Lima Ciri Terbaik dari Hamba Allah (Lanjutan)
Oleh Mohammad Adlany, Ph.D. (Anggota Dewan Syura IJABI)
Ciri Kedua: Memohon Ampun Ketika Melakukan Dosa
Allah Swt berfirman:
إِنَّمَا التَّوْبَةُ عَلَى اللَّهِ لِلَّذِینَ یَعْمَلُونَ السُّوءَ بِجَهَالَةٍ ثُمَّ یَتُوبُونَ مِنْ قَرِیبٍ فَأُولٰئِکَ یَتُوبُ اللَّهُ عَلَیْهِمْ وَکَانَ اللَّهُ عَلِیمًا حَکِیمًا»
“Sesungguhnya tobat itu diterima Allah hanyalah dari orang-orang yang berbuat kejahatan karena kejahilan, kemudian mereka segera bertobat. Maka mereka itulah yang diterima tobatnya oleh Allah; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nisa: 17)
Allah juga berfirman:
وَالَّذِینَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَکَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ یَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ یُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ یَعْلَمُونَ»
“Dan orang-orang yang apabila melakukan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, mereka segera mengingat Allah, lalu memohon ampun atas dosa-dosa mereka — dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain Allah? — serta mereka tidak meneruskan perbuatan dosanya itu, sedang mereka mengetahui.” (QS. Ali ‘Imran: 135)
Ayat di atas menunjukkan salah satu sifat orang-orang bertakwa: apabila mereka terjatuh dalam dosa, mereka segera mengingat Allah, menyesal, dan bertobat. Mereka tidak bersikeras dalam perbuatan dosa dan tidak mengulanginya dengan sadar.
Dalam Tafsir al-Mizan dan Tafsir Nemuneh dijelaskan bahwa: Dari redaksi ayat ini dapat dipahami bahwa seseorang tidak akan melakukan dosa selama ia mengingat Allah.
Manusia hanya terjatuh dalam dosa ketika ia lupa kepada Allah dan hatinya dikuasai oleh kelalaian.
Namun kelalaian ini tidak berlangsung lama pada diri orang-orang bertakwa; mereka segera teringat kepada Allah dan berupaya menebus kesalahan mereka.
Mereka sadar bahwa tidak ada tempat berlindung selain Allah, dan hanya kepada-Nya mereka memohon ampun atas dosa-dosa mereka.
Di akhir ayat disebutkan dengan penegasan:
وَلَمْ یُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ یَعْلَمُونَ
“Dan mereka tidak bersikeras (mengulangi) dosa itu sedang mereka mengetahui.”
Artinya, mereka tidak mengulangi perbuatan dosa dengan kesadaran dan pengetahuan penuh.
Dalam tafsir ayat ini, Imam Muhammad al-Baqir as bersabda:
الإصرار أن یُذنِب الذنب فلا یستغفر الله ولا یُحدّث نفسه بتوبة فذلک الإصرار
“Yang dimaksud dengan ‘bersikeras dalam dosa’ adalah seseorang melakukan dosa namun tidak memohon ampun kepada Allah dan tidak berniat untuk bertobat. Itulah yang disebut bersikeras dalam dosa.”
Dalam kitab Amali ash-Shaduq diriwayatkan hadis yang penuh makna dari Imam Ja‘far ash-Shadiq as:
Ketika ayat di atas diturunkan — ayat yang memberikan kabar gembira bahwa para pendosa yang bertobat akan diampuni — Iblis merasa sangat gelisah. Ia pun memanggil seluruh pasukannya dan mengadakan pertemuan besar. Para pengikutnya bertanya mengapa ia begitu resah, dan Iblis menjawab bahwa ayat ini akan menggagalkan banyak upayanya menyesatkan manusia.
Salah satu dari mereka berkata, “Aku akan menggoda manusia dengan berbagai dosa agar ayat ini tidak berdampak.”
Iblis menolak usulan itu.
Yang lain pun mengajukan ide serupa, namun tetap ditolak.
Kemudian, salah satu setan tua bernama Waswas Khannas berkata: “Aku tahu bagaimana mengatasinya. Aku akan menipu anak-anak Adam dengan janji-janji palsu dan angan-angan panjang. Ketika mereka berbuat dosa, aku akan membuat mereka lupa akan Allah dan lupa untuk bertobat.”
Iblis pun berkata: “Inilah cara yang benar!” Lalu ia memberikan tugas ini kepadanya hingga hari kiamat. (Tafsir al-Namunah, jilid 3, hlm. 100)
Jelas bahwa kelalaian dan lupa terhadap Allah adalah akibat dari godaan dan bisikan setan, dan hanya mereka yang menyerah kepada setanlah yang terjerumus dalam kelupaan ini.
Namun orang-orang beriman yang sadar selalu waspada. Apabila mereka melakukan kesalahan, mereka segera mencucinya dengan air tobat dan istighfar, dan menutup rapat pintu hati mereka dari setan serta bala tentaranya — karena setan tidak dapat masuk melalui hati yang tertutup bagi dosa.
Berlanjut…




