Uncategorize

Merawat Rumah Bersama: Gagasan Kebangsaan Allahyarham KH. Jalaluddin Rakhmat

Perbincangan mengenai relasi antara keyakinan beragama dan komitmen bernegara selalu menemukan ruang uji dalam sejarah Indonesia. Ketika banyak pihak mempertentangkan identitas keagamaan dengan keindonesiaan, gagasan kebangsaan Allahyarham KH. Jalaluddin Rakhmat justru memperlihatkan bagaimana keduanya bisa bersanding secara harmonis. Bagi beliau, mencintai tanah air bukanlah pilihan yang terpisah dari ketulusan beragama, melainkan pengejawantahan dari nilai spiritual yang mendalam.

Pandangan tersebut bukan sekadar retorika mimbar, melainkan mewujud dalam laku keseharian dan arah gerak pemikirannya. Allahyarham KH. Jalaluddin Rakhmat meletakkan fondasi bahwa keimanan sejati mestinya terpancar lewat kepedulian terhadap sesama warga bangsa, tanpa memandang sekat perbedaan latar belakang. Sikap ini menjadi oase yang menyejukkan di tengah dinamika sosial yang kerap memanas akibat perbedaan tafsir maupun pandangan politik.

Bersama Ikatan Jamaah Ahlulbait Indonesia (IJABI), arah pandang tersebut ditanamkan secara konsisten ke dalam denyut komunitas. Allahyarham KH. Jalaluddin Rakhmat senantiasa menekankan pentingnya menempatkan Pancasila dan Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai rumah bersama yang wajib dirawat dengan penuh tanggung jawab. Komunitas tidak didorong untuk mengisolasi diri, melainkan diajak berbaur dan memberi manfaat nyata bagi lingkungan sekitar.

Prinsip ini lahir dari pembacaan mendalam terhadap ajaran Islam yang mengutamakan keluhuran akhlak dan pembelaan terhadap kaum lemah atau mustadh’afin. Dalam kacamata Allahyarham KH. Jalaluddin Rakhmat, patriotisme yang tulus teruji saat seseorang hadir meringankan beban sesamanya di tanah air sendiri. Kesalehan personal menemukan maknanya yang utuh ketika bertransformasi menjadi kesalehan sosial yang memperkuat tenun kebangsaan.

Sekelompok orang yang beragam berpose di luar Masjid Istiqlal yang ikonik di Jakarta, memamerkan arsitekturnya yang unik.
Foto: Daniel Lee / Pexels

Isu kebangsaan dalam ruang pemikiran beliau selalu bertumpu pada konsep persaudaraan yang berlapis dan saling menguatkan. Selain persaudaraan seiman, terdapat ikatan persaudaraan sebangsa dan persaudaraan kemanusiaan yang sama-sama luhur. Allahyarham KH. Jalaluddin Rakhmat kerap mengingatkan bahwa perbedaan mazhab atau keyakinan tidak boleh merusak kebersamaan sebagai sesama anak bangsa yang bernaung di bawah bendera yang sama.

iklan

Pendekatan dialogis selalu menjadi pilihan utama beliau dalam merespons berbagai gesekan sosial. Alih-alih membalas syak wasangka dengan konfrontasi, Allahyarham KH. Jalaluddin Rakhmat memilih jalur silaturahmi, literasi, dan keteladanan akhlak. Sikap tenang dan keterbukaan ini memberikan teladan berharga tentang cara merawat kebinekaan secara dewasa, santun, dan bermartabat.

Dalam ranah pendidikan dan kebudayaan, gagasan kebangsaan beliau diterjemahkan melalui penanaman rasa empati sejak dini. Beliau meyakini bahwa prasangka buruk dan intoleransi sering kali berakar dari ketidaktahuan serta minimnya perjumpaan antarkelompok. Karena itu, membuka ruang perjumpaan yang setara dan mencerdaskan kehidupan masyarakat dipandang sebagai ikhtiar kebangsaan yang sangat mendasar.

Sepasang suami istri tua bersantai di luar ruangan di sebuah desa di Jawa Barat, mengenakan pakaian tradisional.
Foto: Tom Fisk / Pexels

Keberadaan IJABI dalam panggung kebangsaan pun merefleksikan nilai-nilai kerukunan yang diwariskan oleh Allahyarham KH. Jalaluddin Rakhmat. Komunitas diarahkan untuk senantiasa menjadi bagian aktif dari solusi persoalan kemasyarakatan, mulai dari kegiatan sosial, pendidikan, hingga aksi kemanusiaan. Kontribusi nyata semacam ini membuktikan bahwa kecintaan pada bangsa dibuktikan melalui kerja bakti yang tulus bagi kemaslahatan bersama.

Menghadapi berbagai tantangan kebangsaan hari ini, warisan pemikiran Allahyarham KH. Jalaluddin Rakhmat tetap relevan sebagai suluh keteladanan. Pesan-pesan beliau mengajak publik untuk senantiasa menundukkan ego kelompok demi persatuan yang lebih luas dan kokoh. Bangsa yang berdaya dibangun bukan dengan keseragaman yang dipaksakan, melainkan dengan kerelaan untuk saling menghormati dan hidup berdampingan secara damai.

Pada akhirnya, menelusuri gagasan kebangsaan Allahyarham KH. Jalaluddin Rakhmat menghadirkan kesadaran bahwa Indonesia adalah anugerah persaudaraan. Melalui karya dan rekam jejak pemikirannya, kita diingatkan untuk terus merawat kehangatan dialog dan memperluas ruang welas asih. Di sanalah letak kekuatan sejati sebuah bangsa, ketika perbedaan dirangkul dengan cinta dan persaudaraan dijaga tanpa prasangka.

Website |  + posts
Iklan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berkaitan

Back to top button