Berharaplah Sesuatu Di Luar Harapanmu!
Oleh Habib Ali Umar Al Habsyi (Anggota Dewan Syura IJABI)
Syaikh ash Shadûq –semoga Allah merahmati beliau– meriwayatkan dari Imam Ali bin Abi Thalib as sebuah Hikmah Kehidupan yang sangat dalam makna dan kandungannya; Hendaknya seorang lebih besar penggarapannya terhadap suatu di luar harapannya daripada apa yang ia harapkan. Boleh jadi ketika seseorang berharap suatu hasil tertentu yang sederhana dari apa yang sedang ia kerjakan, tetapi kemudian Allah memberinya sesuatu hal lain yang lebih besar dan lebih berarti bagi dirinya, bahkan untuk kebaikan banyak orang.
Persis dengan apa yang dialami Musa as ketika ia pulang dari kota Madyan menuju negeri Mesir bersama istrinya yang tidak lain adalah putri Nabi Syu’aib as, dan anak bayinya. Di tengah jalan, malam yang gelap gulita, di tengah padang pasir yang dingin. Musa –yang saat itu hanya menantu seorang Nabi, bukan seorang Nabi– ingin mencari batang dan ranting-ranting pohon yang telah kering untuk ia nyalakan sebagai api unggun untuk mengusir dinginnya malam itu dan juga untuk menerangi sekitar kemah tempat istirahatnya bersama istri dan anaknya. Tetapi, ketika mendekat secercah cahaya yang ia duga itu adalah api, ternyata ketika ia mendekat, ia mendengar seruan yang berkata: “Hai Musa. Sesungguhnya Aku adalah Allah. Dan engkau sedang berada di Lembah Thuwâ yang suci. Maka lepaslah alas kakimu!”
Musa yang berangkat dengan harapan yang sederhana yaitu mencari dan mendapatkan kayu dan menyalakan api unggun. Tetapi ia kembali telah berubah status. Dari menantu seorang Nabi menjadi seorang Nabi dan Rasul Agung as. Ia telah Allah pilih menjadi Rasul-Nya dengan tugas besar; menyelamatkan Bani Isra`il dari cengkaman kedzaliman Fir’aun dan memimpin mereka dalam bimbingan Syari’at Allah. Demikian, harapan kita terhadap apa yang sedang Allah siapkan untuk kita itu hendaknya lebih besar daripada apa yang sebenarnya kita harapkan dan rencanakan.
Imam Ali bin Abi Thalib as berkata:
كُنْ لِمَا لَا تَرْجُو أَرْجَى مِنْكَ لِمَا تَرْجُو، فَإِنَّ مُوسَى بْنَ عِمْرَانَ عليه السلام خَرَجَ يَقْتَبِسُ لِأَهْلِهِ نَاراً فَكَلَّمَهُ اللَّهُ عَزَّ وَ جَلَّ فَرَجَعَ نَبِيّاً … .
Jadilah engkau terhadap apa-apa yang tidak engkau harap lebih mengharap ketimbang apa-apa yang engkau harap. Sesungguhnya Musa bin Imrân as. ia keluar untuk mencarikan api untuk keluarganya, lalu Allah -Azza wa Jalla- mengajaknya berbicara, maka ia kembali sebagai nabi .
Sumber Hadis: Amâly Syeikh Ash Sahdûq: 178.
Makna sabda Imma Ali as di atas telah menginspirasi seorang penyair. Ia berkata:
كُنْ لِمَا لَا تَرْجُو مِنْ الْأَمْرِ أَرْجَى ## مِنْكَ يَوْمًا لِمَا لَهُ أَنْتَ رَاجِي
Jadilah engkau orang yang berharap dalam hal yang tidak engkau harapkan itu ## lebih dari harapanmu sendiri terhadap sesuatu yang engkau harapkan.
إِنَّ مُوسَى مَضَى لِيَطْلُبَ نَارًا ## مِنْ ضِيَاءٍ رَآهُ وَاللَّيْلُ دَاجِي
Sesungguhnya Musa pergi untuk mencari api ## dari cahaya yang dilihatnya di tengah kegelapan malam.
فَأَتَى أَهْلَهُ وَقَدْ كَلَّمَ اللَّهُ ## هُوَ وَنَاجَاهُ وَهُوَ خَيْرُ مُنَاجٍ
Maka dia kembali kepada keluarganya setelah Allah berbicara kepadanya ## dia adalah sebaik-baik orang yang diajak bicara oleh Allah.
وَكَذَا الْأَمْرُ كُلَّمَا ضَاقَ بِالنَّاسِ ## أَتَى اللَّهُ فِيهِ بِسَاعَةٍ بِالْإِنْفِرَاجِ
Demikianlah setiap urusan yang sulit bagi manusia ## akan datang pertolongan Allah dengan jalan keluar.
(Bahjatul Majâlis; Ibnu Abdil Barr Al Qurthubi, 1/178)




