Uncategorize

Berlindung dari Allah kepada Allah: Manifestasi Tauhid Murni 

Oleh Mohammad Adlany, Ph.D (Anggota Dewan Syura IJABI) 

Dalam khazanah spiritual Islam, terdapat ungkapan doa yang secara lahir tampak paradoksal namun secara batin mengandung kedalaman metafisis yang luar biasa, yaitu sabda Nabi: “A‘udzu bika minka—Aku berlindung kepada-Mu dari-Mu (Al-Kafi, jilid 3, halaman 324.). Ungkapan ini bukan sekadar ekspresi praktis, melainkan representasi dari tauhid murni yang menyingkap hakikat hubungan ontologis antara manusia dan Tuhan. 

Tauhid sebagai Fondasi Ontologis 

Dalam perspektif filsafat Islam, tauhid tidak hanya bermakna pengakuan verbal atas ketunggalan atau kesatuan Tuhan, tetapi juga pengakuan ontologis bahwa tidak ada sebab hakiki selain Allah. Seluruh realitas berada dalam lingkup kehendak dan izin-Nya. 
Dengan demikian, segala peristiwa yang menimpa manusia, baik yang menyenangkan maupun yang menyakitkan, tidak keluar dari sistem kausalitas ilahi. Ini sejalan dengan prinsip bahwa: “Tidak ada keberadaan dan kejadian di alam kecuali dengan kehendak dan izin Allah, dan tidak ada jalan keluar darinya kecuali melalui-Nya.” 
Ungkapan “aku berlindung kepada-Mu dari-Mu” menegaskan bahwa bahkan apa yang secara lahir tampak sebagai “bahaya” pun tetap berada dalam domain kehendak dan izin Tuhan. Oleh karena itu, perlindungan tidak mungkin dicari di luar diri-Nya. 

Paradoks Teologis 

iklan

Secara lahiriah, ungkapan “aku berlindung dari Tuhan kepada Tuhan” tampak kontradiktif. Namun, dalam kerangka tauhid, paradoks ini justru terselesaikan. Hal ini dapat dipahami melalui pembedaan antara: aspek jalaliyah (keagungan/keperkasaan) Tuhan yang tampak dalam bentuk ujian, kesulitan, dan musibah dan aspek jamaliyah (keindahan/rahmat Tuhan) yang tampak dalam bentuk pertolongan, kasih sayang, dan penyelesaian masalah. Manusia pada hakikatnya berlindung dari manifestasi Jalaliyah menuju manifestasi Jamaliyah, tetapi keduanya tetap bersumber dari satu realitas ilahi yang sama. Dengan demikian, doa tersebut bukanlah dualisme, melainkan afirmasi kesatuan dalam keragaman manifestasi. 

Dimensi Eksistensial: Ketergantungan Total Manusia 

Ilustrasi anak kecil yang dipukul ibunya namun tetap berlindung kepadanya merupakan metafora yang sangat kuat untuk menjelaskan kondisi eksistensial manusia. Manusia, sebagaimana anak tersebut, berada dalam kondisi: ketergantungan total dan ketiadaan tempat berlindung selain Tuhan.
Dalam filsafat Islam—khususnya dalam pandangan Mulla Sadra—wujud makhluk adalah wujud-relasional, yaitu tidak memiliki kemandirian ontologis. Oleh karena itu, dalam setiap keadaan, manusia tidak memiliki pilihan selain kembali kepada sumber wujudnya.
Ungkapan “aku berlindung kepada-Mu dari-Mu” menjadi kesadaran eksistensial bahwa: Tuhan adalah sumber segala sebab dan Tuhan pula satu-satunya tujuan akhir segala pelarian. 

Dua Dimensi Pertolongan Ilahi 

Hadis tersebut juga mengisyaratkan dua bentuk intervensi ilahi: pencegahan datangnya musibah dan pengangkatan musibah yang telah terjadi.
Keduanya sepenuhnya berada dalam otoritas Tuhan. Ini menunjukkan bahwa konsep tawakkal dalam Islam bukan sekadar pasrah, melainkan kesadaran aktif bahwa setiap kondisi—sebelum dan sesudah musibah—berada dalam pengaturan ilahi.Dengan demikian, doa bukan hanya permintaan, tetapi juga pengakuan ontologis atas ketidakberdayaan manusia. 

Implikasi Spiritual dan Etis 

Pemahaman terhadap makna “aku berlindung kepada-Mu dari-Mu” melahirkan beberapa implikasi penting: 

  1. Penguatan tawakkal: manusia tidak menggantungkan diri pada sebab-sebab lahiriah semata.
  2. Ketenangan batin: karena semua berada dalam kendali Tuhan, tidak ada ruang bagi keputusasaan absolut. 
  3. Kesadaran tauhid praktis: tauhid tidak berhenti pada tataran konseptual, tetapi menjadi sikap hidup. 
  4. Transformasi penderitaan: musibah tidak lagi dilihat sebagai sesuatu yang sepenuhnya negatif, tetapi sebagai bagian dari sistem pendidikan ilahi. 

        Dengan demikian, ungkapan “aku berlindung kepada-Mu dari-Mu” merupakan salah satu formulasi paling dalam dari tauhid dalam Islam. Ia menegaskan bahwa Tuhan adalah sumber segala sesuatu—baik yang tampak sebagai kebaikan maupun yang tampak sebagai kesulitan—dan sekaligus satu-satunya tempat kembali. 

        Dalam perspektif ini, manusia tidak hanya hidup di bawah kehendak Tuhan, tetapi juga kembali kepada-Nya dalam setiap keadaan. Dengan demikian, berlindung dari Tuhan kepada Tuhan bukanlah kontradiksi, melainkan puncak kesadaran tauhid yang mengintegrasikan dimensi ontologis, teologis, dan eksistensial dalam satu kesatuan makna. 

        Mohammad Adlany Ph. D.
        Dewan Syuro IJABI |  + posts
        Iklan

        Tinggalkan Balasan

        Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

        Berkaitan

        Back to top button