Pertemuan rutin Fathimiyyah Solo Raya

Solo, 23 Mei 2026 – Alhamdulillah setelah beberapa bulan kami belum bisa melaksanakan pertemuan lagi, kemarin tepatnya di hari Sabtu 23 Mei 2026, Fathimiyyah Solo Raya kembali berkumpul di rumah Mbak Habibah. Pengisi acara kali ini adalah Abu Ammar. Ustadz muda yang mempunyai latar belakang akademik bidang filsafat.
Pukul 10.30 acara dimulai dengan pembukaan, lalu disusul dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, Himne IJABI dan Mars IJABI. Walaupun sebagian besar di antara kami belum hafal himne dan mars IJABI, hal itu tidak menyurutkan semangat kami untuk turut melantunkan lagu penuh makna ciptaan dari Allahuyarham Mahaguru kita semua, Ustadz Jalaluddin Rakhmat. Judul yang dibawakan Abu Ammar kali ini sangat menarik, “STOIKISME: Filsafat Antidepresan”. Membaca judulnya, sekilas berat sekali ya? Aura ngantuknya kuat sekali. Tapi tunggu dulu. Abu Ammar berhasil mengemas tema “berat” ini menjadi hal yang enak dan santai untuk dibahas. Mengapa? Karena ternyata, tema kali ini sangat dekat dengan keseharian kita sebagai manusia, khususnya perempuan.
Abu Ammar membuka diskusi dengan data valid bahwa 1 dari 10 orang mengidap gangguan mental. Lebih mencengangkan lagi adalah bahwa perempuan di Indonesia lebih banyak menderita gangguan mental dibanding laki-laki. Mulai dari depresi, trauma, phobia, panik disorder, dan lain-lain. Hal tersebut bisa jadi dipicu oleh banyaknya beban yang harus ditanggung perempuan akibat sistem patriarki yang masih banyak dianut masyarakat kita. Sejak bangun tidur sampai mau tidur, ratusan list pekerjaan sudah berderet-deret masuk dalam daftar yang harus terselesaikan di hari itu. Sementara mayoritas laki-laki hanya memiliki 1 list pekerjaan: mencari nafkah. Belum lagi, jika perempuan itu juga memasukkan list mencari nafkah dalam berjubelnya daftar pekerjaan harian. Faktor itulah yang kemudian bisa memicu gangguan psikosomatis yang pada akhirnya akan memperparah keluhan fisik.
Apa kaitannya dengan filsafat? Allahyarham Mahaguru Ustadz Jalal pernah menyampaikan bahwa filsafat dapat digunakan dalam kehidupan kita sehari-hari dan menolong kita untuk mengatasi penderitaan. Filsafat adalah laku hidup. Dalam filsafat adalah petunjuk hidup yang dipelajari lalu kemudian diterapkan. Lalu mengapa stoikisme? Abu Ammar menjelaskan bahwa dalam stoiskisme terdapat 3 poin penting.
- Pertama, kompatibel – selaras dengan ajaran Islam
- Kedua, saintifik -sesuai dengan penemuan saintifik
- Ketiga, praktis -mudah dipastikan sehari-hari.
Epictetus, seorang filsuf ternama yang asalnya adalah seorang budak mengatakan sebagian hal berada dalam kendali kita, dan sebagian lainnya berada di luar kendali kita. Yang berada di dalam kendali kita diantaranya adalah pikiran, perasaan, perkataan, dan perbuatan diri sendiri. Sedangkan yang berada di luar kendali kita di antaranya adalah fenomena alam, penilaian dan perbuatan orang lain.
Jika kita menganggap hal-hal yang yang ada di luar kendali kita seolah-olah bisa kita kendalikan, maka kita akan gelisah, kecewa, dan menderita. Fokuslah mengendalikan apa yang ada dalam kendali kita. Jika kita tidak memikirkan hal-hal di luar kendali kita, maka tidak ada seorangpun yang bisa mengecewakan kita.
Stoikisme dan Islam bisa saling beriringan dilakukan dengan cara berikhtiar pada hal-hal yang bisa kita kendalikan lalu bertawakkal pada hal-hal di luar kendali kita. Keikhlasan bisa kita jadikan landasan dalam berikhtiar. Berikhtiar dengan hati tulus tanpa pamrih akan hasil. Lalu kita akan mendapat balasan dari dua alam. Duniawi dan ukhrawi. Di dunia kita akan mendapatkan kehidupan baik, rejeki berkah, dan kemudahan jalan keluar. Di akhirat kita akan mendapatkan pahala, ampunan, dan keridhaan Allah.
Tidak terasa 90 menit Abu Ammar menyampaikan materi. Ibu-ibu Fathimiyyah sesekali menimpali sesi ini dengan tanya jawab. Seru sekali karena majelis ilmu ini dibuat dua arah sehingga mencairkan suasana.
Sebagai penutup acara, kami makan siang bersama dengan sajian sayur asem, ikan asin, sambal, tahu tempe dan tentu saja kerupuk.




