Penulis: Dr. Muhammad Ashar (Ketua Departemen Kaderisasi PP IJABI)
The tyrant dies and his rule is over. The martyr dies and his rule begins. (Soren Kierkegaard)
Democracy Project, 12 tahun lalu, Sang Mahaguru mendaras kematian ala Heidegger. Sterben dan verbleiben (atau aufleben), tuturnya. Kematian khas manusia autentik. Persona yang menemukan makna terdalam kehidupan melalui kematian. Kematian yang menggugah dan menggerakkan. Dahulukan memento mori di atas memento vivere.
Dalam duka mendalam, ingatanku kembali teringat ceramah Sang Mahaguru tentang kekaguman Michel Foucault pada Imam Khomeini quddisa sirruh. Karya terakhir sang filsuf, sekali lagi, tentang kematian: “Kematian dalam Perlawanan”. Kematian yang membebaskan. Kematian yang tak tunduk pada ketidakadilan.
Dalam duka mendalam, kutemukan bagaimana Teori Kritis Mazhab Frankfurt memahami kesyahidan. Kesyahidan bukan hanya perlambang kesucian. Kesyahidan adalah wujud konstruksi sosial dan politik. Tubuh sang martir adalah wujud simbolis; perlambang identitas kolektif dalam wujud perlawanan menyeluruh, melintasi ruang waktu yang panjang. Keberlanjutan abadi dari sumber termulia: Al-Husain!
Dalam duka mendalam, kutemukan bagaimana poskolonialisme memahami kesyahidan. Kematian merupakan wujud political transformation atas segala jenis kolonialisme. Sang martir terlegitimasi melalui kesyahidannya. Simbol kesucian dan figur sentral perlawanan melekat padanya; menggerakkan dan mengguncangkan, serta semakin memperkokoh narasi agung Syahadah Karbala.
Dalam duka mendalam, kutelusuri bagaimana filsafat strukturalisme membicarakan kesyahidan. Katanya, ada struktur atau pola umum dalam setiap fenomena kesyahidan. Jung menyebutnya sebagai archetypes. Setiap fenomena kesyahidan di dalamnya terkandung narasi agung dan konteks, persimbolan yang melekat pada martir dan tokoh antagonis, terciptanya kesadaran dan memori kolektif, serta mobilisasi yang menciptakan kohesi sosial.
Dalam duka mendalam, kubaca Anthony Giddens, tepatnya kesyahidan dan teori strukturasi. Baginya, kesyahidan adalah fenomena dualitas. Kesyahidan bukanlah murni tindakan individu, melainkan sejenis praktik sosial. Ada struktur (nilai, ideologi, aturan, dan sumber daya) yang membentuk kesadaran sang martir. Struktur memproduksi dan mereproduksi nilai kesyahidan. Sistem nilai kesyahidan adalah struktur yang membentuk Sang Rahbar, mentransformasi sosok agung ini sebagai pendamba kesyahidan.
Dalam duka mendalam, kubaca Ibnu Arabi; kesyahidan adalah puncak tertinggi spiritualitas. Dalam Wahdatul Wujud, para syuhada telah menanggalkan ilusi eksistensi personanya; fana dalam Ketunggalan-Nya. Terbunuh di jalan-Nya adalah salah satu jalan. Kesyahidan memilih manusia yang diinginkannya. Sang martir adalah pecinta sejati, menyingkap tabir Keindahan Ilahi, takjub dan terserap ke dalam-Nya. Selalu lurus di jalan-Nya meski kematian memeluknya dalam cinta.
Dalam duka mendalam, kubaca Mulla Sadra; kesyahidan adalah bentuk al-harakatul jauhariyyah. Evolusi jiwa menuju kecemerlangan eksistensi. Kesyahidan adalah titik awal kehidupan yang sebenar-benarnya. Di saat ruh terbebas dari materi, di saat ruh memasuki tataran eksistensi yang lebih murni dan indah. Di saat sang martir dipakaikan “pakaian kesucian” di tataran alam yang lebih tinggi. Pakaian yang selaras dengan kemurnian eksistensinya. Eksistensi yang mentransformasi ketakutan pada kematian.
Dalam duka mendalam, teringat kembali ceramah Sang Mahaguru, kali ini tentang Erich Fromm: modus becoming versus modus having. Sang penjagal adalah personifikasi kepribadian bermodus having: egois, narsistik, megalomania, dan entah istilah apa lagi. Modus yang hanya memberikan nilai pada seseorang yang memuja dirinya. Berbeda dengan sang martir, pola hidupnya bermodus becoming. Pengorbanan demi kesejahteraan orang lain adalah tujuan hidupnya. Bagi Fromm, sang martir adalah saksi perlawanan pada kezaliman. Kesyahidan adalah wujud humanisme paling radikal yang berakar pada tradisi para nabi dan penerusnya. Namun berbeda dari yang lain, kesyahidan bukanlah bentuk “nekrofilia” (cinta kematian). Sang martir mengorbankan dirinya berdasar prinsip “biofilia”—wujud kecintaan sang martir terhadap kehidupan dan upaya memelihara kehidupan.
Bagiku, Sang Syahid agung itu sangat mencintai kehidupan; kehidupan yang didasari keadilan dan kesejahteraan bersama. Kehidupan yang jauh dari kolonialisme, hegemonisme, dan represi. Kehidupan yang dihiasi nilai-nilai spiritual universal. Dia, Sang Rahbar, mencintai hidup seperti itu. Mencintai Islam yang dia yakini bisa mewujudkan masyarakat yang dinubuatkan dan akan diwujudkan oleh Imam Zamannya. Kepatuhannya pada amanah nubuwah dan imamah adalah akar yang menghidupi dirinya yang suci.
Aku kehilanganmu, duhai pemimpinku. Hatiku hancur dalam duka, meski kutahu itulah kematian yang engkau dambakan sejak dulu. Berbahagialah pemimpinku. Jangan lupakan kami.

Dr. Muhammad Ashar
Ketua Departemen Kaderisasi PP IJABI




