Kami Yatim Lagi

Oleh : Kyai Fajruddin Muchtar (Ketua Departemen Khidmat dan Seni PP IJABI)
Kami terbangun di pagi yang kosong,
mata kami berat oleh tangis yang tak kunjung reda.
Langit seakan ikut menangis, menyaksikan dunia yang bergolak,
sebab Imam Ali Khamenei (qs) telah pergi—
direnggut oleh badai sengit peperangan yang tak abadi.
Dan kini…
kami yatim lagi.
Dia yang pernah berdiri di persimpangan sejarah,
di kala deru senjata dan gelombang penindasan tak pernah diam,
telah gugur di tengah riuh dunia yang penuh kezaliman.
Berita tentang kepergiannya mengguncang jiwa;
namanya terpatri dalam detik-detik peperangan modern,
di tengah konflik yang melibatkan kekuatan besar dan ambisi yang tak terperi.
Imam Ali Khamenei (qs) adalah tokoh yang namanya melintasi wajah politik dan sejarah dunia— s
ebuah sosok pejuang tangguh nan lembut,
bahwa ia telah gugur di dalam serangan udara
di bulan suci Ramadhan
Kami yatim lagi.
kehilangan penopang,
kehilangan guru, mereka kehilangan pelindung yang selama ini memberikan harapan pada perlawanan.
Kepergian Imam Ali Khamenei (qs) bukan seperti musik yang lembut mereda,
tapi seperti pita darah yang robek di tengah malam.
Entah kau menyetujui jejak langkahnya atau tidak,
namun kami tak bisa menutup mata terhadap satu hal:
di tengah gelombang kezaliman di dunia ini—
di mana pun penindasan dipertahankan dengan kekerasan,
anak-anak yang tak bersuara tetap akan terbentuk sebagai generasi yang yatim,
tak hanya oleh kehilangan ayah,
tapi oleh kehilangan rasa aman, keadilan, dan masa depan yang cerah.
Kami yatim lagi.
Namun dalam setiap tetes air mata yang jatuh,
tertancap benih tekad baru:
untuk menolak kezaliman yang merenggut lebih dari sekadar nyawa,
untuk menjaga agar suara yang gugur tak menjadi sia-sia,
dan untuk terus berdiri ketika dunia seakan gelap gelita.
Kami yatim lagi.
Tapi kami tetap berjalan—
dengan setiap rintih luka yang berubah menjadi janji perlawanan,
untuk hari di mana dunia bebas dari penderitaan yang tak kunjung usai.




