertama, hidayah aqliyah takwiniyah, yakni potensi bawaan berupa akal sehat. Beliau mencontohkan kisah pencarian kebenaran Abu Dzar al-Ghifari yang menyaksikan sebuah berhala dikencingi hewan. Pemandangan itu menggugah akal sehatnya bahwa sesuatu yang tidak mampu menjaga dirinya sendiri tidak mungkin layak menjadi tuhan. Di sinilah hidayah bekerja ketika manusia menggunakan akal sehatnya secara jujur.

Kedua, hidayah tasyrii, yakni hidayah yang hadir melalui wahyu dan syariat. Hidayah ini merupakan panduan eksternal yang diturunkan Allah SWT agar manusia mampu menapaki jalan spiritual dengan benar dan terarah.

Pada puncak penjelasannya, Ust. Hasan Zakaria menegaskan sebuah kaidah penting dalam bangunan agama. Menurut beliau, untuk mencapai dan mempertahankan agama yang sempurna, diperlukan pula kehadiran sosok-sosok sempurna di sepanjang zaman. Sosok teladan maksum yang tidak pernah terputus dari bimbingan langit itu termanifestasi dalam diri para Imam suci Ahlul Bait. Tanpa kehadiran penjaga-penjaga maksum tersebut, kesempurnaan risalah tidak akan terjaga kemurniannya hingga generasi akhir zaman.

Melalui untaian lagu gubahan Allahyarham KH. Jalaluddin Rakhmat, pesan Ghadir direaktualisasikan malam itu bersama para narasumber, termasuk K.H. Miftah Fauzi Rakhmat, Lc., M.A., selaku Ketua Dewan Syura IJABI. Lagu tersebut tidak hanya dinikmati sebagai karya seni, tetapi juga diresapi sebagai ikrar kesetiaan untuk terus berjalan di atas garis perjuangan menegakkan keadilan dan mengembangkan ilmu pengetahuan—warisan pemikiran yang selalu ditekankan beliau semasa hidupnya.

Hingga acara usai, aura khidmat dan semangat yang menyala masih terasa di dalam aula. Dari Aula Allahyarham KH. Jalaluddin Rakhmat, ratusan pencinta Ahlul Bait pulang membawa api makrifat yang siap disebarkan ke daerah masing-masing, menjaga anugerah jalan hidayah dengan menegakkan kebenaran melalui tangan yang perkasa dan merawat kemanusiaan dengan hati yang lembut.

Admin IJABI
Reporter |  + posts
Iklan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berkaitan

Back to top button